
"Paman Guru Bing, anda sudah mengatakannya dua kali." Yao Han menggaruk pipinya. "Seandainya reinkarnasi itu benar-benar ada, maka jika aku bereinkarnasi seribu kali pun, aku akan selalu menjadikan Guru Feng sebagai guruku."
Tawa Bing Lizi mereda kemudian tersenyum tipis. "Aiyo, Saudara Feng memang sangat beruntung memiliki murid sepertimu, Xiao Han."
'Entah karma baik apa yang dilakukan Saudara Feng sampai dia bisa memiliki murid berbakat dan berbakti sepertimu...' Bing Lizi melanjutkan dalam hati karena tidak ingin membuat Yao Han salam paham karena menyindir Feng Xian.
"Perkataan Paman Guru Bing terbalik, akulah yang beruntung memiliki guru seperti Guru Feng, juga Guru Hong dan Guru She. Kalau bukan karena Guru Feng yang menyelamatkanku beberapa tahun lalu dan mendapat ajaran dari ketiga guruku, tidak mungkin aku bisa sampai seperti ini dan bertemu Paman Guru Bing."
Bing Lizi tertawa lagi. Entah sudah berapa kali dia tertawa sejak bertemu dengan Yao Han yang pola pikirnya begitu unik.
Yao Han kemudian menambahkan juga tentang saran Feng Xian padanya untuk belajar ilmu dari Empat Penjuru selain dirinya. Saat Yao Han bertemu dengan salah satu dari ketiga orang tua ini, Feng Xian memintanya menyampaikan pesan ini.
"Oh, dia berkata seperti itu? Sungguh mengejutkan..." Mata Bing Lizi melebar. Reaksi yang sama ditunjukkan Tian Jian dan Bolang.
Serigala Malam itu juga baru mendengarnya, sehingga dia terkejut, 'Aku penasaran, akan sekuat apa Tuan Yao di masa depan?'
'Sebenarnya apa yang dipikirkan Saudara Feng? Dia menyarankan muridnya belajar dari kami? Sudah lama tidak bertemu, sepertinya dia berubah cukup banyak. Mungkin ini dipengaruhi oleh dirinya yang kini memiliki murid? Ya, mungkin saja...'
Bing Lizi melirik Meirong dan Yutian, "Kalian tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak, Senior. Kamu tidak menolak selama Han'er bisa lebih kuat, terutama karena Han'er suka belajar banyak ilmu. Senior Feng juga mengatakan, akan lebih baik jika Han'er bisa bertemu dan belajar banyak hal dari Anda atau Senior Chen," jawab Meirong.
Bing Lizi tertawa kecil, tanpa diberitahu dia bisa melihat Yao Han adalah tipe anak yang suka belajar hal baru. Menyerap ilmu dari ketiga jagoan dunia kultivator ternama yang menjadi gurunya sekarang membuktikan dia tidak kesulitan mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan praktik kultivasi.
Namun satu hal yang cukup sulit diterima Bing Lizi adalah pemikiran Feng Xian yang berbeda dari yang dia ingat.
"Mengingat hubungan dekat antara aku dengan Saudara Feng, aku tidak keberatan mengajarimu. Namun aku tidak bisa menjadi gurumu."
Ucapan Bing Lizi membuat Yao Han dan lainnya kebingungan.
"Apa maksudnya, Paman Guru Bing?"
"Aku menghormati Saudara Feng, Meirong, dan Yutian yang menjadi gurumu secara resmi. Jadi kupikir lebih baik kau tidak menambah guru lagi, tetapi kau akan mendapat semua ajaranku." Bing Lizi tersenyum tipis.
Yao Han menggaruk pipinya canggung sambil berpikir, 'Apa pola pikir Jagoan Empat Penjuru memang sulit dimengerti? Tapi, ya sudahlah.'
Yao Han kemudian memberikan penghormatan dengan hampir bersujud, "Terima kasih atas kemurahan hati, Paman Guru Bing. Aku berjanji akan belajar dengan baik. Meskipun tidak memiliki hubungan guru dan murid secara resmi, aku akan menghormati Paman Guru Bing seperti aku menghormati ketiga guruku."
"Terima kasih, dan jangan bersikap terlalu formal atau hormat seperti itu. Kalau Saudara Feng melihat ini, aku bisa diceramahinya."
Yao Han segera bangkit dengan senyuman begitu lebar, tidak sabar belajar ilmu dari Bing Lizi yang mana Feng Xian menyebut pria tua ini sebagai Sarjana Es.
"Kita sudah cukup banyak bercerita, seolah melupakan keberadaan Tian Jian." Bing Lizi menoleh ke sampingnya. Yao Han dan lainnya mengikuti arah pandang Bing Lizi.
"Oh, kupikir kalian tidak menganggapku ada disini. Bukan lagi sekedar roh, aku benar-benar merasa menjadi hantu sekarang."
Meirong dan Yutian terbatuk pelan, tidak menyangka Tian Jian akan berkata demikian. Sementara Bing Lizi tertawa pelan dan Yao Han tersenyum canggung.
'Raja Pedang Langit begitu disegani aliran putih dan ditakuti aliran hitam, ternyata dia bisa juga merajuk. Sikapnya yang aneh itu sedikit mirip dengan Senior Feng.' Meirong dan Yutian sama-sama berkomentar dalam hati
"Senior Tian, mohon jangan tersinggung. Mana mungkin kami melupakan Anda. Kami juga belum mendengar cerita tentangmu."
Tian Jian menghela napas pelan, sebelum bercerita tentang dirinya yang berakhir menjadi roh dan tinggal di gua ini.
***
Tian Jian, dulunya adalah kultivator jenius dari Sekte Pedang Suci. Suatu hari dia memutuskan keluar sekte karena merasa kebebasannya dibatasi aturan sekte.
Tidak banyak yang bisa dilakukan Sekte Pedang Suci untuk mencegah kepergian Tian Jian, karena dia memiliki watak yang keras dan prinsip yang kuat. Kepergiannya membuat Sekte Pedang Suci kehilangan salah satu orang terkuat mereka.
Baik kekuatan maupun ambisi Tian Jian untuk memusnahkan kultivator aliran hitam begitu besar. Itu sebabnya banyak yang segan dan takut padanya. Namun ada beberapa kultivator aliran hitam yang masih disegani Tian Jian, salah satunya adalah Yutian. Dia mengetahui sang Gerbang Racun memiliki sifat yang berbeda dari kultivator aliran hitam kebanyakan.
Julukan Pilar Pedang aliran putih sangat pantas disandangnya, tetapi dia menolak menerima itu. Gelar itu akhirnya jatuh pada Patriark Sekte Pedang Suci. Namun setelah keluar dari sekte dan menjadi kultivator bebas yang suka berkelana, Tian Jian mendapat julukan sebagai Raja Pedang Langit.
Kisah pengalaman terakhir perjalanan Tian Jian ke banyak tempat tidak jauh berbeda dengan Bing Lizi dan Chen Long. Dia tidak sengaja menemukan sebuah Dimensi Saku yang berisi siluman dan hewan roh ganas.
Tian Jian mengalami banyak kerepotan karena kekuatan siluman dan hewan roh di dalam Dimensi Saku itu jauh lebih kuat daripada kultivator yang pernah dihadapi Tian Jian.
Dengan sedikit keberuntungan, Tian Jian berhasil meloloskan diri setelah mengambil sebuah benda berharga. Karena ulahnya itu, Dimensi Saku tersebut tidak bertahan lama dan hancur.
"Kondisiku yang terluka parah membuatku terpaksa melepaskan roh dari tubuhku. Jadi seperti inilah aku sekarang." Tian Jian menghela napas panjang setelah bercerita.
Penyebab Tian Jian bisa melepaskan rohnya dari tubuh adalah karena praktiknya mencapai Ranah Jiwa. Semua kultivator yang sudah mencapai tingkat praktik ini akan memiliki roh kedua yang bisa memisahkan diri dari tubuh.
Hal ini yang menyebabkan kultivator Ranah Jiwa sulit sekali dibunuh. Selama roh ini tidak terluka, maka kultivator bisa melepaskan roh mereka dari tubuh dan membentuk tubuh fisik kembali, lalu menaikkan praktik ke Ranah Jiwa lagi.
Namun teori selalu lebih mudah dari praktiknya. Tidak ada kultivator Ranah Jiwa waras yang akan melepaskan roh mereka dari tubuh kecuali situasi mendesak, terluka parah misalnya.
Pembentukan kembali tubuh fisik juga menghabiskan sumber daya yang sangat besar. Selain itu, kultivator Ranah Jiwa yang melepaskan roh mereka dari tubuh fisik hanya sekuat kultivator Ranah Pondasi.
Yao Han bisa merasakan pancaran kekuatan Tian Jian yang setara dengan Pondasi Bumi tahap puncak. Termasuk kuat, mengingat di masa lalu, Tian Jian adalah kultivator yang sejajar dengan Meirong dan Yutian. Kultivator lain mungkin hanya sekuat Pondasi Fana.
Setelah roh terpisah dari tubuh, akan selalu diselimuti ancaman. Tian Jian selalu waspada agar tidak bertemu dengan kultivator aliran hitam, terutama yang mempelajari sihir jiwa atau ilmu pengendali hantu seperti anggota Sekte Langit Kelabu.
Membutuhkan waktu yang cukup lama sampai akhirnya Tian Jian menemukan gua tempat tinggalnya sekarang. Lalu beberapa tahun setelahnya, dia terkejut karena tiba-tiba muncul seekor hewan roh tidak jauh dari gua.
Itu adalah Bing Lizi dalam wujud seekor Kirin. Sejak kemunculan Bing Lizi, suhu dan cuaca disekitar gua sampai beberapa kilometer berubah drastis menjadi jauh dingin dan bersalju.
"Seperti yang kalian ketahui, tempat ini adalah Gua Abadi. Menariknya, gua ini pernah disinggahi oleh Senior Chen. Aku bisa berkata demikian karena menemukan sebuah peninggalannya."
Tian Jian menyerahkan sebuah slip giok pada Yao Han. "Ambillah, itu akan lebih berguna ditanganmu."
Yao Han menerima dan membaca isinya, "Serum Waktu..."
- - -