
Hening cukup lama setelah Bolang menceritakan kisahnya yang berakhir tragis. Kehilangan istri, anak, sekaligus orang-orang yang menjadi teman dekatnya selama beberapa tahun terakhir di desa kecil dalam waktu berdekatan.
Yao Han melirik Shenghao dan Honghao yang menunjukkan wajah kesulitan. Tidak terlihat lagi kedua temannya itu marah karena mendengar terjadinya pernikahan campuran bahkan menghasilkan keturunan darah campuran.
Jikapun mereka ingin melenyapkan putri Bolang dan Fei, anak itupun sudah meninggal dunia. Yao Han penasaran dengan tindakan selanjutnya dua temannya terhadap Bolang.
"Apa kalian ingin membunuhnya?" tanya Yao Han tiba-tiba, mengejutkan Shenghao dan Honghao.
"Saudara Yao..." Shenghao kesulitan menjawab, lalu menghela napas panjang, "Tidak ada yang bisa kami lakukan, semuanya terserah padamu."
Yao Han mengangguk pelan, lalu memandang Bolang, "Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?"
Bolang mengangkat wajahnya, terlihat begitu lesu dan sendu, "Tidak ada. Awalnya... meski kemungkinannya kecil, sebelum mati aku berharap bisa memberi luka parah pada Yelang. Sekarang semua sudah selesai, disini aku juga sendiri. Kalau dirimu tidak datang dan menyembuhkanku, aku berencana mati saja menyusul penduduk desa."
'Hmm... aku baru tahu hewan roh bisa memiliki emosi seperti manusia pada umumnya...'
Yao Han menatap Bolang sambil mengelus dagunya. Tentu saja dia mengecualikan kedua gurunya. Meskipun saat ini Meirong dan Yutian menjadi hewan roh, tetapi pada dasarnya sebelum kejadian aneh yang menimpa mereka, keduanya adalah manusia.
Diamnya Yao Han sambil meminta pendapat kedua gurunya. Yutian kemudian memberikan usul yang membuat Yao Han tersenyum tipis. Meirong juga terdengar setuju dengan usul Yutian.
"Namamu Bolang, bukan? Karena tidak ada yang ingin kau lakukan selanjutnya dan aku juga yang sudah menyembuhkan luka-lukamu sebelumnya, aku minta kau menjadi pengikutku."
"Pengikut?" Tidak hanya Bolang, Shenghao dan Honghao pun dibuat terkejut.
"Apa maksudmu dengan pengikut, anak muda?"
"Hm? Pengikut ya pengikut. Seperti aku menjadikanmu anak buah atau semacamnya. Namun aku tidak ingin seperti itu, lebih baik menjadikanmu teman atau pengawal yang bisa melindungiku dari bahaya."
"Saudara Yao, kau terdengar ingin seperti anggota Sekte Taring Buas..." sela Honghao, hal yang sama sebenarnya ingin diungkapkan Bolang.
Serigala Malam itu juga mengetahui tentang sekte satu itu, karena namanya begitu terkenal di wilayah Negeri Hutan Hijau sebagai salah satu sekte besar bintang sepuluh.
"Ya, kurang lebih seperti itu."
Bolang menatap Yao Han lama sambil berpikir. Dirinya memang sudah tidak memiliki tujuan, terutama tujuan hidup. Jika bukan berkat bantuan Yao Han dan Meirong, dirinya sudah mati beberap saat lalu. Tidak ada salahnya menjadi pengikut Yao Han.
"Baiklah anak muda, aku bersedia menjadi pengikutmu. Anggap saja ini sebagai balasanku atas pertolonganmu padaku." Bolang berlutut memberi hormat.
"Aish, jangan begini..." Yao Han berdecak pelan lalu membantu Bolang bangkit, "Jika aku anggota Sekte Taring Buas, sederhananya kau adalah peliharaanku, tetapi aku ingin kau menjadi temanku. Bagaimana, itu lebih bagus, bukan?"
Bolang, Shenghao, dan Honghao menatap takjub Yao Han.
"Selama ini aku menutupi identitasku saat bertemu dengan manusia agar aku bisa diterima dengan baik meski pada kenyataannya aku adalah hewan roh. Namun kau berbeda dan ini adalah pertama kali aku mendapat perlakuan seperti ini."
"Hm... sampai saat ini aku baru mengenal tiga hewan roh termasuk dirimu, tetapi aku tidak menganggap kalian hanya sebatas hewan roh."
Bolang menebak salah satu hewan roh yang dimaksud Yao Han adalah burung Feniks yang merupakan jelmaan Meirong.
"Anak muda, maksudku Tuan... Yao, aku akan berusaha menjadi pengikutmu yang baik."
"Tidak perlu memanggilku Tuan, kau bisa memanggilku Yao Han atau Xiao Han. Lalu, bagaimana aku harus memanggilmu? Dengan praktik sudah mencapai Ranah Inti, harusnya dirimu berusi lebih dari seratus tahun. Tidak sopan jika aku memanggilmu Bolang begitu saja..."
"Panggil saja aku Bolang, Tuan Yao, aku tidak keberatan."
Yao Han menggaruk pipinya, karena tidak punya panggilan lain terhadap Bolang dan malas memikirkannya lebih jauh, Yao Han menurut saja.
"Aku harap dua saudaraku ini tidak keberatan jika Bolang ikut dalam rombongan kita."
Shenghao dan Honghao kompak menggeleng, mereka tidak berniat protes karena keputusan Yao Han.
"Bolang, meski sederhananya kau adalah teman dan juga pengikutku, aku akan berusaha memberikanmu sumber daya yang bagus agar kau bisa mencapai Ranah Jiwa."
Bolang menatap Yao Han sedikit terkejut sekaligus ragu, "Maaf jika kau menyinggungmu, apa Tuan Yao berasal dari sekte?"
"Tidak, aku seorang kultivator bebas."
Jawaban itu membuat Bolang tersenyum kecut, "Sumber daya kultivator bebas sangat terbatas untuk dirinya sendiri. Kau tidak perlu repot-repot membantuku dalam menaikkan praktik, Tuan Yao."
"Ah, kau khawatir tentang itu? Aku tidak bermaksud sombong, untuk sumber daya aku punya lebih dari cukup untuk untukku dan dirimu. Namun akan lebih baik, kalau aku membawamu ke tempat tinggal guruku. Disana kau bebas menikmati tanaman sihir dan bisa mencapai Ranah Jiwa cukup cepat."
Shenghao dan Honghao mengangguk setuju. Jika Bolang tinggal di tempat Feng Xian, bukan tidak mungkin dia mencapai Ranah Jiwa dalam sepuluh tahun atau paling lama dua puluh tahun.
Bolang penasaran sehingga menanyakan tempat tinggal guru Yao Han dan jawaban pemuda itu membuatnya melotot kaget.
"Pulau Bulan Bintang?! K-Kau murid Angin Timur?!" Bolang berseru kaget dan tanpa sadar mundur dua langkah.
Yao Han menaikkan alis karena reaksi Bolang, "Benar, beliau adalah guruku."
Susah payah Bolang menelan ludahnya. Pemuda yang menjadi penyelamat sekaligus tuannya ini sungguh memiliki latar belakang yang tidak biasa. Disaat yang sama, Bolang bisa melihat Yao Han tidak berbohong.
'Entah aku harus senang atau menangis menjadi pengikut anak muda ini...'
"Angin Timur adalah satu hal. Sebagai salah satu dari Empat Penjuru, dia berkaitan dengan Naga Selatan. Namanya begitu menakutkan bagi kaum hewan roh apalagi siluman..." suara Bolang sedikit bergetar.
"Leluhur Chen Long? Ya, aku pernah mendengar satu dua hal tentang beliau." Yao Han menjawab santai.
Bolang merasa Yao Han tidak mengetahui nama Chen Long sang Naga Selatan jauh lebih menakutkan dibandingkan nama Sekte Teratai Putih sekalipun. Sepak terjangnya membasmi siluman dan beberapa hewan roh yang tidak bersahabat sudah begitu terkenal, khususnya di wilayah Negeri Hutan Hijau.
Yao Han merasa sudah waktunya mereka melanjutkan perjalanan, tetapi sebelum itu ada yang ingin dia lakukan dan meminta bantuan tiga orang lainnya.
Bolang, Shenghao, dan Honghao mematung ketika Yao Han memunculkan beberapa karung yang ternyata berisi Bunga Teratai Biru. Yao Han ingin menggunakan bunga ini untuk menutupi aroma darah yang tidak bisa sepenuhnya disamarkan oleh air hujan lokal buatannya.
"Saudara Yao, berapa banyak Bunga Teratai Biru yang kau simpan?" Honghao tidak bisa menahan penasaran.
"Lebih dari cukup untuk dibagikan pada semua anggota Sekte Teratai Putih... kurasa." Jawaban yang begitu santai disertai senyuman lebar itu membuat ketiganya terbatuk pelan.
Yao Han dibantu lainnya menyebarkan Bunga Teratai Biru di beberapa tempat di desa kecil dan secara perlahan tercium aroam wangi nan segar ke seluruh penjuru desa kecil.
---