I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Anak Kecil



"Sandy, itu dahi kamu kenapa?"


Key datang dengan menggendong seorang gadis kecil yang berusia sekitar dua tahunan. Wajahnya panik melihat Dahi Sandy yang sudah biru karena benturan pintu.


"om nya kena pintu kak, tadi kita mau masuk ngga ketuk pintu. Eh ternyata om ini lagi di belakang pintu." Verrel, anak laki-laki paling besar diantara mereka menjelaskan kepada Key. Wajahnya masih lugu menatap lantai dan memainkan tangannya disamping tubuhnya.


Sandy tersenyum melihat Keysha. Dia memberi kode seolah mengatakan jika dia tidak apa-apa dan merasa baik-baik saja. Key masih dengan menggendong michelle duduk berjongkok agar lebih mudah berbicara dengan anak-anak itu.


"om nya baik-baik saja kok, sudah tidak perlu takut. Lihat itu om nya senyumin kalian lo! Nanti lain kali kita ketuk pintu dulu ya, biar tidak kaget kalau ada orang yang di dalam" Key membelai lembut tubuh anak itu. Menyalurkan hasrat kenyamanan yang tersendiri bagi mereka. Mereka saling bertatap dan bergantian memeluk Keysha bahkan juga Sandy.


--


"sorry ya kak. Gara-gara aku, kakak jadi kaya gini." Key mengompres dahi Sandy dengan es batu yang dibungkus dengan beberapa lembar tisu. Diusapnya dengan lembut, setelah merasa cukup Key menyudahi dan menyeka nya dengan tisu kering. Benjolan itu ia olesi sedikit salep agar tidak semakin membiru.


Tidak ada jawaban dari Sandy karena ia sempat terpana dan lama memandangi Key dengan jarak yang begitu dekat. Menyadari kekakuan dari Key yang merasa risih dengan tatapannya, dia pun berdehem dan mengangguk. Ya, Sandy selalu terbayang dengan wajah Key yang begitu cantik. Aura nya keluar jika ditatap lebih dekat. Senyuman nya begitu menawan. Dia tidak pernah bersikap begitu lembut sebelumnya. Kali ini Key terlihat bak wanita dewasa. Ada banyak hal yang belum bisa dipecahkan dari gadis unik ini, begitulah batin Sandy.


"Kamu senang sama anak kecil?" Sandy memecah keheningan.


"hmm... Yah! Mereka itu kaya malaikat bagi aku. Mau lagi sedih, galau, kesel kalau sudah main sama mereka yang ada ya happy saja. Kaya tidak ada beban lagi" Key tersenyum. "semua masalah berasa pergi, hilang gitu aja" sambung Key. Dia kembali teringat dengan gosip nya disekolah.


"untuk sementara, kamu tidak perlu sekolah dulu ya? Sampai semua bisa dikendalikan." Sandy mendekat. Meletakkan tangannya diatas meja yang memisahkan kursi keduanya.


"Kak, kamu tidak perlu khawatir. Aku yakin aku bisa lewati semua ini. Aku tidak salah, buat apa aku takut! Izinkan aku buat tetap pergi ke sekolah ya?" Key memaksakan bibirnya untuk melukis senyuman. Memotivasi dirinya sendiri untuk lebih kuat. Dia berharap dia akan sanggup melewati hari-hari tersuram seperti siang tadi.


Ya, mau apa lagi jika gadis itu sudah memaksa. Sandy hanya bisa mengiyakan. Awalnya dia memberi syarat akan memberinya beberapa bodyguard untuk menjaganya jika ada siswa yang bersikap anarkis seperti sebelumnya. Lagi dan lagi Key menolak dengan sejuta ocehan dahsyat nya.


"baiklah! aku izinkan kamu tetap sekolah tanpa bodyguard. Tapi, jika ada apapun itu kamu harus cepat hubungi aku!" Sandy mengangkat tubuhnya setelah memastikan Key mengangguk dan mengiyakan syarat dari nya.


Key memperhatikan punggung Key, yang semakin menjauh dan hilang dibalik pintu.


*Ah, dia mau jadi pengasuh buat gaku?


Eh tunggu, aku kok jadi penurut banget sama dia. Biasanya dia salah satu bahan bakar paling tajam buat emosi aku? Aku sukanya nyolot kalo dia lagi ngomong. Nah ini?


Jangan jangan aku........ Aaaarrghh! Gila! Apa sih! Ngga mungkin !


**Bersambung***.................