
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Terpukau dengan pesonaku?"
Yao Han hanya berniat bercanda, yang dijawab dengkusan pelan dari Xu Yin.
"Percaya diri sekali kau."
Dari Dimensi Pagoda, Meirong menepuk dahinya pelan, "Han'er tertular 'penyakit' ular bodoh ini."
Yutian menanggapi dengan cibiran, "Terus saja kau ejek aku, burung payah. Awas saja kalau kau terpesona dengan ketampananku."
"Cih, tidak mungkin dan tidak akan pernah."
"Kau bisa mengatakan itu sekarang, tapi kita lihat apa kau bisa terus mengatakan itu selamanya."
Melihat perdebatan konyol keduanya, Bing Lizi dan Tian Jian saling bertatapan lalu menggeleng.
"Kenapa sebelumnya kau tidak mengatakan kau juga murid Paman Yutian?"
"Itu tidak penting, lagipula kau sudah bertemu dengan Guru She dan mengetahui kebenarannya."
Xu Yin sedikit melunak setelah mengetahui status Yao Han yang lain, "Kapan kau ke Lembah Hati Racun?"
Yao Han mengedikkan bahu ringan, "Entahlah, yang pasti setelah urusanku selesai."
"Urusanmu dengan temanmu anggota Sekte Bintang Ungu itu?"
"Bukan, urusanku yang lain. Ini rahasia dan tidak bisa kuberitahu padamu."
Xu Yin sedikit merengut, "Dasar pelit."
"Yang harus kau ingat, rajin-rajinlah berlatih. Dengan bakatmu yang tinggi dan termasuk langka, kau harusnya bisa mencapai Ranah Dasar tingkat lima belas dan berpeluang membentuk Pondasi Langit. Kau akan menjadi jagoan penting Lembah Hati Racun. Juga, jangan lupakan pesan dari Guru She untuk merahasiakan tentang beliau masih hidup."
"Iya, iya, aku mengerti." Xu Yin sedikit gondok diingatkan seolah dia akan melupakannya.
Suasana hening sejenak dengan Yao Han masih asyik mengemil rumput madu, lalu Xu Yin bertanya, "Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa menguasai sihir unsur kayu? Seingatku itu jenis sihir unsur yang langka. Nenek She pernah mengatakan hanya satu orang yang bisa menguasainya."
"Oh, siapa orang yang nenekmu maksud?" Yao Han pura-pura tidak tahu.
"Hm, salah satu Jagoan Empat Penjuru seperti gurumu, Senior Naga Selatan."
"Oh." Yao Han menanggapi santai, "Kalau kau bertanya seperti itu, jawabannya... karena aku berbakat? Aku menemukan warisan beliau beberapa tahun lalu."
Xu Yin tidak tahu apakah Yao Han merendah untuk meninggi atau memang menyombongkan kemampuannya. Kemudian Xu Yin bertanya apakah Yao Han bisa menurunkan satu dua jenis sihir kayu agar dirinya bisa mempelajarinya juga.
"Untunglah kau bertanya seperti itu padaku. Jika itu orang lain, mana mungkin kau bisa bertanya demikian." Yao Han menghela napas dengan sikap terlalu ramah dari Xu Yin, "Kau memiliki unsur kayu dalam akar rohmu, tapi peluang untukmu bisa mempelajari sihir unsur kayu sepertiku sangat kecil."
"Kau pasti berbohong karena kau pelit, bukan?"
"Aku tidak berbohong." Yao Han tidak bisa menjelaskan hanya mereka yang memiliki akar roh murni unsur kayu yang bisa dengan baik mempelajari sihir unsur kayu warisan Chen Long karena itu bisa membongkar salah satu bakat bawaannya pada Xu Yin, "Diantara sihir unsur kayu yang kudapatkan, kau mungkin bisa mempelajari satu jenis sihir. Tunggu sebentar."
Yao Han mengeluarkan satu slip giok kosong dan menyalinkan pengetahuan tentang sihir unsur kayu yang bisa digunakan untuk meningkatkan energi kehidupan seorang kultivator selama memiliki unsur kayu dalam akar rohnya.
"Terima kasih, ternyata kau tidak sepelit dugaanku." Xu Yin tersenyum lebar menerima slip giok itu, membuat Yao Han mendengkus pelan.
"Siapa juga yang bermalas-malasan? Aku..."
Xu Yin ingin menanggapi Yao Han lebih jauh, tetapi suara seseorang disamping mereka mengalihkan perhatiannya. Suara yang berasal dari Xu Yang yang sadarkan diri.
"Yang-gege..."
Xu Yin mendekati 'ranjang' Xu Yang. Kakaknya itu mengerjapkan mata beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya dan tampak kebingungan melihat keberadaan dirinya disana.
"Yin'er? Kenapa kau disini? Apa aku berada di sekte?" Xu Yang berusaha duduk dan menemukan beberapa kejutan.
Alas tidurnya berupa dedaunan hijau rimbun dan yang paling membuatnya terkejut adalah tubuhnya yang terasa lebih ringan, jauh lebih ringan malahan.
"Hm? Apa yang terjadi dengan tubuhku? Apa ini mimpi?" Xu Yang terkejut saat meraba tubuh dan wajahnya yang kini hanya tersisa bekas luka ringan, tidak ada lagi bisul-bisul bernanah dan berbau busuk yang menghiasi wajahnya.
"Yin'er, dimana kita? Eh, siapa itu?" Xu Yang kaget karena baru menyadari keberadaan Yao Han yang duduk santai tidak jauh dari mereka.
Yao Han bisa melihat warna mata Xu Yang sama dengan Xu Yin, hijau gelap warisan dari mendiang ibu mereka, Liu Yin. Dari segi fisik secara keseluruhan, Xu Yang lebih mirip dengan Xu Gang, maka Xu Yin lebih cenderung mirip ibunya, malah seperti duplikat Liu Yin saat remaja.
"Yin'er, kenapa kau diam saja?"
Mata Xu Yin berkaca-kaca, lalu tanpa aba-aba dirinya memeluk kakaknya dengan erat, "Yang-gege... untunglah kami tidak terlambat menemukanmu. Hampir saja kau mati, tapi sekarang kau sudah hampir sembuh..."
Xu Yang membalas pelukan Xu Yin dengan hangat sambil mencerna ucapan Xu Yin. Dirinya masih ingat sudah melewati perjalanan yang sulit menuju Negeri Hutan Hijau karena nekat pergi seorang diri.
Ingatan terakhirnya adalah berhadapan dengan sekelompok manusia setengah siluman yang muncul seolah mengincarnya, lalu ada beberapa orang yang berusaha menolongnya saat dia terluka parah sebelum menutup mata tak sadarkan diri.
"Kau menemukanku? Tunggu... kita tidak ada disekte? Apa kita masih di Negeri Hutan Hijau?"
"Ya, kami menemukan kau hampir mati dan dia yang menyelamatkanmu dari kondisi kritis."
Xu Yang menoleh ke arah Yao Han yang tersenyum ramah padanya sambil terus memasukkan rumput madu berusia seratus tahun ke dalam mulut.
"Siapa dia, Yin'er?" Xu Yang berbisik.
"Oh, dia murid Senior Angin Timur, namanya Yao Han."
"Uhuk-! Murid siapa kau bilang?!" Xu Yang terbatuk lalu melotot, dia menoleh cepat ke arah Yao Han yang sudah menyimpan kembali kantung kain berisi rumput madu dan menghampiri dua kakak beradik itu.
"Salam kenal, Saudara Xu. Namaku Yao Han. Hm, apa aku harus memanggilmu Xu-gege, mengingat kau lebih tua dariku?"
Xu Yang tidak langsung menanggapi, tetapi melirik Xu Yin yang mengangguk pelan ke arahnya.
"Salam kenal... Saudara... Yao. Kau tidak perlu memanggilku gege..." Entah kenapa Xu Yang merasa gugup didekat Yao Han, "... Jadi benar kau murid Senior Angin Timur dan kau yang menyelamatkanku?"
"Ya, begitulah. Aku tidak bisa dibilang menyelamatkanmu, aku hanya mengatasi racun yang bersarang dalam tubuhmu." Yao Han mengelus dagunya, "Aku mengerti kau ingin meningkatkan kekuatanmu agar bisa mengimbangi bakat adikmu, tapi selain terlalu nekat, ternyata kau juga terlalu bodoh bersikeras mempelajari Kitab Racun Langit, sampai menerima efek samping yang hampir membuatmu mati."
Hanya disaat Yao Han melontarkan kalimat menusuk hati, dia terlihat seperti guru pertamanya, Feng Xian.
---