Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 216 - Mantan Petinggi Sekte



Kabar tentang kemunculan kembali Angin Timur dan memiliki murid penerus memang terlambat sampai di Sekte Awan Bulan. Kabar itu baru terdengar setelah Yun Lian dan tiga tetua pengawalnya berkelana untuk mencari pengalaman.


Kabar itu membuat Yun Ming waspada, karena selama berkelana, cucu perempuannya itu akan memasuki wilayah Negeri Hutan Hijau. Yun Ming sempat merasa khawatir jika rombongan kecil cucunya akan bertemu dengan salah satu dari Jagoan Empat Penjuru.


Yun Ming tidak akan terlalu mengkhawatirkan tiga Jagoan lainnya, karena mereka sudah lebih dari seratus tahun tidak muncul atau terdengar kabarnya. Namun berbeda dengan Angin Timur.


Meskipun dikenal abai dengan dunia luar dan hampir tidak pernah meninggalkan kediamannya, tetapi peluang untuk bertemu secara tidak sengaja dengan Angin Timur tetap ada.


Jika kabar itu datang lebih awal, mungkin Yun Ming akan mengingatkan agar rombongan cucunya tidak memasuki wilayah Negeri Hutan Hijau. Namun karena Yun Lian dikawal tiga tetua berpengalaman yang juga termasuk pasukan khusus, Yun Ming berusaha tenang dan menghilangkan rasa khawatirnya.


Nama Angin Timur sangat membekas dalam benaknya. Bukan hanya nama Angin Timur sudah begitu terkenal, melainkan karena dalam usaha menghentikan perang besar dunia kultivator dua puluh tahun lalu, Angin Timur secara tidak sengaja membuat nyawa dua anggota pasukan khusus Sekte Awan Bulan melayang.


"Angin Timur muncul kembali tidak terlalu mengejutkan, tapi tidak dengan muridnya. Siapa yang akan menduga dia akhirnya memiliki murid setelah menutup diri selama beberapa tahun, huh?" Yun Ming tertawa pendek, terkesan mengejek.


"Saudara Yun, menurutmu dia sengaja menutup diri karena muridnya?" Yue Song bertanya ragu.


Yun Ming membantah. Mengingat karakternya, Yun Ming sama sekali tidak yakin Angin Timur akan menutup diri karena muridnya, hanya untuk mengajarkan ilmu alkemi atau hal lain. Itu alasan yang sangat sepele sampai harus menutup diri dari dunia luar.


Yang paling aneh menurut Yun Ming adalah dia mendengar tentang karakter antara guru dan murid ini seperti langit dan bumi.


"Bagaimana penampilannya?"


Sebagai jawaban, Yun Mohei mengeluarkan sebuah slip giok. Dia sudah merekam penampilan murid Angin Timur disana. Seorang tetua mengambil slip giok itu dan mengantarkannya pada Yun Ming.


Yun Ming dan Yue Song melihat bersamaan. Reaksi mereka adalah menaikkan sebelah alis setelah melihat isi rekaman selama dua detik.


"Mohei, kau yakin tidak salah merekam? Murid Angin Timur terlihat muda sekali."


Yun Ming dan Yue Song melihat sekali lagi dan isi rekaman tidak berubah. Isi rekaman itu adalah seorang pemuda yang sedang berdiri, memakai jubah abu-abu gelap, sekilas terlihat seperti seorang sarjana yang lugu dan ramah, tapi pandangan matanya terkesan sedikit datar dan dingin. Yun Ming sampai yakin pemuda dalam rekaman itu lebih muda dari cucunya.


"Kenyataannya demikian, Patriark. Murid Angin Timur..."


Yun Mohei menceritakan beberapa hal tentang murid Angin Timur yang sempat bertemu dengan rombongan kecil mereka, membuat siapapun yang mendengarnya mengerutkan dahi sampai Yun Ming memotong penjelasannya.


"Omong kosong apa yang kau katakan, Mohei? Tidak ada kultivator Ranah Dasar yang bisa memancarkan kekuatan setara Ranah Jiwa. Tidak pernah ada sejak awal praktik kultivasi sekalipun."


Yun Mohei tersenyum pahit, tetapi sebelum dia membela diri, Yun Lian, Xie Hong, dan Mo Zhae terlebih dulu bergantian buka suara untuk bersaksi bahwa semua ucapan Yun Mohei benar adanya.


Yun Ming terdiam selama beberapa saat sambil saling melirik dengan Yue Song.


"Kau yakin dia masih di Ranah Dasar? Atau mungkin dia tidak semuda yang terlihat?"


Meskipun tidak bisa membaca tingkat kultivasi Yao Han dengan jelas, Yun Mohei yakin pancaran Qi Yao Han menunjukkan dia masih berada di Ranah Dasar. Terkait penampilannya, Yun Mohei juga yakin Yao Han memang semuda yang terlihat.


Yue Song berbisik pelan pada Yun Ming yang terdiam sambil mengelus dagu.


Yun Mohei kembali menyampaikan sesuatu yang membuat Yun Ming dan Yue Song menaikkan sebelah alisnya lagi.


"Dia mengetahui niat kami yang ingin mendatangi Kota Harta Giok dan sempat memperingatkan kami agar tidak membuat kekacauan disana."


Sebelum Yun Ming menanggapi, ada seseorang yang terlebih dulu menyela.


"Latar belakangnya membuat dia berani bersikap demikian dan peringatannya justru kalian langgar."


Seseorang itu adalah pria dengan postur tubuh tegap dan kekar, yang memasuki ruang sidang dadakan dengan santai. Ada seorang pria lainnya yang wajahnya terkesan datar dan malas berjalan mengikuti disampingnya.


Yun Ming dan Yue Song terkejut dengan kemunculan dua orang ini, karena cukup lama tidak menampakkan diri, bahkan pada saat perang besar dunia kultivator terjadi dua puluh tahun lalu. Selain Yun Ming dan Yue Song, semua petinggi penting juga mengenal dua orang ini.


Pria berbadan tegap dan kekar adalah Yun Tian, sedangkan pria bertampang datar dan malas adalah Yue Di. Mereka adalah Patriark dan Tetua Agung sebelum Yun Ming dan Yue Song, sekaligus ayah kandung masing-masing dari mereka. Yun Tian dan Yue Di adalah dua orang yang berjulukan Gerbang Maut dan Gerbang Darah sebelum kedua anak mereka.


"A-Ayah..." Yun Ming dan Yue Song berdiri dan memberi hormat, diikuti oleh yang lain.


"Hmph, jangan panggil aku ayah karena kau membuat cicitku berlutut seperti ini. Dasar anak bodoh." Yun Tian mendengkus kasar, lalu sikapnya berubah lembut pada Yun Lian. "Aiya, ayo berdiri, cicitku. Kakekmu bodoh sekali menyuruhmu seenaknya berlutut."


"Kakek buyut..." Yun Lian menyapa dan memberi hormat pada Yun Tian dan Yue Di.


"Ah, cicitku tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan begitu berbakat. Kau akan melampaui kakek bodohmu itu, bahkan juga aku dimasa depan."


Yun Lian hanya menunduk saat Yun Tian memujinya. Pandangan Yun Tian beralih pada Yun Ming dan sikapnya kembali seperti semula.


"Kenapa ayah muncul? Apa telah terjadi sesuatu?"


"Panggil aku Senior, anak bodoh! Kau pikir aku kemari karena apa, huh?! Kalau aku lebih lama datang, lutut cicitku akan terluka karena terlalu lama berlutut! Dasar kakek tak punya hati!"


Yun Ming tidak berani membela diri dan menganggap dirinya salah. Bukan hanya karena Yun Tian adalah ayahnya, juga karena Yun Tian yang lebih kuat darinya.


"Maaf, Senior. Aku rasa ada sesuatu yang penting sampai kalian datang kemari, bukan?"


"Hmph, tentu saja aku kemari karena mendengar kalian mengadakan sidang dadakan untuk cicitku. Aku juga ingin membahas tentang kejadian di Kota Harta Giok dan rencana kita selanjutnya."


"Rencana selanjutnya? Maaf, senior. Tapi kami masih membahas tentang murid Angin Timur."