I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Memaki Diri



Keysha memalingkan wajah dengan cepat. Ia menyembunyikan raut wajah di balik badan kecilnya. Tingkah konyol yang tak ia sadari dari awal. Sungguh miris, sudah mengumpat dengan kesal rupanya yang di ajaknya berbicara sedang tak berada di belakangnya. Kini tinggal rasa malu yang menghakimi hatinya, menghujam deras mengguyur jiwa.


Jadi, semenjak tadi Sandy tidak di sini dan aku bicara sendiri ? Oh Tuhan, kenapa bodoh sekali aku. Terlalu sibuk memaksa lidah berani berbicara, malah tidak menyadari Sandy masuk kamar mandi. Bodoh , Bodoh , bodoh .....


Keysha menutup mata dan mengumpat dalam hati. Memaki diri atas rasa malu yang semakin membayangi.


"Keysha kamu tadi bicara apa? Aku tak medengarnya, karena air di dalam terlalu berisik." Kini Sandy mendekat, mendudukkan diri di samping Keysha. Matanya tak terlepas dari gerak-gerik istrinya yang mulai salah tingkah. Terus membuang muka, tak berani menghadap Sandy.


"Keysha, apa kali ini kamu mendengar ku ?" Sandy mengulangi lagi, membalikkan tanya yang sempat Key teriakkan padanya. Membuat wanita itu semakin menunduk dalam malu.


"Key ?" Ucap Sandy seraya menurunkan tubuh. Ia berjongkok di bawah, menatap sendu wajah istrinya yang masih berusaha bersembunyi.


"Hei ?" Sandy mencubit mesra hidung Keysha, lalu di tarik nya kedua pipi yang tampak memerah agar menghadap ke arahnya. Wanita itu, terlihat tersenyum malu-malu.


"Aku-aku minta maaf San, aku tahu aku salah, aku ...."


"shut. aku mengerti " Sandy memotong kalimat yang belum Keysha selesaikan. Ia mengangkat telunjuk untuk menutup bibir mungil wanitanya. Dengan tulus, kedua insan itu saling beradu pandang, menguatkan batin untuk saling memaafkan. Sandy tak menginginkan lagi pertikaian yang berdasar pada hal yang sama, masih perihal wanita yang ia anggap licik itu. Tak sedikit pun ia mempertanyakan, bahkan memutuskan untuk menyudahi cerita. Ia tak lagi melarang jika istrinya masih berbaik hati untuk membuka kesempatan, walau ia tahu jika endingnya pasti Key yang bakal terluka.


Sudahlah, semua akan berakhir menjadi pelajaran berarti untuk kalian berdua. Baguslah, jika wanita itu memang datang dengan kesungguhan hatinya. Namun jika ia hanya sedang main-main, Keysha kamu tak perlu lagi menangis untuk meminta ku memaafkan lagi hidupnya.


"Jadi kamu benar-benar tulus memberi Rania kesempatan?" Keysha kembali bertanya, meyakinkan diri atas rasa ragu.


"Hmm, jika kamu menangis lagi karenanya, atau sedikit saja terluka atas perbuatannya, kamu pasti tahu hukuman yang setimpal untuk hidupnya." Sandy dengan serius memperingati Key. Wajahnya datar, namun ia sangat menekan setiap kata yang terlontar dari lidahnya.


Ini bukan lagi permainan, ia tidak semudah mengedipkan mata untuk mengampuni kesalahan orang lain, apalagi jika mereka berbuat atas dasar sengaja. Tangan-tangan kanannya bertebaran di setiap sudut kota, mata-mata yang tak di sadari lawan pun siap mengintai tanpa dicurigai.


"Terima kasih Sandy" Keysha tersenyum lebar. Untaian harapan yang ia senandung kan sepanjang hari ini tidaklah menjadi sia-sia. Bait-bait doa di setiap detiknya menjadi berkah besar dalam benarnya . Dan kamu sedang tidak menyadari, bagaimana suamimu menyusun rencana untuk segera memperlihatkan rencana busuk wanita yang kau anggap sahabat,Keysha Larasati.


-------


"Aku jadi tidak sabar buat ketemu Rania "


Sepanjang pagi Keysha terus saja bersenandung kecil. Menyanyikan syair-syair bahagia dengan riang. Sesekali ia tersenyum sendiri menatap bayangan diri di balik kaca. Ah, tak kalah dari ABG yang sedang dimabuk cinta.


"mmm, jadi lebih bahagia sama Rania sekarang dari pada aku ?" Sandy menurunkan buku ditangannya, ia bergerak mundur untuk menyenderkan tubuhnya. Ia tak berkedip melihat istrinya yang tidak berhenti tersenyum sedari tadi, irama-irama kecil terus saja bersenandung riang dari balik bibirnya.


"Jadi kamu lagi cemburu ni pura-pura nya ?" Keysha menoleh, menatap Sandy dengan wajah menggoda. Ia juga menyempatkan berkedip dengan sebelah mata sebelum kembali fokus dengan kaca untuk membenarkan jilbabnya.


"Selamat pagi anak-anak Papa" Sandy tersenyum ramah saat menemui si kembar sudah siap di meja makan. "Pagi Bun "


"Pagi papa." Keduanya tampak kompak membalas, begitu pula Yeni yang turut mengangguk ramah.


"Papa belum berangkat ? Allan libur loh hari ini "


"Lena juga "


Sandy kembali dibuat tersenyum miris, ia paham anak-anaknya sedang berusaha menyentil hatinya. Mereka tak berani mengatakan dengan jujur jika sejatinya mereka menginginkan waktu kosong papanya.


"Kalau papa hari ini maunya main sama princes dan jagoan papa, gimana dong ?" Sandy mengusap kepala dua bocah tersebut, tersenyum ringan mengharap mereka paham dengan arah bicaranya.


"Jadi papa libur juga ?" Allan sangat antusias, dia memanglah anak yang cerdas. Tak perlu panjang kata untuk membuatnya mengerti tentang apapun itu.


"Jagoan papa ini, pinter " Sandy mengecup kening Allan, tak terkecuali Lena si gadis kecil yang manja. Ia selalu berandai menjadi seorang putri yang tinggal di istana, memiliki kerajaan yang besar dan kaya akan mainan. Dan Sandy selalu mengiyakan, setiap mimpi-mimpi yang mereka ceritakan.


tap tap tap


Baru beberapa anak tangga yang Keysha lewati, suara sepatunya sudah ramai terdengar di penjuru rumah.


"Ratunya sudah datang." Sandy berbisik di balik telinga Lena, membuat gadis itu nyengir tak sanggup menahan tawa. Ya, dia selalu mengarang cerita, asyik bercengkrama dalam angan-angan nya, mengibaratkan Sandy adalah Raja dan Keysha adalah Ratu, dia princess dan Allan adalah Prince.


"Pagi mama " Allan tersenyum melihat Key yang berpenampilan anggun. Perumpamaan yang tepat yang selalu Lena ceritakan.


"Pagi sayang " Ia pun tersenyum lebar menatap kedua anaknya. Menghampiri mereka meninggalkan kecupan ringan di kening masing-masing.


"Kamu mau kemana Key ? Anak-anak libur, biasanya kamu ngga ke butik." Yeni mengambil sepotong roti, lalu mengolesi dengan selai coklat.


"oh ,iya Bun ..Key .."


"Keysha akan pergi sama sandy Bun, sama anak-anak juga " Celetuk Sandy memotong kalimat Keysha. Hobby amat yak, perasaan dari kemarin main nerobos aja kalau ada orang ngomong.


Yeni mengangguk paham, tak banyak lagi tanda tanya yang terlintas di benaknya. Justru anak-anak yang sangat antusias mendengar jawaban Sandy. Mereka bersorak riang, mulai mencari-cari cerita baru untuk rencana bepergiannya, memperdebatkan tempat yang akan di tuju. Keysha nyengir, ia tersudut tak bisa lagi mengimbangi topik bicara si kembar.