I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Mengunjunginya



"Kenapa kamu tidak mencoba jujur sama perasaan kamu sendiri ? Kamu tu sudah jatuh cinta .kenapa masih saja bilang tidak !" ~Reno


Dari jarak yang masih begitu jelas . Ketiga anak manusia itu berdiri, menatap diam di ujung pandangan . Arah yang sama, bahkan tanpa sedikit pun komentar. Tidak jelas pundak siapa yang membuat ketiganya tercengang. Hanya tergambar jelas seorang wanita dengan sebuah kursi roda . Iya, hanya itu . Wanita yang kondisinya pun belum bisa dijelaskan .


Sandy, yang sudah tidak sanggup seperti itu, mulai melirik Keysha dan Reno . Memperhatikan raut wajah keduanya . Mencoba mengintip dari balik mata, Entahlah ! hal apa yang kedua insan itu sedang pikirkan .


"Heii .. hingga kapan kita seperti patung di sini ? Kakiku mulai berakar, apa menunggu kepalaku mengeluarkan buah ?" Protes Sandy , seketika itu menarik wanita di depan menoleh . Wajah yang masih sangat bisa di kenali, senyum yang menggariskan kepuasan . Hanya semuanya berbeda , ia sangat kurus tanpa perawatan . Kulitnya tak sehalus 6 tahun silam . Wanita yang gila nya memuncak di malam itu . Malam kebahagiaan Keysha dan Sandy. Iya benar ! dia adalah Cherry.


"Sudah ku duga , kau akan menjengukku " Angkuh wanita itu . Ia kembali membelakangi Sandy dan yang lainnya. Masih saja, sifat kerasnya tidak hilang dengan kondisinya sekarang .


"Aku pikir, kamu sudah mati di telan bumi " Ketus Sandy mengimbangi . Ia berdengus dengan sikap wanita yang disadari masih saja mengharapakannya .


Keysha masih kaku dengan cara nya memandang . Tak bersuara, bahkan tak ikut melerai berdebatan antara mereka . Reno pun demikian .


"Hai Cher ? Apa kabar ?" Keysha angkat bicara . Ia menyeret pelan langkahnya mendekat pada kursi roda Cherry . Duduk berjongkok dengan menatap sendu wajah Cherry. Dalam sekali ia memasuki dunia Cherry. Menemukan ribuan luka yang masih menusuk jahat di hati . Keteguhan cinta yang membutakan, bahkan menutup rapat telinga . Keysha tahu, Wanita itu tidak sedang bahagia . Hari-hari kelam ia lalui seorang diri, tanpa saudara dan keluarga untuk bersandar . Tanpa seorang pun yang terbuka untuk menyemangati .Ia bisa mencerna jelas jerit hati yang sedari tadi dibungkam oleh tangannya . Cherry kau adalah jiwa yang kuat, namun tak terlihat oleh orang karena sikap licik mu .


"Kamu membangunkan singa yang pulas tertidur .Dengan menyodorkan daging yang segar . Kamu sadar itu Keysha Larasati ?" Alunan merdu nada keangkuhan Cherry nyaring di telinga Keysha. Dendang riang irama seolah bangkit dan kembali bersuara . Entah, apa yang lebih baik di lakukan oleh seorang Keysha selain tersenyum manis tanpa aba-aba .Tidak bisa melihat jelas jalan yang perlu ia tempuh . Teguh ? atau menyerah dengan cara dia untuk merangkul kembali Cherry yang ia yakini adalah pemilik jiwa yang baik .


"Hatimu baik. Jangan kau dustai dengan sikap angkuhmu . Cherry, jujurlah jika kau butuh orang lain di sekitarmu. " Keysha memperhatikan wanita itu . Tangannya mengulur maju, meraih sebuah benda dari atas meja . Kesulitan yang ia alami , tidak mengizinkan mulutnya untuk meminta bantuan . Keysha menarik barang yang di tuju. Segelas air putih itu, ia serahkan kepada Cherry .


Yang jahat, memang sulit terkendali . Bahkan hati yang baik, tidak mampu memperlihatkan diri . Kesedihan jiwa, tidak menyulutkan kerasnya kepala .Pendirian teguh dalam pencapaian rasa yang tak tercapai, merubah yang putih menjadi hitam .yang terang, beranjak gelap . Oh hati ! sekeras itu kah kau sulit di lembutkan ! Cherry merasa dihina dan tidak terima diri . Ia menepis dengan keras lengan Keysha .Hingga gelas di tangan terlempar kuat ke dasar lantai .Pecah tak beraturan, memacu detak jantung yang terbakar emosi .