Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 57 - Musik Pagi Hari



Shenghao dan Honghao memilih untuk berlatih karena hari belum terlalu malam. Mereka sedikit terganggu dengan suara-suara gemuruh dari langit.


"Hm, sepertinya akan turun hujan lebat. Kuharap rumah ini tidak rubuh," celetuk Honghao.


Shenghao tersenyum tipis tetapi tidak menanggapi. Dia lebih tertarik pada kilat-kilat yang menggeliat di balik awan.


"Entah kenapa aku merasa ada yang aneh. Kilat itu tidak seperti biasanya," gumam Shenghao.


Salah satu ilmu yang dipelajari Shenghao di sekte sebagai bagian dari Pasukan Teratai adalah sihir unsur petir, sehingga dia cukup sensitif dengan fenomena alam yang berhubungan dengan petir seperti yang dia lihat saat ini.


Honghao baru saja ingin menanggapi, disaat hampir bersamaan matanya tidak sengaja melihat sesuatu berwarna putih menyilaukan turun dari langit disertai suara keras menyakitkan telinga.


"Ya ampun, semoga tidak ada makhluk hidup yang tersambar petir barusan. Sungguh malang sekali nasibnya jika itu benar terjadi."


Honghao dan Shenghao tidak tahu saja petir itu memang menyambar tubuh seseorang. Bukan hanya tidak mengakibatkan hal buruk padanya, tetapi malah memperkuat diri seseorang itu.


Honghao melanjutkan latihannya, sementara Shenghao menatap langit dengan pandangan heran. Setelah turunnya satu petir tadi, perlahan awan gelap yang menutupi langit menghilang, tidak lama mulai terlihat bulan dan bintang-bintang berkilauan.


Shenghao bukan satu-satunya yang menebak akan turun hujan lebat melihat fenomena sebelumnya, tetapi dalam waktu relatif singkat cuaca sudah berubah lagi. Tidak terlihat lagi tanda akan turun hujan gerimis atau lebat. Baru pertama kali Shenghao melihat fenomena seperti ini.


'Perasaanku saja atau memang cuaca kali ini sangat aneh.'


Shenghao menggaruk kepala nyaris botaknya sambil kebingungan.


***


Setelah menyantap perbekalan untuk pagi hari, Shenghao dan Honghao melanjutkan perjalanan. Mereka tidak jauh dari perbatasan Provinsi Rusa Putih dan setelah berjalan selama setengah jam, mereka memasuki kota manusia biasa yang terdapat di perbatasan provinsi tersebut.


Shenghao dan Honghao tidak melihat adanya penjaga kota atau petugas keamanan sejenisnya, tetapi tidak lama mereka memasuki kota bisa dikatakan situasinya aman dan baik-baik saja.


"Aku sudah sering mendengarnya, senang tiba di wilayah paling damai di seluruh Negeri Hutan Hijau." Honghao memasang senyum lebar.


"Kau mungkin perlu meralatnya, bukan hanya di Negeri Hutan Hijau, tetapi di seluruh wilayah Benua Bulan Biru," sahut Shenghao yang disambut tawa kecil.


Honghao memahami ucapan Shenghao tidak berlebihan. Negeri Awan Biru dikenal sebagai surganya aliran putih sekalipun tidak cukup sebanding dengan Provinsi Rusa Putih.


Disana terdapat jarak hubungan sosial antara kultivator dengan manusia biasa. Sedangkan di Provinsi Rusa Putih, kedua pihak saling hidup rukun. Maksud kata damai menurut Honghao sebenarnya mengacu pada keharmonisan di Provinsi Rusa Putih ini.


Saat Shenghao dan Honghao bertemu dengan penduduk setempat, keduanya disambut dengan baik, bahkan mendapatkan penghormatan, membuat keduanya agak canggung.


Bagi penduduk kota itu, rasanya tidak sopan bahkan sulit jika tidak memberi penghormatan pada Shenghao dan Honghao, mengingat mereka adalah bagian dari sekte yang sering mengulurkan bantuan kepada penduduk Negeri Hutan Hijau.


Cukup banyak penduduk yang mengelilingi keduanya sambil memberikan sesuatu, seperti buah, roti, minuman, dan bunga.


"Terima kasih banyak atas pemberian ini. Semoga kebaikan kalian dibalas berkali-kali lipat." Shenghao sedikit membungkuk diikuti Honghao.


"Biksu muda tidak perlu sungkan," seorang pria sepuh menanggapi.


Mendengar kata 'biksu muda' membuat Shenghao dan Honghao berusaha keras tidak tersenyum canggung.


Sudah ratusan bahkan ribuan kali, anggota Sekte Teratai Putih dianggap sebagai biksu dan sekte mereka sebagai kelompok keagamaan karena penampilan mereka.


Sudah berulangkali juga anggota sekte meluruskan hal ini pada orang luar, tetapi masih ada cukup banyak orang yang menganggap mereka sebagai biksu.


Pada akhirnya, anggota Sekte Teratai Putih tidak berusaha menjelaskan lagi karena hal itu cukup sia-sia dan 'melelahkan'.


Selepas menerima banyak hadiah dan mengucapkan terima kasih, Shenghao dan Honghao berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Baru beberapa puluh langkah berjalan, mereka kembali berhenti karena mendengar alunan suara yang indah.


"Hm? Siapa yang memainkan seruling ini? Bagus sekali..." puji Honghao.


Shenghao mengangguk setuju. Keduanya berhenti sejenak untuk menikmati alunan musik dipagi hari yang dimainkan entah siapa itu.


"Permainan yang bagus, membuatku begitu semangat menjalani kegiatan di pagi hari." Honghao meregangkan tubuhnya sambil tertawa riang. Tawanya berhenti saat melirik Shenghao yang tampak merenung.


"Senior, kenapa kau diam? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


"Hm... apa kau tidak menyadarinya?" Shenghao balik bertanya.


"Sadar apa maksudmu, Senior?"


"Orang ini tidak hanya memainkan seruling dengan indah, tetapi juga memasukan Qi ke dalam permainannya. Kurasa orang ini berada cukup jauh dari kita."


Honghao memejamkan mata agar lebih fokus mendengarkan alunan suara tersebut karena ingin membuktikan ucapan Shenghao.


"Mungkin kau benar, Senior. Aku hampir tidak merasakannya. Dia pasti kultivator hebat dalam memainkan musik, setidaknya seruling."


"Dao musik... Jarang sekali orang mempelajari Dao ini, meski dia memiliki unsur angin dalam akar roh mereka."


Alunan seruling yang mereka dengar masih terdengar lama, jadi keduanya memutuskan melanjutkan perjalanan ditemani suara seruling yang indah. Bahkan setelah melewati kota kecil diperbatasan provinsi Rusa Putih, suara itu masih terdengar.


"Orang ini pasti memiliki tingkat praktik yang tinggi." Honghao tidak bisa tidak mengagumi sosok di balik permainan seruling itu karena bermain seruling dipadukan Qi dalam waktu lama.


"Kultivator di puncak Ranah Pondasi sekalipun sulit melakukan hal yang sama, jadi setidaknya dia berada di Ranah Inti atau Ranah Jiwa..." Shenghao berpendapat.


Tidak lagi terdengar suara seruling indah setelah Shenghao dan Honghao memasuki kota kedua yang lebih besar dari sebelumnya, masih merupakan kota manusia juga.


Penduduk yang melihat mereka memberikan salam dan beberapa hadiah. Shenghao mengucapkan terima kasih sambil tersenyum canggung, sementara Honghao diam-diam mengamati sekitar. Pengamatannya berhenti pada salah satu kerumunan kecil tidak jauh dari mereka.


"Maaf Paman, ada apa disana itu?" tanya Honghao pada seorang pria yang tampak berusia tiga puluhan tahun. Dia adalah kultivator Ranah Dasar tingkat tiga.


"Oh, mereka sedang mengerumuni seorang tabib muda baik hati. Dia menawarkan pengobatan gratis dan baru saja dia memainkan seruling dengan begitu indahnya."


Alis Honghao naik mendengar ini. Ternyata si pemain seruling ada di kota ini dan mendengar pria itu menyebutnya sebagai tabib muda membuatnya sedikit bingung.


Dia kemudian mengajak Shenghao yang selesai beramah tamah dengan penduduk kota menuju kerumunan kecil untuk melihat sosok tabib muda sekaligus pemain seruling ini.


Saat melihat sosok pemuda berjubah abu-abu gelap yang menjadi pusat kerumunan, keduanya sedikit terkejut. Sosok itu memang masih muda, Shenghao merasa dia lebih muda darinya atau Honghao.


Yang menarik perhatiannya adalah dia bisa merasakan pemuda itu termasuk kultivator Ranah Dasar, tetapi tidak bisa membaca praktiknya dengan jelas.


Honghao merasakan ketertarikan berbeda, apalagi saat pemuda itu mengeluarkan sebuah pil berwarna kuning. Dia terkejut karena bukan karena mengenali pil itu, melainkan karena pil itu memancarkan sinar.


'Pil kualitas sempurna-! Siapa saudara muda ini?'


---