
Zhao Er, wakil manajer Toko Harta Giok cabang Kota Rubah Salju tergesa-gesa menuju ruangan Zhao Yi, atasannya.
Brak!
Pintu ruangan itu terbuka kencang, terlihat Zhao Yi yang terkejut dengan tindakan bawahannya itu.
"Kurang ajar-! Kau tidak tahu aku sedang bekerja?!" Zhao Yi murka sambil menunjuk-nunjuk wajah Zhao Er.
"Manajer Zhao, kau bisa memarahiku nanti. Aku membawa kabar penting." Zhao Er menjawab dengan tergesa-gesa, sambil berusaha mengatur napasnya.
"Kabar penting apa? Dan kenapa wajahmu pucat? Ada kabar buruk dari markas pusat? Atau kau barusan melihat hantu?"
"Belum ada kabar terbaru dari markas pusat. Aku juga tidak melihat hantu, tapi kota ini baru saja kedatangan orang yang lebih menakutkan dari hantu."
"Siapa orang yang kau maksud?"
"Orang yang kita tugaskan mengawasi Rumah Pengobatan Saudara Yao melihat kemunculan Senior Angin Timur."
"Apa?! Kau tidak sedang bercanda denganku, bukan?!" Zhao Yi mendadak panik.
"Memangnya aku sedang terlihat bercanda? Dia sedang menuju Rumah Pengobatan Saudara Yao."
"Aiya, apa yang harus kita lakukan?"
Zhao Yi ikut panik karena Zhao Er, sampai kemudian dia berdecak kesal.
"Kau sengaja membuatku panik, huh? Memangnya kenapa dia datang ke kota ini? Pastinya dia ingin menemui muridnya." Zhao Yi mendengkus keras. "Sebaiknya aku kesana untuk memberi salam pada Senior Feng."
Zhao Er tersenyum kecut. "Masalahnya, Manajer... rombongan Matriark Shui masih belum pulang dari sana. Bayangkan bagaimana reaksinya saat mengetahui Saudara Yao menolong aliran putih. Apa kau lupa Senior Feng tidak menyukai siapapun yang berasal dari aliran putih?"
Zhao Yi mendadak pusing. "Kau benar, ini akan menjadi masalah..."
**
Tanpa permisi, pria berjubah putih dan bergaris-garis hitam yang tidak lain adalah Feng Xian masuk ke dalam Rumah Pengobatan. Kemunculannya mengejutkan Yao Han dan empat orang tamunya.
"Guru Feng?"
Selain terkejut, wajah empat tamu Yao Han mendadak pucat pasi melihat sosok pria yang dipanggil Guru Feng oleh Yao Han. Shui Lan hanya tidak menyangka akan bertemu dengan Angin Timur ditempat ini. Sejujurnya dia tidak siap.
Yao Han mengamati pria didepannya, lalu wajahnya berubah serius dan tubuhnya melepaskan aura bertarung. Tindakannya membuat Feng Xian mengerutkan dahi dan mengejutkan rombongan Shui Lan.
"Apa Anda benar guruku?" Nada bicara Yao Han terdengar dingin, sikapnya juga menjadi waspada.
"Kau mendadak pikun? Bagaimana bisa kau melupakan gurumu sendiri?"
Sebelum Yao Han menjawab, Bing Lizi memberi pesan padanya. "Xiao Han, yang didepanmu bukan Saudara Feng yang asli, dia hanya sebuah klon."
Mendengar pesan itu, Yao Han menarik kembali aura bertarungnya. Dia mendekati Feng Xian lalu memberi hormat.
"Maafkan murid, Guru Feng. Anda terlihat berbeda dari terakhir kali kita bertemu." Yao Han menunjukkan senyum lebar.
Feng Xian mendengkus pelan, tidak tersinggung atau terlalu memikirkan sikap muridnya. Dia mengetahui Yao Han cukup sensitif terhadap perubahan aura orang-orang terdekatnya. Hal berbeda yang dimaksud Yao Han adalah aura dan tingkat kekuatannya saat ini.
Seperti yang dikatakan Bing Lizi, Feng Xian yang dilihat Yao Han saat ini adalah sebuah klon, yang aura dan tingkat kekuatannya dibawah Feng Xian yang asli. Untuk sesaat, Yao Han berpikir ada yang sedang menyamar sebagai gurunya.
Mengabaikan Yao Han, Feng Xian melirik rombongan Shui Lan. Tatapannya datar dan agak dingin. Shui Lan dan lainnya memberi salam hormat dan bersikap begitu sopan.
"Senior..."
Feng Xian mengabaikan salam itu, tetapi tatapannya berhenti selama beberapa detik pada Bing Xueyu.
"Senior, nama junior ini Bing Xueyu, putri Patriark Benteng Es Utara."
"Ah, kau rupanya putri Raja Es. Pantas saja kau terlihat tidak asing." Feng Xian tertawa pelan, lalu melirik Yao Han sambil tersenyum penuh arti.
Feng Xian kemudian duduk dan Yao Han langsung menuangkan Arak Persik Bulan ke dalam gelas untuk gurunya. Aromanya yang lebih wangi dari Teh Rumput Perak menggoda penciuman empat tamu Yao Han. Namun karena dihadapan mereka ada Angin Timur, Shui Lan dan lainnya tidak bisa bersikap tenang seperti sebelumnya, bahkan merasa suhu sekitar menjadi lebih dingin.
"Ada urusan apa kalian dari aliran putih menemui muridku?"
"Senior, kami datang ingin meminta bantuan murid Anda."
"Bantuan?" Feng Xian mengerutkan dahi dan memperhatikan tiga anggota Sekte Ombak Bunga itu bergantian. "Siapa diantara kalian butuh bantuan?"
"Muridku, Senior. Sebelum Anda datang kemari, murid Anda baru saja selesai mengobati muridku yang terluka."
"Datang jauh-jauh kemari untuk meminta bantuan muridku, itu artinya luka muridmu begitu serius dan susah ditangani, bukan?"
"Benar, Senior."
Feng Xian kemudian mengetahui Shui Lan adalah salah satu Matriark Sekte Ombak Bunga.
"Karena suasana hatiku sedang baik, aku tidak akan mempermasalahkan kalian yang meminta bantuan muridku. Lagipula aku tidak bisa mencegah monster kecil ini menolong siapapun tanpa terkecuali. Sifatnya begitu keras kepala." Feng Xian menunjuk Yao Han tepat di hidung.
Shui Lan dan lainnya diam-diam menarik napas lega.
"Anda memiliki murid yang luar biasa, Senior. Kemampuan pengobatannya jauh lebih baik daripada kami. Terbukti dia mampu menyembuhkan muridku dengan sempurna."
Feng Xian tertawa. "Sebenarnya aku penasaran, monster kecil ini bersedia membantu karena benar-benar tulus atau karena keberadaan dua gadis cantik?"
Yao Han menghela napas pendek dan tersenyum masam. "Guru Feng, tolong berhenti menggodaku dan memanggilku monster kecil. Apa Guru lupa dengan namaku?"
"Kenapa? Panggilan monster kecil memang cocok untukmu."
"Kalau aku monster kecil, berarti guru monster tua."
"Kau ini..."
Yao Han mendapatkan jeweran ditelinga, membuatnya menjerit kesakitan.
"Sakit! Sakit! Guru-! Telingaku!"
Feng Xian melepaskan jewerannya sambil berdecak kesal, merasa Yao Han bersikap berlebihan karena dia tidak menggunakan tenaga sama sekali.
Yao Han pura-pura kesakitan sambil mengusap telinganya, sengaja menjahili sang guru. "Aduh, telingaku hampir lepas."
"Apanya yang hampir lepas? Aku bahkan hanya memegang telingamu saja. Atau kau mau telingamu benar-benar lepas?"
"Tidak, Guru. Murid hanya bercanda." Yao Han tertawa jahil.
Interaksi guru dan murid itu membuat Shui Lan dan lainnya tercengang. Kalau tidak melihat situasinya, Shui Lan akan mengangkat dua jempol untuk Yao Han yang bisa bercanda santai dengan gurunya sendiri. Pikirnya, mungkin hanya Yao Han yang bisa bersikap demikian dihadapan orang yang dianggap paling menakutkan di seluruh Benua Bulan Biru.
"Ada apa Guru datang kemari?"
"Aku hanya kebetulan sedang lewat kota ini dan mampir."
"Kebetulan?" Yao Han mengerutkan dahi, tidak langsung percaya dengan jawaban gurunya itu.
"Tidak perlu kau pikirkan." Feng Xian beralih pada Shui Lan. "Luka apa yang diderita muridmu sampai kau membawanya jauh kesini?"
- - -