I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Salah Paham



"Menyebalkan sekali mereka berdua, bukannya membuatku tenang atau pengertian malah meledekku. " Sandy sudah berada di dalam mobilnya. Seusai makan, ia membiarkan Reno dan dokter Alexa menikmati lunch mereka. Melangkah kembali ke kantornya dengan geram karena tak puas dengan jawaban yang dokter Alexa ucapkan. Bukan hanya itu, logika Sandy masih saja bersikeras dengan pemikiran "bawaan bayi" yang ia percaya sejak Yeni mulai mengucapkan padanya. Mengumpamakan, seseorang yang bepergian dengan ragam bawaan di tangannya.


"Sudah jelas bunda bilang itu bawaan bayi, kenapa malah pada tertawa ? Seharusnya, mereka itu tahu apa maksudku !" Reno tak henti menggerutu sepanjang jalan. Berulang kali, berdecak dengan rasa kesal yang menyelimuti diri.


Lima belas menit, mobil Sandy melesat tanpa hambatan di jalanan yang cukup ramai. Ia sudah berada di halaman kantor, memarkirkan mobil dan segera turun dengan langkah sigap. Hentakan kakinya terdengar jelas, wajah yang bersungut, membuat semua yang berpapasan yang berani menegur sapa, atau menatapnya dengan santai.


"Tuan Sandy..."


Safira berlarian kecil menghampiri bosnya yang sudah berdiri melewati meja kerjanya. Langkahnya yang panjang, apalagi suasana hati yang sedang tak menentu, membuatnya enggan membuka mulut untuk menanyakan hal-hal sepele untuk saat itu.


"Batalkan semua meeting hari ini !" tegas Sandy. Ia kembali Melayangkan kaki, meninggalkan Safira yang baru saja menganga hendak mengatakan sesuatu. Namun, belum terlontar karena Sandy tidak ingin mendengar apapun itu.


Safira segera mengangguk dengan cepat, lalu mengiyakan instruksi dari Sandy.


Dengan langkah arogan, tatapan tajam menyorot pada arah yang di tuju. Tiada yang berani menatapnya jika Sandy telah seperti ini, apalagi untuk menegur sapa, ataupun berbicara kata demi kata yang tidak berarti.


Hanya hal sepele, hanya sebuah pertanyaan yang tak menemui jawaban sesuai keinginannya. Hanya sebuah perubahan dalam masa awal kehamilan. Dan itu adalah hal besar yang mencengangkan untuk Sandy, sebuah petaka yang merubah segala rasa bahagia, sebuah waktu yang membuatnya terusik. Bukan perihal kehamilannya, tapi ketidakmampuannya menempatkan diri sesuai keinginan Keysha. Tidak, tidak hanya itu. Buruknya lagi, Keysha memang selalu menganggap semua yang ia lakukan adalah salah. Ia tempatnya salah, ia penyebab salah. Bahkan nafasnya adalah salah. Dan itu bukan diri Keysha yang sesungguhnya. Itulah yang membuat Sandy begitu kacau, seperti tak bersemangat lagi mengarungi hidup.


Cekrek ( Sandy membuka pintu ruangan dengan sangat kasar )


"Sial !" Teriak Sandy penuh arogan begitu kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan. Namun, pria itu justru tercengang dan membulatkan mata ketika pandangan matanya jatuh di sudut ruang. Pemandangan yang tak ia duga sebelumnya, seseorang yang tak pernah terpikirkan akan senekat itu sebelum ini.


"Sial ? Maksudmu aku ?" ucap seseorang itu, begitu membalikkan badan dan menatap Sandy.


"Bu...bukan....ma..maksudnya...." Sandy menggaruk-garuk tengkuk lehernya. Ya, sudah jelas itu sama sekali tidak gatal.


"Kenapa sayang ? Kau melihatku tidak seperti hantu kan ? Sepertinya, kau sangat terkejut ? Bukankah, aku masih sangat cantik ? Oh, atau lebih cantik ?" Dengan nada angkuh, seseorang itu berjalan merambat menuju Sandy. Membelai lembut pipi Sandy, lalu berputar mengelilingi tubuhnya tanpa melepas jemari yang kian gencar mengusap sebagian tubuh Sandy.


"Cherry, bukankah seharusnya kau di penjara ? Siapa yang membebaskan...."


"shhhttt ....."


Ya, tidak salah lagi. Dia adalah Cherry Veronica. Perempuan iblis yang terus berusaha memisahkan Keysha dan Sandy. Gadis cantik, yang tak kunjung melepas lajangnya, hanya karena nafsunya yang kuat ingin memiliki Sandy. Ia menyentuh bibir Sandy dengan jari telunjuknya. Menghentikan kata demi kata yang belum usai Sandy ucapkan.


"Kau terlihat sangat emosi sayang ? Apakah istrimu yang membuatmu seperti ini ?" Cherry semakin berani menyentuh Sandy. Bergerilya dan terus mencoba menggoda iman sang mantan kekasihnya.


"Apa ketika di penjara kau belajar menjadi perempuan penggoda ? " Sandy mencengkram erat lengan Cherry. Membuatnya nyengir karena nyeri yang tak bisa ia tahan.


"Aku masih belum puas menghukum mu Cherry . "Sandy menyeringai lebar, ia tersenyum sinis menatap tajam pada kedua bola mata yang sedang memohon belas kasihan kepadanya. "Kau datang, sangat tepat waktu."


"Au San, lepaskan ! Sakit !" Cherry semakin keras memacu teriakkan nya. Meskipun, itu hanya hal yang sia-sia karena Sandy sama sekali tidak menggubrisnya. Ia tetap acuh, dan tidak peduli dengan tangis yang sudah mewarnai wajah cantik milik Cherry.


"Apa kau masih menginginkan yang lebih dari ini ?" Sandy tersenyum. Namun, senyumnya mematikan, membuat Cherry bergidik ngeri ketika memperhatikannya. Tangannya tak ia renggang kan sedikitpun. Sorot mata yang mengintai, tak sedetikpun terlepas dari mangsanya. Mereka terlihat dekat, layaknya sepasang kekasih yang sedang bergulat mesra. Tapi faktanya, Sandy sedang menyiksa gadis itu agar lekas jera dan tidak lagi mengusiknya.


Mungkin, karena keseriusan mereka dan segala emosi yang mewarnai sisi mereka, mereka tak menyadari jika pintu terbuka dengan pelan. Suaranya lembut, bahkan tak ada telinga yang menyadari itu.


Sosok perempuan dengan balutan jilbab berwarna dark brown, itu mulai meneteskan air mata. Tiada sandaran yang menguatkan tubuhnya. Ia menganga, bahkan tak kuat menyuarakan gejolak hati yang meronta di dalam dada. Nafasnya terengah-engah, karena pemandangan mata yang selalu ia tolak mentah-mentah. Sandy, laki-laki itu sedang bermesraan dengan perempuan yang sangat membenci kehadirannya, begitulah yang Keysha yakini.


"Keysha, sayang..." ucap Sandy begitu menyadari kehadiran sang istri. Ia tampak gelagapan, dan dengan cepat melepas cengkraman pada lengan Cherry. Namun, gadis licik itu tak membuang kesempatan yang ada. Tangannya cepat meraih pinggang Sandy, dan mendekapnya dengan hangat. Ia membenamkan wajah pada dada bidang pria itu, dan berusaha menguatkan genggaman ketika Sandy berusaha menepis tubuhnya.


"Cherry ! Apa yang kamu lakukan, " ucap Sandy seraya mendorong kuat tubuh Cherry yang memeluknya tanpa izin.


"Sayang, kenapa kau begitu kasar sekarang ? Tadi, kau memohon agar aku berlama-lama memelukmu ?" sahut Cherry dengan nada menggoda.


"Dasar p e l a c u r ! Lepaskan !" Amarah Sandy telah memuncak. Mencapai pada taraf tertinggi. Apalagi kala matanya memperhatikan raut wajah Keysha. Perempuan yang masih tercengang dengan tangis yang bersarang di bibir tipisnya. Perempuan yang sangat mencintainya, begitu pula sebaliknya.


"Sayang, jangan percaya dengan perempuan murah itu. Semua tidak seperti yang kau pikirkan sayang, " Sandy segera menghampiri Keysha. Meraih kedua bahunya untuk memberikan pengertian.


Sayang, Keysha sudah teguh dengan apa yang ia lihat. Hatinya, telah percaya dengan matanya sendiri. Meskipun tiada kata yang Keysha suarakan, tapi tidak bisa di pungkiri jika perempuan itu tengah di landa dengan kekecewaan yang mendalam. Hatinya teriris, jiwanya meronta. Ia benar-benar tidak menyangka, jika Sandy akan memungkiri apa yang pernah di janjikan.


"Terima kasih kak Sandy..." Keysha tersenyum miris, ia menepis genggaman tangan Sandy yang mulai melemah di bahunya. Perempuan itu, menggeleng ringan lalu beringsut mundur. Ia memilih berlari sari masa yang sedang bergulir. Mencoba menjauh, berlalu dan meninggalkan rasa kecewa yang merajai.


"Keysha, aku bisa jelaskan semuanya sayang .." Teriakkan Sandy menggema memenuhi setiap sudut ruang. Menumbuhkan senyuman sinis pada bibir Cherry, gadis tua yang sangat cerdas menerka keadaan. Menyulut sandiwara untuk memutar sesuai yang ia inginkan.


"Sayang.." Langkahnya kian cepat mengayun. Berlari mengejar harapan yang mulai menjauh darinya. Menangkap kembali masa yang hampir saja Keysha pasrahkan.


"Sayang, ku mohon dengarkan aku..."


Keysha berhenti di teras perusahaan. Tertegun, dan sedikit menoleh memperhatikan sang suami yang berusaha menenangkan hatinya. Laki-laki yang sudah meneteskan air mata, memohon sedikit waktu untuk menyuarakan isi hatinya.


"Sayang..."


Keysha hanya mengikuti langkah Sandy. Sejengkal kaki Sandy maju, sejengkal pula Keysha menyeret langkahnya mundur. Keysha benar-benar tidak ingin mendengarkan apapun penjelasan yang Sandy luapkan.