Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 93 - Daerah Bersalju



Tidak ada kerugian yang didapatkan Meirong jika dirinya kalah taruhan dengan Yutian. Meski tidak bisa menikmati Arak Persik Bulan selama seminggu penuh, dia masih bisa meminta Yao Han menyajikan Teh Rumput Perak untuknya.


Namun jika dirinya memang, Meirong bisa menikmati Arak Persik Bulan sepuasnya sambil mengejek Yutian yang hanya bisa diam menyaksikan. Meirong tidak sabar melihat wajah kusut Yutian selama seminggu, sebuah hiburan tersendiri baginya.


Esok harinya, area perburuan semakin luas. Yao Han sudah pergi sejauh lima kilometer dari Kota Bukit Bunga. Di hari kedua itu, hasil perburuan Yao Han dan lainnya lebih sedikit dari sebelumnya.


Lagi-lagi Meirong dan Yutian mendapatkan hasil imbang, yaitu sembilan siluman, Bolang mendapatkan tujuh siluman, dan Yao Han hanya mendapat lima siluman.


Saat bermalam di hari kedua, Yutian tampak sedikit gelisah, berbanding terbalik dengan Meirong begitu tenang. Dalam benaknya, dia harus mendapat lebih banyak siluman, sehingga memenangkan taruhan.


Setelah merasakan betapa enaknya rasa Arak Persik Bulan, dirinya tidak rela jika harus berpisah dengan arak buatan Yao Han itu meskipun hanya seminggu saja.


Di hari ketiga, Yao Han dan yang lain berburu lebih jauh sampai berjarak sepuluh kilometer dari Kota Bukit Bunga. Dan setelah perburuan berakhir, keberuntungan tidak berpihak pada Yutian.


Saat perhitungan, diketahui jumlah siluman yang dia dapatkan adalah tujuh ekor, hanya selisih satu ekor lebih sedikit dari yang didapatkan Meirong. Sementara Yao Han dan Bolang masing-masing mendapatkan lima ekor siluman.


"Kau kalah, ular jelek! Hahaha!" Meirong tertawa puas melihat wajah Yutian yang cemberut.


Yao Han melihat Meirong dan Yutian bergantian sebelum menggelengkan kepala heran dengan tingkah keduanya. Yao Han selalu kagum dengan kecantikan dan keanggunan Meirong, terutama saat tersenyum atau tertawa. Namun jika disertai tingkah konyol seperti ini, maka kecantikan dan keanggunannya seolah menghilang.


'Siapa yang akan menduga kultivator berusia lebih dari lima ratus tahun akan bersikap seperti anak kecil? Apa tanggapan Guru Feng saat melihat tingkah mereka ini?' batin Yao Han sambil mulutnya mengunyah rumput madu.


Yao Han berpikir ulang, mungkin tanggapan Feng Xian sedikit mirip dengannya, tetapi pada akhirnya akan ikut menertawakan Yutian. Pria serba hijau itu tidak memiliki 'pendukung' disisinya.


"Han'er, kau mau melanjutkan berburu siluman lagi?" tanya Meirong setelah cukup puas tertawa diatas kekalahan Yutian.


"Sepertinya sudah cukup, tetapi aku ingin memeriksa sedikit lebih jauh sebelum kembali ke rumah, Guru."


"Oh, bagus. Kau baru memutuskan berhenti setelah melihatku kalah taruhan, bukan? Han'er, kau sungguh jahat pada gurumu ini..." gerutu Yutian.


Pletak!


"Aw-! Sakit! Rongrong! Kenapa kau suka sekali memukulku?!" Yutian meringis mengusap kepalanya yang baru saja dipukul Meirong.


"Berani sekali kau menyebut Han'er jahat! Dasar ular jelek! Sudah jelek, bodoh, bau lagi. Pergi jauh sana!"


Meirong melotot pada Yutian, kemudian mengibaskan tangannya tanda mengusir Yutian seolah pria serba hijau itu lalat pengganggu.


"Siapa yang kau sebut jelek, bodoh, dan bau? Apa kau tidak mengetahui betapa tampan, cerdas, dan wanginya diriku ini? Dasar burung payah!" balas Yutian jengkel.


"Berhentilah bicara omong kosong dan jangan merengek seperti bocah, ular jelek!"


Yao Han menepuk jidatnya lalu menghela napas panjang, 'Apa Guru Hong tidak menyadari bahwa dirinya juga bertingkah seperti bocah? Oh ya ampun... kemana perginya Guru Hong-ku yang cantik dan anggun?'


"Ehem, Tuan Yao... apa kau yakin kedua gurumu ini adalah sosok Gerbang Racun dan Dewi Pedang Api yang terkenal itu? Melihat tingkah mereka ini, aku justru ragu..." Bolang tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar dan berbisik pelan pada tuannya.


Yao Han tersenyum kaku, "Sudah kubilang kau akan terbiasa. Saat masih di Pulau Bulan Bintang, mereka seringkali seperti itu, sampai-sampai Guru Feng merasa bosan dan ingin mengirim mereka ke hutan yang dipenuhi Raja Siluman."


***


Dalam wujud hewan roh, Meirong berada di pundak kanan Yao Han, Yutian melilit lengan kirinya, dan Bolang yang mengecilkan ukuran tubuhnya seperti serigala dewasa umumnya ada di samping Yao Han.


"Hm, kenapa udara terasa dingin?" gumam Yao Han sedikit merinding. Padahal hari sedang terik dan ada Meirong di pundaknya, seharusnya dirinya merasa hangat.


"Han'er, coba kau lihat jauh depan sana..." ucap Yutian.


Yao Han menyipitkan matanya, tidak terlihat jelas tetapi mengejutkannya karena samar-samar dia melihat ada benda putih berjatuhan dari langit.


"Salju? Bagaimana mungkin?" Mata Yao Han melebar. Dirinya sangat yakin saat ini masih diakhir musim panas dan musim dingin masih lama beberapa bulan lagi, jadi sangat tidak mungkin turun salju.


"Aneh sekali..." sahut Meirong.


"Tuan Yao, kau tidak pernah mendengarnya?"


"Mendengar tentang apa?" Yao Han balik bertanya pada Bolang.


Serigala Malam itu kemudian menjelaskan dirinya di masa lalu pernah mendengar ada sebuah wilayah yang entah sejak kapan tiba-tiba iklimnya berubah menjadi berhawa dingin kemudian turun salju, meski belum musimnya. Wilayah itu cukup luas sampai beberapa kilometer.


Tidak ada yang mengetahui penyebabnya dan juga tidak ada yang berani mencari tahu atau memeriksanya, karena hawa di wilayah itu sangat dingin bahkan diperkirakan mampu membekukan kultivator yang berada di puncak Ranah Pondasi.


Dikabarkan sejak keanehan itu terjadi belasan tahun silam, di wilayah itu terus saja berhawa dingin dan turun salju. Bolang hanya pernah mendengarnya, tetapi kemungkinan wilayah yang dimaksud adalah yang sedang mereka saksikan dari jauh saat ini.


"Musim dingin abadi? Aku rasa itu mustahil. Belum pernah kudengar ada tempat seperti itu di Negeri Hutan Hijau. Seingatku hanya di sekitar wilayah Benteng Es Utara yang akan selalu mengalami musim dingin sepanjang tahun. Itu juga dikarenakan banyak tanaman sihir berunsur es yang tumbuh disana."


Tanggapan Yutian membuat Yao Han mengingat-ingat kembali buku pengetahuan dasar-dasar alkemi dari Feng Xian. Di salah satu buku, dijelaskan ada tanaman sihir unsur es bernama Teratai Jiwa Es, yang ketika berusia seribu tahun ke atas akan membuat wilayah disekitarnya akan mengalami musim dingin terus menerus selama belum dipanen.


"Teratai Jiwa Es berusia lebih dari seribu tahun? Itu masuk akal dan akan menjadi harta berharga jika bisa mendapatkannya..." Meirong berpendapat, "Cukup aneh juga ada tanaman sihir cukup langka itu tumbuh ditempat ini."


Yao Han tidak ingin melewatkan kesempatan ini jika memang benar ada tanaman sihir cukup langka tersebut.


Apapun jenisnya, tidak ada kultivator yang cukup bodoh tidak menginginkan tanaman sihir apalagi yang usianya begitu tua. Dalam gelang ruangnya, sebenarnya Yao Han memiliki beberapa puluh Teratai Jiwa Es, tetapi usianya dibawah tiga ratus tahun.


Yao Han turun perlahan beberapa meter di wilayah tersebut kemudian menyimpan kipas Gunbai. Yao Han dan lainnya terpana melihat salju turun cukup deras dan tanah yang tertutupi salju ratusan meter luasnya.


Meirong segera menggunakan Indera Surgawi untuk melacak sekitar. Sejauh satu kilometer jarak penglihatannya, tidak ada yang aneh atau terlihat Teratai Jiwa Es.


"Sepertinya kita harus masuk ke dalam lebih jauh untuk menemukan tanaman sihir itu."


---


Catatan penulis:


Kalian bisa mendukung penulis dengan memberi tips melalui app Kary*karsa.


Nama pengguna author adalah Maswaw.


Sekian.