
Merasa sudah cukup dengan bukti yang di dapat, Ibnu menekan tombol stop pada ponselnya. Ia menyudahi rekaman yang diambil. Ia segera memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan perlahan melangkah masuk. Niatnya, ia ingin menyudahi perang dingin antara Cherry dan Keysha.
"Sayang, kau tampaknya senang sekali ? Apa kak Cherry benar-benar serius dengan permintaan maafnya ?" Rania yang tengah asyik menonton televisi, diam-diam memperhatikan raut wajah sumringah Ibnu ketika melewati hadapannya.
Ibnu menggeleng ringan, lalu mengangkat kedua bahunya, "Nanti akan ku ceritakan padamu. Aku mau mengambil makanan ringan dan minuman dulu untuk mereka."
Ibnu melanjutkan langkahnya dan melenggang masuk ke dapur dengan bersiul senang. Senandung irama lagu, ia persembahkan tanpa lirik. Tidak lama ia sudah keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi dua gelas orange juice dan dua buah cup cake. Rania mengikuti langkah suaminya tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia hanya fokus dengan bibir yang terus mengurai senyum tanpa alasan yang di katakan dengan jelas olehnya.
Rania kembali melanjutkan sebuah game di ponselnya setelah suaminya menghilang di balik tembok pembatas. Pandangan matanya sudah tidak sampai untuk menembusnya untuk terus memperhatikan. Tentu, dia harus sempoyongan dan kewalahan sendiri dengan dua buah tongkat penopang tubuhnya jika rasa penasaran yang terbesit tidak segera di hentikan secara paksa.
"Kenapa pada diam ? Apa sudah selesai dengan hal penting yang kalian bicarakan ?" Ibnu meletakkan nampan di atas meja. Mengambilnya dan menyuguhkan di depan masing-masing dengan porsi yang telah ia jatahkan sebelumnya. satu gelas Orange juice dan satu cup cake untuk masing-masing. "Silahkan, ini semua aku yang membuatnya. Berilah komentar agar aku bisa membuatnya lebih enak dari ini." Ibnu mempersilahkan mereka berdua dengan tangan kanan yang mengarah ke suguhan kecil itu. Cukup diam dan berpura-pura tidak tahu dengan keadaan yang mencengkram dan membuat bulu kuduk berdiri adalah hal yang memang tepat untuk di lakukan saat itu .
"Kebetulan sekali aku tidak sempat sarapan tadi." Keysha menyambutnya dengan hangat. Senyuman khas, indah nan manis terlontar tulus dari bibirnya. Ia meraih cupcake terlebih dahulu. Mencicipinya layaknya seorang komentator dalam sebuah penjurian lomba memasak.
"Ini enak sekali Nu, tapi terlalu manis untukku." Ucap Keysha setelah menelan dua kali gigitan pada cake tersebut. Ia mengangguk dalam setiap kecapan lidah. Benar-benar menikmati tanpa basa-basi.
Cherry tidak menggubrisnya, ia tetap memasang wajah tegang karena cukup emosi dengan sikap dan jawaban Keysha yang seolah melecehkannya.
"Benarkah ? Apa kau bersungguh-sungguh dengan kalimat mu ?" Ucap Ibnu antusias. Ia merasa senang dengan pujian yang Keysha ucapkan. Walau ada embel-embel terlalu manis, baginya adalah suatu kehormatan karena baru pertama kali ia membuatnya. Itupun hasil mengoprek dapur dengan resep yang baru di peroleh setelah beberapa jam memperhatikan sebuah video di suatu situs.
"hmm..." Keysha mengangguk cepat. Mulutnya penuh dan sibuk mengunyah hingga kesulitan untuk mengucapkan sebuah kata iya.
"Tampilannya saja membuatku tidak bernafsu," Kata Cherry tiba-tiba. Ucapannya membuat Keysha dan Ibnu tercengang dan saling menatap satu sama lain. Mereka berdua tidak menjawabnya karena saling memahami jika Cherry masih terbawa emosi dengan permasalahannya sebelum Ibnu menampakkan diri. Perempuan itu meraih tasnya dengan kasar, lalu mengangkat tubuh dan pergi berlalu meninggalkan Ibnu dan Keysha.
"Kak Cherry mau kemana ? Ini makan dulu, pasti kakak ketagihan." Suara Ibnu yang berteriak, membuatnya terhenti dan menoleh kebelakang.
"Sudah ku katakan, itu sangat buruk ! Aku tidak berselera untuk memakannya. Suruh saja perempuan murahan di sampingmu itu untuk menghabiskan !" Jawab Cherry dengan geram. Ia terus saja menyuarakan kata hatinya yang terus menghardik Keysha dengan kalimat yang memang menjadi ciri khasnya.
Keysha hanya tersenyum masam dan terus menikmati cake itu tanpa peduli ucapan Cherry. Baginya, itu adalah hal yang wajar dan terlalu ia dengar dari lidah yang sama. Mungkin, dulu memang cukup menyengat bahkan membuatnya menangis karena bersedih. Ia tidak terima dengan caci maki yang menyudutkan dirinya. Namun, sekarang ia lebih bisa mengendalikan diri, dan mengatur semua yang terjadi. Ia bisa menjadi perempuan tegar yang berhati baja ketika ada yang merendahkannya. Ia benar-benar menutup telinga rapat-rapat, atau terkadang tidak memikirkan hal-hal seperti itu terlalu lama.
Cherry kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena suara Ibnu yang menyapanya. Ia melangkah dengan kasar dan cepat. Tidak menunggu waktu lama untuk membuat gadis tua itu menghilang di balik pintu. Bahkan, sepertinya dia sangat kencang menginjak pedal gas sehingga membuat mobil yang dia kendarai melesat dengan cepat.
Keysha yang melihat perubahan ekspresi wajah Ibnu di menit yang sama, berjalan menghampirinya. Ia berdiri di depan Ibnu melempar tubuhnya dengan keras.
"Kau pasti sedih ya jika rekaman itu sampai di tangan polisi dan mereka menangkap Cherry ?" Tanya Keysha, nadanya lembut dan cukup menenangkan bagi hati yang merasa.
"Tentu saja, dia kakakku. Mana mungkin aku benar-benar senang melihatnya menderita." Ibnu menarik nafasnya pelan, menata diri untuk tidak terbuai dengan rasa yang memberatkan hubungan darah yang mengikat. Salah tetaplah salah, dan memang sudah tepat jika yang salah di hukum dengan keadilan yang mengatur. " Tapi, aku akan lebih sedih jika harus melihat dia berkeliaran bebas tanpa rasa salah. Perbuatannya sungguh tidak bisa di maafkan, dia pantas untuk merasakan imbas dari sikap buruknya." Jawab Ibnu spontan. Ia membuang pandangan jauh ke halaman luas. Pintunya terbuka dengan lebar, hingga matanya bisa bebas menantang alam untuk turut merasakan kegundahan yang menerpa hatinya.
Mereka berdua tidak menyadari jika Rania mendengarkan dari belakang Keysha. Berdiri dengan empat kaki. Ah, bukan bukan ! Dengan dua tongkat yang berfungsi sama dengan kakinya, sama-sama menopang tubuh dan membantunya untuk berdiri dan melangkah.
"Apa kak Cherry di tangkap polisi ?" Suara Rania yang tiba-tiba menyambar di telinga mereka berdua, membuat Keysha terperanjak kaget dan dengan cepat membalikkan badan.
"Ah...tidak Rania !" Jawab Keysha gugup, bukan merasa bersalah atau memang sedang melakukan salah, tapi pengalaman mengajarkannya berbagai hal. Ia takut dengan situasi yang pernah dan berulang kali menghimpitnya. Ia kelabakan mencari pegangan kata agar perempuan itu tidak salah paham untuk ke sekian kalinya dengan sebuah tuduhan yang sama.
"Aku merekam apa yang kak Cherry katakan tadi. Tentang penculikan yang dia lakukan, bahkan ancaman yang dia katakan pada Keysha." Ibnu langsung berdiri dari sofa. ia melangkah mendekati Rania lalu menunjukkan video yang baru dia dapat.
"Apa ini yang membuatmu begitu senang sejak tadi ?" Tanya Rania dengan santai. Sepertinya dia tidak salah melihat. Dia tidak juga menangkap momen berduanya Keysha dan Ibnu dengan cara yang salah.
"Huff syukurlah..." Gumam Keysha dalam hati seraya menghembuskan nafas lega.
Ibnu mengangguk mengiyakan, ia tetap fokus untuk meneliti ulang rekaman video yang masih ia putar.
"Syukurlah, aku ikut senang dan lega jika Keysha bisa lebih tenang setelah ini. Tante Lita dan Shinta tidak akan berbuat senekat dulu karena hidupnya benar-benar di kendalikan oleh Sandy sekarang." Rania turut berkomentar seakan berada di pihak Keysha. Ia membenarkan dan setuju dengan cara yang Ibnu rencanakan. Sepertinya hatinya benar-benar sudah kembali lembut dan dia tidak lagi berpikir buruk dengan kedekatan Keysha dan Ibnu yang tidaklah patut untuk di curigai.
"Terima kasih Rania..." Kristal-kristal bening di kedua pelupuk mata Keysha sudah melesat dan mengalir bebas. Membuat Ibnu dan juga Rania merasa bingung dan bertanya pada diri sendiri akan kesalahan kata yang mereka ucapkan.
"key, kenapa kau menangis ? Apa kau tidak senang dengan rencana yang Ibnu buat ?" Tanya Rania dengan pelan. Ia meraih lengan Keysha untuk menenangkannya.
"Bukan... bukan seperti itu Ran. Aku benar-benar berterima kasih pada Tuhan karena Dia mengembalikan mu kepadaku. Aku tidak pernah berpikir jika persahabatan kita bisa terjalin lagi dengan hangat." Jawab Keysha, dengan air mata bahagia yang semakin membanjiri kedua pipinya.
Rania turut terharu dan bangga, tidak terasa ia ikut menangis ketika Keysha menangkap tubuhnya dan mendekapnya dengan erat. Seperti sebuah mimpi, seseorang yang berulang kali, bahkan bertahun-tahun menderita luka batin karena tuduhan yang menyakitkan darinya, tetap bisa bertahan dan tidak membencinya. Keysha tetap menjadi pribadi yang ia kenal sejak awal. Perempuan tangguh dengan hati yang lembut . Keysha bukanlah jiwa pembenci, ataupun pendendam. Dia benar-benar panutan yang tidak akan pernah lagi di lepaskan oleh Keysha. Sebuah cahaya penerang yang memang seharusnya ia ikuti di gelapnya dunia yang menggiurkan.