I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Awal kejutan yang menyakitkan



"Oh ya men, gimana perkembangan kamu sama wanita licik itu?" Sandy mengaduk minuman yang telah ia pesan. Tidak ada aura bercanda yang terpancar dari matanya. Dia benar-benar berfikir jika Reno mencintai Cherry. Hahaha! Sandy, aku emang jomblo. Tapi gue juga masih waras kali.


Reno kembali mengangkat sendoknya yang sempat ia letakkan saat mendengar pertanyaan Sandy.


"Sama kaya kamu" ketusnya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan topik yang Sandy cetuskan.


"Jadi sudah ada rencana pernikahan?" Sandy membulatkan matanya. Berharapa Reno mengatakan tidak! Namun laki-laki itu justru tak meneruskan pembicaraan Sandy.


"Kamu garing amat sih, mending pikirkan gimana rencana kamu buat meresmukan hubungan kamu sama Keysha sebelum kamu liburan !" kini giliran Reno yang mengaduk-aduk minuman di depannya.


"Oh itu aku sudah pikirkan" wajah itu semakin terlihat tampan saat pemiliknya tersenyum. Ia memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Reno. Membisikkan pelan tentang rencananya, yang kemudian disambut anggukan setuju dari Reno. Banyangannya semua akan berjalan lancar, satu persatu akan terlaksana dengan baik. Masa depan yang ia impikan akan segera diraihnya. Wanita yang memang seharusnya mendapat kepastian darinya.


--


"Kak kamu sudah tahu kalau Gilang sudah bebas?" Key menurunkun buku yang menutupi wajahnya. Sekilas dia teringat obrolan Gilang dan Cherry tadi siang. Wanita licik itu memang sangat senang mengusik kehidupan Key. Membuka kan pintu pertengkaran di antara mereka.


" oh ya? bagus! " Sandy sebenarnya kaget mendengar berita itu. Namun dia mencoba acuh. Meluruskan kejutan yang akan dia berikan untuk wanitanya. Dia sempat meliriknya, namun hanya sesekali. Dia berpura-pura memfokuskan diri pada laptopnya, tak memperdulikan Key yang memasang wajah murung.


"Jad, kamu yang bebasin dia?" Key mendekatkan diri kearah Sandy. Dia mencondongkan tubuhnya agar lebih mudah bertatap wajah dengan lelakinya.


"bukan !" laki-laki itu kini menyerah. Melepaskan jarinya dari laptop dan duduk bersandar pada kursi.


Sementara itu Sandy memilih memundurkan kursinya agar dia lebih mudah untuk berdiri.


"Benci yang selama ini aku sembunyikan darimu" wajah Sandy berubah. Tidak ada garis bercanda dan tak pasti. Sepertinya dia memang serius dengan ucapannya, pekik key dalam hati. Entahlah, ada rasa sakit yang menancap di hatinya saat mendengar ucapan Sandy. Kristal-kristal dipelupuk matanya juga sudah bersiap untuk meluncur. Hei, padahal ini belum jelas, dia juga belum menyelesaikan ucapannya. Kenapa ini, payah sekali!


"kau tidak ingin mendengar.apa yang ku benci?" Sandy melirik Key, tergambar senyum sinis di sudut bibirnya. Ah, untuk apa lagi bertanya. Kurasa memang itu tanggung jawabmu untuk menyelesaikan ucapanmu. Key hanya menunduk memandangi lantai yang tetap sama. Wajahnya sudah pasrah dengan apapun itu. Toh, semua juga berawal dari paksaan bukan.


"Mmm..baiklah! Tak penting lagi kita bahas ini." Sandy berjalan mendekati tempat Keysha berdiri. Diraihnya kedua pundak yang gemetaran tanpa alasan. Hatinya seperti sudah bisa menebak segalanya, tapi logika nya masih sulit untuk mencerna.


"Keysha Larasati maafkan aku. Detik ini, menit ini dan saat ini, aku memilih menyudahi hubungan kita. Aku ingin mengakhiri pernikahan yang tak berdasar ini.. Keysha...." Sandy masih belum usai berbicara. Namun, Key dengan cepat memotong ucapannya.


"Jangan katakan lagi! Aku paham Sandy. entah salah apa yang sudah aku lakuin sama kamu. Tapi, terima kasih untuk segalanya." Key terkulai lemas. Air mata yang sedari tadi ia bendung kini mengalir bebas di kedua pipinya. Hatinya bisa merasakan hancur, walaupun dia belum mengakui jika dia telah terbuai dengan cinta suaminya. Ah, Ralat! Bukankah, itu tadi adalah talak buat dia? Jadi ya mantan suaminya. Duh, tidak enak sekali bilangnya.


Sandy mengayun langkahnya keluar dari rumah yang selama ini mereka tempati, tanpa permisi ataupun sekedar godaan ringan seperti yang selalu dia lontarkan.


Keysha, maaf aku pergi karena benar-benar tak sanggup melihatmu menangis...


Setelahnya, aku yakin kamu pasti akan bahagia selamanya....dengan ikatan yang negara pun mengakuinya....


Akan ku ulang, masa lamaran kita dan pernikahan kita....