
"Mama apa kabar ?" Mata Keysha berbinar. Dendam yang sempat tertanam di hati, seolah memunculkan benih baru. Menunjukkan luka yang masih perih tersiram cairan panas.
"ba ...baik. ..Mama baik Key " Jawabnya singkat namun terbata. Lita dan Shinta saling memandang, melempar kedipan , menyimpan tanya.
"Kenapa ma ?" Keysha tahu jika Lita sedikit kaget melihatnya. Ia gugup dan canggung dengan kata yang hendak keluar dari lidahnya. Bukan tentang raga Keysha yang ia takuti, tapi setiap pasang mata yang menatapnya lekat. Tentu saja, mereka tahu siapa Keysha, mereka pun tahu apa yang harus mereka lakukan jika tubuh halus Keysha terluka walau hanya seujung kuku.
"eng ..engga Key. kamu apa kabar ? gimana Sandy ?" Lita melempar tanya, ia berusaha setenang mungkin di depan Key. Sedangkan Shinta ? ia memilih diam tanpa suara, kepalanya menunduk, menatap pada jemari yang sedang sibuk bermain dengan kain diujung rok mininya.
"Alhamdulillah ...kita baik ma " Key tersenyum tulus. Ia berusaha kuat menghadirkan sosok lembutnya, membuang jauh ego yang kembali menyelinap. Mengingatkan sikap ketus yang selalu ia lantunan saat awal-awal pernikahan nya dengan Sandy.
"Ngga usah tegang gitu Ma .Biasa saja, kaya dulu mama ke Keysha " lolos juga . Kata yang sudah ia tahan-tahan sejak awal. ah, manusia ! Tak semudah membalik telapak tangan untuk melupakan dendam yang sudah dalam menusuk di hatinya.
"Ah, engga Key. Ma mama biasa saja kok" Sahut Lita keki. Ia tersenyum miris , bahkan tak berani berlama-lama menatap mata bulat Keysha.
Key kembali tersenyum, ia mengangguk-angguk ringan . Lalu menggandeng Lita dan Shinta untuk duduk sofa tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Sebentar "
Key kembali berjalan, mengambil beberapa helai pakaian yang lebih sopan.
"Karena di sini butik pakaian muslim, jadi adanya cuma pakaian panjang. Mama sama Lita ganti dulu ya. Ngga enak tu di lihatin satpam sama pengunjung yang lain." Keysha menyerahkan beberapa potong pakaian. Ia kini berputar dan duduk .
"Mbak ? "
Keysha memanggil salah seorang pegawai.
"Kenapa bu ?" Ucap Nur, ia sedikit membungkuk, memberi tanda penghormatan tanpa mendongakkan kepala.
"Tolong anter mereka ke ruang ganti ya. Terus pakaian mereka, masukin saja ke tong sampah. Itu kurang bahan seperti nya ." Key memberi perintah pada Nur. Cara berbicara yang tidak meninggi, namun bisa membuat wajah Shinta menjadi geram. Yaa, walau ia berusaha menyembunyikan itu, tapi Keysha bisa membaca situasi yang tersirat.
"Baik bu " Ucap Nur yang kemudian berpaling . "Mari kak, biar saya antar " sambungnya ramah kepada Lita dan Shinta.
Key menyangga kepalanya dengan tangan kanannya. Menatap dua punggung wanita yang tampak seksi itu menjauh dari tempatnya. Tersenyum puas, merasa sedikit bisa memainkan seseorang yang merusak keluarga nya. Ia tidak pernah berniat jahat, dan berkeinginan membalas semua perbuatan mereka. Tetapi, tidak ada salahnya menjadikan mereka lelucon sebatas pelepas penat si tengah rasa lelahnya.
"Mama kok diem aja sih Keysha seperti itu ! " Shinta baru membuka mulut setelah tak terlihat lagi oleh Keysha. Ia merasa kesal bahkan jijik dengan sikap Lita yang begitu merendah di depan Keysha.
"Sayang, kok bicara seperti itu ?" Lita nyengir. Ia mengedipkan mata memberi kode Shinta untuk tidak meneruskan ocehannya. Di sana memang tidak ada Key, tapi bisa saja Nur ini mengadu dan membuat Key murka terhadapnya.
"Ini buk ruang gantinya. Silahkan masuk ." Ujar Nur ramah. Ia masih tersenyum seolah tak ingin ikut campur dengan apapun yang baru saja dia dengar.
"oh iya mbak. Terima kasih " Jawab Lita masih berperan bak wanita baik .
"Shinta ! jaga sikap kamu ! gimana kalau mbaknya ngadu sama Key. Bisa mati kita !" Lita mulai menghardik Shinta, ia menegur dengan mengeraskan bicaranya.
"Ma ! buat apa sih mama takut sama Keysha ? Mana mama Lita yang tak terkalahkan dulu ?" Protes Shinta yang merasa tak suka dengan cara Lita bersembunyi. Usianya tak bisa menunjukkan jiwanya yang telah dewasa. Ia terlalu lama di manja, hingga lupa aturan dan cara menghargai orang lain.
"Kamu gimana sih Shin .Key istri sah Sandy, anak om Chandra ! Kita tinggal di salah satu rumah mereka, apa yang mau kita sombong kan Shin ? berpura-pura lah sebentar, nanti kalau mama sudah menemukan cara buat menjatuhkan Key terserah mau gimana kamu. "
Lita bergumam, alisnya terangkat sebelah . Dan wajah liciknya mulai tergambar kembali di setiap garis-garis halus nya. Lita tetaplah Lita, begitu pun dengan Shinta. Mereka adalah sepasang ibu dan anak yang gila akan duniawi, gila harta dan tahta. Bagi mereka, uang adalah segalanya . Tanpa uang mereka akan menderita, begitulah cara Lita mengajarkan arti kehidupan pada Shinta.
"Emang rencana mama apa ?" Shinta mulai curiga . Ia berbisik melempar tanya yang mulai berkecamuk di otak kecilnya.
"Kita lihat saja nanti " Jawab Lita mengedipkan mata .
Shinta berdecak kesal, ia sangat tidak nyaman dengan pakaian yang begitu rapat, meski tanpa jilbab sekalipun. Tetap saja, ia banyak protes karena rasa gerah yang dia rasa. Lita berulang memperingati Shinta untuk sedikit menjaga sikap dan tidak banyak bicara.
cekrekkkkk
Perlahan pintu terbuka, Lita dan Shinta terlihat anggun dengan berpakaian seperti itu. Mereka mengalungkan pakaian yang tadi ia pakai di lengan masing-masing. Tak mereka sangka, lagi lagi mereka di buat kaget oleh Keysha. Ia sudah berdiri di depan pintu dengan melipat tangan di depan dadanya.
"Subhanallah ...seperti ini lebih cantik tahu ma. Mama juga bisa laku lagi kalau mama masih nyari orang kaya " Sindir Key halus . Ia kembali tersenyum dan berputar mengitari mereka berdua.
"Ka ..."
Belum usai Shinta berbicara, Lita sudah mencubit lengannya. Ia tahu jika putrinya akan mengeluarkan unek-unek yang sudah penuh di dadanya. Untungnya, Lita sangat bisa memahami kebiasaan Shinta, karakternya,bahkan kata yang belum ia lontarkan sekalipun.
"Kenapa Shin ?" Keysha heran, ia melihat apa yang Lita lakukan . Ia pun paham, jika adik nya itu hendak protes seperti yang pernah terjadi dulu. " lo ngga suka ini ?"
"a ? bu - bukan gitu Key .emmm Kak " Shinta nyengir kecur. Aktingnya tidak mendalami, ia kurang pas dengan peran yang Lita berikan. Sungguh wajah paniknya membuat Key menahan tawa di balik badan mereka berdua.
"Dia suka kok Key . cuma bingung aja kenapa tiba-tiba kamu kasih kita baju ?" Lita mengalihkan pembicaraan. Menarik paksa leher Key dengan kalimatnya, membuat wanita itu berhenti mengintai putri tercintanya.
"oh itu. Kalian belum makan kan ? Kita makan bareng ya ?" Usul Key . Ia meraih pakaian yang masih setia di lengan mereka. Tetapi, Shinta sedikit menahan.
"Biar aku buang di rumah aja ya ?" Pinta nya memelas. Ia berbohong, dan menyayangkan dress favoritnya harus di buang paksa oleh wanita yang sempat ia hina hidupnya.
"Maaf Shinta " Key tetap memaksa menariknya lalu memasukkan ke tempat sampah di depan mata mereka.
Dunia sedang berbalik dengan porsi nya masing-masing. Dulu, mungkin saja Key yang di bawah .Menangis diam-diam dalan derita yang menghantui, mengelukan hidup yang tak kunjung berpihak padanya.
Namun, kita dunia sedang memuja nya, mengangkat tinggi nama dan derajatnya. Menjulang , terbang menyentuh birunya langit