
"Hello Baby twin, si cantik dan si cakep"
Reno menyapa kedua bocah yang akan menjadi teman mainnya nanti. Iyalah, teman main dia karena nyatanya, hingga Sandy memiliki dua anak pun dia masih saja setia dengan kejombloannya itu.
"Apa kamu tidak pengen Ren? Lihat tuh, matanya saja membuat capek kita hilang."
Sandy memperhatikan wajah anaknya yang masih polos, pipinya juga masih merah karena usianya belum menginjak satu bulan.
"Nanti kalau Tuhan kasih mungkin langsung 4 sekaligus"
Reno menimpalinya dengan lelucon. Ah, bukan bukan! Dia tidak tertawa mengatakan itu, wajahnya sangat serius. Apa dia sedang berdoa? Entahlah!
"Bagaimana perkembangan Cherry?"
Sandy menalikan sepatu yang baru saja dia kenakan, merapikan sedemikian rupa agar lebih nyaman untuk dipakai. Tidak terlalu merepotkan dirinya saat di luar sana.
"Ya begitu, dia semakin parah kalau alu perhatikan. Tapi, dia tidak lagi marah-marah sama orang-orang di sana"
Jelasnya ringan. Tangannya memainkan boneka disamping tubuh Allena terbaring. Sesekali, terlihat Allena tertawa dan merasa terhibur dengan tangan Reno.
"Reno, sudah lama di sini?"
Keysha baru menyadari kedatangan Reno, ia memang selalu sibuk saat pagi hari. Banyak keperluan baby twin yang harus dia siapkan. Tak tertinggal, apa yang akan Sandy pakai dan makan pun tak luput dari perhatiannya.
Keysha memang istri yang cerdas, dia selalu bisa menempatkan diri. Di kondisi buruk sekaligus disinggasa ratu, dia bisa menata dirinya sendiri, bahkan dengan kedua anaknya.
"Kamu terlalu sibuk Key, istirahat lah untuk menyegarkan tubuhmu"
--
Entah dengan paksaan, atau hanya iseng belaka atau bahkan karena dia sudah bisa mencintai, Ibnu melamar Rania dan memutuskan untuk segera menikahi gadis itu.
Sahabat masa lalu Keysha yang masih saja larut dalam lautan sikap licik, kalau saja Keysha tidak menikah dengan Sandy mungkin gadis itu masih mengganggu nya. Mencari-cari masalah baru dan membuat keributan.
Tidak jelas, kenapa dia segila itu sekarang. Senang sekali adu mulut, dan mulai berani bermain fisik jika dengan Keysha atau juga Ibnu.
"Jangan berpikir buruk lagi tentang aku dan Keysha Ran, kamu tahu kan aku mencintaimu dan aku akan segera menikahimu"
Ibnu membuka obrolan di malam seusai acara lamaran nya. Ah, tentu saja Rania meliriknya dengan sinis. Dia sangat tidak suka dengan permohonan yang diajukan calon suaminya itu.
"Kamu bisa tidak, sedetik saja tidak memikirkan dia?"
Ia menggertak dan berkacak pinggang. Matanya melotot ganas.
"Bukan...bukan seperti itu sayang, kamu selalu salah paham selama ini. Aku hanya ingin, kita hidup harmonis tanpa tuduhan" Ibnu berdiri untuk mengimbangi Rania. Wanita yang sangat keras hatinya, susah sekali membuatnya kembali lunak dan bersahabat.
"Apa kamu masih mau menikahiku?"
Lagi dan lagi, Rania selalu mengaitkan setiap masalah dengan itu. Yaa, dia tentu saja berani mengancam demikian, mengingat undangan sudah tersebar keseluruh penjuru kota. Apa jadinya, jika gagal? Yang ada Ibnu akan mati berdiri karena ayahnya pasti sangat marah terhadapnya.
"Sudahlah, lupakan! Aku tidak akan lagi menuntut apapun dari kamu" Ibnu memeluk Rania untuk membuatnya lebih tenang, dia sangat malas meneruskan pembicaraan karena hanya akan menyisakan pertengkaran.
Semua pasti berlalu, batu yang keras tidak selamanya datar jika terus ditetesi air, ia akan merubah wujud menjadi lebih masuk kedalam, lebih bergelombang atau lebih berlubang . Tergantung, sekuat apa air itu sanggup menetesinya. Begitu pula dengan hati, sekeras apapun itu jika disandingkan dengan kesabaran, pasti akan melunak dengan sendirinya.