
"Ayah kenapa?" Key tampak khawatir melihat Danu yang terbaring pucat di atas kasur. Wajahnya sayu, namun dia memaksa mengukir senyum di sudut bibirnya. Lelaki tua itu menggeleng tak pasti, matanya seperti ingin mengatakan ayah tidak apa-apa nak, jangan khawatir! Tetapi selalu tertahan suara batuk yang mengisyaratkan.
"Mbak kenapa ayah bisa seperti ini? Bukankah kemarin baik-baik saja?" Sandy mengerutkan dahinya, ia memang baru saja mendengar jika Danu baik-baik saja, itulah mengapa dia menaruh rasa curiga pada penghuni rumah lainnya. Perawat itu tertunduk, logatnya menandakan ketakutan. Ada hal yang membungkamnya untuk tidak bicara apapun pada Keysha dan Sandy.
"Ayahmu tadi pagi jatuh. Namanya juga sudah tua, sudah sakit-sakitan. Jadi ya kaya gini jadinya !" Lita datang menyambar, dia meninggikan suaranya menengahi setiap kalimat yang ingin Sandy layangkan. Perawat itu semakin menunduk dan tak berani menatap setiap pasang mata disekitarnya.
"Mama jaga ya kalau bicara!" Key berdiri, menyetarakan tubuh dengan Lita. Dia hendak menunjuk namun dia tahan. Rasanya itu tidaklah sopan. Meskipun yang ia hormati hanyalah orang licik yang membuatnya terancam hidup di dunia . Iya...Wanita licik. Otaknya sudah terisi dengan duit, uang, duit dan uang. Dia sudah tidak mengenal cinta, sudah tidak mengenal lagi rasa saling menghargai, apalagi menghormati . Baginya, yang beruang lah yang paling tinggi derajatnya di muka bumi ini. Iya! Nanti kalau mati, suruh saja uang yang mengantar jasadnya ke liang lahat. Suruh mikul tuh keranda. Juga gali sendiri tanah pemakaman.
Jjika sakitnya ayah ada hubungannya dengan mama. Jangan salahkan kita jika hidup mama akan lebih menderita." Sandy mulai geram. Dia mengancam ibu tiri Key dengan tegas. Matanya sangat tajam menatapnya. Lita, Percayalah, setiap apa yang Sandy ucapkan bukanlah guyonan semata. Permainan baru untukmu baru akan dimulai.
" Sandy, mama ngga sejahat itu! Gimanapun ayah kan tetap suami mama." uh Dasar wanita, sekali licik tetaplah licik. Dia sangat pandai merubah mimik wajahnya. Dari yang garang menjadi melow dengan raut iba. Berharap ada uluran rasa kasihan dari menantu tirinya. Eemmb, entahlah! Sebutan apa yang tepat jika bukan mama Mertua tiri. Begitu pula sebaliknya.
Sandy justru membuang muka, senyumnya sinis merekah bak kue bolu kukus. Matanya berputar seperti mengatakan halah, aku sudah kagak percaya sama situ!
--
Kali ini Key tidak bisa mengiyakan kemauan Danu, dia membawa paksa ayahnya untuk dirujuk ke rumah sakit. Di sana ke stabilan kondisi Danu akan terkontrol. Banyak perawat dan dokter yang siap siaga jika sewaktu-waktu Danu memerlukan itu.
Key menarik sesuatu dari saku jaketnya, jemarinya menggenggam ponsel pribadinya. Wajahnya ragu, dia berulang secara bergantian menatap kedua lelaki di depannya. Laki-laki yang teramat dia sayangi. Iya, betul! Key memang pernah merasa rapuh karena ulah Danu, dia sempat merasa kesal dan juga marah. Tapi itu bukanlah alasan untuk dia mamatikan rasanya dan membenci Danu.
Key memandangi ponselnya dengan sangat. Ah! Ralat! Dengan tidak begitu serius. Dia berulang menulis, lalu menurunkan ponselnya. Ya, seperti itu! Berulang kali bahkan berkali-kali!
"Ada apa kak?" Key berlaga polos. Sekali lagi, dia sangat-sangat malas berfikir panjang karena pikirannya sedang kalut.
"Ada apa...ada apa" Tangan Sandy sudah menempel di dahi Keysha. Mendorong nya pelan namun penuh perasaan.
"Apa yang menyibukkan pikiranmu, itu jari sudah hampir satu jam bermain di layar ponsel?" protes Sandy, dia membungkuk untuk mengimbangi wajah Key, kakinya juga sangat pasti melangkah membawa Key menempel di dinding rumah sakit. Oh My God ! jarak yang dia sisakan hanya sekitar 2 cm. Key bisa dengan jelas merasakan hembusan nafas Sandy. Begitu pula sebaliknya. Keduanya juga bisa dengan jelas mengawasi saat lawannya menelan saliva nya masing-masing. Kedua pasang mata itu saling beradu, berpandang dan dengan sangat bertempo. Key merasa risih sebenarnya. Bisa dibilang fikiran nya sedang kotor, bayangannya buruk tentang Sandy. ia takut jika Sandy melakukan hal buruk dan ada perawat ataupun orang yang melihat mereka.
OK, ini rumah sakit bukan? Bukan hanya takut, yang jelas malu. Iya, sangat memalukan jika hal menjijikkan seperti itu dia lakukan di situ.
"Aghhhhh...... Jangan Sandy! Jangan di sini!" Key memukul ringan dada bidang suaminya.
Sandy hanya mengerutkan dahinya lalu mundur beberapa langkah untuk membungkam teriakan Key.
"Hei! Apa yang sedang kamu bayangkan?" Sandy menggoda. Dia menyadari jika Key membayangkan hal kotor. Senyumnya juga asyik meledek.
"a, eng-enggak..ngga bayangin apa-apa" mulut nya meracau, mencari jawaban yang tak menarik perhatian Sandy lagi. Kata-katanya juga gagu.
"emmb ngga bayangin apa-apa, tapi kok wajahnya merah sih" Sandy masih merasa nyaman menggoda Key. Tangannya kini menempel di dagu dan menarik sedikit wajahnya.
Tidak menunggu waktu, Keysha langsung menyadari itu. Dia menepis tangan Sandy dan segera berjalan mundur. Wajahnya sangat merah padam. Sementara Sandy tertawa terbahak saat istrinya ngacir tanpa arah tujuan menyusuri lorong di rumah sakit. Sandy memegangi perutnya yang kaku karena tawanya, tubuhnya juga reflek membungkuk. Dia mencoba menghentikan dan menahan tawanya, namun ekspresi wajah Key selalu muncul dibayangannya.