Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 201 - Dua Tetua Menara



Rencana awal Mo Zha adalah memancing kedatangan tetua pengawal jenius muda aliran putih yang pastinya berkekuatan di Ranah Jiwa ke arah sumber ledakan. Setelah berhasil dipancing, keduanya akan menyibukkan mereka melalui pertarungan. Beruntung bagi mereka, kekuatan semua tetua disana tidak terlalu merepotkan.


Namun cukup lama bertarung yang belum bisa dimenangkan oleh tetua aliran putih, rencana Xie Hong dan Mo Zha sepertinya kurang berjalan lancar. Padahal harapan mereka adalah Yun Mohei yang bisa secepat mungkin menemukan Yun Lian dan membawa pergi gadis cantik itu bersama mereka lalu kembali ke sekte.


Xie Hong yang merasa resah itu kemudian memutar otak dan menemukan solusi yang cukup tepat.


"Bocah Mo, perubahan rencana. Habisi mereka dan kita bantu Tetua Mohei menemukan Nona Yun."


Mo Zha mengalihkan perhatiannya pada Xie Hong sambil menyeringai lebar. "Sebenarnya itu yang ingin kulakukan sejak awal. Sepertinya situasi kita memang tidak memungkinkan untuk tidak membunuh mereka. Kikiki..."


"Dasar."


Xie Hong dan Mo Zha melepaskan Qi berjumlah besar dan aura pembunuh pekat, mengagetkan semua tetua aliran putih.


"Gawat!"


Entah siapa yang mengatakannya, yang jelas itu mewakili kekhawatiran semua tetua aliran putih disana.


Sebelum dua anggota pasukan khusus Sekte Awan Bulan itu melepaskan serangan mematikan, seorang pria berjubah biru langit dan memakai mantel putih berdiri menghalangi sambil melepaskan hawa dingin, membuat Xie Hong dan Mo Zha terpaksa berhenti. Para tetua aliran putih terkejut dengan tindakannya.


"Apa maksudnya ini? Benteng Es Utara ingin mencari masalah dengan Sekte Awan Bulan?" Xie Hong bertanya dengan dingin.


Pria itu adalah tetua pengawal dari Benteng Es Utara. "Aku tidak berniat demikian. Aku memahami tujuan kalian berdua sejak awal bertarung dengan mereka. Orang yang kalian cari berada ditempat aman. Aku sudah membuat penghalang untuknya agar dia tidak terlibat masalah."


"Kau mengurung Nona kami?!"


"Aku tidak berniat buruk. Dia bersama dengan generasi jenius muda lainnya saat aku kesini. Penghalang itu akan mencegah dia atau jenius muda lainnya saling menyerang satu sama lain."


"Kau bercanda?! Apa Benteng Es Utara sekarang lebih berpihak pada aliran putih dan kehilangan kenetralannya?!"


Sorot mata tetua itu menjadi lebih dingin. "Jangan asal bicara. Benteng Es Utara tetap pada pendiriannya menjadi sekte aliran netral. Bisakah kalian berhenti demi memberiku sedikit muka?"


"Dihadapanku bukanlah Raja Es. Kau hanyalah..." Ucapan Xie Hong terputus saat dari kejauhan melihat kemunculan Yun Mohei sambil membawa Yun Lian. "Akhirnya..."


Tetua itu mengikuti arah pandang Xie Hong, dia segera mengenali sosok Yun Mohei, tetapi matanya melotot dan jantungnya seakan berhenti pada saat melihat Yun Lian.


"Dia berhasil keluar?! Anak-anak dalam bahaya!"


Tanpa lagi mempedulikan mereka yang berasal dari Sekte Awan Bulan, tetua Benteng Es Utara itu segera melesat menuju gedung pertemuan secepat yang dia bisa. Suara teriakannya juga didengar para tetua aliran putih dan mereka memilih terbang mengikutinya.


"Tetua sekalian, maafkan kecerobohanku." Yun Lian sedikit menundukkan kepala dengan wajah tetap datar.


"Aiyo, Nona. Setidaknya kau tidak terluka. Kita bisa bicara lebih banyak nanti." Mo Zha membalas dengan jenaka.


"Kami akan membawamu keluar dari kota ini dan kembali ke sekte. Keamananmu yang lebih utama."


Yun Lian mengangguk pelan.


"Kenapa kau melepas cadarmu?" Mo Zha sebenarnya terpana dengan kecantikan gadis itu yang tidak tertutupi cadar, tetapi sebaik mungkin dia menekan perasaannya.


Jawaban Yun Lian itu membuat ketiga tetua pengawalnya saling berpandangan sebelum dengan cepat membawanya pergi meninggalkan kota. Masalahnya jauh lebih besar daripada yang bisa mereka bayangkan karena Yun Lian terlibat pertarungan dengan jenius muda aliran putih.


Namun, baru beberapa puluh meter mereka berhasil meninggalkan kota, mereka terhenti dengan kemunculan dua orang sepuh. Kekuatan besar yang terpancar dari dua orang itu yang membuat mereka berhenti sekaligus waspada tingkat tinggi. Ranah Jiwa Agung.


"Hm... apa yang kita temukan disini? Empat anggota Sekte Awan Bulan? Sesuatu yang cukup mengejutkan. Bukan begitu, Saudara Fang?"


"Benar, Saudara Qian. Melihat mereka sedang terburu-buru, sepertinya dalang kekacauan di Kota Harta Giok adalah mereka. Tidak mengherankan, mengingat sebagai bagian aliran hitam, kekacauan identik dengan mereka."


Dua pria sepuh ini adalah Fang Han dan Qian Shan. Mereka adalah dua dari sembilan kultivator terkuat yang dimiliki Menara Harta Giok yang tergabung dalam Sembilan Tetua Menara dan berkekuatan Ranah Jiwa Agung.


Sebenarnya, mereka sedang dalam perjalanan bersama menuju Kota Harta Giok untuk ikut mengamankan kondisi kota karena diadakannya Pertemuan Kultivator Muda, tetapi kemudian mendapat kabar ada kekacauan yang melanda Kota Harta Giok sebelum tiba.


"Ingin pergi? Tidak semudah itu. Kalian memang berasal dari sekte aliran hitam nomor satu saat ini, tapi bukan berarti aku takut. Kerugian yang kalian perbuat harus dibayar lunas." Qian Shan berujar dingin.


"Kalian boleh pergi setelah membayar semua kerugian, itupun jika kalian sanggup membayarnya." Fang Han menimpali ucapan Qian Shan, diikuti tawa dingin yang mengejek.


Raut wajah tiga tetua pengawal Yun Lian memburuk. Sudah jelas mereka tidak bisa bernegosiasi karena Menara Harta Giok dikenal sama sekali tidak menerima kerugian apapun bentuknya dan akan menuntut pembuat kerugian membayar semuanya.


Sebagai jawaban, Xie Hong mengeluarkan peralatan lukis tempurnya sambil memberi pesan pada Yun Mohei.


"Tetua Mohei, kau bawa Nona Yun pergi. Kau harus memastikan dia sampai di sekte dengan selamat. Biar aku dan Bocah Mo yang menghadapi mereka."


Yun Mohei menghela napas panjang. "Baiklah."


Mo Zha melirik Yun Lian. "Nona Yun, pergilah. Kami akan menyusul."


"Tetua..."


"Tenanglah, mereka akan terluka karena mainanku ini." Mo Zha menunjukkan segumpalan tanah liat putih ditangannya.


Melihat reaksi Xie Hong dan Mo Zha, Qian Shan menyeringai sinis.


"Bukannya membayar kerugian, kalian justru ingin melawan. Aiya, aku memang berharap terlalu tinggi."


Fang Han menanggapi dengan wajah kasihan yang dibuat-buat. "Kau berharap pada orang yang salah, Saudara Qian. Lagipula mereka memang tidak bisa diharapkan sama sekali."


Qian Shan tertawa kecil lalu mengayunkan tangan dan muncul sebuah boneka besi yang menyerupai dirinya. Qian Shan termasuk salah satu pengendali boneka sebagai senjata utama dan yang terbaik setidaknya diseluruh Menara Harta Giok.


Fang Han ikut mengayunkan tangannya dan muncul seratus pisau kecil yang melayang disekitarnya.


"Memang merepotkan, tetapi setidaknya mereka bisa memberikan perlawanan yang lebih berarti daripada sampah aliran putih sebelumnya." Mo Zha tertawa kecil sambil menatap dua lawannya bergantian.


"Ya, kau benar." Xie Hong menanggapi singkat. "Tetua Mohei, bersiaplah."


Xie Hong dan Mo Zha maju bersamaan menyerang Qian Shan dan Fang Han.