
Entah kebetulan atau memang rencana Tuhan, Reno yang masih asyik dengan minuman soda yang ia pesan tiba-tiba melihat Cherry yang baru saja masuk restoran dan memilih bangku di sudut ruang. Ia menoleh, memperhatikan sekeliling. Seakan mencari atau sedang menunggu seseorang. Gelagatnya tidak tenang, pikiran risau terpancar jelas dari sinar matanya.
Reno tidak beranjak, memilih bergeser agar lebih aman dari penglihatan Cherry, ia memperhatikan diam-diam dari balik buku menu yang ia angkat sengaja untuk menutup wajah. Sesekali melirik dari bagian atas, terus mengawasi segala pergerakannya.
"Maaf Kak, gue telat."
Sayup-sayup Reno mendengar suara wanita yang datang. Memohon maaf atas keterlambatannya datang.
"Tumben kakak ngga datang ke rumah ? " Ucap Rania seraya menarik mundur kursi. Ia meletakkan tas di atas meja, lalu mendudukkan Angel di sana.
"Ibnu hari ini di rumah bukan ? jangan gila, bisa kebongkar lebih awal rencana kita." Pungkasnya dengan nada arogan. Matanya tajam menatap, seakan mengintai semakin mengancam. "gimana ? lo sudah bisa ambil hati wanita murahan itu ?"
Reno mengernyit heran, mencoba menghubungkan semua yang terjadi. Satu demi satu, merakit menjadi sebuah hal yang membuat matanya terbelalak. Ia merogoh ponsel dari saku celananya, membuka menu dan mencari camera, di geser hingga sampai di camera perekam. Ia mengarahkan ponsel ke arah Cherry dan Rania . Tepat diantara mereka, menangkap semua yang terjadi. Sikap dan hal besar yang mereka bicarakan.
"Tenang saja kak. Keysha sudah berada di genggaman gue. Tinggal Sandy, yang tinggal selangkah lagi mulai bisa gue kendalikan." Jawabnya angkuh. Ia meneguk orange juice yang sengaja Cherry pesan untuknya.
Cherry mengumbar senyuman puas, garis matanya menelisik setiap kata yang terlontar dari balik bibir Rania. Bertepuk hebat seakan telah menang hingga akhir cerita.
"Baguslah. Tinggal kita tunggu, Sampai waktu yang tepat buat gue mainin peran gue. "Ucap Cherry dengan nada angkuhnya. Ia mengancam, dengan geram. Matanya tajam menyeringai.
"Lalu, bagaimana rencana kakak selanjutnya ? Untuk pernikahan gue dan Ibnu yang sudah di ujung tanduk." Rania menunduk, ia menatap lantai dengan rasa sedih. Rasa hati yang tersamar, seolah-olah menunjukkan jiwanya yang nyata.
"Tenang saja, gue pastikan Ibnu tidak akan berani buat ninggalin lo." Ucap Cherry menghibur. Ia menepuk pundak Rania, lalu mengulur senyum yakin, andai itu untuk semua orang. Tentu akan semakin banyak yang mengidolakan dirinya. Tapi sayang ! Cherry hanya akan begitu lembut pada orang-orang yang mudah untuk di tipu olehnya, menguntungkan bagi dirinya, bahkan mudah untuk di kendalikan.
Rania mendongak, membalas senyuman yang tulus menghadapnya. Ada keringat, dan pengorbanan hati yang akan menuai hasil batinnya. Ia akan lebih tenang dan tidak kerepotan mengurus Ibnu yang mulai tidak tahan terperangkap di bawah cengkraman Rania.
"Tetapi, selesaikan dulu tentang wanita itu, bikin hidupnya sengsara, kalau perlu buat dia jauh meninggalkan Sandy." Cherry bersedekap. Matanya terus tajam seakan mengintimidasi Rania, memaksa agar mengiyakan perintahnya. Harus, tanpa penolakan sedikitpun. Senyum picik itu tumbuh menghias wajah.
"Itu hal kecil. Asal kakak memberi waktu yang cukup, gue pastikan semua mimpi kakak akan terwujud satu per satu." Rupanya kedua wanita itu memang sama liciknya. Tidak peduli ada Putri kecil yang ikut mendengar. Entah paham atau tidak, tetapi ada raut yang menunjukkan ketakutan pada diri Angeline.
Reno tersentak tak percaya jika mereka lebih kejam dari perkiraannya. Tak berpikir, jika hal bodoh itu benar-benar mereka lakukan hanya untuk memuaskan nafsu semata. Mengedepankan diri sendiri dengan melukai banyak orang-orang baik di sampingnya. Sungguh, hal kejam yang tidak bisa dipikirkan dengan nalar sehat manusia.
Reno menarik ponselnya, menyimpan rekaman video yang baru saja ia dapat. Sebuah kunci besar untuk menggagalkan hal yang besar pula. Berbekal tekat dan rasa yang kuat untuk menarik Keysha dari jurang kecuraman. Ia tahu, Keysha adalah wanita yang hatinya sangat lembut, meskipun sempat ketus di awal-awal perkenalan mereka. Ia sangat mudah di pengaruhi, dengan mimik wajah sedih, dan linangan air mata cukup untuk mendapat rasa simpati darinya.
"Rania ? Ini adalah hari terakhir kau tertawa di atas penderitaan Keysha" Reno beranjak cepat. Meninggalkan restoran setelah selesai melakukan pembayaran. Langkahnya semakin cepat ia kayuh, menuju mobil lalu dengan kencang ia mengarahkan mobil ke jalan raya.
Tidak ada hal yang ia gumamkan sepanjang jalan. Tingkahnya tenang, terus fokus dengan kemudi di tangannya. Sesekali melirik spion, mengamati keadaan belakang untuk memastikan semua aman.
tiiiiiinnnnnnnn
Klakson panjang bergema seketika. Mengoyak rasa kaget yang dalam menyentuh dada. Menggedor kuat, hingga menjalar ke sekujur tubuh. Aliran darah seolah-olah terhenti saat itu juga. Reno membelalak, membuang nafas lega karena mobilnya hanya berjarak setengah centimeter dari mobil di depannya.
"shit !" Ia berdengus kesal. Memukul kemudi dengan wajah yang memerah. Amarahnya sudah sulit terkendali. Lalu dengan garang ia membuka pintu, keluar dari mobil dan spontan mengucapkan kata kasar. Suaranya keras menggema ke sekitar jalanan. Membuat kendaraan yang lewat memilih berjalan pelan, menyaksikan apa yang sedang terjadi.
Tidak ada respon dari orang-orang yang berada di mobil yang hampir saja bertabrakan dengan mobilnya. Dia terus berdiam di dalam, tiada perlawanan bahkan sedikitpun pergerakan yang menunjukkan hendak pergi.
"Heh, keluar lo !" Reno memukul keras bagian depan mobil tersebut. Menggebrak dengan tenaga yang ia punya. Puas, menyalurkan rasa kesal yang semakin menggila.
Perlahan orang tersebut membuka kaca mobil, menaikkan kaca mata hitam yang terpasang menutup mata. Ia menunjukkan diri, menggeser kepala untuk terlihat sedikit dari luar.
"Keluar ? hanya untuk ribut dengan orang gila seperti lo ? heh, gue rasa itu hanya akan membuang waktu libur gue." Ucapnya dengan nada mengejek .
Reno mengerutkan dahi, menatap jelas laki-laki yang berbicara seolah menantang. Di tariknya kaki kekar miliknya, hingga terhenti di pinggir pintu yang menampakkan lelaki angkuh tadi.
"Sandy ? lo benar-benar ...... ngga asyik tau ngga ?"
Reno memukul keras lelaki yang tampak gagah dengan tawa kerasnya. Ia tertawa puas dengan sikap Reno, hingga terpingkal dan kesulitan sendiri menghentikannya. Berulang ia mencoba menarik nafas,dalam dan pelan-pelan . Tapi tetap saja, gema tawanya masih nyaring terdengar.
"Putar balik mobil lo ! Ada hal yang ingin gue perlihatkan !" Perintah Reno serius. Ia tidak lagi menanggapi canda Sandy yang sudah kelewat batas. Berlari ringan lalu kembali masuk dan melajukan mobil sesuka hati.
Tidak butuh banyak waktu untuk Reno tiba di kediaman Sandy. Rumah mewah berlantai dua yang tanpa menyuarakan klaksonpun gerbang sudah terbuka. Ada banyak orang-orang kepercayaan Sandy yang berjaga di sana.
Ia parkir di halaman, bergegas turun dan masuk dengan melewati penjaga begitu saja. Tidak ada hal yang perlu mereka curigai karena mereka memang sudah sangat mengenal Reno.
"Assalamualaikum .." Salamnya hangat. Ia membuka pintu yang tidak pernah di kunci tatkala siang. Pintu berukuran 3 x 2 dengan lapang menyambutnya.
"Wa'alaikum salam..." Keysha yang berada di belakang Reno menyahuti. Ia baru saja tiba bersama Sandy dan si kembar.
"om Reno kangen ya sama Lena." Lena tersenyum menggoda.
hmm kecil-kecil genit kaya siapa sih ?
"Hahaha, tentu dong. Kan Lena ponakan om yang paling cantik." Jawab Reno mengimbangi, ia langsung meraih tubuh mungil Lena. Mengangkatnya tinggi, hingga gadis itu tertawa dengan riang.
"Allan sama Lena masuk dulu ya . Mandi terus istirahat !" Keysha memberi instruksi dengan lembut. Membuat Dwi dan Rina yang mendengar langsung bergegas melaksanakan tugas. Mengambil alih dua bocah itu dari gendongan Reno.
------
"Jadi, lo mau bicara apa Ren ? Kalau sampai tidak penting, habis nyawa lo." Ancam Sandy dengan serius.
"Wah, tenang boss . Ini lebih penting dari yang lo pikirkan." Kali ini, Reno menggoda. Sengaja memperlama untuk mengulur waktu.
"apa ?" Ucap Sandy tidak sabar. Seolah memaksa mulut Reno untuk lebih cepat mengatakan. Membuka bungkusan rahasia yang telah ia siapkan.
Sekitar 7 menit durasi video dalam rekaman itu. Tidak ada yang aneh, hanya kalimat-kalimat kejam yang bersuara. Keysha terhentak mundur, berusaha tenang dengan apa yang dia lihat. Menelisik lebih jelas lagi, untuk memastikan semua memang nyata.
Tidak salah lagi, hati Rania memang sudah menghitam. Dia melakukan berbagai cara untuk mementingkan egonya...
Rania, kau sungguh egois !
"Jadi, apa lo masih bisa terperangkap ke lubang yang sengaja mereka siapkan untukmu Key ?" Reno menatap Keysha dengan nanar. Tidak bisa tertebak lagi rasa apa yang tergambar dengan mata yang begitu sendu, lembut seakan tidak ingin menyudahi pandangan.
"Sudah gue duga." Lirih Sandy membuang muka. Ia melempar begitu saja ponsel Reno. Berdiri lalu mengantongi kedua tangan di dalam saku celana.
"Kau masih ingin mempertahankan wanita itu ?" Pekik Sandy datar. Ia sudah muak dengan drama yang Rania buat, tidak tahan dengan sandiwara palsunya.
"Maaf ...San." Keysha menunduk, masih kaget dengan sikap Rania. Suaranya terdengar parau, antara kecewa dan menahan tangis yang sudah menyusahkan untuk berbicara.
Banyak kalimat yang berlari-lari di otaknya, memutar logika menghubungkan semua. Berteriak kencang, menggema hebat di kepala. iya, hanya di kepala. Keysha tidak berani mengatakan. Semua terasa percuma, sudah tidak ada lagi kata yang tepat untuknya membela Rania.
Sekarang, terserah kalian saja . Aku terlalu lelah menghadapi semua yang terjadi.
Keysha beranjak dari sofa yang belum lama menopangnya. Dengan yakin, ia mengurai senyum sebelum memutuskan untuk ke kamar pribadinya. Mungkin, hatinya hancur tapi tidak berkeping seperti sebelum ini. Ia sudah berusaha membatasi diri, untuk tidak lagi berharap yang lebih dalam pada masa lalu.
Matanya menatap kosong ke angkasa raya, mengadu pada sang pencipta betapa rapuhnya hati. Sesekali ia memejamkan mata, menikmati udara yang seakan membelai lembut, menyapa dengan semilir yang membuatnya bergidik geli.
Sudah, kali ini dia memang harus benar-benar menutup buku. Membuang jauh masa indah yang pernah terlewati bersama Rania. Rasanya sudah hilang, berlayar bersama waktu yang terus berjalan. Semua sudah beda, tidak ada lagi harapan yang akan memberatkan doa.
----------
Sandy mengerang, merasakan perutnya yang mencengkram, menghadirkan kembali rasa sakit yang terjadi beberapa lalu. Ia merunduk, menopang tubuh agar kuat untuk bertindak baik-baik saja.
"San, lo kenapa ?" Reno yang melihat itu segera bergegas merangkulnya. Dengan cemas yang mulai tumbuh dalam diri. "G-gue panggil Keysha dulu."
Belum sempurna dengan langkah pertama, Sandy menarik kerah baju Reno. Menghentikan langkah dan melarang keras untuk ia melakukan itu. Kepalanya menggeleng ringan antara tidak kuat atau jangan sampai Keysha tahu.
"Kenapa Men ? gue harus gimana?"
Reno semakin cemas dan panik, ia meremas kepalanya sendiri. Tidak paham hal apa yang harus ia lakukan sekarang. Lelaki itu semakin meringis dengan terus menekan perut, wajahnya pucat menandakan dia memang sedang tidak baik-baik saja.
"Ok baiklah ! Kalau lo tidak ingin Keysha mengetahui ini. Jangan tolak ajakan gue."
Reno merangkul lengan Sandy, mengalungkan di lehernya lalu dengan sempoyongan membawanya keluar rumah.
"Jangan katakan apapun pada Keysha." Perintahnya arogan sebelum ia melajukan mobil, menjauh keluar dari halaman rumah.
Di dalam mobil yang kian kencang melaju, Sandy tampak semakin lemas, tidak ada lagi suara yang terdengar jelas selain erangan atas sakit yang mendera perutnya. Posisinya terus berubah, bergeser, mencari ketenangan yang membuat rasa itu tenang.
"Lo kenapa sih San ? kenapa tidak pernah bilang kalau lo itu sakit ?" Reno bersuara dengan cemas, wajahnya menatap Sandy penuh sedih. Entahlah ? Kenapa tiba-tiba ada rasa takut yang menjalar di hatinya. mengetuk keras hingga membuat dada terasa sesak.
tidak tidak ! itu hanya bayangan yang setan hadirkan agar kau semakin panik,Reno .
"R-ren ..." Lirih Sandy dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Suaranya terbata, seakan tertahan di tenggorokan. Sulit terucap dengan jelas. bibirnya membiru, pucat pasi .
"Sabar San, sebentar lagi kita tiba di rumah sakit . Lo sabar, tahan ! gue yakin lo kuat." Masih dengan rasa panik yang semakin mencengkram Reno mencoba menguatkan. Berkata seolah dia tidak goyah, bahkan tegar melewati detik itu seorang diri. Padahal, dibalik kalimat bernada kuat yang ia ucapkan, ada rasa takut dan cemas yang mencekik kerongkongan. Lehernya memanas, tak sanggup meresapi. Sandy semakin terkulai tak berdaya. Kesadarannya pun semakin hilang .
"Kita sudah sampai." Reno bergegas turun. Berteriak-teriak bernada takut, ia memanggil dokter dan perawat di sana. Menunjuk Sandy yang terus mengerang.
Mereka dengan tenang menopang tubuh Sandy, memindahkan ke sebuah kursi roda lalu dengan cepat mendorong masuk untuk mendapat perawatan.
----------
Keysha keluar dari kamar lalu turun menelusuri anak tangga. Jemarinya lembut, berpegang pada pagar pembatas. Di usapnya halus, hingga kaki itu sampai di lantai bawah. Matanya menatap sekeliling, menoleh ke kiri lalu ke kanan. Hening, sepi , tiada suara tawa atau bisik-bisik orang seperti sebelum dia beranjak dari sana. Tidak ada Reno maupun Sandy yang bercengkrama. Hanya ada gelas-gelas bekas mereka yang belum di bersihkan oleh mbok Darmi.
Keysha membuka pintu utama, masih terus menelisik keadaan sekitar. Matanya bergerilya mencari keberadaan Sandy. Aneh, hanya mobil Reno yang tidak ada di sana. Perempuan itu mengayun kakinya melewati daun pintu, menghampiri seorang penjaga yang terus berdiri mengawasi sekitar.
"Sandy kemana pak ?" Tanya Keysha menyelidik.
"mmm, ku-kurang tahu non, Beliau tidak bilang hendak kemana." Jawab penjaga itu dengan suara parau.
Aneh, Sandy tidak pernah keluar rumah tanpa pamit padanya. Keysha terus bertanya-tanya dalam hati, pada dirinya sendiri. Rasa yang muncul semakin kalut, gelisah tidak menentu.
"Apa aku salah bicara padanya tadi ? jangan-jangan Sandy melakukan hal diluar nalar kepada Rania dan Cherry." Pikiran kotor terus membayangi. Bukan lagi tentang rasa takut melihat suaminya kesakitan seperti yang pernah terjadi beberapa hari lalu. Melainkan, tentang tindakan yang akan Sandy perbuat untuk Rania atas video yang baru saja dia saksikan.
"Dia sama Reno pak ?" Seakan tidak percaya, Keysha berbalik badan dan kembali melempar tanya kepada penjaga.
"Betul non." Lirihnya seraya mengangguk ringan. Ia mencoba menutup diri, berusaha agar tidak ketahuan jika ada hal yang tersembunyi.
Keysha masih diam di sana, terus menatap dalam ke arah penjaga. Seolah-olah sedang tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Matanya terus menelisik, menyibak setiap sekat yang menutup.
"Bapak tidak sedang berbohong bukan ?" Keysha terus memandanginya lekat. Tidak ingin terlewat sedetikpun gerak yang tidak biasa dari sang penjaga.
"Untuk apa saya berbohong non." Dengan berani, penjaga itu mengukir senyuman manis. Menepis rasa curiga Keysha agar tidak lagi terfokus padanya.
"Baiklah. Terima kasih." Pungkasnya singkat seraya memutar badan dan kembali menghilang di balik pintu.