I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Ragu



"Bagaimana Drey ? Apa ada kabar mengenai kakakmu ?" Tanya Meera, ia tadi berpamit untuk ke toilet. Mungkin lima belas menit sudah dia meninggalkan Chandra dan Audrey, berharap ketika kembali Sandy sudah bisa di hubungi.


Audrey menggeleng ringan lalu mengangkat kedua bahunya.


"Sandy kurang ajar sekali. Apa tidak bisa baik sedikit sama mamanya." Sungut Meera. Ia tidak tahu atau mungkin tidak ingin tahu alasan apa yang membuat anak sulungnya ingkar padanya. Ya, Sandy memang mengatakan akan menjemput mereka ketika telah tiba di bandara. Tapi nyatanya, hingga satu jam Meera, Chandra dan Audrey menunggu di lobby bandara, tidak ada tanda-tanda pria itu datang memenuhi janji.


"Aku juga sudah menghubungi kak Keysha ma, tapi tidak ada jawaban." Audrey memasukkan ponselnya kembali ke tas. Ia sudah jengah dan tidak ingin lagi berharap kakak satu-satunya itu datang untuk menjemput.


"Aku tidak mengatakan padanya jika aku akan pulang, jadi aku bersalah jika marah padanya." Gumam Audrey, ia tetap menjaga pikiran. Tidak ingin terlalu kesal hingga kecewa kepada Sandy.


"Ya sudah kita naik taksi saja." Seru Chandra, ia mengangkat tas jinjing dan bersiap untuk menarik koper besar yang berisi barang-barang Audrey. Empat koper sudah cukup merepotkan mereka, dan belum pasti isinya adalah barang-barang penting. Wanita, memang selalu ingin ribet sendiri.


"Biar Audrey yang pesan pa, " Audrey berusaha merogoh ponselnya lagi.


"Tidak perlu Drey, di depan ada taksi. Kita naik itu saja," Chandra menolaknya, ia berjalan lebih dulu. Tubuhnya sudah tidak bisa di samakan dengan anak muda. Dia harus banyak istirahat sekarang, tidak bisa duduk terlalu lama. Apalagi dengan rasa lelah yang terus-menerus memburunya.


"Baiklah." Audrey hanya mengiyakan, ia menurut apa yang di katakan oleh Chandra.


Dengan dua tangannya masing-masing, mereka membawa koper dan tas yang ada. Tidak perlu di beritakan, sudah jelas milik Audrey lah yang paling banyak. Tetapi tiap di tegur, dia selalu bersitegang bahwa itu adalah oleh-oleh untuk kedua ponakan kembarnya.


"Ayo Drey...." Panggil Meera, ia menoleh ke arah Audrey yang berjalan lebih lambat dari padanya.


"Iya ma...Ini terlalu merepotkan. " Audrey berusaha lari, tapi barang di tangannya selalu jatuh bergantian. Ah, dia benar-benar di buat susah oleh dirinya sendiri.


"Makanya, bawa barang yang perlu saja. Di Indonesia kan juga banyak," Tutur Chandra santai.


"Iya pa.... tapi ini juga penting." tutur Audrey membela diri.


"Semua juga kamu bilang penting kalau ada koper yang masih kosong." Chandra membalikkan badan. Ia bergegas menuju taksi yang sudah menanti di depan pintu utama.


"Sudahlah pa, jangan seperti itu sama Audrey," Meera memang seperti itu semenjak lama. Ia selalu membela anak-anaknya jika Chandra menegur mereka. Untungnya, dua anak itu bukanlah orang yang tidak bisa berpikir. Mereka bisa menempatkan diri, dan tidak bersikap kurang ajar terhadap Chandra walaupun Meera membela keduanya.


Selesai memasukkan semua barang ke bagasi, mereka semua segera naik ke atas mobil. Menunjukkan alamat yang di tuju setelah menjawab salam ramah dari driver taksi.


Mereka sangat menikmati perjalanan, bahkan Meera sempat terlelap karena lelah yang mendera tubuhnya. Sudah tidak selayaknya dia mengangkat barang-barang dengan berat yang melebihi kapasitasnya, apalagi berjalan dan terus menunggu dalam jenuh yang menyita.


"Mama sudah mendingan ?" Tanya Keysha panik, ia mendekati Lita yang terbaring di atas kasur rumah sakit.


Sandy hanya terpaku, ia sama sekali tidak berniat menolong perempuan yang sebenarnya belum tersentuh oleh mobilnya sedikitpun. Aneh saja, dia tiba-tiba pingsan di tengah jalan tanpa alasan. Menjerit keras dan tak bergerak walau mobil Sandy melaju masih cukup jauh. Apa iya dia sengaja ? Ah tidak ! Tidak ! Perempuan itu sepertinya terlalu banyak pikiran hingga membuat pikirannya tidak bisa menyatu dengan tubuhnya.


"Ma... Mama tidak apa-apa Key, " Jawab Lita pelan. Lehernya terasa kaku saat berucap, rasa sesaknya mendorong keras dada hingga membuatnya merasakan sakit.


"Apa yang membuatmu ingin mati di depan mobilku, hah ? Apa kau sudah bosan hidup ?" Gertak Sandy dengan kerasnya. Ia sungguh bersungut-sungut, matanya sangat tajam menatap Lita. Murkanya memuncak, tiada lagi maaf yang terpercaya. Sandy sudah sangat muak menanggapi drama yang tidak selayaknya mendapat perhatian darinya.


"Bu...Bukan seperti itu nak, mama hanya...."


"Tidak perlu berkata lembut di depanku jika kau masih berhati iblis ketika di belakang. Perbuatan mu kemarin sungguh gila dan aku tidak ingin memaafkannya, apa kau tidak menyadari itu ? Dasar perempuan licik, kegagalan apa lagi yang ingin kau perlihatkan di depanku sekarang hah ?" Sandy sudah tidak bisa menahan diri. Ia tidak peduli dimana dia sedang berpijak sekarang.


Keysha berusaha meredam amarah suaminya, melarangnya berkata dengan nada keras karena tidak hanya Lita yang bisa mendengarnya. Tapi, Sandy sudah tidak ingin mendengar. Ia tidak mau berbaik hati kepada wanita yang selalu saja mencari alasan dalam hidup Keysha.


"Key, tolong Shinta Key..." Lita tiba-tiba merajuk, ia memohon dengan harapan tinggi kepada anak tiri yang selalu ia bedakan. Menarik tangan Keysha, walau Sandy terus berusaha menepis.


"Apa kau tidak lelah menipu istriku ha ? Dia sudah cukup sakit karena tingkah mu sejak lama." Tutur Sandy kesal.


"Kak, dengarkan dulu mama Lita bicara apa." Tegur Keysha, ia berusaha membuat Sandy lebih tenang dan bisa mengontrol dirinya sendiri. Memantau keadaan yang sangat memberi penekanan untuknya.


"Berpikirlah dengan panjang sayang, aku tidak ingin kamu di bodohi oleh mereka untuk kesekian kalinya. Penculikan yang pernah terjadi kemarin, adalah hal terakhir aku memberimu kebebasan jika berurusan dengan perempuan gila seperti Lita, Shinta dan Cherry." Ucap Sandy. Ia sudah bulat dengan keputusan yang di ambil Tiada senyuman yang tergambar di sudut bibir walau hanya seuntai kecil. Sandy melangkah keluar ruangan dengan rasa kesal. Ia hanya sedang ingin meredam amarah, karena jika di teruskan hanya akan melukai hati istrinya.


"Maaf Ma...Keysha tidak bisa bantu apapun." Keysha menarik nafasnya ringan.


"Shinta hilang Key, apa kau tidak sayang dengan adikmu ?"


"Mama tanya sayang sama Keysha ?" Keysha mengernyit tidak suka. Matanya membulat seakan-akan mendorong kalimat yang Lita ucap tanpa rasa salah. Ya, Keysha tersulut rasa kesalnya.


"Key... tolong mama...Maafkan mama selama ini jahat sama kamu." Lita tersedu dalam wajah yang memelas. Perempuan yang masih terbaring dengan jarum infus di tangannya itu membuang pandangan. Sudah tidak bisa lagi berpikir untuk menunjukkan jika apa yang dia katakan bukanlah hal tabu. Ini bukan sebuah pembodohan yang sengaja ia atur untuk mengekang Keysha.


"Ma, kemarin Keysha sempat berpikir jika mama dan Shinta memang sudah berubah. Tapi nyatanya, ketika Keysha percaya, mama dan Shinta justru bekerja sama dengan Cherry untuk menjebak ku." Tutur Keysha dengan lantang. Tidak ada air mata yang mengalir, pertanda tiada lagi rasa kasihan dan kode yang menunjukkan terkabulnya harapan yang di pinta.


"Mama serius Key !" Lita bangkit dari ranjang. Ia duduk dan berkata dengan keras, ia meninggikan suaranya untuk membuat anak tirinya percaya.