I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Terjebak Rencana



"Hallo Ren,


Lo ke kantoraku ya,


Iya..


Sekarang !


Ok, bye!"


Sandy menutup telfon, dia menyudahi percakapan secara sepihak. Padahal dia tahu, jika sahabatnya masih ngoceh di ujung telpon. Ah, jika di tanggapi mau sampai sore dia tidak akan datang. Sudahlah! Seperti ini, menjadi cara terampuh untuk memaksa Reno panik dan datang dengan cepat. Hahaha! Sandy, kau jahat sekali.


--


"Apa-apaan sih San, kamu ngapain bawa aku ke sini !". Protes Reno. Dia masih tidak paham dengan kondisi yang ada. Yang tiba-tiba Sandy meminta dia datang ke kantor lalu menyeret nya ke sebuah kafe.


"Tuh lihat ! Kau sangat tergila-gila padanya bukan? Temui dia !" Sandy menunjuk kearah Cherry yang sudah duduk menunggu. Dia merias dirinya sangat anggun, dengan pakaian yang baginya paling cocok di tubuhnya, rambut yang digerai panjang. Cherry andai kau tak picik, wajah dan tubuhmu sangat memiliki magnet pemikat. Kau sangat menawan.


"Cih ! Dia? Hahahaha! Bro mMu itu sudah tua tapi dangkal ya pemikiran kamu" Reno tertawa lepas, dia benar-benar tidak habis pikir jika sahabatnya bisa sekonyol ini. Mana mungkin seorang Reno bisa jatuh cinta sama Cherry, yang notabennya adalah mantan dari sahabat karibnya ini, terlepas dari itu wanita ini sangatlah picik melebihi apa yang mereka ketahui. Dia boleh saja cantik, memiliki daya tarik di sekujur tubuhnya. Tapi wajah tidak menjamin hati seseorang bukan?


"Kamu ?" Sandy masih merasa bingung. Dia terheran-heran dengan sikap Reno yang sangat berbeda dari biasanya. Ya, Reno selalu menunjukkan kalau dia terobsesi dengan Cherry.


"Sudahlah ! Sana temui ! Kamu pasti punya janji dengan wanita itu kan? Satu perlu kamu ketahui, jangan pernah bawa-bawa aku di antara hubungan kalian. Bye!" Reno mendorong pelan tubuh Sandy. Dia juga memotong ucapan sahabatnya yang belum usai itu. Perutnya terasa kaku seketika karena dia sangat lah ingin tertawa namun ditahannya.


Kalau sampai aku tertawa sekarang, habislah setelah ini......


Reno ngacir keluar dari kafe. Dia tahu jika sobatnya itu mulai kesal. Matanya sudah membulat, wajahnya bak singa hendak menerkam mangsa.


"Reno !" Sandy menekan empat huruf yang dia sebut.


"Sandy ?" Cherry mendengar itu, dia beranjak dari bangku dan menghampiri pria yang telah membuat janji dengannya.


"o-oh tidak ! Keysha...dia tidak bisa datang, dia ada urusan mendadak" sahut Sandy gelagapan.


"e-emb" Cherry mengangguk paham. Kini matanya bergerilya mencari seseorang disetiap sudut ruangan.


"Kamu tadi sebut nama Reno. Dia di sini?" pertanyaan yang bagi Sandy tidak lah penting, tapi benar-benar membungkam mulutnya hingga sulit berkata walau cuma satu huruf.


"Sudahlah ! Tidak penting. Kamu sudah pilih tempat duduk?" elaknya, dia mengantongi kedua tangannya dan berjalan ke kursi yang terdapat tas dan barang Cherry.


"o-k baiklah!" Cherry menyeret kakinya, mengikuti Sandy berjalan.


"Aku juga sudah memesan makanan buat kamu. Aku juga masih ingat banget favourite kamu di cafe ini" kedua kalimat itu menghentikan langkah kaki Sandy. Matanya tajam menatap Cherry, merobek setiap memori yang masih tersimpan rapi di dalamnya. Akan kulepaskan setiap kunci yang membuat ingatan itu terkurung di dalam sana, pekik Sandy. Ia sangat kesal mendengar ocehan Cherry yang tiada henti. Yang intinya sih cuma satu, dia ingin mengajak Sandy bernostalgia. Berbicara tentang masa lalunya, bercengkrama tentang keindahan yang Sandy pun sudah melumpuhkan ingatan sekilas itu. Cherry, kau sangat bernafsu ingin kembali menggiring Sandy ke pelukan tubuhmu!


"Kamu tidak ingin berhenti bicara? Aku butuh ketenangan ketika makan !" potong Sandy pada kalimat Cherry yang masih menggantung. Dia merasa sesak nafas, berdua dengan Cherry dalam hitungan menit.


"Oh baiklah! Sorry......" jawab Cherry lembut, dia meraih garpu dan sendok yang sudah menantinya, memotong stick yang siap disantap.


Mereka menikmati sajian dari cafe itu, alunan musik romantis juga selalu terdengar di telinga mereka. Cherry sesekali melirik dan melempar senyum kepada Sandy. Laki-laki yang hingga penghujung makan siang tetap bersikap cuek dan angkuh terhadapnya. Mungkin hatinya sedang menari-nari merasa puas dengan keberhasilan yang dia dapat.


"Thanks ya San, kamu masih mau lunch bareng aku. Jujur, aku sangat senang hari ini" Cherry menyatukan kedua jemarinya di bawah dagu. Menatap penuh kesima pada wajah Sandy yang selalu terlihat tampan.


"'Sorry, aku harus balik kantor sekarang" Sandy membersihkan mulutnya lalu beranjak meninggalkan cafe.


"Sandy !" teriak cherry yang tak di anggap nya lagi.


Sial, gue kejebak dengan rencana gue sendiri! Harusnya Reno yang tertekan dan gila karena gadis tua itu!


Bersambung........