
Keysha melangkah dengan riang, menghentak bumi dengan ketukan asmara. Ah, kurasa dia sedang jatuh cinta. Bibirnya tak henti bergeming menadakan indah setiap syair yang dia dengar dari earpohone yang menyatu di telinganya. Wajahnya sumringah bak cinderella yang baru turun dari keretanya.
Semua karyawan berdiri dan menunduk ketika melihat kedatangan Keysha, istri dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Gadis manis itu melepas earpohone dan melempar salam kepada staf yang dia temui. Wajahnya yang anggun, dia tidak pernah membedakan orang-orang di sekeliling nya. Semua sama, semua makhluk Tuhan. Hanya cara pandang kita yang membuat kita merasa beda . Keysha telah berdiri didepan lift, ketika pintu terbuka semua karyawan yang di dalam menunduk dan keluar. Memang, itu kebiasaan mereka untuk menghormati dan mendahulukan atasan.
"Kalian tidak perlu keluar. Kita bisa bareng-bareng, lift ini terlalu lebar jika untuk saya seorang diri." Key menghentikan langkah mereka. Wajah-wajah takut, saling bertatap diantara mereka. Tidak ada yang berani bergerak dan berbicara seperti sebelumnya.
"Tidak perlu merasa sungkan dengan saya. Anggap saja kita ini sama." Key memecah keheningan didalam lift. Nada bicara nya yang lembut membuat para staf tercengang, dan kemudian semua mengangguk melempar senyum.
--
"Assalamualaikum kak?" Key menyapa lembut suaminya, laki-laki yang tingkat ketampanannya naik level setiap sedang pasang wajah serius. Dia fokus dengan laptop diatas mejanya hingga tak menyadari kedatangan Key sebelum sapaan itu mampir ditelinganya.
"Wa'alaikum salam, hei sayang, kamu sama siapa?".Sandy terkejut melihat Key yang telah berdiri didepannya.
.
Ah! Bidadari turun dari kayangan ini. Perfect
"Sendiri lah, mau sama siapa coba? Masih banyak kerjaan ya?" Key melirik laptop Sandy. Matanya bermain di sana, seperti memahami apa yang tertulis didalamnya. Sesekali, ia mengernyit lalu mengangguk-anggukan kepala.
Sandy mengurai senyum melihat wajah sang istri. Kini dia berdiri menyetarakan wajah dengan wanitanya, tak luput dia tinggalkan cubitan gemas di hidung mungil Key.
"Ih, kak Sandy sakit" Key mengarahkan kepalanya mengikuti arah tarikan tangan Sandy. Ah! Tingkah gadis ini, benar-benar selalu membuat suaminya tertawa.
"Dia boss terbebas selama ini, hidupnya kurang tenang kalau belum ketemu aku" Sandy sengaja mengeraskan suaranya. Ia menjawab pertanyaan Key dipinggir telinga Reno.
Laki-laki itu mendorong kedua tangannya keatas, meregangkan otot-otot tubuhnya yang menegang. Mata sipitnya, ia paksa untuk dibuka.
"Kamu apa sih San, berisik banget." Reno duduk dengan gontai, tubuh kekarnya terkesan lembek jika dia sedang bermalas-malasan seperti itu.
Tingkah konyolnya, mengundang tawa bagi Key. Dia tidak pernah melihat Reno dalam kondisi seburuk itu. Ah! Iya, laki-laki itu sangat jaim jika di depan wanita. Tapi, entahlah! Tidak untuk kali ini. Atau, ya mungkin saja... Dia sedang tidak melihat wanitanya Sandy.
"heem" Key berdehem, menjadi mesin pengingat bagi Reno. Untuk membuat nyawanya dengan cepat berkumpul.
"Hei Key? Kamu ba-baru datang?" Reno sigap berdiri. Membenahi kancing bajunya yang tak beraturan, jemarinya juga menyisir lembut rambutnya yang awut-awutan. Key cengar-cengir melihat itu.
Reno, kenapa lo segengsi itu.
"Aku baru saja datang.Kak Reno sudah lama ?" Ah.Dasar Keysha, selalu pintar menjaga perasaan orang lain. Dia tidak ingin merusak kepercayaan diri Reno dengan mengatakan hal yang sebenarnya bohong. Tak apa lah ya, sesekali berbohong demi kebaikan ini.
"Ak-aku juga baru saja kok Key." Reno menghela nafas lega. Mungkin pikirannya menjadi lebih tenang dan merasa aman.
"dia baru kok sayang, baru saja bangun......" Sandy belum menyelesaikan kalimatnya. Namun dipotong Reno dengan menginjak kaki nya. Sandy meringis merasakan nyeri di jempol kakinya. Ah! Keysha malah tertawa melihat tingkah keduanya yang seperti bocah.
Bersambung...........