
Shenghao berpikiran sama dengan Wuneng. Biarpun Yao Han baru saja melumpuhkan pria aneh yang berkekuatan Pondasi Bumi tahap puncak, tetapi berhadapan dengan kultivator dari Sekte Langit Kelabu bukan hal mudah, apalagi Wuneng merupakan salah satu murid dari Gerbang Hantu.
Shenghao dan Honghao tidak lagi dalam posisi bertarung dan menyimpan kembali Qi mereka. Keduanya penasaran dengan hal yang ingin Yao Han pastikan seperti yang dia katakan.
Mereka sedikit khawatir saat Yao Han masih berdiri diam dengan tenang, ketujuh hantu Wuneng sudah begitu dekat dengannya.
Gerakan tangan Yao Han menyentuh dahi untuk memunculkan pusaka pagoda sebenarnya masih bisa ditangkap mata oleh Wuneng maupun Shenghao dan Honghao, tetapi Wuneng terlambat menyadari tindakan Yao Han selanjutnya.
Wuneng tersedak melihat ketujuh hantunya menghilang begitu saja, sementara Shenghao dan Honghao tanpa sadar membuka mata dan mulut lebar-lebar.
"Apa-apaan?!" Wuneng menjerit tak percaya, "Apa yang kau lakukan pada hantu-hantuku?!" Tubuh Wuneng gemetaran karena kaget dan sedikit takut.
Dibandingkan menjawab pertanyaan Wuneng, Yao Han lebih tertarik pada hasil dari aksinya itu. Dia melihat setelah hantu Wuneng dikirim ke Dimensi Pagoda, ketujuh hantu itu tidak bergerak dan secara perlahan menjadi butiran cahaya. Dimensi Pagoda menyerap Qi dari ketujuh hantu sebagai nutrisi.
Yao Han hanya ingin membuktikan teorinya benar. Dia sedikit banyak mengetahui cara pengendalian hantu dari Yutian. Hantu-hantu ini dapat dikendalikan oleh kultivator karena adanya suatu koneksi. Para hantu yang dihisap oleh pagoda pusaka secara otomatis akan kehilangan koneksi dengan tuannya.
"Han'er, kau jenius!" seru Meirong.
Yutian sudah tertawa terbahak-bahak, "Pagoda aneh itu ternyata musuh alami dari para hantu, seharusnya hal yang sama berlaku pada mayat hidup."
Yao Han tersenyum lebar sambil menatap Wuneng, dengan pusaka pagoda, maka dia tidak perlu takut dengan kultivator pengendali hantu atau mayat hidup. Namun senyumannya itu tampak menakutkan dimata Wuneng.
"Kau apakan pasukan hantuku?! Cepat kembalikan!" Wuneng menunjuk Yao Han dengan marah. Pertanyaan yang sama muncul dibenak Shenghao dan Honghao.
"Maaf Saudara Gui, para hantumu sudah musnah dan menjadi makanan benda merah ini."
"Kau-! Bukankah kau menginginkan pertarungan? Bagaimana bisa kau berbuat curang seperti itu?!"
"Hm?" Yao Han menaikkan alisnya, "Mungkin kau lupa, tetapi kau termasuk jenis kultivator yang tidak mungkin bisa diharapkan bertarung secara adil. Kau menggunakan pasukan hantu, sementara aku menggunakan pusaka, menurutku itu adalah sebuah keadilan."
"Berani sekali kau melakukan ini padaku." Wuneng menatap geram Yao Han, "Kupastikan kau menyesal telah membuat murid Gerbang Hantu kesal."
Yao Han tertawa pelan, "Saudara Gui, apakah kau berniat menakutiku dengan membawa nama gurumu? Sayang sekali, aku jauh lebih takut dengan nama Gerbang Racun generasi sebelumnya."
Mata Wuneng menyipit, "Gerbang Racun... apa hubunganmu dengan Lembah Hati Racun?"
"Kenapa? Kau sepertinya berusaha mencari tahu latar belakangku. Kuberitahu kau, aku tidak berasal dari sekte manapun."
Wuneng menyeringai, "Oh, kau seorang kultivator bebas. Sungguh berani kau menantangku."
Shenghao dan Honghao merasa sedikit kasihan dengan Wuneng. Andai saja pemuda itu tahu Yao Han adalah murid dari Angin Timur, mungkin dia lebih memilih segera lari.
"Saudara Gui, apa kau masih memiliki pasukan hantu yang lain? Bagaimana kalau kau melawanku tanpa mengandalkan hantumu itu?"
"Hmph! Kau pikir aku ini siapa? Tentu saja aku masih punya. Aku sebenarnya tidak menganggapmu musuh, tetapi kau memaksaku. Kalau kau berani, aku tantang kau melawan hantuku tanpa pusakamu!" Wuneng berseru sambil menunjuk Yao Han.
"Hm... selama kekuatan hantu yang kau gunakan tidak melebihi Ranah Pondasi, aku terima tantanganmu."
"Kau tenang saja, untuk saat ini aku tidak mungkin bisa mengendalikan secara sempurna hantu berkekuatan Ranah Inti ke atas."
Shenghao dan Honghao buru-buru mendekati Yao Han. Mereka berusaha membuat Yao Han memikirkan kembali tindakannya. Tanpa pusaka yang tadi dikeluarkan Yao Han, Shenghao merasa pemuda itu akan kesulitan.
"Aku menghargai kekhawatiranmu, Saudara Shenghao, tetapi aku yakin dengan kemampuanku."
"Aku harap kau tidak benar-benar kehilangan akal sehatmu, Saudara Yao."
Yao Han tertawa kecil lalu meminta dua temannya menjauh dan lebih baik mengawasi si pria aneh pelaku teror yang masih saja berguling-guling sambil meraung kesakitan karena serangan Yao Han pada 'adik kecilnya'. Suara kesakitannya menjadi 'musik' diantara 'pertarungan' Yao Han dan Wuneng.
Wuneng mengeluarkan dua batu nisan berukuran sama dengan sebelumnya lalu mengangkatnya ke atas. Muncul ratusan butiran cahaya hijau dan biru yang membentuk dua sosok hantu.
Hantu pertama berwarna hijau dengan wujud gadis belasan tahun berambut panjang. Hantu kedua berwarna biru dengan wujud laki-laki tua memakai pakaian seperti bangsawan memegang kipas kecil.
"Wuneng, seharusnya kau memanggil kami daritadi, kau ceroboh sekali."
Yao Han dan dua temannya terkejut saat mendengar hantu gadis bersuara. Selain itu kedua hantu itu memiliki kekuatan di Pondasi Langit tahap awal.
"Maaf, mari kita tunjukkan padanya bahwa tidak akan berakhir baik sudah menyinggung seorang Gui Wuneng." Wuneng menatap sengit Yao Han. Seringainnya melebar melihat raut wajah Yao Han yang terkejut.
"Saudara Yao..."
Shenghao dan Honghao memasang wajah waspada sekaligus khawatir pada Yao Han, yang posisinya tidak diuntungkan melawan tiga sosok sekaligus. Namun Yao Han hanya mengangkat tangannya sebagai pertanda dia akan baik-baik saja.
"Guru She, Anda tidak pernah bercerita ada hantu yang bisa bicara..."
"Hm, sangat jarang ada hantu yang seperti itu. Pondasi Langit dan masih memiliki kesadaran... jelas mereka adalah hantu berkualitas tinggi. Meski kau bisa mengatasi mereka, jangan sampai lengah."
"Mengerti, Guru." Tentu saja Yao Han sama sekali tidak berniat menurunkan kewaspadaannya.
Yao Han menatap Wuneng sambil tersenyum tipis, "Saudara Gui, sepertinya kau terlalu serius. Kalau begini, kita akan saling melukai."
"Setelah kau membuatku kehilangan tujuh hantu sekaligus, kau masih bisa berkata demikian? Aku tidak peduli lagi. Dan sekedar untuk kau ketahui, dua hantuku ini, Lulu dan Langui, akan membuatmu kehilangan satu dua anggota tubuhmu."
"Tidak perlu menahan diri, kita habisi saja dia dan dua orang itu." Hantu pria tua bernama Langui menyahut datar.
"Kau benar, Langui. Mari kita hajar dia." Hantu gadis bernama Lulu menyahut sambil tertawa lantang.
Yao Han tersenyum tipis, "Begitukah? Tadinya aku ingin melepaskanmu, Saudara Gui. Namun karena kau... maksudku, kalian sudah begitu serius, maka aku tidak akan menahan diri lagi."
Yao Han memejamkan mata sejenak sambil menarik napas dalam. Bertepatan dengan dia membuka mata, sorot matanya menajam sekaligus tubuhnya diselimuti Qi berwarna biru keemasan. Kekuatan yang dia tunjukkan bahkan lebih besar daripada saat berhadapan dengan pria aneh si pelaku teror.
"Pemuda ini misterius sekali, praktiknya masih di Ranah Dasar tetapi kekuatannya mengimbangi Ranah Pondasi, baru pertama kali aku mendengarnya," gumam Wuneng.
"Tidak perlu kau pikirkan, kita pastikan dia kehilangan nyawa malam ini." Lulu menyahut dingin.
---