Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 78 - Serigala Malam



Pintu masuk dan pagar pembatas wilayah desa kecil yang dilihat Yao Han dari kejauhan terbuat dari papan kayu sederhana dan sudah rusak di beberapa bagian.


Yao Han berdiri ditengah pintu masuk dengan tubuh sedikit gemetar. Wajahnya pucat dan napasnya juga sedikit tidak teratur.


Pemandangan pada di depan pintu masuk desa kecil sungguh mengerikan. Terdapat jasad-jasad manusia tergeletak di tanah dengan beragam kondisi mengenaskan.


Paling ringan mendapat luka bekas cakaran di bagian perut dan dada, sementara yang lebih parah kehilangan satu dua anggota tubuh. Terdapat juga potongan-potongan anggota tubuh manusia.


Pemandangan itu semakin mengerikan karena juga tercium aroma anyir darah yang kental menguar di udara. Ditambah aura pembunuh samar yang membuat buku kuduk merinding.


Jika bukan karena kekuatannya jiwanya yang cukup terlatih, Yao Han akan langsung tak sadarkan diri melihat pemandangan yang baru pertama kali itu.


Shenghao dan Honghao berhasil menyusul Yao Han beberapa saat kemudian. Mereka sedikit bingung Yao Han hanya berdiri diam, tetapi dengan cepat mereka mengetahui penyebabnya.


"Uhuk! Uhukk!"


Reaksi Shenghao dan Honghao kurang lebih sama dengan Yao Han saat melihat kondisi didepan mereka. Bahkan membuat terbatuk-batuk dan hampir mengeluarkan isi perut mereka.


Yao Han yang paling tenang diantara ketiganya, membantu mengalirkan Qi pada Shenghao dan Honghao untuk menenangkan mereka.


"Desa ini pasti diserang kawanan siluman atau setidaknya satu siluman dengan praktik yang tinggi" Shenghao berpendapat. Yao Han dan Honghao mengangguk setuju.


"Sebaiknya kita memeriksa lebih jauh. Mungkin kondisinya sama atau mungkin lebih parah. Setidaknya kita harus bisa menyelamatkan satu orang."


Yao Han kemudian masuk ke dalam desa kecil lalu meloncat ke atas rumah salah satu warga diikuti Shenghao dan Honghao.


Yao Han terus mengaktifkan mata khususnya hanya untuk menemukan pemandangan yang sama seperti di dekat pintu masuk desa kecil. Tidak ada manusia yang selamat satupun dari jarak pandang mata khususnya.


Merasa tidak tahan, Yao Han berniat menutup mata khususnya, tetapi sebelum dia melakukannya, terdengar suara lolongan serigala lagi.


Auuu...!


Secara reflek, Yao Han dan lainnya menuju sumber suara dengan berlari dan melompat di atas rumah warga. Mereka lalu berhenti sambil sedikit bersembunyi di balik atap salah satu rumah.


Yao Han sempat menahan napas karena melihat dua serigala berbulu hitam kelam saling berhadapan, dimana salah satunya terluka parah. Ukurannya tidak normal, panjang tubuhnya sekitar lima meter dan tingginya mencapai tiga meter.


Tidak jauh dari dua serigala itu terdapat jasad serigala dengan warna bulu sama tetapi ukurannya lebih kecil.


"Ternyata bukan siluman..." gumam Shenghao.


"Kau mengetahui serigala apa itu, Saudara Shenghao?" tanya Yao Han lirih.


Shenghao mengangguk pelan kemudian menjelaskan. Serigala bulu hitam itu dikenal dengan nama Serigala Malam. Termasuk salah satu jenis hewan roh tingkat menengah yang bisa mencapai praktik Ranah Jiwa dalam waktu dua ratus tahun.


Yao Han mengangguk mengerti sebelum mengamati sekitarnya. Dia berdecak pelan karena tidak satupun ada manusia yang masih bernyawa di desa kecil itu. Singkatnya, penduduk desa kecil mengalami pembantaian total.


Ketika Yao Han menyampaikan temuannya pada dua temannya, mereka tampak bingung karena seharusnya sulit melihat jarak yang jauh dalam situasi seperti ini.


"Apa kalian percaya jika mataku bisa melihat tembus pandang?"


Shenghao dan Honghao saling berpandangan sejenak lalu melotot pada Yao Han.


"Saudara Yao, kau memiliki salah satu Mata Surgawi?!" Shenghao sudah menduga karena warna mata Yao Han yang tidak biasa.


Yao Han membenarkan dan menjelaskan garis besarnya. Shenghao buru-buru menyadarkan diri karena bukan saatnya terkejut lebih jauh.


"Saudara Yao, aku percaya padamu. Lalu... apa yang sebaiknya kita lakukan?"


Yao Han masih berharap masih ada penduduk yang selamat meskipun dirinya tidak terlalu yakin. Dirinya juga sama bingungnya dengan situasi yang ada karena dua jenis serigala yang sama justru saling bertarung.


"Ternyata masih ada manusia yang bersembunyi. Keluar kalian!"


Meski merasakan kekuatan besar dari dua serigala yang saling bertarung belasan meter dihadapannya, Yao Han belum sempat mengukur sejauh mana kekuatan mereka. Namun seruan salah satu serigala membuktikan kekuatannya setidaknya di Ranah Inti.


Perlahan Yao Han dan dua temannya menunjukkan diri. Serigala yang baru saja berseru sedikit kaget dan melebarkan matanya melihat dua sosok di samping Yao Han.


"Sekte Teratai Putih? Kenapa kalian ada disini?"


"Seharusnya kami yang bertanya demikian? Apa kau yang membantai para penduduk desa ini?" Shenghao balik bertanya dengan lantang.


"Manusia-! Bantu aku membunuhnya! Benar dia yang membantai penduduk desa!" Serigala yang terluka parah berseru sambil berusaha bangkit.


"Diam kau, Bolang! Kalau bukan karena kesalahanmu, aku tidak akan membunuh mereka semua!"


"Omong kosong kau, Yelang! Aku memang bersalah, bukan berarti kau bisa membunuh penduduk desa seenaknya! Aku akan membalaskan dendam mereka!"


"Heh! Dengan kondisimu saat ini, cukup dua tiga seranganku akan membunuhmu!"


Yao Han dan lainnya mengerutkan dahi, merasa bingung dengan pertikaian dua serigala yang bernama Bolang dan Yelang ini. Meski begitu, mereka mengetahui bahwa serigala bernama Yelang yang menjadi dalang pembantaian penduduk desa kecil.


Melihat Yelang ingin menyerang Bolang, Yao Han mengeluarkan kipas Gunbai. Dia melompat mendekati dua serigala itu lalu mengayunkan kipas Gunbai ke arah Yelang, membuat serigala itu terhempas beberapa meter.


"Saudara Yao!" Shenghao dan Honghao merasa Yao Han sudah kehilangan akal sehat.


Yao Han mendarat pelan di dekat Bolang. Dia melirik Bolang sambil menjaga kewaspadaannya. Bagaimanapun juga, serigala bernama Bolang ini memiliki kekuatan diatasnya.


"Aku merasa kau tidak jahat. Entah kesalahan apa yang kalian bicarakan tadi, aku ingin mendengar penjelasan darimu nanti."


"Aku mengerti, manusia..." Sedikit terengah-engah Bolang menjawab, "Ayo kita bunuh dia, aku sudah hampir mencapai batasku."


Menyadari Bolang tampak cukup bersahabat, Shenghao dan Honghao mendekati Yao Han dan Bolang.


"Berani sekali kau ikut campur urusanku, manusia!" Yelang bangkit kembali dan melepaskan aura pembunuh, "Tadinya aku ingin pergi setelah membunuh serigala terkutuk itu, tetapi sepertinya aku harus membunuh kalian juga."


"Oh, setelah kau membantai semuanya kau ingin pergi begitu saja? Cobalah kalau kau bisa!"


"Kau-!" Yelang berlari siap menerkam Yao Han.


Shenghao dan Honghao sudah mulai mengalirkan Qi, sementara Yao Han dengan tenang memunculkan pusaka pagoda.


Saat jarak mereka jarak cukup dekat, Yao Han mengirim Yelang ke Dimensi Pagoda. Demi menghemat waktu, Yao Han meminta bantuan kedua gurunya untuk menghabisi Yelang.


Suasana hening setelahnya. Shenghao, Honghao, dan terutama Bolang hampir tersedak melihat serigala berukuran besar menghilang begitu saja.


Tubuh Bolang bergetar karena merasa pusaka Yao Han sangat berbahaya untuknya. Shenghao dan Honghao baru mengerti pusaka Yao Han juga bisa 'mengurung' hewan roh dan mungkin siluman.


"Pusaka ini bisa mengurung bahkan membunuh apapun yang aku mau, tetapi ada syarat dan ketentuan yang berlaku."


Begitulah jawaban Yao Han ketika Honghao bertanya mengenai pusaka pagoda.


"Sekarang... mari kita dengarkan penjelasanmu."


Yao Han menyimpan kembali pusaka pagoda lalu memandang Bolang, membuat serigala hitam yang sedang terluka itu begitu gugup.


---


Catatan:


Kata "Lang" pada nama Yelang dan Bolang artinya serigala.