
Meirong dan Yutian sempat terpana karena berpikir Yao Han belum cukup puas dengan makanan yang dia makan sebagai sarapan. Namun balasan Yao Han membuat mereka sedikit malu.
"Pesanan kali ini untuk Guru Hong dan Guru She." Yao Han juga meminta maaf seolah melupakan keberadaan gurunya karena terlalu terpaku dengan makanan enak.
"Bukan masalah besar, jangan dipikirkan." Meirong tertawa kecil
Yao Han memesan kembali tiga lauk seperti sebelumnya dan dua lauk tambahan. Meirong dan Yutian menerima apa saja yang diberikan murid mereka, karena sebenarnya tidak membutuhkan makanan tersebut.
Total yang harus dibayar Yao Han adalah delapan puluh delapan batu roh dan saat dia mengeluarkan satu batu roh biru, napas gadis pelayan tertahan sejenak.
Meski setara dengan seratus batu roh kuning yang umumnya beredar di dunia kultivator, tetapi memiliki batu roh biru menunjukkan latar belakang yang cukup tinggi bagi seorang pemuda seperti Yao Han.
Kemampuan pengeluaran harta yang dikeluarkan Yao Han pun sudah menyamai tetua penting sekte menengah dengan praktik setidaknya pada Pondasi Bumi.
Sikap pelayan itu menjadi lebih hormat dari sebelumnya, membuat Yao Han kebingungan. Yao Han tidak mengetahui orang disekitarnya yang menyadari tindakannya memandangnya dengan cara berbeda.
"Tuan Muda, mohon tunggu sejenak. Aku akan mengambilkan kembaliannya."
"Tidak perlu, nona pelayan bisa mengambilnya sebagai tip. Oh, ambil ini juga."
Gadis pelayan sedikit linglung saat dipanggil sebagai nona pelayan. Tidak ada yang memanggilnya seperti itu sebelumnya.
Masih dalam kebingungannya, dia menerima botol giok dari Yao Han yang menguarkan aroma harum samar. Lagi-lagi Yao Han memberikan wewangian yang terbuat dari Bunga Teratai Biru.
"Terima kasih, Tuan Muda." Gadis pelayan memberikan hormat.
Yao Han membalas dengan anggukan pelan lalu melangkah pergi. Gadis pelayan masih memandangi Yao Han sampai tidak terlihat, lalu lalu memandangi ke arah batu roh biru dan botol pewangi ditangannya bergantian.
Di luar restoran, Yao Han mengelus perutnya yang agak buncit sambil berpikir mencari tempat untuk beristirahat agar perutnya mencerna makanan dengan baik.
***
Hanya dalam waktu sebentar, pihak petinggi Menara Harta Giok dibuat heboh dengan informasi yang disampaikan Bao Fan. Kabar Feng Xian kembali membuka diri memang sangat bagus untuk mereka, tetapi lebih mengejutkan dengan Feng Xian yang memiliki murid.
"Dari Manajer Fu, nama murid Senior Angin Timur ini adalah Yao Han. Dari penampilannya, dia masih sangat muda, mungkin seusia dengan Wei'er." Bao Fan menambahkan.
Bao Wei adalah putra semata wayang Bao Fan dan masih belum mencapai umur dua puluh tahun.
"Alkemis Perunggu di usia kurang dua puluh tahun... jelas dia Alkemis Perunggu paling muda dalam sejarah, bukan?"
"Selain itu dia mampu membuat pil kualitas super dan sempurna yang jumlahnya puluhan sampai ratusan..."
"Aku bahkan curiga dia melampaui gelar Alkmeis Perunggu. Bukan tidak mungkin dia hampir menjadi Alkemis Giok."
"Aku tidak yakin. Alkemis Giok berusia puluhan tahun belum pernah terdengar. Mereka yang bergelar sama pun usianya paling tidak seratus tahun."
"Kenapa tidak? Angin Timur adalah Alkemis nomor satu di dunia kultivator, jadi jelas memilih murid dengan bakat tinggi. Lagipula tidak ada yang tahu masa lalu Angin Timur, bisa jadi dimasa mudanya, dia menjadi Alkemis Giok termuda dan sekarang dia memiliki murid dengan kemampuan alkemi yang tidak kalah tinggi dengannya."
Perdebatan kecil mulai tercipta dan semakin lama terdengar. Saat itu, salah satu petinggi bertanya pada Bao Fan.
Sebelum Bao Fan menjawab, petinggi lain terlebih dahulu bersuara, "Memangnya apa yang harus kita lakukan? Bukankah yang paling masuk akal adalah menjalin hubungan dekat dengannya?"
"Benar, benar. Mungkin kita bisa memintanya membuat pil untuk kita jual kembali."
"Hentikan omong kosong itu."
Ruang pertemuan langsung hening setelah mendengar suara dingin itu, yang tidak lain berasal dari seorang pria dengan badan cukup subur. Pipinya agak bulat, tetapi sorot matanya tajam. Pria ini bernama Qian Yuan.
"Kalian tidak menyadari ucapan kalian bisa membuat Menara Harta Giok rata dengan tanah dan tinggal sejarah?" Qian Yuan mendengkus kesal.
Suasana ruang itu makin hening.
Qian Yuan memang bukan Patriark atau Tetua Agung Menara Harta Giok, tetapi posisinya sebagai salah satu tetua penting sekaligus masih kerabat Patriark membuat dirinya disegani banyak petinggi lain.
Qian Yuan memberikan peringatan demikian karena secara tidak langsung pihak mereka ingin menjadikan Yao Han sebagai budak pembuat pil mereka. Sungguh tindakan sangat lancang karena bisa membuat Angin Timur marah besar.
"Saudaraku, mereka tidak bermaksud demikian. Penyampaian mereka saja yang keliru." Bao Fan buka suara untuk menghilangkan suasana hening dan canggung itu.
Qian Yuan mendengkus pelan, "Patriark, apa kau berpikir aku tidak menyadari bahwa hampir semua anggota sekte senang karena menganggap berhasil memonopoli pil dari Angin Timur selama tiga ratus tahun terakhir?"
Bao Fan batuk pelan dan tersenyum canggung. Beberapa orang menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Qian Yuan tidak sepenuhnya salah. Bukan hanya dirinya dan sebagian besar petinggi sekte yang berpikir demikian, tetapi pihak sekte lain juga.
Kesediaan Feng Xian menjual pil pada Menara Harta Giok membuat posisi mereka lebih istimewa. Hampir semua sekte beranggapan Menara Harta Giok berhasil mendapatkan sisi baik Feng Xian terbukti bisa menjalin kerjasama dengannya.
"Katakan aku naif, tetapi kita tidak boleh berpikiran seperti itu pada orang yang berjasa meningkatkan posisi kita lebih tinggi selama ratusan tahun terakhir." Suara Qian Yuan tidak sedingin sebelumnya, "Aku setuju mengenai menjalin hubungan baik dengan murid Angin Timur, tetapi sebaiknya jangan berpikir untuk memperalatnya."
Keheningan dan kecanggungan di ruangan itu perlahan menghilang.
"Aku berencana mengirimkan perwakilan ke toko cabang Kota Cahaya Bulan. Kira-kira siapa yang cocok untuk pergi kesana?"
Salah satu tetua membuka suara, "Bagaimana kalau kita mengirimkan Nona Qian?"
Nona Qian yang dimaksud adalah Qian Yue, anak sekaligus putri satu-satunya Qian Yuan. Semua mata beralih ke Qian Yuan.
"Bagaimana menurutmu, Saudaraku?" tanya Bao Fan.
Qian Yuan mengelus janggut hitam pendeknya, "Yue'er dengan pemuda bernama Yao Han ini seumuran, bukan? Baiklah, aku setuju. Mungkin selama pemuda itu disana, Yue'er bisa membujuknya lebih jauh agar lebih dekat dengan pihak kita."
Qian Yuan setuju karena sangat yakin dengan kemampuan putrinya. Sejak usia muda Qian Yue sudah mempelajari ilmu bisnis dan meraih banyak prestasi. Pengalaman membuat pikirannya cukup tajam dan wawasannya luas.
Prestasi Qian Yue membuat dirinya mendapat posisi penting disekte dan dihormati banyak petinggi, serta mengharumkan nama ayahnya, Qian Yuan.
Ditambah lagi, Qian Yue merupakan gadis dengan kecantikan diatas rata-rata yang dia warisi dari mendiang sang ibu sampai membuatnya dijuluki sebagai Peri Harta.
---