I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Merajuk



"Bawaan bayi ?" Sandy mengernyit bingung. Mulutnya berhenti mengunyah roti bakar yang Yeni siapkan untuknya.


"Pengaruh dari kehamilannya nak, masak tidak paham sih ?" Yeni duduk di samping Sandy. Mereka berdua sesekali menoleh memperhatikan Keysha yang masih melipat wajahnya. Memasang wajah cemberut dengan bibir yang terlihat lebih tebal dari aslinya.


Sandy belum juga mengerti, lagi lagi ia kembali mengerutkan dahi, " Keysha sudah dua kali ini bun hamil, dan sewaktu kehamilannya yang pertama, ia tidak seperti itu..." Sandy memulai kembali aktivitas makannya.


"Ya jelas. Kan beda-beda..." ucap Yeni santai.


"Apa pengaruh sama sifatnya anak nanti ketika ia sudah lahir bun ? Sandy mencondongkan wajah lebih dekat dengan Yeni. Tampaknya, ia sedang fokus dan berusaha memperhatikan Yeni dengan seksama.


Yeni tertawa lepas mendengar pertanyaan Sandy. Wajahnya polos ketika menyerukan tanda tanya. Seperti Allan dan Lena, jika heran dan menuntut tahu tentang hal baru dalam hidupnya.


"Sudah siang, sana berangkat !" Yeni beranjak dari kursinya, ia membawa piring dan gelas milik Sandy yang telah kosong.


"Gimana sih bunda di tanya kok malah ketawa ?" Gumam Sandy dalam hati.


"Sayang, aku berangkat ya..." Ucap Sandy begitu langkahnya telah sampai di samping Keysha. perempuan itu tetap asyik dengan gaya merajuknya, bahkan tidak lagi peduli dan acuh dengan usapan lembut sang suami pada kepalanya.


"Kakak benar-benar gak izinin aku ikut ?" ucap Keysha dengan ketus, membuat Sandy kembali mematung di tempatnya yang baru mendapat beberapa langkah.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali memutar langkah dan berada tepat di depan istrinya, " Kau benar-benar mau ikut ?" ucap Sandy lembut. Ia setengah berlutut, dan berusaha merayu Keysha dengan caranya.


"Kakak ini, kalau tidak niat ya gak usah balik lagi, nyebelin banget lama-lama, " gerutu Keysha. Ia berteriak, dan membuang muka enggan menghadap sang suami.


"Hamil kan sembilan bulan, jadi sembilan bulan ke depan istriku akan seperti ini ?" gumam Sandy dalam hati seraya terus memandangi wajah istrinya. "Menyedihkan bukan ? Aku harus menahan diri selama itu, " imbuh Sandy tak henti melepaskan tatapan pada wajah ayu yang berhias dengan urat-urat rasa kesal.


"Anak papa mau ikut papa kerja ya ? Jangan marah-marah dong sayang, ayo kita berangkat !" Sandy mengusap perut Keysha dengan lembut. Ia mendekatkan wajah di sana, seolah sedang berbicara dan mengajak si jabang bayi bercengkrama.


"Oh, maksud kakak, aku marah-marah ? Kakak tidak ikhlas mengajakku ?" nada ketus kembali tersembur dari balik bibir mungil Keysha.


"Bukan seperti itu sayang..."


Belum menyelesaikan kalimatnya, Keysha sudah kembali meniti anak tangga. Berjalan dengan langkah tenang dan penuh kehati-hatian meskipun rasa kesal sedang berselimut kabut dalam hatinya.


"Huff, salah lagi." Sandy menghela nafas pelan. Ia masih mematung, berdiri menatap pada punggung sang istri yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Semakin menghilang, dan tidak lagi tampak begitu telah sampai di lantai atas.


Yeni yang melihatnya, terkekeh geli. Bukan.. bukan sedang menertawakan kesusahan anaknya, melainkan tak tahan melihat ekspresi wajah Sandy yang telah memerah menahan rasa kesal.


"Sudah sana berangkat, Keysha nanti bunda yang urus !" perintah Yeni dengan memukul ringan bahu anak menantunya.


"Apa tidak masalah Bun ?" tanya Sandy ragu-ragu.


"Ya sudah, Sandy berangkat ya bun. Kalau ada apa-apa, telepon Sandy saja bun..." Sandy merunduk, mencium punggung tangan Yeni dengan sopan. Yeni berlalu kembali ke dapur setelah memastikan jika Sandy telah keluar dari rumah, dan melesat cepat dengan mobil sport yang sedang di gemari olehnya.


Sementara itu, Keysha yang memperhatikan Sandy dari jendela kamar, semakin kesal di buatnya. Ia menggerutu seorang diri, merasa Sandy tidak lagi perhatian dan begitu acuh terhadapnya.


Ia beranjak dari hadapan jendela setelah memastikan jika Sandy benar-benar telah pergi. Tidak ada lagi harapan untuk pria itu kembali, dan berusaha lebih gigih lagi untuk membujuknya. Keysha telah duduk di tepi ranjang, isakan tangisnya semakin terdengar kencang.


"Apa kak Sandy sudah tidak peduli lagi denganku..." Keysha semakin keras dengan suara tangisnya. Jemarinya lembut mengusap deraian air mata yang silih berganti membasahi pipi. "Kenapa kak Sandy jahat sekali.." imbuhnya lagi di sela-sela tangisnya.


Keysha merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari memeluk guling kecil berwarna merah muda yang menjadi benda favoritnya semenjak lama. Ia tidak berhenti berpikir, kenapa ? mengapa ? apa yang terjadi ? Kenapa seperti itu ? ragam tanda tanya mulai bermunculan menghias dinding-dinding logikanya. Merasa lelah dan kantuk sedang menggelayuti matanya, perlahan, Keysha memejamkan mata. Terlelap dan tangis yang belum juga usai.


Yeni menelusuri anak tangga. Satu demi satu, ia lewati dengan nafas ngos-ngosan.


"Kalau bukan demi anak, sudah malas sekali harus naik tangga sepanjang ini, " gerutu Yeni dengan kesal. Tempat tidurnya memang berada di lantai bawah, jadi ya wajar saja jika Yeni telah jarang sekali menapaki anak tangga. Ia selalu mengeluh begitu sampai di tengah-tengahnya.


"Oma...." teriak Allan dan Lena kompak begitu Yeni tiba di lantai atas. Mereka berhamburan memeluk tubuh renta Yeni, karena mereka memang baru usai mandi dan baru keluar dari kamar.


"Tumben oma naik, ada apa oma ?" celetuk Lena penasaran. Ia mendongak, menyimpan raut polos dan rasa ingin tahu yang besar.


"Oma mau ketemu bunda sayang, kalian turun dulu ya ! Oma sudah siapkan roti bakar untuk kalian berdua..." Yeni menyentuh hidung Allan dan Lena secara bergantian. Menyentil ringan karena merasa gemas dengan wajah polos kedua bocah tersebut.


"Siap Oma..."


Si kembar memang selalu kompak, sampai-sampai ketika mengiyakan perkataan Yeni pun mereka menjawab secara bersamaan, bahkan dengan kata dan gaya tangan yang sama. Berdiri tegak, lalu mengangkat tangan layaknya bawahan yang tengah memberikan hormat kepada komandannya.


Yeni kembali melanjutkan langkahnya, untuk menyelesaikan tujuan awal ia bersusah payah menapaki anak tangga. Melangkah dengan lamban karena energi seolah telah terkuras di barisan panjang tangga yang menjulang dengan tinggi.


tok...tok...tok...(Suara pintu kamar Keysha di ketuk )


"Sayang..." panggil Yeni dengan pelan. Ia mengetuk pintu berulang kali, seirama dengan bibirnya yang memanggil-manggil nama putri tunggalnya.


cekrek ( Yeni membuka pintu kamar Keysha dengan pelan )


"Oh, tidak di kunci..." gumam Yeni dalam hati.


Ia menengok ke dalam, menyisir setiap sudut kamar. mencari-cari keberadaan Keysha, yang tak kunjung menjawab ucapannya.


Pandangan nya terhenti di atas ranjang, ia tersenyum seraya menggeleng kepala ringan begitu mendapati anaknya sedang terbaring dan membelakangi arah pintu di sana.


"Sayang...bunda panggil-panggil kok diam saja..." Yeni melangkah masuk menghampiri Keysha dan mendudukkan tubuh di tepi ranjang.