I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Bertemu



Keysha sudah tidak bisa lagi berkutik, sepanjang jalan dia hanya banyak diam. Fokus memperhatikan ranting-ranting pohon yang bergoyang, seakan melambai memberi salam selamat pagi. Tiada lagi senandung merdu seperti yang sedari pagi lekat di telinga Sandy. Tiada lagi syair-syair di masa lalu yang menjadi topik pembicaraan nya seperti sebelumnya. Sungguh, semua tak seperti rencana.


"Mama kenapa diam saja ? " Allan menggapai lengan Keysha. Menggenggam erat, dan terus lekat memandang dengan mata indahnya.


"Tidak kok, mama lagi dengerin kalian bicara saja." Keysha mengelak. Menolak lembut kata yang di lontarkan putranya. Ia membelai lembut ujung kepala Allan, berputar-putar di sana merajut angan yang tak serupa dengan lisan.


"Mama sedih ?" Allan masih tidak puas dengan jawaban itu. Mata yang menatap dengan pilu, tidak mungkin sedang baik-baik saja. Ada hal yang mengintai di balik sinar itu, sedang ragu untuk menampakkan diri, bahkan tekanan rasa takut yang membuatnya berkutik di dalam sana.


"Tidak sayang" Keysha melebarkan senyuman. Wajah cantik yang belum terlihat berkerut sedikitpun itu, ia condongkan agar lebih dekat dengan wajah putranya. Mencoba melukis ribuan cahaya cinta di sana. Dengan tenang, teduh semua akan menampakkan satu sisi yang positif.


"Kita mau kemana sih ma ?" Lena yang sudah jenuh ikut menegur Keysha. Ia mendesak ke depan dan sedikit mendorong tubuh Allan yang menghalangi jalannya.


"Lena ! kamu bisa lebih lembut tidak sih dengan abangmu ini ?" Allan menyeringai, ia mengangkat tangan dan memasangnya di samping pinggang.


"umur kita sama. Kamu dan aku tidak ada yang lebih tua" protes Lena manja. Ia mengabaikan Allan begitu saja, bahkan makin mendorongnya karena kesulitan untuk ikut duduk di bangku tengah bersama Keysha dan Sandy.


"Lena, tidak baik perempuan ketus seperti itu." Sandy angkat bicara. Ia menegur putrinya dengan pelan-pelan. Tidak sedikit pun menggertak ataupun meninggikan bicara. Ia justru mengukir senyum lalu meninggalkan kecupan ringan di kening Lena.


"Kan kita kembar pa , lahirnya di hari yang sama." Lena terus saja membela diri. Membalikkan badan membelakangi Sandy. Ia sudah beraksi dengan wajah yang ia sedih-sedih kan. Ah, drama baru saja di mulai.


"Papa ngga maksa Lena manggil Allan abang kok. Papa cuma mau Lena bicaranya yang lembut, yang sopan. Bukan sama Allan saja, tapi sama semua orang." Belaian lembut di kepala Lena tak terhenti di situ, Sandy terus membujuk putrinya agar tidak semakin merajuk.


" Kan princess Allena cantik, biar lebih sempurna lagi harus jadi putri yang lembut, yang rendah hati, tidak suka marah." Keysha turut menasehati. Tangannya pun turut menggoda Lena, menggelitik ringan agar putrinya kembali ceria.


"Allan juga, jangan keras-keras ya sama Lena. Nanti Lenanya sedih, jadi kan ngga cantik lagi." Tidak adil rasanya jika hanya salah satu yang di nasehati. Keysha selalu memutar cara agar salah satu anaknya tidak merasa di pojokkan, tidak merasa minder dan terlalu di tekan atas salah yang belum bisa mereka pahami. Mereka terlalu dini jika harus di tegur dengan cara yang keras, belum umurnya pula jika pendisiplinan di terapkan dengan paksa.


----


Jalanan tidak pernah macet di kota mereka tinggal, lalu lalang orang-orang yang masih batas wajar. Kota maju yang membatasi jumlah penduduk, pun dengan kendaraan yang di miliki tiap keluarga. Mereka selalu cerdas mengendalikan kota, mengatur agar lebih nyaman untuk bersinggah, tingkat disiplin yang tinggi yang mampu mengendalikan rasa ego, hingga sukses menjadikan kota tersebut sebagai kota unggulan di negaranya.


Tidak menunggu waktu yang lama Keysha, Sandy, Allan dan Lena telah sampai di tempat. Sebuah taman luas yang memiliki kenangan indah di setiap sudutnya. Beberapa tatanan benda yang tidak bergeser sedikitpun dari letaknya. walau ingatan itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu. Semua sama, Kecuali pepohonan yang mulai tumbuh dengan lebatnya, bunga-bunga yang lebih rimbun dari sebelumnya, rumput hijau yang sudah meluas ke seluruh taman.


"Kalian main sama sus Dwi sama sus Rina dulu ya. Nanti papa sama mama nyusul, bolehkan ?" Sandy berjongkok, menyetarakan tubuh dengan tinggi badan Allan dan Lena. Meraba kedua pasang telinga dengan suara yang lembut untuk didengar. Mereka mengangguk riang tanpa sedikitpun penolakan.


Kaki-kaki kecil yang kokoh mulai berlarian menabur ceria. Berteriak dengan bebasnya. Mengekspresikan betapa mudahnya untuk bahagia. Key tidak melepas pandangan begitu saja, terus dan terus tiada jenuh melantunkan doa-doa indah untuk si kembar. Wajah-wajah yang ceria tanpa garis dosa sepertinya, tawa yang renyah menyapa indah di gendang telinga. Sungguh, anugerah terbesar yang ia terima dari sang pencipta. Di usia yang cukup muda bahkan dengan lelaki yang tidak pernah di pintakan dalam doa.


"Kamu mau terus disitu ?" Sandy menyudahi pujian mesra di antara lamunan Key. Ia merah lembut ujung jemari wanitanya. Merangkul akrab dan menarik dengan pelan.


"Tolonglah lepaskan tanganku San, aku malu di lihat banyak orang." Keysha menarik-narik ujung jarinya yang di genggam erat oleh Sandy. Tidak ada pergerakan yang berarti, tenaga yang ia kerahkan pun berakhir sia-sia. Semakin besar tarikan yang ia lakukan, semakin sakit pula jarinya karena genggaman Sandy.


"Siapa yang membuat mu malu ? akan ku habisi dia !"


Kenapa kamu tak juga sadar diri wahai suamiku yang semakin keras kepala ! Kamu yang membuatku malu dengan mata-mata tajam orang yang mengintai. Kamu juga yang akhirnya menyakiti fisikku karena kencangnya cengkraman tanganmu. Dan dengan datar kamu bertanya siapa yang membuatku malu ? Hei sayang, harus aku berteriak di balik telingamu dan menyebut namamu di sana ?


"Kenapa kamu diam saja ? katakan saja padaku ." Ia menyudahi langkah kaki. Memilih menanti di kursi putih yang terletak di sudut taman. Dengan tenang merebahkan tubuh dan duduk manis di sana. Menoleh kanan dan kiri makin tak sabar dengan manusia yang membuatnya jenuh menanti.


Keysha memilih tak bersuara, bahkan makin pasrah dengan tangannya yang semakin tak bisa dia rasa. Entahlah ! apa yang sebenarnya lelaki ini takutkan. Rania bukanlah seorang pria yang menakutkan dan akan merebut jemariku darinya, lalu hal besar apa yang merubah sikapnya dalam satu malam ?


"Berapa lama lagi kita menunggu di sini sayang ? telpon lah temanmu itu ! katakan jika kita sudah berakar menunggu dia di sini."


Semakin cerewet saja pria itu membunyikan protesnya. Tak karuan dengan tingkah duduk yang membosankan yang melihat. Menggeser dari ujung ke ujung. lebih tepatnya dia ini sedang menahan karena kebelet sih.


"Sayang, diamlah sebentar ! kalau tidak lepaskan tanganku. Aku lelah mengikutimu berjalan dan bergeser seperti tak memiliki arah tujuan." Keysha mengumpat, ia mendengus kesal dengan tingkah suaminya . Jangankan untuk menelpon seperti yang baru dia ucapkan, sekedar membuka tas untuk merogoh ponsel saja dia kerepotan. Ya bagaimana caranya berjalan dan melakukan semua hanya dengan satu tangan. tolonglah Sandy ....


"a itu dia ....."


Keysha segera menoleh, mengikuti arah jari Sandy menunjuk. Seorang wanita sedang berlarian ringan tak jauh dari tempat mereka, ia tak sendiri di sana ada anak kecil yang lekat di genggaman tangan kirinya . Tampak ada seorang lelaki yang jalan dengan bermalas-malasan mengikuti di belakang wanita itu. Belum jelas siapa, silaunya cahaya masih menyulitkan pandangan mata.


"Keysha ....."


Suaranya ringan, berteriak dengan bangga menyebut nama Key. Semakin dekat, semakin jelas dengan raut wajah itu. Kulit putih yang bercahaya semakin bersinar tatkala tersenyum lebar.


"Lo udah lama ya. Maaf ya, gue harus nunggu Angeline bangun tadi ...."


"ngga apa-apa Ran, gue dan Sandy juga baru sampe ..." Lirih Keysha menyambut dengan senyum tulus. Ia menggeser kepala, memperhatikan lelaki yang berjalan menuju arah mereka berdiri. Memastikan rasa ragu yang menyibak hati. Ia takut menyebut, lalu menimbulkan masalah baru dengan kasus yang sama.


"Itu Ibnu Key. lo ngga lupa ingatan kan ? haha ..dia memang sedikit lebih melar badannya semenjak menikah" Rania berbisik dan menutup mulut dengan sebelah tangan.


tante cantik, Lena mana ? "


Angeline ikut membuka mulut, menarik-narik tangan Keysha dan mendoangakkan kepala. Ada harapan yang ia semogakan di balik mata sendu nya. Entahlah !