Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 219 - Hutan Buatan



Menjelang siang hari, di Pulau Bulan Bintang, Feng Xian yang asli sedang menyibukkan diri melukis di pekarangan kediamannya. Sesekali dia berhenti menorehkan kuas untuk menikmati Arak Persik Bulan.


Xiao Ni juga terlihat berada disana, sedang terbang memutar dalam wujud Bangau Pelangi. Setelah bosan terbang, Xiao Ni turun dan berubah wujud menjadi manusia.


"Senior, berikan aku satu guci arak. Persediaanku sudah habis."


"Cepat sekali kau menghabiskannya. Tidak, aku tidak mau memberimu lagi. Sebelumnya aku sudah memberimu tiga guci arak, itu sudah terlalu banyak. Kau harusnya bisa berhemat, bukan menghabiskannya dengan cepat."


"Kau hanya memberiku tiga, sementara kau punya puluhan yang tersisa. Kenapa kau pelit sekali memberikan satu saja?" Xiao Ni berdecak kesal. "Bahkan Senior Xi tidak akan sepelit dirimu untuk berbagi arak."


"Karena aku bukan si Tua Xi." Feng Xian membalas santai.


"Dasar tua bangka pelit. Kasihan Xiao Han, nasibnya sial memiliki guru pelit sepertimu."


Bukannya tersinggung, Feng Xian justru tertawa pendek. "Jika monster kecil itu mendengarnya, dia akan membunuhmu."


"Hmph, kau beruntung memiliki murid berbakat yang juga berbakti."


Meskipun sempat kesal, Xiao Ni kembali berusaha membujuk Feng Xian agar mau berbagi arak.


"Baiklah, baiklah. Berhenti merengek. Tingkahmu sangat kekanakan." Feng Xian mengeluarkan satu guci arak dan menyerahkannya pada Xiao Ni dengan malas.


Tanpa mempedulikan cibiran Feng Xian, Xiao Ni menerima guci arak itu dengan mata berbinar dan mengelus-eluskannya ke pipi.


Feng Xian meneruskan kegiatan melukisnya, sementara Xiao Ni sudah menikmati araknya.


"Hm, arak buatan Xiao Han memang enak. Ini aneh sekali karena kau pernah mencoba membuatnya dengan cara yang sama, tetapi rasanya tidak seenak ini, Senior."


"Itulah alasanku meminta monster kecil itu membuatkan banyak arak untukku. Arak buatannya lebih enak daripada buatanmu sendiri."


Xiao Ni mencibir. "Kau pikir aku akan percaya ucapanmu, Senior? Bilang saja kau terlalu malas dan membuatnya setengah hati. Tidak seperti muridmu, makanya hasilnya berbeda."


Feng Xian diam tak menanggapi, membuat Xiao Ni yakin ucapannya benar.


"Kau terus menyibukkan diri melukis dan kuperhatikan lukisanmu satu ini tidak pernah selesai."


Lukisan Feng Xian terlihat baru sepertiga menghiasi kanvas lukis.


"Aku akan menyelesaikan ini dalam tiga hari. Setelah itu aku akan pergi."


"Oh, kau mau kemana? Biarkan aku ikut. Sudah lama aku tidak bepergian jauh."


"Ke perbatasan Negeri Awan Biru dan Negeri Hutan Hijau."


Xiao Ni mengerutkan dahi. "Tempat apa yang sebenarnya ingin kau datangi?"


"Lembah Petir Abadi."


Xiao Ni tersedak. "Kau sudah tidak waras? Kenapa kau ingin pergi kesana?"


"Tentu saja aku masih waras. Kalau bukan karena dugaan dan permintaan Saudara Bing, aku tidak akan pernah mau pergi ke tempat terkutuk itu."


"Senior Bing?" Xiao Ni diam sejenak. "Apa ini berkaitan tentang keberadaan Senior Xi?"


"Hm."


"Kalau begitu masuk akal."


"Semoga saja dia ada disana. Kuharap tua bangka itu tidak sedang bermasalah."


Feng Xian mendadak menghentikan gerakan kuasnya dan mengeluarkan sebuah benda seukuran kepalan tangan yang pada bagian tengahnya memancarkan cahaya biru keemasan.


"Bukankah itu Giok Jiwa Xiao Han? Apakah ada yang salah? Terjadi sesuatu dengannya?" Xiao Ni bertanya penasaran karena raut wajah Feng Xian terlihat serius.


"Itu artinya terjadi sesuatu dengan muridmu."


Feng Xian tidak menanggapi dan mengalirkan Qi pada benda ditangannya. Giok Jiwa Xiao Han lebih unik daripada Giok Jiwa Bing Lizi, Chen Long, Xi Lei, ataupun miliknya sendiri. Keunikannya membuat Feng Xian dapat melacak keberadaan Yao Han dengan tepat dimanapun dia berada.


"Dia berada ditempat yang aman. Aneh sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Kau tidak ingin menghubunginya atau mengirimkan klon ke tempat muridmu?"


"Tidak perlu. Aku yakin dia dalam kondisi aman. Ada Saudara Bing dan lainnya yang memastikan keselamatan monster kecil itu."


Xiao Ni menghela napas panjang. "Aku tidak mengerti cara berpikirmu, Senior. Kau yang tidak punya hati untuk mengkhawatirkan muridmu atau kau memang percaya diri muridmu baik-baik saja?"


Feng Xian menyimpan kembali Giok Jiwa Yao Han sambil menanggapi ucapan Xiao Ni dengan tawa santai.


**


Yao Han berdiri mematung melihat hutan pepohonan besar dan luas didepannya.


"Harapanku tidak meleset. Kondisinya masih sama seperti dulu." Bing Lizi tersenyum tipis mengamati pemandangan didepannya.


"Aku merasa ada yang aneh dengan hutan ini." Yao Han menanggapi. Yang lain kecuali Bing Lizi juga merasakan hal yang sama.


"Kalian akan mengetahuinya sebentar lagi." Bing Lizi berjalan didepan, seolah memandu Yao Han dan lainnya memasuki hutan lebat itu.


Yao Han mengamati dengan teliti pepohonan yang tumbuh disana. Semakin lama dia berjalan sambil mengamati, semakin dalam pula kerutan dahinya.


"Aku merasa tidak asing dengan pohon-pohon ini," gumam Yao Han yang masih didengar yang lain. Bing Lizi tersenyum tipis tanpa menoleh.


Yao Han kemudian berhenti dan meletakkan tangannya pada salah satu pohon besar. Dua tarikan napas berikutnya, Yao Han melebarkan mata karena menyadari sesuatu.


"Ada apa, Han'er?" tanya Meirong yang berdiri didekatnya.


"Pohon ini tidak tumbuh secara alami, melainkan tercipta dari sihir."


Yao Han memeriksa beberapa pohon lain dan menemukan hal yang sama.


"Sepertinya semua pohon-pohon di hutan ini terbuat dari sihir unsur kayu."


Kesimpulan Yao Han membuat Bing Lizi tertawa lepas, tidak cocok dengan karakternya yang terlihat tenang dan terpelajar.


"Benar, benar. Tepat sekali."


Bing Lizi menjelaskan semua jalur aman di Negeri Hutan Hijau yang berupa hutan lebat tercipta karena sihir unsur kayu Chen Long dan berusia hampir lima ratus tahun.


"Saudara Chen adalah jenis orang yang mencintai tanah kelahirannya dan akan berusaha sebaik mungkin agar keamanan negeri ini terjaga. Untuk itulah dia membuat jalur aman ini."


Luas dan panjang masing-masing dari jalur aman beragam, sekitar delapan sampai sepuluh kilometer.


"Aku rasa tidak ada orang waras yang mau membuatnya selain Senior Chen." Yutian tidak habis pikir sekaligus menganggap karakter Chen Long yang aneh sekaligus unik.


"Menciptakan hutan seluas ini dan sebanyak itu pasti menghabiskan banyak Qi dan waktu. Senior Chen sangat mengagumkan." Meirong memuji sambil berdecak kagum.


"Sebenarnya tidak juga, waktunya hanya sekitar satu bulan. Aku dan Saudara Xi adalah dua orang yang menyaksikan langsung saat Saudara Chen menciptakan hutan lebat ini dan lainnya. Qi dan tenaga miliknya seolah tidak pernah habis karena pulih dengan bantuan pil kualitas tinggi yang diberikan Saudara Feng."


Bo Lang yang sejak awal diam sambil memeriksa sekitar menggunakan Indera Surgawi buka suara.


"Tuan Yao, aku menemukan sesuatu disana." Bo Lang menunjuk satu arah.


- - -