
Bis kota itu kini menjadi kendaraan Keysha sehari-hari. Mengantar jemput nya kemanapun dia akan pergi, dari halte ke halte. Semua kembali pada masa dia SMA. Sebelum hari dimana dia mengenal Sandy, sebelum pernikahan diantara mereka terjadi. Sudahlah, mengingatkan hanya akan membuatnya menjerit, merauang dan membuka luka yang masih basah.
"Terimakasih pak" Keysha tersenyum lembut sebelum turun meninggalkan bis dan berjalan menuju kampusnya. Jarak tempat tinggal nya memanglah dekat, tapi dia harus ke rumah sakit sebelum ke kampus. Ya, waktu dia akan terkuras hingga sore, hanya untuk urusan kampus.
"Key" panggil seorang lelaki yang kini tampak berlari kecil menghampirinya.
"Kak Reno? Kenapa?" Key menyapanya dengan ramah. Selalu saja, senyum nya bisa merekah walau hatinya sedang gundah. Kamu terlalu sering disepelekan sedari kecil Key, hingga hatimu pun menangis kau masih pandai menyembunyikan tanpa ada yang tahu.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanyanya dengan perlahan. Key memperhatikan raut wajahnya yang memohon lalu memutuskan untuk sebentar ikut dengannya.
--
"Ada apa kak?" Key kembali menanyakan.
"Kamu kenapa semalam tidak datang Key?" ia mengatakan dengan ragu.
Wanita itu sempat terdiam sejenak. Dia menunduk mengatur nafasnya, dan kembali menatap Reno dengan tersenyum.
"kemana kak? Apa kamu mengundangku ke suatu acara?" key berpura-pura tak sadar. Setidaknya itu bisa membantunya lebih tenang.
"Aku tahu Ren, kedatangan kamu ada sangkutannya dengan kak Sandy. Entah, atas perintah nya atau kesadaran diri lo sendiri.
"Kamu tahu kan Key, seberapa besar rasa sayang Sandy sama kamu ?" Reno enggan berbasa-basi. Matanya menatap Key dengan jeli, memperhatikan raut wajahnya yang sulit dia tebak.
Apa benar wanita ini, tidak merasa kecewa? Dia, terlihat biasa-biasa saja. Tetapi, apa mungkin dia bukan lah wanita matre, lalu apa yang membuatnya sekuat ini?
"Aku sudah bukan istrinya lagi kak Reno, untuk apa lagi ?" Key tersenyum miris. Bayangannya kembali pada detik disaat kekuatannya hancur tanpa penyebab.
"Pernikahan itu bukan permainan kak Reno. Kamu belum menikah dan kamu tidak berhak ikut campur perihal ini!". Keysha bangkit dari kursi. Ia memilih berlalu tanpa permisi dan membungkam mulut Reno dengan kata-kata nya. Lelaki itu, lelaki yang sudah memasuki usia 30 tahun namun masih memilih menyendiri, dia kehabisan kata untuk melawan pernyataan Key yang berdasar pada fakta. Dia hanya bisa memandangi punggung Key yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
--
Brakkkk
"Eh sorry, sorry, aku tidak sengaja!" Key membantu merapikan tumpukkan buku yang tak sengaja dia tabrak.
"Tidak apa-apa, terimakasih" laki-laki di depannya itu meraih buku yang Key berikan. "Key kamu menangis? Kenapa?" tambahnya. Ia begitu khawatir saat menyadari yang menabraknya adalah Keysha.
"Gilang? Ah, engga ini.. Ee, tadi di depan aku nonton drama gitu. Sedih banget sampe ikutan nangis." Key mengarang cerita. Dia menjawabnya dengan tertawa ringan.
"o-oh, aku kira kamu kenapa hahaa... Mmmb, Key aku minta maaf ya buat kasus waktu itu, aku benar-benar khilaf dan.....Ya, aku jahat banget waktu itu." iya benar, laki-laki itu adalah Gilang, laki-laki yang menggilai Key waktu SMA juga laki-laki yang sempat di penjara karena berita miring yang dia sebarkan.
Bukan Key jika langsung memutuskan untuk membenci seseorang yang telah jahat padanya. Rasa kecewa, tidak selalu membuatnya dendam. Dengan ketulusan yang terpancar dari mata Gilang, Key dengan mudah memaafkan.
"Oh ya Lang apa Cherry yang membuat mu bebas?" Key meneguk minuman yang telah dia pesan. Wajahnya tidak menaruh curiga,dia hanya ingin memperjelas percakapan yang tak sengaja dia dengar dari Mereka kala itu.
"hahaha. Kau tahu itu ? Memang, dia yang membuatku bebas. Dia memberiku syarat, tapi aku menolak setelah aku dinyatakan bebas." Gilang menyeringai. Wajahnya jail saat mendengar nama Cherry. Gilang membuat permainan sendiri dengan Cherry. Wanita licik yang bisa di liciki juga oleh Gilang.
"Oh ya, gimana kamu sama Boss besar itu? Makin langgeng dong?" Gilang bertanya tak terduga.
Key tersedak mendengar nama lelaki itu, panggilan khusus yang Gilang lontarkan pun langsung dimengerti oleh Key. Ia tampak kaku, matanya juga berkeliaran bebas mencari ketenangan. Ah Gilang, hentikan pertanyaan yang membahas lelaki tak berhati itu.
Bersambung.......