I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Rania ?



"Aku sempat benar-benar takut ketika kamu mengatakan jika tidak mengingatku lagi kak. Bagaimana bisa, operasi yang kakak jalani adalah operasi hati, kenapa yang lupa ingatan justru otak kakak ? Tapi, akan lebih menyedihkan jika hati kakak lupa kepada siapa kakak mencintai." Keysha kembali merapatkan tubuhnya dalam dekapan Sandy. Ia senang bermanja di sana, layak sepasang pengantin baru yang belum memiliki tanggungan anak. Ya, hari ini Keysha benar-benar membiarkan anak-anak nya memusingkan Reno, karena Reno yang menawarkan diri untuk menjaga Allan dan Lena sehari penuh.


Sandy terkekeh geli, lalu ia menyapu lembut wajah istrinya. "Apa ketika aku tidak sadarkan diri kamu sibuk belajar gombal pada Reno ? Atau sibuk membaca sebuah karya karangan penyair terkenal ?" Sandy mengernyit. Ia merasa heran dengan istrinya yang lupa dengan gengsinya yang di ambang batas. Tidak biasanya perempuan itu mengatakan perasaannya. Dia sungguh tidak terbiasa mengungkapkan apa yang tersirat di dalam hatinya.


"Aku tidak sedang gombal. Aku bicara apa yang seharusnya aku bicarakan. Bukankah suatu keberuntungan untuk kak Sandy ? Aku tidak terbiasa mengatakan hal seperti ini kepada siapapun." Celetuk Keysha dengan nada manjanya. Ia mulai tersadar dengan sikapnya yang bertolak belakang dengan kesehariannya sebelum Sandy koma. Wajahnya mulai memerah, ia tersipu hingga tidak berani mengangkat kepala meskipun Sandy telah berusaha melakukan itu.


"Permisi tuan Sandy... Nyonya Keysha..." Dokter Alexa yang tiba-tiba masuk, membuat Keysha terkejut. Ia segera bangkit dan berdiri tegak di samping kasur Sandy. Wajahnya kian memerah, ia semakin malu karena terlalu mengumbar kemesraan di lingkungan umum.


Sandy berdecak kesal, merasa terganggu dengan kemunculan Dokter Alexa yang tanpa di mintanya.


"Maaf, saya telah mengganggu . Saya hanya akan melakukan pemeriksaan rutin terhadap setiap pasien yang saya tangani." Ia segera mengucapkan kalimat yang menjawab kekesalan Sandy. Ya, itu lebih baik sebelum manusia dingin itu menghujatnya dengan ragam kalimat yang memanaskan telinga.


"Ah tidak....sama sekali tidak menggangu Dokter Alexa." Keysha menepis nya. Ia mengangkat tangan, lalu melambai dengan cepat. Menolak setiap kerendahan hati yang tulus terucap dari balik bibir Dokter Alexa.


Perempuan berpakaian sederhana, di balut dengan jas dokter yang ia gunakan dalam keseharian itu mengumbar senyuman, lalu segera menyelesaikan apa yang menjadi tujuannya di sana. Ia dengan telaten memeriksa bekas luka sayatan pada perut Sandy, memperhatikan dengan teliti agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak ia bayangkan sebelumnya.


"Jangan terlalu banyak bergerak dulu tuan, itu akan memperlambat keringnya luka jika anda lakukan terus-menerus. Dan jangan terlalu sering tertawa dulu, tahanlah sampai lukanya benar-benar kering." Pungkas Dokter Alexa ketika selesai melakukan pemeriksaan. Perawat di sampingnya mencatat dengan teliti, apa yang di katakan Dokter Alexa.


"Apa lukanya memburuk dok ?" Keysha menanggapi dengan panik. Ia khawatir jika terjadi sesuatu kepada suaminya.


"Oh...tidak....Ini cukup baik Nyonya." Jawabnya dengan segera, ia tidak ingin membuat Keysha kembali panik dan bersedih dengan kabar buruk yang salah pada pemahaman yang ia tangkap.


"Syukurlah." Perempuan itu menghela nafasnya lega. ia tersenyum puas, mengucap terima kasih dengan tulus kepada seseorang yang telah dia anggap sebagai seorang malaikat dalam kehidupan nya dan juga Sandy.


"Baiklah. Kalau gitu saya permisi..." Dokter Alexa menundukkan kepala begitu juga dengan perawat yang berada di belakangnya. Mereka berputar, segera bergegas keluar ruangan.


"Hmm... Dokter Alexa." Panggil Keysha lantang, membuat perempuan itu berhenti di ambang pintu. Ia memberi kode kepada perawat untuk keluar terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk kembali mendekat kepada Keysha.


"Ya ? Ada masalah Nyonya ?" Ucapnya dengan pelan.


"Tidak dok. Aku hanya ingin menanyakan, siapa yang sudah mendonorkan hatinya untuk kak Sandy ? Aku berhutang nyawa padanya. Sungguh hatinya sangat baik." Tutur Keysha. Ia menatap Sandy dengan rasa syukur yang menghias. Betapa kagumnya pada seseorang yang dengan suka rela membantunya tanpa di minta.


"Apa dia tidak berbicara dulu denganmu ? Dia banyak bercerita tentang Nyonya sebelum terjadi kecelakaan waktu itu." Dokter Alexa tersenyum nanar. Ia merasa kasihan ketika mengingat nasib yang menimpa pasiennya.


"Dia ? Maksud dokter siapa ? Apa aku mengenalnya ?" Keysha mengernyitkan dahi. Ia merasa heran dengan ucapan Dokter Alexa yang seakan mengisyaratkan jika dia mengenal pendonor yang di maksud.


"Nyonya Rania, dia yang menjadi pendonor untuk tuan Sandy. Dia bilang, dia terlalu berdosa kepada kalian sehingga sudah tidak bisa lagi di percaya. Dan dengan ini, adalah satu-satunya cara untuk dia meminta maaf kepadamu." Dengan teliti Dokter Alexa menjelaskan. Ia berusaha mengingat setiap kata yang Rania ucapan ketika proses pemeriksaan untuk menguji kecocokan hati mereka.


"Rania ?" Keysha dan Sandy berucap dengan kompak. Mereka menganga, benar-benar tidak berpikir jika perempuan itu akan berbuat senekat ini untuk memohon sebuah maaf darinya.


"Dimana dia Dok ? Aku harus menemuinya." Keysha memohon. Ia meraih jemari Dokter Alexa lalu menggenggamnya dengan erat.


"Dia belum sadarkan diri hingga sekarang. Nyonya Rania masih berada di ruangan ICU. "


"Rania.....Kau benar-benar melakukan ini..." Gumam Keysha. Ia terharu dengan perubahan Rania.


"Beliau sangat setia mendampingi istrinya."


"Aku ingin menemuinya ! "


"Biarkan kondisi mu pulih dulu tuan....Sudah ku katakan sebelumnya agar anda tidak banyak bergerak terlebih dahulu."


"Biar aku saja Kak. Kakak diam lah di sini !" Keysha segera keluar. Ia berjalan dengan cepat, dan mencari keberadaan Ibnu di lingkungan rumah sakit.


Meera dan Chandra bergantian masuk untuk menemani Sandy, begitu juga dengan Yeni yang sedikit bisa bernafas lega dengan tidak terlalu sibuk mengurus kedua buah hati Keysha. Mereka masih senang bermain-main dengan Reno, belum juga rewel dan meminta segera pulang untuk menemui Keysha dan Sandy.


-------


Keysha berada di lorong rumah sakit yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung. Keadaan hening, sepi karena memang ruangan di sana sangat di larang dari aktivitas yang tidak penting. Bukan merupakan akses umum yang bisa di lalui seseorang dengan bebas.


Ia menyeret kakinya dengan berat ketika melihat Ibnu yang tampak duduk di lantai dengan lesu. Pandangannya kosong, laki-laki itu sesekali membenamkan wajah di antara lipatan kaki.


"Ibnu..." Panggil Keysha pelan, membuat Ibnu meliriknya sekilas.


"Keysha ? Kau di sini ?" Ia segera bangkit. Menyeka pipi yang basah karena air mata. Ia tidak bisa berdiam menatap wanita yang sempat ia kagumi, karena berusaha menutupi kesedihan yang menyapa hatinya.


"Kenapa kau biarkan Rania melakukan itu ?"


Ibnu masih saja berkilah, ia tetap berusaha tangguh lalu mengukir senyuman paksa di kedua sudut bibirnya.


"Bagaimana keadaan Sandy ? Apa dia baik-baik saja ?"


"Aku yang harusnya berkata seperti itu. Bagaimana Rania ? Kenapa kamu menandatangani persetujuan itu padahal Rania sedang lemah kondisinya." Keysha memberondong Ibnu dengan rentetan pertanyaan. Ia menatap Ibnu dengan nanar, menyaksikan keadaan pria itu dengan sangat prihatin.


"Keysha....Itu Rania yang meminta....Dia diam-diam memeriksakan diri sebelum kecelakaan. Aku sama sekali tidak mengetahui itu jika Dokter Alexa tidak mengatakannya. "


"Ibnu ...Maafkan aku..." Keysha menunduk. Ia merasa bersalah dan menyesal karena mementingkan egonya sendiri. Seharunya, ia mengetahui terlebih dahulu riwayat pendonor sebelum tindakan itu di lakukan.


"Hei...Untuk apa kau meminta maaf. Seharusnya, aku yang meminta maaf atas nama Rania atas semua kesalahannya padamu."


"Tidak....Ibnu, aku sungguh berhutang nyawa padanya. Aku akan sangat menyesal jika sampai dia tidak selamat. Itu semua salahku Ibnu...."


"Jangan berbicara seperti itu. Aku saja yakin kalau Rania selamat, kenapa kamu justru yang pesimis seperti ini ? "


Mereka lama saling terdiam, keduanya tampak duduk dengan wajah yang lesu. Berharap cemas dengan kondisi Rania yang belum juga membaik, mereka saling memohon dalam hati masing-masing. Bermunajat dengan ragam kalimat yang mewakili segala pinta yang tersirat.


"Tuan Ibnu...." Dokter Liem telah keluar dari ruang ICU. Ia menyeka peluh dengan punggung tangannya.


"Dokter Liem ? Bagaimana keadaan Rania ?" Tanpa memberinya jeda untuk bernafas, Ibnu langsung saja menjejali Dokter Liem dengan pertanyaannya.