I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Harapan



tok....tok...tok


Rania telah berdiri di depan pintu, mengetuk pelan pintu berwarna putih yang tertutup rapat tanpa celah.


"Ya, silahkan masuk !" Ada suara seorang perempuan yang menyahuti dari dalam ruangan. Perempuan itu mempersilakan masuk, menyambut Rania dengan seutas senyuman ketika Rania telah mendorong pintu dan menampakkan ujung kepalanya, hingga dia bisa melihat seluruh isi ruangan.


"Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya nya tanpa ragu. Nyatanya, itu sudah menjadi pertanyaan nya setiap hari, sebuah pekerjaan yang menuntut dan mengajarinya untuk selalu ramah dan sopan kepada setiap orang yang datang pada dirinya.


"Dokter Alexa ?" Rania meyakinkan jika dia tidak salah orang.


"Benar." Senyuman lebar kembali terukir tanpa ragu. Dokter Alexa melipat kedua jemari tangannya, menatap dalam pada perempuan yang tampak kalut di depan mejanya.


"Perkenalkan Dokter, saya Rania." Perempuan itu mengulurkan tangan, dan di sambut cepat oleh Dokter Alexa yang merasa heran.


Kedua bola mata mereka saling bertatap, berinteraksi dengan bahasa kalbu yang mendalam. Garis wajah yang tidak menentu, ada ragu juga rasa takut, lengkap dengan gelisah yang mewarnai terpancar jelas dari raut wajah Rania. Kakinya gusar, bergerak tanpa perintah. Tangannya pun demikian, beradu dengan gerakan ringan di bawah meja.


Rania menggigit bibir bawahnya, lalu menghela nafasnya pelan, "Apa Dokter bisa memeriksa saya ?"


Dokter Alexa tersenyum lebar, "Tentu. Itu sudah menjadi tugas saya Nyonya Rania. Apa keluhan anda ?" Ia memepersiapkan alat dan hendak bangkit dari duduknya.


"Bukan...bukan itu maksud saya."


Rani melambaikan tangan cepat, menepis anggapan Dokter Alexa tentang dirinya. Perempuan itu kembali tertunduk lesu, membuat Dokter Alexa menatapnya bingung.


Rania menatap sekeliling, memastikan jika semua aman dan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan nya.


"Dokter, aku ingin mendonorkan hatiku untuk Sandy, suami sahabatku," Ujar Rania yakin.


Dokter Alexa mengangkat alisnya sebelah. Ia tertegun dengan rasa tidak percaya dengan apa yang Rania ungkapkan. Dengan serius, matanya meraba seluruh tubuh Rania, menatap dari ujung kepala hingga bagian badan yang terhalang meja. Perempuan muda dan cantik, jika di lihat dari caranya berpakaian dia bukanlah seseorang yang kehabisan cara untuk menyambung hidup. Dia tidak bisa di lihat sebagai orang miskin yang sangat membutuhkan banyak uang dalam waktu dekat.


"Nyonya Rania....Apa anda sudah memikirkan itu baik-baik ? Resikonya besar untuk diri anda." Dokter Alexa menatapnya dengan tajam. Memastikan jika perempuan itu telah memikirkan semua dengan matang. Memperkirakan kemungkinan besar yang akan terjadi pada dirinya.


Rania mengangguk cepat, "Saya terlalu berdosa kepada mereka." Lirihnya pelan. Namun, masih bisa di tangkap jelas oleh pendengaran Dokter Alexa.


Dokter Alexa hanya mengangguk paham, tidak ingin terlibat lebih dalam lagi dengan permasalahan mereka. Ia menyiapkan peralatan untuk melakukan pemeriksaan dasar pada diri Rania yang sudah berbaring di atas kasur di samping meja kerjanya.


Pemeriksaan demi pemeriksaan telah di lewati. Rania berpamitan karena hasil yang membuatnya berdebar tidak bisa keluar di hari yang sama. Butuh beberapa hari untuk memperlihatkan hasil keseluruhan.


--------


Reno terpaku di ambang pintu, terdiam dan terus larut dalam pandangan matanya. Ia terus saja menatap Keysha yang tidak menyadari hadirnya, perempuan itu tengah asyik dengan sebuah buku bacaan yang menemaninya sehari-hari.


"Hemm....Key ?" Reno melangkah pelan. Ia memasang senyum palsu di sudut bibirnya. " Bagaimana keadaan mu ?"


"Reno ? Alhamdulillah, aku baik dan sudah sangat bosan diam di sini." Perempuan itu memutar bola mata. Memberi kode jika ruangan itu tengah merampas kebebasannya.


"Hahaha...sabar . Sampai kamu benar-benar pulih," Ucap Reno memberi dukungan.


"Dia....Dia sangat sibuk semenjak pagi . Sudah berhari-hari dia tidak memikirkan pekerjaan, jadi ya ...ku rasa kamu lebih tahu dariku perihal itu." Jelas Reno bohong.


Keysha terkekeh geli, "Aku tidak pernah bekerja di kantor, bagaimana aku bisa mengetahui itu."


"Allan dan Lena, apa tidak kau izinkan untuk mereka datang ke sini ? Aku ingin sekali bertemu dengan mereka." Keysha memasang wajah sedih. Bibirnya itu terlihat mengembang dan tebal ketika raut wajah cantik itu sedang cemberut.


"Apa kau ingin aku mati di tangan suamimu ?"


"Tolonglah Reno. Aku sungguh rindu terhadap mereka."


"Sabarlah ! Aku masih ingin nikah, dan belum siap jika harus mati sia-sia." Reno menyeringai tajam. Merasa kesal dan terganggu dengan rengekan Keysha yang memanaskan telinganya. Sungguh, dia pun merasa kasihan dan tidak tega ketika melihat matanya, tapi akan lebih tidak tega lagi jika dia harus mengetahui kemungkinan terburuk tentang kabar suaminya.


"Ren, siapa yang kemarin menolong ku dan membawaku ke sini ? Tempat itu sangat sepi, bagaimana bisa ada orang yang tiba-tiba melintas di sana ?" Keysha mengingat kejadian kemarin. Menerka-nerka keadaan dan mengharap Reno menjawab sesuai apa yang di harapkan.


"Apa kau tidak mengingatnya ?" Reno memperhatikan Keysha dengan seksama.


Perempuan itu menggeleng ringan, "Tidak....ada tidak ingat siapa orang itu."


"Rania." Ujar Reno cepat.


"Rania ? Apa kau sedang bercanda ? Tidak mungkin dia melakukan itu, dengan hatinya yang sangat membenciku." Keysha membelalakkan mata tidak percaya, lalu membuang muka dan tertunduk lesu.


"Sudah ku duga." Ucap Reno menghela nafas pelan.


"Maksudmu ?"


"Ya. Aku pun berpikir sama dengan apa yang kamu pikirkan. Tapi nyatanya, memang perempuan gila itu yang membawamu ke rumah sakit ."


"Apa Rania sudah sadar ? Maksudku, jika apa yang dia lakukan selama ini adalah suatu kebodohan dan hanya menyiksa batinnya sendiri." Keysha menebak cepat. Ia memainkan jemari, seakan mengimbangi bibir yang terus bergerak.


"Entahlah." Reno mengangkat kedua bahunya. "Dia sudah menangis histeris saat aku datang ke ruang IGD. Baju yang dia kenakan juga bersimpah darah. Dan matanya sangat sembab, ku pikir dia telah lama menangis."


Ada rasa senang yang menggelitik di dalam hati Keysha ketika mendengar ucapan Reno. Ia tersipu, dan merunduk menahan senyum. Hatinya merekah, merasa terhibur dengan penggalan kisah yang hanya menjadi cerita. Ada harapan yang mulai terangkai dengan bingkai yang indah, ada doa-doa yang terus menggema di langit-langit tinggi, mulai menampakkan diri dan menemui titik terang.


"Jangan berlebihan ! Kita tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu." Ucapan Reno barusan membuat Keysha kembali pada dirinya. Membiarkan angan menggantung pada permohonan yang belum usai dia pintakan.


"Jangan se'udzon. " Celetuk Keysha cepat sebelum Reno memperpanjang kalimatnya dengan ragam alasan yang hanya berkesan menuduh.


"Bukan seperti itu. Tapi apa salahnya kita waspada ?" Reno mengelak, bersikeras dan berusaha membela diri.


"Terserahlah...." Keysha menautkan alis. Ia mengukir senyum paksa saat menatap wajah Reno.


Tidak apalah sedikit memaksa bibir untuk tersenyum, toh itu juga akan membuatnya bahagia dengan memuji dirinya sendiri yang tidak pernah ingin salah....