I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Terkurung



"Selamat siang." Dua orang lelaki berseragam serba hitam, berdiri tegak di depan pintu rumah Cherry. Mereka menatap dengan tatapan arogan tanpa belas kasihan. Jantung Cherry berdetak kian kencang, lututnya lemas gemetaran seolah-olah tidak kuasa menahan tubuh rampingnya.


"Benar ini rumah Nona Cherry ? " Tanya salah satu lelaki itu dengan sengit.


"I...iya saya sendiri. Ada apa pak ?" Rasa hati sudah berkecamuk tidak bisa di tata setenang mungkin, ingin sekali ia berlari dan tidak menanggapi dua lelaki yang sudah menyulut rasa khawatir dalam hatinya .


"Saya membawa surat penangkapan untuk anda, atas tuduhan penculikan." Serunya seraya menyodorkan amplop putih yang berisi datu lembar surat. Dengan tangan yang di landa gemetar tiada henti, Cherry membukanya dengan perlahan. Membaca baris demi baris tulisan yang dengan jelas menyatakan alasan dua lelaki itu datang.


"Sa...saya tidak bersalah pak. Itu bukan saya ! Kalian salah orang." Cherry sudah berusaha berlari, tapi kalah cepat dengan dua orang yang mencekalnya dengan kuat.


"Anda bisa jelaskan ketika telah sampai di kantor."


Apa yang bisa di lakukan jika borgol sudah mengunci kedua tangannya. Berontak, hanya akan menghabiskan tenaga, meronta tidak akan mengurangi beratnya hukuman yang sudah menanti.


Kedua polisi itu membawa Cherry menuju mobil yang mereka bawa. Menyeret dengan setengah memaksa karena Cherry berulang kali diam tidak mau melangkah.


"Selamat menikmati kehidupan selanjutnya Cherry." Entah sejak kapan Sandy berdiri di samping mobil miliknya. Menepuk tangan penuh gembira, merasa puas telah menang di atas perempuan gila yang menyita waktunya dalam sehari-hari. Tingkahnya yang selalu membuatnya repot bahkan kewalahan. Ancaman demi ancaman yang selalu menakut-nakuti istrinya, sungguh memaksanya untuk tetap melakukan hal itu. Menyeret semua masalah ke meja hukum, agar semua di proses sesuai porsinya.


"Aku pasti akan balas semuanya kepada Keysha ! Tunggu saja San !" Cherry berteriak kesal. Melontarkan kalimat ancaman, dan tetap di tujukan untuk perempuan yang di bencinya sejak hari perpisahannya dengan Sandy.


Sandy hanya tersenyum sinis mendengarnya. Tidak menghiraukan ancaman yang tersirat. Ia hanya melihat Cherry di seret masuk mobil dengan tatapan hina. Hanya fokus dengan gerakan menolaknya, tanpa mendengar cacian kasar yang Cherry tujukan untuknya.


"Aku tunggu Cherry, sejauh apa kamu bertahan dalam dendam yang menyiksamu sendiri." Gumam Sandy dalam hati. Ia segera masuk ke dalam mobilnya setelah kedua polisi itu membawa perempuan yang teramat menyusahkan itu semakin menjauh, menghilang, dan tidak lagi bisa di tangkap oleh kedua bola mata.


Sandy memacu laju mobil dengan kecepatan yang cukup kencang. Keadaan sepi, cukup mendukungnya untuk lebih leluasa menikmati jalanan. Ia mencoba menghubungi istrinya dan juga Reno, tapi tidak satupun merespon. Mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, tidak menyadari jika ponselnya berdering berkali-kali.


Di jalanan kota yang sudah mendekati kantornya, Sandy hampir hilang kendali dan tidak melihat jika ada seseorang yang menyeberang di depan mobilnya . Ia terlalu sibuk dengan ponsel pada kecepatan yang cukup tinggi, sehingga membuatnya reflek menginjak rem dengan mendadak.


"Shit !" Sandy mengerang, ia memukul kemudi dengan kencang. Dengan emosi yang menggebu, ia segera turun dari kendaraan untuk meluapkan kesal yang memuncak karena perempuan yang menutup telinganya rapat-rapat di depan mobil.


"Apa kau tidak punya mata, hah ?" Tidak peduli berapa usia wanita yang masih rapat menyembunyikan wajah itu, Sandy dengan kencang melontarkan kalimat makian. Ia mengangkat tangan hingga sampai pinggang, dan menunjuk tepat ke arah wajah perempuan itu.


"Ma...maaf..." Tangisnya jelas terdengar, ia tersedu dengan rasa takut yang menghantui. Perlahan wanita itu membuka wajahnya, menunjukkan raut yang mengiba dengan hati yang merendah. Ia merunduk, masih tidak berani menatap Sandy yang sangat arogan. Seperti seekor singa yang siap melahap habis mangsanya.


"Mama Lita ? Ah, sial ! Modus apa lagi yang ingin kamu lakukan ?" Sandy sangat mengenali perempuan itu beserta kejahatan-kejahatan yang pernah ia lakukan. Keadaan tubuh yang sangat memprihatinkan, ia terlihat tidak merawat diri beberapa hari ke belakang. Berjalan di jalan raya tanpa alas kaki yang melindungi, rambut tergerai dengan kucel dan berantakan. Wajahnya sangat kotor, begitu pula dengan pakaian yang ia kenakan.


Lita bergidik ngeri ketika melihat Sandy, apalagi mendengar suaranya yang menggema di udara. Keras, seolah-olah menyambar hati dan membuatnya takut. Perempuan yang mulai menua itu tampak berjalan mundur selangkah demi selangkah. Masih dengan wajah yang menunduk dan di selimuti rasa takut yang menjulang tinggi.


"Tolong, kembalikan anakku !" Lita memelas dengan nada bicaranya. Ia terus berjalan mundur, lalu berbalik badan dan berlari. Sesekali ia menoleh melihat Sandy, tapi masih dengan kaki yang semakin menjauh untuk menghindari.


Sandy tercengang menyaksikan ibu tiri dari istrinya. Tingkahnya aneh, apalagi penampilannya. Ia lebih terlihat seperti seseorang yang sedang di landa depresi berat dan penyakit ingatan. Bahkan, ia sama sekali tidak menyebut nama Sandy, justru terus memohon agar anaknya di kembalikan.


Sandy kembali ke dalam mobil, sepanjang jalan bayangannya terus mengingatkan kepada perempuan itu. Ada kasihan yang menggelitik, tapi lebih dominan dengan rasa tidak percaya. Perempuan licik dan tidak pernah kehabisan akal seperti Lita, rupanya bisa merasa kehilangan bahkan kecewa dengan keadaan yang menyapa.


drrt...drrt...(Suara ponsel berdering)


"Ya sayang, hallo ?" Sandy memasang headset bluetooth di salah satu telinganya. Ia segera menyapa seseorang yang sedari tadi ia coba hubungi.


"Ada apa kak ?" Sayup-sayup Keysha menimpalinya segera. Ia mempertanyakan mengenai panggilan yang masuk berulang kali dari suaminya. Ia juga mengatakan jika dirinya tidak mendengar itu karena ia tengah sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi Rania baru hari pertama bekerja, jadi banyak hal yang harus Keysha arahkan. Termasuk dengan menunjukkan bagian-bagian ruang dan fungsi nya di butik.


"Aku akan ke sana." Sandy menyudahi telepon secara sepihak. Ia segera melajukan mobil ke butik untuk mengatakan semua kabar yang baru saja ia lewati.


-------


Sudah beberapa hari ini Shinta terkurung di sebuah kamar yang berukuran besar. Tidak ada aktivitas yang lebih berguna selain menangis dan meratap kepada nasib. Menjadi budak nafsu dan melayani dengan jeritan hati yang tidak menerima. Ia mengurung diri di bawah balutan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Merasa malu dan benci dengan pakaian sexy yang Vino sediakan untuknya. Ia merasa sangat hina dan rendah. Bahkan, raganya terasa tidak lagi berharga layaknya sampah.


Matanya sudah cukup bengkak, karena terus menangis dalam harapan. Ia terduduk di atas ranjang dan memeluk eratnya kakinya yang ia lipat. Berharap kepada Tuhan untuk membantunya keluar dari neraka yang membelenggu.


"Apa kau tidak bisa sehari saja diam !" Vino sudah cukup geram dengan Shinta. Kesabaran yang coba ia rangkai beberapa hari ini sudah tidak bisa lagi di tawar. Baginya, Shinta cukup sengaja mengujinya dan sedang meminta mendapat siksa fisik karena tidak bisa di tegur dengan lidah.


"Apa kau ingin lebih menderita dari ini ?" Vino mencekram kedua pipi Shinta kuat-kuat. Senyuman sinis dan penuh ancaman mengembang bebas di kedua sudut bibir tebalnya.


"Tolong...lepaskan aku Vin. Aku mau pulang..." Shinta menangis tersedu-sedu. Kata-katanya terdengar kurang sempurna karena tertahan oleh cengkraman kuat tangan Vino.


"Pulang ya sayang ?" Vino mengulangi ucapan Shinta dengan pelan, tapi tetap menimbulkan rasa takut dan terancam bagi Shinta.


"Apa salahku padamu Vin ? Tolong lepaskan aku."


"Salahmu ? hahaha...." Vino tertawa lepas, ia mendorong tubuh Shinta hingga membuat perempuan itu terbaring di atas ranjang dengan tangis yang semakin mengeras. Vino beranjak dari atas kasur, ia menyulut rokok di tepi jendela. Membuang pandangan jauh ke depan seolah menantang alam dan menyiapkan cerita yang mengejutkan.


"Mungkin kamu tidak bersalah, tapi mamamu...mamamu yang membuatmu harus menanggung semuanya." Vino tersenyum sinis, lalu berjalan ke arah Shinta dengan wajah yang menakutkan. Pria itu menarik selimut yang menutup tubuh Shinta dengan paksa. Merampasnya, lalu membawanya keluar tanpa mendengar teriakan Shinta yang semakin merengek meminta kebebasan darinya.