Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 76 - Beban Terangkat



Kali ini Yao Han yang tidak mengerti jalan pikiran Shenghao. Sebelumnya, teman seperjalanannya itu berniat menghabisi Gui Wuneng, jenius kultivator muda dari Sekte Langit Kelabu yang merupakan bagian dari aliran hitam, tetapi malah mengatakan dirinya kejam setelah memusnahkan praktik si pria aneh.


Memang dalam dunia kultivator, kehilangan praktik yang susah payah diperjuangkan dengan menghabiskan begitu banyak waktu dan sumber daya jauh lebih buruk daripada kematian.


Bagi orang lain, tindakan Yao Han mungkin terlihat lebih kejam daripada membunuh. Namun bagi Yao Han, dirinya sudah cukup baik dengan membiarkannya tetap hidup.


"Saudara Shenghao, jika kau diberi pilihan antara membunuh pria ini atau menghilangkan praktiknya, mana yang kau pilih?"


Yao Han mengajukan pilihan yang sulit bagi Shenghao karena tidak ada yang baik dari dua pilihan tersebut.


"Maksud kata-kataku tadi adalah kau tidak perlu berbuat sejauh itu, Saudara Yao. Kita bisa menyadarkan pria ini bahwa tindakannya salah. Dia mungkin mempelajari ilmu hitam, tetapi selama mendapat ajaran yang benar, dia akan bertobat dan tidak melakukan kesalahan yang sama."


"Saudara Shenghao, aku mengerti maksudmu. Memberikannya kesempatan kedua, bukan? Itulah maksud lain tindakanku ini."


Yao Han menghela napas pendek. Dirinya kemudian diam dan tidak berniat menanggapi ucapan Shenghao lebih jauh, tetapi tidak dengan hatinya.


'Mungkin ini seperti yang dikatakan Guru Feng dan Guru She... Saudara Shenghao bersikap naif. Aku sekarang sedikit memahami alasan dunia kultivator terpecah menjadi dua aliran dan Guru Feng kurang menyukai aliran putih.'


Yao Han diam karena dia juga berusaha menahan diri untuk tidak tertawa karena 'kelucuan' ucapan Shenghao dan melontarkan kalimat sinis seperti yang diajarkan Feng Xian.


***


Paman Kai tidak pernah tidur nyenyak sejak kehilangan istri dan calon anaknya, tetapi semalam dia tidur begitu lelap bahkan bermimpi indah. Paginya saat dia bangun, Paman Kai kaget karena tidak menemukan tiga pemuda yang menjadi tamu dan menginap di rumahnya.


"Kemana perginya mereka?"


Paman Kai keluar rumah, mencoba mencari keberadaan Yao Han dan dua temannya. Tepat setelah dia membuka pintu rumah sederhananya, Paman Kai melihat Yao Han berjalan mendekat sambil tersenyum lebar.


"Anak muda, darimana dirimu?"


"Pinggiran kota. Paman, aku membawa kabar baik. Kami sudah menemukan seseorang di balik teror Kota Mawar Hitam."


Mata Paman Kai melebar dan napasnya tertahan, "Benarkah?"


"Tentu, Paman. Semalam kami berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Kami sempat terlibat pertarungan beberapa saat, tetapi sekarang dia sudah kami lumpuhkan."


Yao Han kemudian meminta Paman Kai mengantarkannya ke kediaman walikota untuk memberi kabar baik ini.


Beberapa saat kemudian...


Pria aneh pelaku teror hantu Kota Mawar Hitam terbangun dalam kondisi tak berdaya. Dirinya begitu kaget karena dua hal. Pertama, kondisi tubuhnya yang tidak jauh berbeda dari manusia biasa. Kedua, banyak orang yang mengelilinginya.


"Dia pelaku terornya?" Walikota Shi Ban bertanya ragu sambil melirik Yao Han.


"Benar, Walikota." Yao Han menjawab yakin.


Dia mengerti Walikota akan ragu karena pria aneh itu tidak seperti kultivator pengendali hantu. Pada akhirnya walikota dan warga lainnya mempercayai Yao Han dikarenakan dukungan dari Shenghao dan Honghao.


Identitas kedua temannya itu membantu memperkuat bahwa dirinya tidak sedang berbohong atau mengada-ada. Terlebih Walikota dan para warga yang berkumpul sudah melihat tempat persembunyian menakutkan si pria aneh.


Bagi manusia biasa, lokasi persembunyian si pria aneh di pinggiran kota tidak jauh berbeda dengan tempat angker dan berhantu. Namun bagi kultivator seperti walikota Shi Ban bisa melihat atau merasakan adanya Qi jahat dan gelap di tempat tersebut.


Si pria aneh diinterogasi lebih jauh. Pria ini bernama Juzi, yang berasal dari perbatasan Negeri Hutan Hijau dan Negeri Tanah Merah. Bukan sekali ini dia berbuat jahat dan Kota Mawar Hitam menjadi sasarannya sebagai tumbal untuk peningkatan kekuatannya.


Yao Han juga menceritakan mengenai nasib para korban menghilang. Reaksi keluarga korban sudah Yao Han tebak. Mereka menangis histeris, tidak terkecuali Paman Kai yang terisak tertahan.


Sebagian besar orang marah dan ingin menghabisi pria aneh bernama Juzi ini, tetapi dicegah oleh Walikota bersama anak buahnya. Juzi akan ditahan dan diberi hukuman sesuai aturan kota.


"Terima kasih sudah bersedia mengulurkan bantuan. Kalian sudah meringankan permasalahan kami beberapa tahun ini." Walikota Shi Ban memberikan hormatnya pada Shenghao. Dia merasa lega karena bebannya berkurang.


Shenghao membalas hormat walikota dengan canggung. Dia sedikit banyak memahami apa yang dirasakan walikota. Tidak mudah mengatasi masalah dengan hanya mengandalkan kekuatannya yang hanya berada di Pondasi Fana tahap awal.


Selain itu, Shenghao berpikir yang seharusnya menerima hormat ini adalah Yao Han. Teror Kota Mawar Hitam diatasi pemuda itu, sementara dirinya dan Honghao bisa dikatakan hanya diam melihat sebagai penonton.


Yao Han sibuk menenangkan Paman Kai. Pria yang tampak kurus dan tua itu merasa begitu sedih dengan nasib istri dan calon anaknya yang menjadi pasukan hantu. Setelah beberapa saat, akhirnya Paman Kai menerima dengan lapang dada.


Yao Han membisikkan rencananya pada Shenghao dan Honghao. Untuk sementara mereka akan tinggal di Kota Mawar Hitam. Yao Han meminta Shenghao membuat jimat pelindung cukup banyak untuk menangkal roh jahat mengganggu warga kota. Meski itu cukup merepotkan, Shenghao menerima usul Yao Han.


"Walikota, apakah aku bisa meminta bantuan Anda?" Yao Han menghampiri Walikota Shi Ban.


"Tentu saja, anak muda, aku akan membantumu sebaik mungkin."


"Permintaanku sederhana, tolong kumpulkan warga sebanyak mungkin di satu tempat yang luas."


"Kalau boleh tahu, apa yang ingin kau lakukan?"


***


Yao Han kembali melakukan kegiatan uniknya dengan menawarkan pengobatan gratis. Karena ukuran Kota Mawar Hitam cukup besar dan pasti akan membutuhkan waktu lama untuk berkeliling, maka Yao Han meminta bantuan Walikota Shi Ban untuk mengumpulkan pada warga di satu tempat yang luas.


Cukup lama juga mengumpulkan warga kota, tetapi Yao Han mulai menawarkan jasanya saat sudah terkumpul sekitar lima puluhan orang. Yao Han mengutamakan para orang tua dan pesakitan terlebih dahulu.


Warga kota merasa takjub dengan kemampuan Yao Han. Mereka juga mengetahui dirinya yang mengatasi teror yang melanda kota. Selain mendapatkan pujian, rombongan Yao Han mendapatkan hadiah yang cukup sulit ditolak karena kebanyakan warga memaksanya untuk menerima hadiah itu.


Jika Yao Han memberikan jasa pengobatan denagn gratis, maka Shenghao dan Honghao membagikan setiap jimat pelindung penangkal roh jahat untuk setiap kepala keluarga.


"Anak muda, aku tidak punya barang berharga yang bisa kuberikan padamu." Seorang kakek tua merasa malu karena tidak bisa memberikan hadiah pada Yao Han setelah mendapatkan jasa pengobatan.


"Kakek, aku menawarkan jasa secara gratis dan tidak mengharapkan imbalan..."


"Aku tahu, tetapi aku ingin memberimu hadiah sebagai balasannya..." Kakek melirik barang-barang pemberian warga kota yang sudah mendapatkan bantuan Yao Han sebelumnya.


Yao Han diam sejenak lalu merentangkan kedua tangannya, "Bagaimana dengan pelukan hangat?"


Hampir semua orang menatap Yao Han terpana. Tanpa disadari si kakek, air matanya menetes lalu memeluk Yao Han, "Terima kasih banyak anak muda. Kau pasti utusan langit yang baik hatinya."


Yao Han hanya menanggapi dengan tawa pelan yang canggung.


---