I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menemuinya



 


Doa yang senantiasa dipanjatkan dipenghujung malam, menemukan titik terang yang masih membingungkan. Hatinya ingin sekali berlari dan mencurahkan rindu yang semakin menyesakkan dadanya. Ragu, kembali menghantui kala dia hendak melangkahkan kakinya, ah! Kenapa hati dan logika tetap saja berdebat! Keduanya semakin saja membuatku gila. Langkahnya risau, Keysha mondar-mandir layaknya setrikaan. Menggigit-gigit ujung kukunya dan mengutuk dirinya sendiri.


 


"Tidak....tidak ! Sudah tidak ada waktu lagi" Keysha meraih tas yang baru saja dia letakkan di kursi panjang di ruang tamunya. Ia berjalan dengan cepat memburu langkah, memohon Tuhan untuk memberinya kembali kesempatan.


"Komplek sebesar ini? Mana ada kendaraan umum di dalam sana. Argghh bodoh! Kenapa aku tidak naik taksi saja, angkot hanya bisa sampai depan doang." Gerutunya seorang diri. Key memaki dan menghujat dirinya sendiri. Langkahnya sangat kasar dia hentak, kini dia mulai berlari karena waktu yang Reno katakan sudah hampir terlewati.


Semakin kencang ia berlari, semakin cepat dentuman jam berputar. Nafasnya ngos-ngosan karena jujur saja, Key jarang sekali olahraga. Ragam alasan yang dia berikan. Well, sebenarnya dia hanya malas saja jika berkeringat. Bukan bukan! Dia hanya malas bergerak dan enggan lelah.


Kakinya berdiri dengan tenaga yang masih tersisa. Ia menarik nafas dengan panjang, mengaturnya agar terdengar lebih baik. Menghadap tepat di depan rumah tanpa pagar. Matanya mencermati alamat yang tertera di sana, mencocokkan dengan selembar kertas di tangannya yang sudah mulai lusuh. Tak jauh dari tempat berdirinya, terlihat seorang gadis yang sangat ia kenal, disusul lelaki yang kemaren menemui dan satu lagi, laki-laki yang mmmb, yah begitu malas berjalan. Kakinya saja dia seret dan penampilannya sangat menyebalkan. Apa iya dia belum mandi? pekik Key dalam hati.


Keraguan kembali menghujami dadanya, terus atau kembali dan tidak akan ada lagi kesempatan? Waktu, mungkin akan membenci dirinya karena beda detik beda keyakinan.


"Bagaimana ini?"


Deg-deg


Jantungnya kian kencang terpompa, keringat nya kembali bercucuran. Dia menyadari saat Reno melihatnya lalu berbisik ke telinga Sandy. Tak menunggu lama lagi, laki-laki itu berjalan memghampirinya. Disana, Audry terdengar ngomel saat tangannya ditarik Reno dan membawanya masuk rumah lagi.


Aduh, kakiku sudah tidak bisa digerakkan..


Aku tidak siap, iya benar harus lari! Tapi....


Key, memaksa langkahnya mundur, ingin sekali ia berlari lagi dan mengulang suasana. Canggung? sangat! Malu? banget! Tapi nasi telah menjadi bubur. Aku harus melakukannya hatinya bergidik. Memompa kembali semangat, dan membuat kakinya spontan terdiam.


"Kamu mau balik ke jakarta hari ini?" Key berbasa-basi memecah keheningan. Suasana yang mencekram kaku.


"Iya, tugas Audry sudah beres. Aku juga harus kembali kerja" lirihnya, matanya tak lepas dari Key. Dalam, dan mengoyak isi hati yang terkunci rapat di dalamnya. Bibirnya menyuguhkan senyum bahagia.


"E-embh San, aku minta maaf ya" lirih Key, dia menunduk merasa risih dengan tatapan Sandy.


"Kamu tak perlu minta maaf Key, aku saja yang sudah kelewatan. Tapi percaya lah, aku hanya ingin melamar mu secara terbuka. Aku sangat mencintaimu, aku ingin memberi kejelasan status diantara kita. Aku ingin, semua orang mengakui jika aku adalah suamimu" matanya mulai berbinar, ia tak lagi sanggup menatap mata Keysha. Dibuangnya jauh-jauh rasa sesal yang selalu menjerit di dadanya. Sebuah hal yang mengajarkan arti hidup lebih dalam untuknya.


"Sandy....." lirih Keysha. ia mengizinkan matanya melesatkan airmata yang sudah ditahan-tahan sedari tadi.


"Sudah. Jangan menangis, kau ingin melihatku lebih buruk dari ini?" Sandy meraih tangan Key. Ia berusaha menguatkan wanitanya dengan senyum khasnya.


"Harusnya sedari dulu aku mendengarkan penjelasan mu" ia menunduk. Menyembunyikan tangisnya di balik jilbab.


"Hei, jangan bicara gitu. Sekarang kamu tatap mata aku " Key memegangi kedua pipi Key yang basah karena tangisnya. Di usapnya lembut untuk menghapus airmata.


"Apa kamu siap untuk memulai kehidupan baru denganku lagi? Apa kamu sanggup memaafkanku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki segalanya?" raut wajahnya begitu serius memandangi Keysha. Mempertanyakan hal yang telah lama dipendamnya.


Bersambung........