I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Tidak Yakin



Reno masih bungkam dengan senyum yang mewarnai. Bayang-bayang wajah cantik dan anggun Dokter Alexa terngiang jelas di benaknya. Tidak jelas, dia tidak pernah merasakan detak jantungnya berdetak begitu kencang. Ia juga tidak paham, kenapa senyuman itu lolos begitu saja.


"Sial ! Kenapa aku terus tersenyum seperti ini." Gerutu Reno. Ia berbalik arah, berniat untuk menyusul Keysha dan Sandy ke cafe di sebrang jalan.


Ah, lagi dan lagi, ia tersentak kaget. Pria itu membulatkan mata dengan sempurna ketika melihat Keysha dan Sandy tengah menatapnya dalam.


"Ka... Kalian sudah lama di situ ?" Tanya Reno. Ia terlihat gugup dan kalimatnya terlontar dengan terbata.


"Apa kau sudah gila ?" Tanya Sandy penuh selidik. Ia tidak memperdulikan pernyataan Reno yang tidak berarti untuknya.


"Apa yang terjadi padamu Ren ?" Keysha mengangkat salah satu alisnya.


"A ...Aku baik-baik saja." Seru Reno. Ia mencoba menata kalimatnya bahkan berusaha untuk tenang.


"Oh..." Sahut Keysha dengan membulatkan bibirnya. Ia mengimbangi Reno dengan kepura-puraannya. Sementara, senyuman simpul itu terlukis dengan singkat.


"Ada apa dengan Dokter Alexa ? Apa dia sempat bercanda dengan mu ?" Sandy masih berpura-pura.


"Dokter Alexa ? A...Apa dia ada di sini ? Aku tidak melihatnya." Seru Reno.


"Benarkah ? Lalu kau melambaikan tangan pada siapa tadi ?" Selidik Keysha.


"Melambaikan tangan ? Haha....Tidak...tidak ! Aku tidak melakukan itu. " Jawab Reno penuh penolakan. Ia mengangkat tangan dan melambai-lambai. Seperti mengimbangi ucapan penolakan dari mulutnya.


"Oh..." Lagi dan lagi, Keysha hanya membulatkan bibir. "Mungkin aku salah lihat."


Sandy dan Keysha saling menatap. Mereka berdua terkekeh kecil dan menggeleng tak percaya.


Reno membuntuti langkah keduanya. Ia terdengar berulang kali menghembuskan nafas panjang. Ya, dia benar-benar kesulitan mengendalikan rasa panik ketika Sandy dan Keysha mendesaknya dengan rasa yang kian mencekik.


Mereka melangkah ke dalam butik, menjawab dengan ramah setiap sapaan hormat yang dilantunkan oleh para karyawan. Ketiganya menaiki anak tangga satu persatu dengan santai, lalu masuk ke ruang kerja Keysha yang cukup nyaman.


"Sayang, kau jadi menemui Rania hari ini ?" Seru Sandy.


"Entahlah. Aku belum membuat janji dengannya." Jawab Keysha. Ia mengangkat kedua bahu.


"hmm..." Sandy mengangguk pelan.


"Untuk apa kau menemuinya Key ?" Sahut Reno penasaran. Ia merebahkan tubuh di atas sofa panjang yang terletak di sudut ruang. Ia mengangkat kedua tangan dan menjadikannya pengganjal kepala.


"Aku ingin memperbaiki hubungan ku dengannya." Jawab Keysha yakin.


Reno mengernyitkan dahi, ingin menggali lebih dalam tujuan Keysha.


"Rania sangat berjasa untukku dan juga kak Sandy. Ku pikir, dia benar-benar sedang menunjukkan keseriusannya." Seru Keysha. Ia memutar kursi menatap Reno dengan lekat. Binar matanya bersinar penuh tekat dan yakin yang kuat.


"Kau sudah sangat yakin ?" Tanya Reno, ia kembali menguji keyakinan yang Keysha miliki.


"Dari awal Rania adalah orang yang baik. Aku yakin dia benar-benar serius dengan kata-katanya kali ini. Dengan jarum suntik saja dia takut, jadi aku yakin jika dia tidak main-main kali ini." Jawab Keysha, ia menjelaskan dengan gamblang dan sangat pelan agar mudah di mengerti oleh Reno.


Pria itu mengangguk-angguk mengerti, ia berusaha menelaah dan turut meyakini apa yang Keysha ucapkan.


"Ku pikir demikian. Bahkan dia menyembunyikan ini sebelumnya, bahkan secara diam-diam dia memberanikan diri datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri." Gumam Reno dalam hati.


"Jangan berprasangka buruk. Aku pastikan perempuan itu tidak sedang main-main kali ini. Dia benar-benar bersih dan tidak terlibat pada penculikan Keysha sebelum ini." Seru Sandy.


Pria itu menyeret kakinya untuk lebih dekat pada tubuh Reno. Ia meletakkan buku di atas meja bundar tak jauh dari tempatnya berdiri sebelumnya, lalu kembali berjalan dan mendudukkan tubuh di sofa tepat di samping Reno bersantai.


"Kenapa kau tidak menikahi Dokter Alexa ? Sepertinya dia sangat pantas untukmu ?" seru Sandy, Ia tersenyum sinis kepada Reno lalu berlalu pergi meninggalkannya.


"Kenapa dia sangat yakin aku mencintai perempuan itu ?" gumam Reno.


"Padahal aku sendiripun tidak yakin dengan perasaan itu. " Gumam Reno kembali.


"Apa kau sedang bertanya pada hatimu ? Atau sedang memikirkan cara romantis untuk melamarnya ?" Seru Sandy, ia merasa tidak sabar menunggu Reno tak kunjung melontarkan jawaban.


Keysha tersenyum melihat kedua pria di ujung ruang. Ia mendudukkan tubuh di bangku kerjanya seraya menyibak beberapa lembar laporan yang belum terjamah olehnya. Sesekali, ia menggelengkan kepala lirih larut dalam candaan yang hanya mendesak Reno agar mengakui rasanya.


---


Dokter Alexa mengemudi dengan hati yang berseri. Ia ingin sekali tersenyum, tapi tidak mengerti apa yang membuatnya bahagia.


"Ah, apa aku sudah gila ? Kenapa aku terus tersenyum ketika melihat bayangannya sedang tersenyum dalam angan ku ." Gumam Dokter Alexa seorang diri. Ia menggeleng-gelengkan kepala mengusir ragam pikiran yang tidak di pinta hadirnya.


Perempuan itu memarkirkan mobi di depan rumah sakit. Ada Rania yang tertegun dengan secuil senyuman manis menyambutnya.


"Nyonya Rania maaf saya terlambat." Seru Dokter Alexa ketika menemui perempuan itu.


Rania mengangkat tubuh dengan dua tongkat yang dia gunakan untuk menopangnya. "Tidak masalah Dokter, aku juga baru sampai.


"Apa kau datang seorang diri ?" Tanya Dokter Alexa.


Rania menggeleng cepat, "Tidak...Ibnu mengantarku tadi, tapi ada meeting dadakan yang sangat membutuhkan kedatangannya." Seru Rania, ia tersenyum tulus ketika melihat raut wajah Dokter Alexa.


Mereka berjalan memasuki ruang periksa sekaligus ruang pribadi Dokter Alexa. Ya, dia tidak bisa membagi waktunya jika harus bolak-balik ruangan ketika ada pasien yang datang. Jadi, dia memilih untuk menggabungkan dua ruangan itu menjadi satu dan terkesan lebar. Itu akan menyingkat waktu dan tidak membuangnya sia-sia.


"Silahkan berbaring nyonya, aku akan memeriksa terlebih dahulu luka jahit pada perutmu." Ujar Dokter Alexa sopan.


Rania mengangguk, lalu menuruti apa yang di perintahkan oleh Dokter pribadinya.


"Kau pasti sangat merawatnya dengan telaten. Ini sudah cukup baik." Kata Dokter Alexa antusias.


"Tapi dok, apa operasi itu berpengaruh pada siklus haid ? Setelah ku hitung, aku sudah telah lebih dari dua minggu dari siklus normal ku." Tanya Rania, ia mengangkat alis bersiap menerima jawaban yang akan Dokter Alexa lontarkan.


"Siklus haid ? Seharusnya tidak nyonya. Apa ada keluhan lain selain jadwal haid yang tertunda ?" Tanya Dokter Alexa penuh selidik. Ia membantu Rania turun dari bangku dan merangkulnya untuk duduk di bangku yang berhadapan langsung dengan kursi miliknya.


"Tidak...ku rasa hanya itu." Jawab Rani yakin. Ia memutar kedua bola matanya, merasakan tubuh dan desakan sakit yang menyapa.


---


"Bagaimana sayang ? Apa ada kabar dari Rania ?" Tanya Sandy. Keysha menghentikan aktivitasnya di atas layar ponsel. Sudah dua belas kali dia melakukan panggilan, tapi jawaban yang dia peroleh tetaplah sama. Nomer telpon Rania sedang tidak aktif untuk saat itu.


Keysha menggeleng lirih," Tidak ada jawaban. Sepertinya Rania benar-benar ingin istirahat dan tidak ingin di ganggu."


"Mungkin dia sedang tidur." Seru Reno.


"Tunggu saja beberapa jam lagi, nanti pasti dia akan meresponnya. Kalau tidak, kau kirim saja pesan untuknya, jadi ketika aktif dia langsung mengetahui apa tujuanmu menghubunginya." Imbuhnya. Ia meraih buku di atas meja dan mulai membacanya. Hmm, bukan ! bukan membaca. Dia hanya melihat-lihat saja, lembar perlembar ia balik dengan cepat. Mungkin hanya model-model cantik itu yang dia pandangi hingga menyimpulkan sebuah senyuman jahil setelahnya.


Sementara Keysha hanya mengangguk. Ia kembali meletakkan ponsel di atas mejanya, lalu memfokuskan diri pada lembaran berkas yang menjulang tak terhingga. Sangat banyak, bahkan dia menolak ketika Sandy menawarkan bantuan untuknya.


"Kau urusi saja pekerjaanmu !" Seru Keysha tegas.


Jika sudah demikian, Sandy hanya mampu diam lalu mengiyakan.


"Aku punya banyak tangan kanan hanya untuk menyelesaikan masalah sepele di kantorku. Harusnya, kamu menerima tawaranku dengan senang hati karena aku jarang melakukan itu." Gumam Sandy dalam hati.