
"Key, kamu jangan terlalu lelah ! " Rania terus mengamati Keysha yang sibuk menyiapkan makan siang untuknya dan juga untuk Ibnu.
"Biar bibi saja yang memasak." Imbuhnya, ia semakin merasa tidak enak karena hanya menunggu dan duduk manis di bangku makan, sedangkan Keysha sibuk bersama asisten rumah tangganya di dapur.
"Tidak apa-apa Rania. Aku senang melakukan ini untukmu. Diam lah disitu, aku akan memasak makanan favorit mu sejak dulu." Keysha mengenyahkan larangan yang Rania katakan. Dia tidak peduli walau Rania terus memanggilnya untuk menyudahi aktivitas yang jelas akan membuatnya merasa letih. Bahkan, dia benar-benar menolak ketika bibi Sri menawarkan bantuan, dan hendak mengambil spatula yang aktif ia gunakan untuk mengaduk-aduk sayuran di atas penggorengan.
"Key, Sandy akan datang kemari, aku takut jika dia berpikir aku yang menyuruhmu melakukan itu. Berhentilah Keysha, duduklah bersamaku di sini." Rania terus saja berbicara dengan kalimat yang cukup mencemaskan hati.
"Kenapa kau membawa-bawa namaku ? " Suara tegas dengan ciri khas yang sungguh mudah untuk di tebak itu membuat Rania membulatkan mata dengan sempurna. Ia segera menoleh ke belakang untuk memastikan jika dirinya tidak tengah bermimpi atau mengigau karena rasa takut dan cemas yang menghantui.
"Sandy ? Maafkan aku, aku tidak menyuruh Keysha untuk melakukan semua itu. Dia bersikeras menolak larangan yang ku katakan padanya. Sungguh..." Rania terus saja melontarkan kata yang membuat Sandy dan Keysha merasa tergelitik dan tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Apa yang kamu katakan Rania ? Aku datang kesini karena ingin menikmati makan siang yang di siapkan oleh istriku." Ucap Sandy santai. Ia melangkah maju dan menarik kursi di depan Rania duduk. Ia turut mendudukkan tubuhnya di sana dengan tenang. Ibnu yang baru saja kembali setelah menutup pintu, turut duduk di samping istrinya.
"Kenapa kau tampak tegang sekali ?" Tanya Ibnu seraya mengangkat dagu Rania agar mudah untuk di lihat oleh matanya.
"Dia masih berpikir jika kak Sandy adalah monster jahat yang menakutkan." Seru Keysha dengan nada bercanda. Ia terkekeh kecil meskipun tangannya masih sibuk dengan tumis kangkung yang membuatnya benar-benar bersemangat untuk memasak.
"Eh...tidak...tidak seperti yang Keysha katakan. Aku...Aku...." Protes Rania. Ia menepis kata-kata Keysha yang membuatnya semakin canggung dengan Sandy.
"Sudahlah ! Rania anggap saja aku ini seperti Keysha. Aku tidak akan berpikir bahwa kamu adalah musuh untukku dan juga keluargaku. Kau adalah malaikat untuk kami." Sahut Sandy dengan nada lembut. Tentu saja, caranya berbicara membuat Rania tergiur dan tidak mempercayainya. Sandy yang di lihat hari ini, bukanlah seorang lelaki dingin dan sangat menakutkan seperti yang selalu ia bayangkan sebelumnya. Entahlah, mungkin pikiran seperti itu hadir karena dia merasa takut dan bersalah telah berbuat jahat kepada Keysha ketika dia masih di bakar dengan rasa cemburu, dan bersanding dengan seseorang yang selalu membuainya untuk terus larut dalam benci dan dendam. Tidak jelas memang, tidak ada alasan yang kuat untuk dia semudah itu terbujuk dengan rayuan bodoh yang menggiurkan kala itu. Hanya sebuah rasa takut dan cemburu buta itulah yang benar-benar mengobarkan api amarah di setiap kali ia melihat Keysha. Menjadi pokok alasan yang kuat untuk membuatnya bertahan dalam situasi yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman.
"Silahkan....Aku dan bibi Sri sudah selesai masak." Keysha mengangkat tumis kangkung istimewa yang di buatnya lalu membawanya ke meja makan. Ia menyajikan di sana lengkap dengan lauk pauk dan macam menu yang lainnya. Sempurna, sebuah sajian dan makanan yang selalu membuat Rania makan dengan lahap.
"Ah...Tidak...Ini semua Nyonya Keysha yang menyiapkan. Saya hanya membantunya meracik sedikit tadi, " Bibi Sri menolak pujian yang Keysha lontarkan. Justru, dia sangat terharu dengan sifat Keysha yang sangat rendah hati. Dia sangat baik, tapi tidak berharap pujian dan penghargaan. Tentu saja suaminya akan betah dan nyaman berlama-lama dengannya, gumam bibi Sri ketika menatap lama wajah Keysha.
"Kau benar-benar masih mengingat apa yang menjadi makanan favorit ku Key ?" Rania terharu, ia lupa dengan Sandy karena tergiur dengan aroma tumis kangkung yang menggiurkan lidahnya. "Ini pasti sangat lezat."
Apa kau tidak mempersilakan suamimu terlebih dahulu ? " Sandy yang melihat Rania melahap makanan tanpa mempedulikan yang lainnya, melontarkan kalimat yang membuat semua orang tertawa di sana.
"Ah maaf...maaf...Aku sudah lama tidak mencicipi masakan Keysha." Gumam Rania lirih. Ia menyeka bibirnya, lalu mengambilkan makanan untuk suaminya. Ia tidak lupa mempersilakan Keysha dan Sandy untuk segera makan.
Mereka semua menikmati makan siang bersama, sebuah double date yang tidak pernah di rencanakan. Ada selingan canda tawa di sela-sela makan mereka.
"Kamu benar-benar semakin pandai memasak. Pasti Sandy sangat betah di rumah" Gumam Rania, ia mengunyah makanan dan terus memuji sahabatnya.
"Jangan berlebihan, ini hal biasa Rania. Kewajiban kita sebagai istri ya melayani suami," Seru Keysha, ia menimpali pernyataan Rania tanpa melihatnya.
"Setelah kakiku sehat, aku akan belajar menjadi istri yang sempurna kepadamu." Kata Rania yakin. Ia meletakkan sendok dan garpu nya, seketika mulutnya juga berhenti mengunyah.
Selesai makan, Keysha dan Sandy berpamitan karena mereka sudah cukup lama di sana. Ada Allan dan Lena yang pasti sudah menunggu untuk di jemput.
Keysha juga masih memiliki tanggungan di butik yang belum tersentuh olehnya. Ada banyak pesanan yang harus di selesaikan, ada customer setia yang harus di temui hari itu. Bagusnya, perempuan itu tidak pernah mengeluh walau hanya dengan satu kata. Ia tetap bersemangat dalam suasana hati seperti apapun. Apalagi, jika hatinya sangat bahagia dan menemukan titik nyaman seperti yang ia rasakan hari ini. Tentu saja, semangat nya akan semakin membara dan berkobar-kobar.
Keysha memutar ulang video yang sudah di kirimkan oleh Ibnu. Ia memperhatikan dengan jeli setiap kalimat yang Cherry ucapkan. Seperti terencana dengan sempurna, Cherry benar-benar masuk dalam perangkap dan menikmati senjata yang di buatnya sendiri.
"Serius sekali, apa yang sedang kau perhatikan, " Tanya Sandy. Sudah sepuluh menit mereka berada di dalam mobil yang sama, tapi tidak sepatah katapun Keysha mengajaknya berbicara. Ia terus saja fokus dan sesekali tersenyum simpul ketika mengamati layar ponsel.
Sudah pasti Sandy merasa cemburu dan tersisih. Otak dan logikanya bekerja dengan buruk sehingga menghasilkan pikiran buruk yang menuduh Keysha tengah asyik chating dengan pria lain.
"Jangan sembarang berpikir. Lihatlah baik-baik dulu." Protes Keysha. Ia menyerahkan ponselnya agar Sandy turut mengetahui bukti apa yang Ibnu dapatkan tadi.
"Cherry datang ke rumah Rania ?" Sandy membelalakkan mata. Ia menginjak rem dengan mendadak dan menghentikan mobil secara tiba-tiba di bahu jalan.
"Kak Sandy !" Protes Keysha lagi. Ia merasa kesal atas perlakuan suaminya yang membuat tubuhnya tersentak dan terdorong ke depan.
"Maaf sayang, aku terlalu bersemangat dan sangat kesal melihat wajah perempuan gila itu." Kata Sandy ketus. Rasa kesalnya memang cukup kuat menguasai kalbu. Sandy benar-benar sangat membenci Cherry. Terlihat dari caranya memperlakukan dan juga menjawab setiap kata mesra yang selalu Cherry senandungkan untuknya.
Sandy mengubah titik fokusnya, ia mengamati rekaman video dengan teliti. Mendengarkan dan mencoba menelaah setiap kata yang Cherry ucapkan.
"Kita lihat seberapa lama dia berbesar kepala dan tetap merasa benar," Ujar Sandy dengan nada arogan. Senyuman sinis mengembang penuh arti di sudut bibirnya. Ia menggenggam ponsel dengan erat setelah menutup video dan menekan tombol home di sana.
"Apa kakak akan melaporkannya ke polisi ?" Tanya Keysha penuh selidik. Ia memperhatikan raut wajah Sandy yang menyeringai dengan buas.
"Tentu saja. Jika perlu, akan membiarkan dia mendekam di sana seumur hidup."
"Apa kakak tidak kasihan ? Aku pikir dengan membuatnya jera dan kapok dengan perbuatannya itu sudah cukup memberinya pelajaran."
"Haha...." Sandy terkekeh geli ," Seorang Cherry mana mungkin bisa jera hanya dengan hukuman beberapa waktu saja sayang ? Apa kau tidak kesal jika terus-menerus di usik olehnya ?"
Keysha bungkam, ia tidak lagi menyahuti pertanyaan suaminya. Sandy kembali memacu laju mobil dengan kecepatan sedang. Mengendalikan kemudi melesat di atas jalan yang cukup padat, tapi tetap dalam kondisi lancar.
lima belas menit berlalu, mereka berdua sudah sampai di halaman sekolah. Alan dan Lena sudah berdiri di sana untuk menunggu keduanya. Ada seorang guru yang setia mendampingi dan terlihat menunjuk mobil dan tersenyum ramah ketika melihat mobil Sandy menepi dan berhenti di depan mereka.
Keysha segera turun untuk menghampiri kedua anaknya. Ia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada seorang guru yang berbaik hati menemani Allan dan Lena. Tidak lupa sebuah ucapan maaf karena membuatnya repot atas kedatangannya yang telat hampir sepuluh menit itu.
Mereka segera masuk ke mobil dan kembali melesatkan mobil dengan sempurna. Hari itu, Keysha sengaja membawa Allan dan Lena untuk bersamanya ke butik. Hari ini ada yang beda, tanpa dua orang pengasuh yang akan membantunya tentu akan membuat Keysha sedikit lebih lelah dan mudah kewalahan untuk mengendalikan semua pekerjaan secara sempurna.