I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Dua wanita cantik



Key kembali terngiang nama Sandy di pikirannya. Ia merogoh ponsel dari dalam tas, mengeluarkannya lalu mengirim pesan singkat untuk suaminya.


Sandy, kenapa kamu tidak bangunin aku. Aku jadi ngga bisa nganterin anak-anak


Tak menunggu waktu lagi, Getaran ponsel itu menghentikan lamunan Keysha. Ia segera membukanya . Seketika, alisnya terangkat sebelah .


Sehari saja kamu perlu memikirkan dirimu sendiri Keysha sayang . . .


Ah , dia kok kagak peka sih ? Allan dan Lena juga anaknya . Mereka itu hidupku, harusnya juga menjadi bagian dari nadinya . Tapi kok malah membiarkan waktu ku untuk mereka hilang . Dasar Sandy !! ngga peka .


Tunggu tunggu ! Keysha? kamu bangun siang bukan Sandy yang yang minta. Malam mu pun tidak di ganggu olehnya . Sudah bermalam-malam malah , eh . Nah , sekarang kamu kesiangan kenapa nyalahin orang heii ? Ah , begitulah ! dimana-mana wanita memang selalu benar . Ok baiklah.


---


Reno memperhatikan gelagat aneh dari Sandy . Lelaki yang sedari pagi tinggal se ruang dengannya , ia tidak pernah melihatnya se gelisah itu . Sebentar-sebentar melirik ponselnya . Menanti lampunya berkedip dan ada notifikasi masuk.


"Lo kenapa sih San ?" Reno menutup buku yang sedari tadi hanya dia bolak-balik tak pasti. Buka tutup tidak karuan .


Reno beranjak dari sofa tunggal penopang tubuhnya sejak pagi. Ia menarik tangan kuat-kuat keatas, meregangkan otot-otot yang kaku.


Sandy kini yang gantian memperhatikan sahabatnya. Reno, seseorang yang ia kenal konyol tengah asik menenggelamkan pandangan matanya ke langit yang cerah . Membuang jauh titik penglihatan bersama segala penat yang tak bertepi di dasar hati. Ia ikut menghampiri pinggiran jendela, menyentuh kaca pemisah ruang dengan alam bebas .


"Lo ada masalah ?" Sandy kini balik bertanya, menutup tanda tanya tanpa jawaban yang sempat Reno layangkan untuknya.


Reno mengernyit, ia memindah kedua tangannya. Kini, ia lebih nyaman dengan berkacak pinggang. Mungkin, ia sedang menantang suatu rasa yang tak ia pinta datang pada dirinya.


"Lo orang berpengaruh besar di dunia bisnis di negeri ini. Kenapa lo ngga milih putus secara sepihak kerja sama terburuk dalam sejarah hidup lo ?" Reno menatap serius pada mata Sandy, laki-laki yang enggan menoleh walau hanya melirik .


"hahahaha . kenapa Ren ? lo cemburu ?" Sandy tertawa terbahak-bahak . Ia menepuk pundak Reno lalu setengah berputar dan berpindah di sisi kiri Reno.


"Jangan gila lo ! buat apa gue cemburu ?" Reno mulai salah tingkah. Ia tak berkutik bahkan mati gaya. Tangan yang di pinggang mulai resah dan naik turun tak punya perhentian jelas.


"Hahaha .yakin lo ngga cemburu ?" Sandy masih asik dengan godaannya. Ia menyimpan tawa yang bersembunyi di balik bibir, menekan kembali ke dalam agar tak lagi mendobrak untuk keluar. Ia masih senang melihat wajah panik Reno, mencari-cari kata untuk bahan berubah alur . Tapi ? tak bisa ! Ia sudah ke tangkap basah dengan jalur tak tak sengaja ia masuki.


"Lo berhenti atau gue balik ?" Reno mulai mengancam . Ia menekan katanya dengan irama yang tak jelas.


"hahahahaha " Suara tawa Sandy mulai membahana, menggelegar memenuhi ruang kedap suara yang sangat luas. Ia membungkuk, kembali berdiri dan menggenggam perutnya yang ia rasa mulai keram . Ia tak kuasa menghentikan tawa yang sudah terlanjur menguasai diri.


"Udah ? puas ?" Reno menggertak , ia kesal dengan tingkah Sandy. Bahkan mulutnya menggerutu, mengikuti gerak mulut Sandy .


Sandy kembali tertawa, ia mengangkat tangan . Meminta waktu agar Reno mengizinkan ia memenangkan diri, menyudahi tawa yang mencekram kuat perut bidangnya. Saat mulai tenang, ia menarik nafas panjang.


"ok ok " Sandy mulai berbicara lagi .


"Sudah puas tuan Sandy Atma Hutama ?"


Sandy kembali lagi menuju bangkunya. Menggeleng kepala mengingat wajah konyol Reno.


"Gue tahu maksud lo Ren. " Kini Sandy berbicara dengan serius . Ia mengangkat tangan lalu menyatukan di depan wajah . Ia gunakan kedua tangan itu untuk menopang wajah tampannya.


"Lalu ? tujuan lo ?" Reno menoleh, ia mulai tertarik dengan kalimat yang Sandy lontarkan . Memutar tubuh dan kembali lagi ke sofa yang baru saja ia tinggalkan .Kini, Reno menatap Sandy dengan serius pula.


"Gue cuma mau tahu, seberapa kuat dia sekarang." Senyum sinis yang Sandy suguhkan sungguh mengerikan. Ini seolah membangun kan macan yang sedang terlelap tidur.


"Maksud lo ?" Reno semakin mendekat..Ia masih kurang paham dengan tujuan Sandy. Mencoba mencari tahu lebih dalam, namun Sandy mengenyahkannya. Ah, selalu dah ! memutus pembicaraan saat lagi serius-serius nya. Untung saja, ia tidak bisa meninggalkan cinta saat lagi sayang-sayang nya. wewww ...


"San ? apa sih . malah senyum-senyum " Gertak Reno, ia mulai terbakar emosi . Kesal dengan sikap Sandy sehari ini.


"Sensi amat sih Ren ? sabar napa !"


"Tau lah . balik gue !" Reno berdecak kesal . Ia segera bangkit lagi dari sofa dan mengambil ponsel yang ia letakkan di meja kerja Sandy. Laki-laki itu membanting pintu ruangan semaunya.


"hahahaha, Reno-reno !" Tawa puas Sandy kembali lepas. Ia menggeleng kepala mulai tak paham dengan sikap sahabatnya. Konyol ? atau ? ah, tak paham ! Mungkin, dia mulai merasa cinta hadir di dasar hatinya . Cinta yang Lillah, tanpa suatu embel-embel.


Gue tahu Reno, entah sedikit atau pun banyak hati lo sudah mulai menganggumi. . .


Entah lo mau mengakui, atau pun bersi keras menolak tak pasti ...


----


Keysha menatap lekat pada dua orang wanita yang berada di depan butik miliknya. Wanita dengan tampilan seksi yang berbisik-bisik tak jelas dari tempat ia berdiri. Kini wanita itu berada di dekat meja kasir, di dalam ruangan yang tertutup dinding kaca tebal.


"Bu, itu siapa sih ? kok bajunya seksi banget !" Salah seorang pegawai mulai berkomentar. Ia risih dengan wanita yang berjalan angkuh memasuki butik. Dengan make up super tebal dan kaca mata hitam lekat di matanya.


"husstt ! jangan ghibbah !" Tegur Keysha lembut. Ia pun risih, namun mencoba berfikir positif dan menyambutnya sama seperti customer yang lain.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu ?"


Keysha menyambutnya ramah . Ia berada di belakang dua wanita yang belum ia lihat dengan jelas wajahnya. Membuat gadis-gadis itu tersentak sesaat.


"o-oh siang. Saya mau nyari pakaian pesta disini" Ucap seorang diantara mereka sembari membuka kaca mata.


Kali ini Keysha yang kaget, ia tak menyangka gadis di depannya itu Shinta, adik tiri. ah ralat! adik satu ayah dengannya yang sudah bertahun-tahun tak ia dengar kabarnya. Dan di sebelahnya? ia adalah Lita, mama tiri Keysha. Penampilan bak ABG, dengan aurat terbuka.


"Astaghfirullah ....Mama ? Shinta ?"


"Keysha ?"


Sahut Lita dan Shinta bersamaan, mereka ikut shock dengan apa yang mereka lihat. Tak mereka pungkiri, jika Keysha terlihat lebih cantik dan tampak awet muda. Dengan penampilan sederhana dan busana muslimnya.