I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Detak Jantung



Ada sesuatu yang di sembunyikan Lita, dan Keysha menyadari itu. Ia canggung melihat gelagat aneh Lita. Namun, kali ini bukan sebuah rencana licik yang di atur, melainkan sebuah hal lain yang tidak pernah ia ungkapkan kepada orang lain.


Ketika berbicara soal penculikan yang terjadi pada Shinta, Lita benar-benar ketakutan. Sorot matanya jelas menandakan itu. Apa Lita mengenali penculik itu ? Atau...


"Sayang, ayo pulang. Anak-anak sudah sampai di rumah, tadi Rina menghubungiku." Seru Sandy tiba-tiba. Sandy baru saja berbincang dengan seseorang di telepon. Ia menanyakan Allan dan Lena kepada pengasunya, karena mereka di jemput langsung ketika kecelakaan kecil itu terjadi. Sandy tengah berdiri beberapa meter dari tempat Keysha duduk melamun. Lalu berjalan sigap untuk menghampiri istrinya.


Keysha hanya mengangguk, tapi bukan karena ia tidak peduli dengan keselamatan kedua anaknya. Melainkan, pikiran tentang Lita yang sangat menggangu pikiran dan hatinya.


"Kenapa kau terlihat sedih sekali ? Apa kau masih memikirkan Lita ?" Tegur Sandy, ia menyelidiki Keysha yang tampak lesu.


"Ah, tidak. Ayo pulang, kasihan anak-anak. Mereka pasti sangat syok dengan kejadian ini." Seru Keysha pelan. Ia berlalu meninggalkan Sandy begitu saja.


Sandy mengerutkan keningnya, lalu mengikuti langkah Keysha. Mereka menuju mobil, dan berlalu meninggalkan rumah sakit juga Lita. Membiarkan perempuan itu bergelut dengan rasa sesalnya, berkelana dengan duka yang hadir karena kecerobohan darinya.


"Kenapa kamu diam saja ? " Seru Sandy, ia fokus mengemudi mobil, tapi sesekali menoleh memperhatikan istrinya.


Sudah lima belas menit perjalanan, perempuan itu tak juga bersuara. Ia membuang pandangan jauh ke sisi jalan. Membalas lambaian mesra setiap pohon yang menyapa, ia sedang bercengkrama melalui udara yang saling bertukar dengannya. Entah apa yang membuatnya memilih bungkam. Tidak ada sepatah katapun yang terucap untuk mewakili jiwa yang meradang.


"Sudah sampai. Apa kau ingin terus diam di situ ?" Sandy sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah, tapi Keysha tidak juga bergerak. Perempuan itu, benar-benar sedang larut dalam angan. Terasa sekali betapa terusiknya dia dengan berita yang Lita sampaikan.


Sandy keluar dari mobil dan menutup pintu dengan keras. Kakinya menghentak lantai sekuat yang ia mau. Diamnya Keysha menjadi penyulut rasa kesal di hatinya.


"Apa dia marah ? Aneh sekali." Seru Keysha heran. Ia turut keluar dari mobil dan mengikuti langkah Sandy dengan tenang.


Mereka berdua sudah masuk ke dalam rumah. Yeni dengan cemas sudah menunggu keduanya di ruang tamu.


"Assalamualaikum bun." Keysha mengucap salam dengan lembut. Ia langsung merunduk, mencium punggung tangan Yeni dengan sopan. Sandy pun turut mengikuti apa yang Keysha lakukan.


"Wa'alaikum salam. Gimana keadaan Lita nak ?" Yeni langsung melontarkan pertanyaan yang menyesakkan dada sedari tadi. Ia menuntun lembut tangan putrinya agar duduk dan memulai sebuah cerita yang telah di nanti sejak tadi.


"Mama Lita baik-baik saja bun. Tidak terjadi apapun padanya. Dia hanya syok, apalagi Shinta hilang." Tutur Keysha menjelaskan.


"Shinta hilang ? Kok bisa ?" Yeni membulatkan matanya. Ia tertegun tidak percaya dengan cerita yang Keysha sampaikan.


"Entahlah, Keysha juga tidak yakin bun. Semua terjadi sesingkat itu. Tapi, mama Lita benar-benar terlihat sedih." Keysha menutup wajahnya, ia mengusap mata mencoba melawan hati yang luluh dan menyimpan kasihan yang tidak bisa terungkapkan.


---------


Di rumah sakit, Lita tidak henti menangis. Air matanya berlinang dengan bebas, tiada syarat yang bisa di lakukan untuk membuatnya diam. Senyuman manis yang menyapa mimpinya sungguh tidak bisa membuatnya tenang. Tawa ringan terus saja terdengar nyaring di gendang telinganya.


"Ibu tenanglah. " Dokter Alexa mencoba menenangkan Lita. Ia membelai bahu perempuan itu penuh dengan cinta. Sungguh hatinya tersentuh melihat seorang ibu yang terus menangisi anaknya. Tiada saudara yang menjaga bahkan menghibur duka yang mendera.


"Anakku...." Lirih Lita dengan suara parau. Ia memalingkan wajah tak ingin bercengkrama dengan siapapun.


"Aku akan menyuntikkan obat untuk ibu." Imbuh Dokter Alexa ramah. Ia menyiapkan sebuah suntikan yang sudah di isi dengan cairan obat. "Maaf ya bu" Ucap Dokter Alexa memberi peringatan, lalu mengarahkan jarum suntik pada punggung tangan yang di infus.


Perlahan suara Lita semakin menghilang, tangisnya kian mereda, matanya mulai tertutup . Ia terlelap karena pengaruh obat penenang yang Dokter Alexa suntikan.


"Maaf bu Lita, saya tidak tega melihat ibu terus menangis." Dokter Alexa menatap Lita dengan tatapan sedih.


"Nyonya Lita sudah bisa pulang jika dia mau makan. Tubuhnya baik-baik saja, dia hanya terlalu banyak pikiran saja." Ucap Dokter Alexa seraya menyerahkan buku besar di tangganya kepada perawat yang setia mengikuti langkahnya.


Di sudut jalan, di sebuah lorong yang menjadi jalannya menuju ruang pribadi, ia hampir menabrak tubuh seorang lelaki yang berpawakan tinggi. Mereka dengan kompak mengucap maaf, lalu saling mundur hingga untuk memberi jarak yang seharusnya.


"Reno ?" Ucap Dokter Alexa dengan seutas senyuman manis.


"Dokter Alexa ?" Balas Reno dengan raut gembira.


Mereka saling melempar pandangan, lalu sama-sama terkekeh geli.


"Sus duluan saja, saya masih ada perlu dengan Reno." Dokter Alexa menoleh, ia memberi kode agar perawat yang sekaligus asisten pribadinya itu meninggalkan mereka berdua.


"Baik dok." Jawabnya sopan, ia menundukkan kepala memberi hormat.


"Apa kau sedang sakit Ren ? " Dokter Alexa mencoba bersikap biasa. Padahal jika dirinya mau mengatakan hal yang jujur, jantungnya sudah sulit di kontrol saat itu. Degup yang tidak biasa, seolah-olah sengaja memompa dengan tergesa agar menampakkan dada yang berulang kali bergerak dalam waktu singkat. Ya, dentuman detak jantung itu seakan terlibat jelas dari luar tubuh Dokter Alexa.


"Tidak. Aku baru saja membesuk rekan kerjaku tadi." Ucap Reno pelan. Ia membalas senyuman Dokter Alexa dengan cepat. Pria itu juga tampak kelabakan menyembunyikan rasa. Hal yang sama sedang melanda hatinya, sebuah detak yang tidak biasa ia rasakan. Wajah berseri, memaksa bibir untuk terus terlihat sumringah dengan senyum senang yang menghiasi.


"Oh.." Dokter Alexa membulatkan bibirnya.


"Kau masih bertugas ?" Ujar Reno berbasa-basi. Lidahnya terasa kaku saat berucap, ia benar-benar merasa terbius seolah menjadi manusia bodoh dan pendiam. Hah, tidak tahu hal apa yang pantas untuk di obrolkan, atau serangkaian kata yang tertata rapi menjadi tanda perpisahan ?


"Tidak, ini pemeriksaan terakhirku hari ini. " Jawab Dokter Alexa santai.


"Bagaimana kalau aku antarkan pulang kamu ?" Seru Reno dengan antusias. "Hmm, maksud ku jika Dokter Alexa berkenan." Imbuhnya, ia sadar jika telah lancang. Tidak seharusnya bersikap agresif dan memburu hati untuk memenuhi nafsu.


Dokter Alexa mengernyit heran, tidak biasanya Reno terlihat akrab kepadanya. Sekilas pria itu sangat mengharapkan sebuah jawaban iya dari bibirnya, tapi tertepis dengan kalimat terakhir yang ia katakan dengan raut wajah flat.


"Hmm..." Dokter Alexa masih berpikir.


"Kenapa , apa tidak mau ?"


"Oh bukan seperti itu. Apa tidak merepotkan ?" Seru Dokter Alexa malu-malu.


"Tentu saja tidak. Jika aku yang menawarkan, pasti waktuku banyak yang kosong." Reno terkekeh kecil.


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan mengambil tas di ruang kerja." Dokter Alexa tersenyum simpul. Ada rasa malu, dan juga senang yang menyelinap. Aneh. Sungguh dia tidak mengerti apa yang sedang mengaduk rasanya. Cinta kah ? Ah, itu sangat tidak mungkin, pekik Dokter Alexa dalam hati.


Sepuluh menit kemudian, mereka telah berada di samping mobil. Berdiri berhadapan tanpa melepas pandangan mata. Dalam, sangat dalam sekali mereka saling membiarkan pandangan menyatu.


"Silahkan Dokter Alexa..." Reno membuka pintu mobil, ia merundukkan tubuh layaknya seorang pelayan yang mempersilakan tuan putri.


"Haha...Berapa kali ku katakan padamu, panggil saja aku Alexa." Protes Alexa, ia menepuk bahu Reno agar tidak terlalu berlebihan kepadanya.


"Baiklah, Alexa ..Silahkan masuk."


"Terima kasih Reno, selain tampan rupanya kau sangat baik." Seru Dokter Alexa seraya masuk ke dalam mobil. Ia tengah duduk dan menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.