I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Salah paham



"Hei dasar b a j i n g a n ! Katakan, apa salah mamaku padamu ? Jangan jadi pengecut cuma berani mengurungku ! " Shinta terus saja melontarkan kalimat yang mewakili isi hatinya. Amarahnya memuncak, ia tidak peduli dengan pakaian yang sangat menonjolkan bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Shinta terus berteriak di balik pintu, menggedor-gedor agar orang-orang di luar merasa jengah dan kesal, lalu membukakan untuknya.


"Vino, kenapa kau diam saja ! Katakan apa salah mamaku !" Entahlah sudah berapa kali perempuan itu memaki dari dalam kamar luas yang terasa seperti neraka untuknya. Udara yang dingin, tapi selalu berhasil membuat tubuhnya memanas. Entah karena emosi yang dengan sengaja di usik, atau karena rangsangan yang melemaskan jiwanya. Tidak ada jawaban yang berarti, bahkan tanda-tanda akan adanya yang datang di depan pintu. Bodohnya, tiada satupun suara yang menyahuti tapi Shinta terus memilih meronta yang akhirnya hanya akan membuang energi secara sia-sia.


"Mama..." Gadis itu tersedu, lalu menjatuhkan tubuh di tepi pintu. Air matanya mulai mengalir tanpa henti, semakin menyerah dengan keadaan yang menyiksa. "Ma, tolong Shinta..." Shinta membenamkan wajah di antara kedua kaki jenjangnya. Bersembunyi, dan mendekapnya dengan erat. Ia sudah menyerah, tidak lagi memiliki harapan yang menggebu karena dia sendiripun tidak mengetahui dimana posisinya untuk sekarang. Ia sama sekali tidak bisa melihat luar, selain dari jendela yang hanya menampakkan awan.


----------


Sandy sudah memarkirkan mobilnya di halaman butik, ia segera berlari ringan menelusuri anak tangga dan masuk ke dalam ruangan Keysha.


"Sayang...." Sandy mendorong pintu dengan tiba-tiba. Ia tidak mengetuknya, atau sekedar memberi salam untuk mengisyaratkan. Keysha sempat terperanjat kaget tapi sebisa mungkin menimpali dengan senyuman.


"Assalamualaikum...." Keysha mencium lembut punggung tangan suaminya.


Sandy menghela nafasnya pelan, "Wa'alaikum salam..."


"Ada apa kak ? " Keysha mulai memandangi wajah suaminya. Garis-garis penuh rahasia ia simpan untuk di bagikan, sebuah drama yang memberikan rasa penasaran. Sandy mendorong tubuhnya kasar ke atas sofa, mendongak menatap langit-langit ruangan lalu mengusap wajahnya frustasi.


"Apa Shinta benar-benar hilang ?" Sandy menyodorkan pertanyaan dengan rasa cemas yang membuntuti. Aneh, Keysha hanya mengernyit tidak memahami.


"Aku bertemu mama Lita di jalan, dia sama sekali tidak fokus berbicara dengan ku. Hanya terus berteriak, kembalikan anak." Sandy menata kalimatnya dengan jelas.


"Maksud kak Sandy mama Lita....."


"Ya..."


Mereka saling melempar pandangan, tidak percaya dengan kabar buruk yang di terima. Kabar tentang kebenaran yang masih tertutup di balik rahasia. Keysha tidak bisa mengerti, siapa yang bertindak di belakang semua ini. Sepengetahuan dia, Lita dan Shinta sama sekali tidak memiliki musuh selain dirinya dan Yeni. Mana mungkin, Yeni melakukan hal konyol segila ini. Keysha menggeleng kepala dengan cepat, menepis ragam prasangka yang tidak berporos.


"Oh ya aku juga punya kabar baik untukmu." Sandy berubah cepat, ia terlihat sumringah dengan senyuman yang menawan.


"Apa ?"


"Cherry sudah mendapat hukuman dari apa yang ia lakukan padamu." Seru Sandy antusias. Ia beralih menatap istrinya, lalu menggenggam kedua jemarinya dengan erat.


"Oh..." Keysha hanya membulatkan bibirnya.


"Kamu tidak suka ?"


"Bukan tidak suka itu, tapi aku sedang kepikiran tentang mama Lita. Aku takut jika dia benar-benar gila karena memikirkan Shinta, aku sudah salah tidak mau menolongnya kemarin." Keysha menunduk pilu. Rasa sesal menyelinap masuk ke dalam hatinya, berteduh mengalahkan rasa senang atas kabar mengenai Cherry. Bagaimanapun, Shinta tetaplah adik satu bapak dengannya z sejahat apapun perlakuan yang telah ia lakukan, tidak akan merubah darah yang mengalir di tubuhnya. Mereka tetaplah keluarga yang memiliki darah yang sama.


"Tapi kak..."


"Apa yang perlu kau sedih kan sayang ?"


"Mama Lita tetaplah mama yang merawat ku meskipun dengan rasa yang tidak ikhlas. Kak, ku mohon bantu mama Lita menemukan Shinta." Keysha meraih jemari suaminya. Menggengamnya dengan pinta dan penuh harap. Permohonan yang begitu mendasar dan tulus. Mungkin, jika bicara mengenai benci ataupun dendam Keysha tetaplah manusia yang memiliki rasa yang serupa. Namun, semua tertepis dengan kasih yang menjalar, cintanya utuh seburuk apapun balasan yang di peroleh. Keysha tetap menjadi diri yang lembut dengan perlakuan, meskipun tingkahnya terkadang melampaui batas.


"Tidak sayang ! Aku tidak akan memberimu izin untuk itu. Membiarkan mereka bebas dan tidak mendapat hukuman yang layak saja sudah cukup berat aku lakukan, apalagi sekarang kamu memohon untuk aku membantunya." Penolakan yang cukup tegas. Sandy beranjak dan melepas cengkraman kuat tangan Keysha di pangkuannya. Ia berdiri, menghadap luar di tepi jendela. Tangannya berkacak pinggang, seolah mewakili bibir berkata jika dirinya benar-benar merasa kesal. Ia sangat tidak setuju dengan hati Keysha yang selalu lemah dengan rengekan orang lain yang mengiba padanya, ia selalu kalah dengan rasa kasihan kepada mata yang terus mengalirkan air tanpa rasa yang tulus.


"Keysha, apa yang Sandy katakan itu benar, biarkan saja mereka merasakan buah dari perbuatan mereka." Entah sejak kapan Rania berdiri di ambang pintu yang tidak tertutup itu. Ia berkata sesuai apa yang ia yakini, melawan kerendahan hati Keysha, menepis luka yang sudah menanti sahabatnya. Rania beranjak, lalu menghampiri Keysha yang mulai menangis sesenggukan. Di peluknya perempuan itu dengan erat, seraya membelai punggung dengan hangat.


"Turuti apa kata suamimu Keysha ! Bukankah kau pernah bilang padaku jika ketika menikah, ridho kita berpindah ? Dan ridho suami kita adalah surga bagi kita ?" Seru Rania tanpa melepas dekapannya. Kata-kata yang pernah Keysha senandungkan di sela perbincangan mereka ketika SMA, kini jelas terbayang untuk kembali di ingatkan. Keysha tidak lagi bersuara, selain bibir yang bergetar karena menahan tangis yang tidak sanggup di redam.


"Kak Keysha...."


Audrey dan Reno datang di tengah perdebatan ringan mereka. Gadis yang tidak mengerti apa yang tengah terjadi, telah berlari dan membuang barang-barang yang merepotkan tangannya. Ia beralih memeluk Keysha dan mendorong Rania dengan keras, hingga perempuan itu sempoyongan hampir jatuh.


"Kamu apakan kakakku, hah ?" Suara Audrey meninggi. Ia menggertak Rania dengan mata yang menatap tajam. Tiada ampun lagi yang terlintas.


"Aku tidak apa-apa kan Keysha. Kamu salah paham Audrey...." Ucap Rania membela diri. Masa lalu yang buruk, membawa Audrey turut membenci Rania, perempuan yang bersikeras dengan rasa cemburu yang salah. Sekilas cerita pernah Audrey dengar dan ia serap hingga gadis itu tinggal lama di luar negeri. Tidak peduli berita baik yang sempat Keysha janjikan untuk mereka bicarakan.


"Halah ! Orang jahat, tidak akan mengakui jika dirinya jahat !" Audrey masih belum goyah dengan apa yang di yakini. Ia mengeratkan dekapannya, dan menepis tangan Rania yang mencoba menyentuhnya dengan kasar.


"Audrey, kamu itu bicara apa sih ?" sandy buka suara. Ia berbalik badan dan turut meninggikan suara, membentak sang adik yang di rasa telah salah sangka.


"Oh, jangan-jangan kak Sandy yang bikin kak Keysha nangis ? Apa sih kak mau kakak, hah ? " Pertanyaan Audrey sungguh mengintimidasi. Ia menerka dan tidak mengalah dengan menurunkan nada bicaranya. Menggertak dengan prasangka yang belum terbukti kebenarannya.


"Stop ! " Keysha menengahi. Ia sudah tidak tahan dengan suara keras yang bersahut-sahutan di telinganya.


"Audrey kakak sudah pernah bilang sama kamu, Rania tidak seperti yang kamu tuduhkan, kenapa kamu masih menghakimi dia seolah dia benar-benar wanita jahat ?" Keysha mengernyit. Ia beranjak, melepas tangan Audrey yang masih melekat di tubuhnya.


"Kakak marah sama Audrey ?"


"Kakak tidak marah, kamu sudah dewasa, sudah saatnya belajar mengendalikan diri. Apa kamu merasa, jika menuduh dan bersikap tidak sopan kepada orang yang lebih tua itu juga sangat buruk ?" Tiada senyuman yang melintas, tiada nada yang menenangkan. Keysha menatap Audrey dengan lekat.


Gadis itu mulai melangkah mundur dengan pelan, satu demi satu seiring kepala yang menggeleng ringan. Audrey menangis, dan berlari keluar ruangan. Mungkin, gadis itu sedang merasa kecewa. Bahkan tidak terima dengan nasihat Keysha yang tidak pada tempatnya.


Mereka saling bungkam dan asyik bercengkrama dengan hati dan logika masing-masing. Apalagi Sandy, ia tidak terlihat hendak membuka suara. Reno telah berpamitan melalui bahasa mata, ia berlari mengikuti Audrey dan berniat untuk menghibur hadis itu. Sebenarnya tidak salah apa yang Keysha katakan, karena semua memang bernilai baik untuk Audrey, hanya saja waktu dan keadaan yang sesungguhnya tidak membenarkan.