I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Curiga



Semenjak Audrey masuk dan bergabung dengan ketiga perempuan itu, Dokter Alexa lebih memilih bungkam dan tidak banyak bicara. Ia masih saja menerka-nerka dengan hatinya, mempersulit rasa dengan dugaan yang belum memiliki bukti yang nyata. Ia masih di sana, bergabung dengan mereka karena tidak ingin menampakkan betapa terganggunya hati dan jiwanya atas kedatangan Audrey, gadis yang masih ia anggap sebagai calon pendamping yang di pilih oleh Reno. Ah, bicara apa tidak seharusnya ia merasakan cemburu yang mendalam.


"Oh ya Audrey aku sampai lupa, kenalin ini Dokter Alexa, dia yang sempat merawat kak Sandy dan juga Rania." Keysha menunjuk pada Dokter Alexa yang kurang fokus dengan percakapan mereka. Ia tertegun, justru terlihat tidak sadar dengan apa yang baru saja Keysha ucapkan. Yang mudah di tangkap, hanya bahasa mata yang bergantian memperhatikan antara dirinya dan Audrey.


"Hai Dokter Alexa, aku Audrey." Audrey mengulurkan tangannya. Berwajah manis dengan senyum menawan khasnya.


"Alexa..." Dokter Alexa menyambut uluran tangan Audrey. Baru ia mengerti apa yang Keysha katakan sebelumnya. Sebuah ucapan yang memperkenalkan dirinya, terhadap...Ah tidak perlu di katakan pekiknya memaki diri.


"Keysha, maaf aku ada jadwal praktek sore ini, jadi aku pamit sekarang ya. Ukuran mama sesuai sama yang aku kirimkan padamu." Ada yang tidak bisa ia sembunyikan dari gelagatnya. Dokter Alexa benar-benar tidak bisa menutup diri dari rasa cemburunya yang menggila. Terlalu lama berdiri di lantai yang sama dengan perempuan yang membuatnya terluka sungguh Semakin kuat mengancam jiwa. Walau bibir tidak saling berbicara panjang, Dokter Alexa tetap saja menampakkan betapa tidak nyamannya dia dengan kedatangan Audrey.


"Loh, padahal aku baru saja gabung." Audrey berusaha menahan, tapi hanya di sambut dengan senyum simpul oleh Dokter Alexa.


"Ya sudah, tugas pasien-pasien Dokter lebih penting. Jangan sampai mereka menunggu terlalu lama." Keysha mencoba mengerti. Ia merasa maklum karena memang pekerjaan yang Dokter Alexa tidak bisa di tinggalkan meskipun hanya satu detik waktu. Banyak dari orang yang bergantung padanya, terpaksa meminta waktu lebih atau kadang waktu luang untuk membantu mereka berikhtiar dengan umur nyawanya.


"Terima kasih Key atas pengertiannya, Aku pamit ya. Rania aku duluan ya, " Dokter Alexa telah beranjak. Ia melambaikan tangan kepada Keysha dan Rania. Berjalan ke luar ruang dan menutup pintunya dengan rapat. Ia menghela nafas panjang di sana, membuang setiap penat dan gejolak emosi yang sudah memuncak. Nafsunya untuk memaki Audrey sungguh menguasai diri, tapi lagi dan lagi sebuah pengingat menyadarkan. Ia bukanlah orang yang spesial atau memiliki hubungan yang istimewa dengan Reno. Jadi, benci yang timbul bukanlah suatu kehendak hati yang perlu di turuti. Itu hanyalah gairah nafsu untuk memiliki yang berlebihan. Dan faktanya, Reno belum mengungkapkan jika ia telah jatuh hati layaknya rasa yang Dokter Alexa miliki.


"Ngerasa gak kalau Dokter Alexa aneh ?" Rania menyemburkan kalimat yang sudah di tahan-tahannya semenjak tadi. Ia teramat jeli memperhatikan raut wajah Dokter Alexa yang mendadak bungkam sejak Audrey masuk.


"Aneh ?" Ucap Keysha mengulang kata terakhir Rania untuk meyakinkan. Ia terlalu acuh dengan ekspresi orang lain, hingga membuatnya tercengang saat Rania menuduh Dokter Alexa dengan kata aneh.


"Memangnya kamu tidak merasa ? Dokter Alexa mendadak jadi pendiam ketika Audrey masuk." Seru Rania menjelaskan. Ia menggiring kedua perempuan itu untuk duduk di atas sofa. Bercengkrama dengan saling bertatap wajah dengan sangat serius.


"Masa sih ? Memang Audrey salah apa ?" Audrey tidak mengerti. Ia memang belum terlalu mengenal Dokter Alexa berserta karakternya. Tidak tahu lebih dalam bagaiman keseharian perempuan itu terhadap orang sekitar. Ramah, atau justru pendiam seperti yang ia rasakan.


"Mungkin hanya perasaan mu saja Ran, atau tidak dia terlalu lelah," Keysha menengahi. Tidak ada yang perlu di curigai secara berlebih, baginya manusia memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan lelah yang mendera tubuh. Ada yang memilih marah-marah tanpa alasan, tapi tidak sedikit yang justru diam tidak bersuara.


"Oh, gitu ya ?" Rania menggaruk-garuk kepala meskipun tidak merasakan gatal. Ia masih tidak mengerti, bahkan tidak bisa memperbaiki prasangka. Ia masih bersikeras dengan pendiriannya, merasakan ada yang tersembunyi dari sikap Dokter Alexa. Ia sudah cukup lama mengenalnya, sedikit-sedikit mengerti cara perempuan itu berinteraksi dengan orang-orang baru. Ia terkesan ramah dan berusaha akrab dengan orang yang baru saja di kenalnya, anehnya ketika dengan Audrey ia lebih memilih menghindar dan berusaha menjauh.


"Sudah, kita kembali kerja ya. Banyak pesanan yang sudah menanti."


"Baiklah, kalau gitu aku pamit ke ruangan ku ya."


Keysha mengangguk, ia menatap pada punggung sahabatnya hingga perempuan itu menghilang di balik pintu.


"Audrey pulang ya kak. Kasihan kak Reno sudah lama nunggu di bawah."


"Ya sudah, hati-hati ya. Pulang ke rumah kakak saja, ada hal yang ingin kakak ceritakan padamu."


Audrey berlalu, ia mengikuti jejak Rania yang menghilang di balik pintu. Menapaki langkah dan mengikuti kaki membawanya pergi. Ketika di bawah, niatnya kembali terganggu dengan gaun-gaun cantik yang menarik perhatian. Audrey berbelok arah, lalu berinsiatif untuk mencobanya beberapa waktu.


Sementara Keysha, ia kembali menjatuhkan tubuh di atas sofa. Ingatannya kembali berlalu pada angan yang tertunda. Bayang-bayang Lita dan Shinta kembali menyapa, menampakkan raut-raut sedih yang mengiba.


-----------


"Alexa ?" Reno segera beranjak dari bangku ketika melihat Dokter Alexa berjalan ke arahnya. Perempuan itu masih setia dengan raut ketus yang ia tampakkan beberapa hari terakhir ini. Bersikap acuh dan berusaha menghindar dari pertemuan dua pasang mata.


"Sudah selesai urusannya ?"


"Sudah."


"Hmm, sudah makan siang ?"


"Maaf Reno, aku harus pergi..." Dokter Alexa melanjutkan langkahnya. Ia mengayun kaki dengan cepat. Berharap bisa menahan buih air mata yang sudah bersiap meluncur.


"Alexa..." Reno meraih lengan perempuan itu. Menahan agar ia tetap tinggal bersamanya. Berkisah, dengan rasa sedih yang menyapa tanpa alasan.


"Aku salah apa sama kamu ? Kenapa sekarang susah sekali untuk kita bicara seperti kemarin ?" Reno mengiba, ia melontarkan kalimat yang menyesakkan dada, menekan membuat lehernya terasa sakit.


"Tidak...aku hanya..."


"Hanya apa ?"


"Lepaskan aku Reno, aku harus pergi." Dokter Alexa sudah berderai air mata. Kecewa yang melanda sudah tidak bisa ia sembunyikan dengan sikap ketus yang tak biasa. Ia merunduk dalam pilu yang hadir, mendesak membuat tangisnya semakin menjadi penuh teka-teki.


"Alexa, kamu kenapa ? Katakan apa salahku ?" Reno berusaha membasuh pipi perempuan itu. Sungguh, ada luka yang di robek dengan kasar ketika melihat perempuan itu menangis di depannya. Hatinya teriris, jantungnya tertusuk. Hidupnya terasa tak berguna karena tidak mampu menjaga satu nama yang ia agungkan tanpa pengakuan.


"Kak Reno..." Audrey berlarian kecil menghampiri mereka berdua. Gadis yang tidak mengerti suasana, ia tampak sumringah dengan dua tas besar yang berisi gaun-gaun yang ia ambil secara cuma-cuma dari butik milik kakaknya.


"Maaf Reno aku harus pergi." Dokter Alexa menepis tangan Reno, laku mengusap wajahnya dengan cepat. Ia berlalu, bergegas pergi dengan luka yang belum menemukan obatnya.


"Dokter Alexa kenapa sih ?" Audrey bertanya pada diri, semakin curiga dengan tingkah Dokter Alexa yang berusaha menjauh darinya.