
Setelah merasakan khasiat menyerap sari darah yang diberikan kedua gurunya, ada setitik penyesalan dalam hati Yao Han tidak menuruti permintaan gurunya itu sejak lama, tetapi dengan segera dia hilangkan. Bagaimanapun juga sudah terlanjur dan untuk kedepannya dia ingin membiasakan diri dengan kekuatan barunya dari segi praktik maupun teknik.
Waktu yang tersisa menjelang pagi Yao Han gunakan untuk menguasai Api Feniks agar terbiasa sehingga tidak berakibat fatal dengan mencelakai dirinya sendiri maupun orang lain saat digunakan.
Melihat kekuatan baru Yao Han, Meirong berpendapat muridnya itu mampu mengimbangi kultivator dengan praktik di puncak Pondasi Bumi sekalipun tanpa menggunakan pusaka. Meski sebenarnya Yao Han tidak terlalu peduli terhadap adu kekuatan antar kultivator, tetapi Yao Han hanya bisa menyetujui pendapat gurunya.
Saat Yao Han menemui ketiga orang 'tamu' yang menginap dirumahnya, dia merasa heran karena ketiga orang itu melihat Yao Han dengan pandangan sedikit berbeda dari biasanya.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Yao Han.
Shenghao menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung, "Itu... sebenarnya apa yang kau lakukan semalam, Saudara Yao? Kau tampak berbeda dari sebelumnya."
Sebelum Yao Han menjawab, terdengar suara Honghao.
"Aku juga merasakan hal yang sama. Kau... tampak lebih kuat dari sebelumnya, Saudara Yao. Apa mungkin kau naik tingkat? Aku rasa mustahil karena kau sudah berada di puncak Ranah Dasar dan tidak mungkin kau memasuki Ranah Pondasi dalam semalam." Honghao mengelus dagunya, menatap Yao Han penuh penasaran.
Yao Han sedikit terkejut dengan penglihatan dua temannya itu, padahal dirinya yakin sudah menutupi kekuatannya sebenarnya seperti biasanya.
'Apa ini disebabkan menyerap sari darah?'
"Tidak ada yang kulakukan selain berlatih untuk meningkatkan kekuatan fisik."
Shenghao dan Honghao agak ragu menerima jawaban itu. Yao Han tidak sepenuhnya berbohong karena kekuatan fisiknya memang meningkat setelah menyerap sari darah dan seiring kenaikan praktik.
Melihat Yao Han tidak berusaha menjelaskan lebih jauh, Shenghao dan Honghao juga tidak ingin bertanya lagi. Bolang sang Serigala Malam memiliki pemikiran agak berbeda. Dia merasa tuannya itu tidak sesederhana yang terlihat.
***
Di pagi hari, Yao Han berencana berkeliling untuk melihat sekitar. Bisa dibilang dia ingin bernostalgia dengan kota kelahirannya meski kondisi kota jauh berbeda dari ingatan maupun harapannya.
Yao Han menyarankan Shenghao dan Honghao tetap berada di rumahnya, sementara dirinya mengajak Bolang berkeliling. Bolang tidak menolak karena dia juga yang sedikit merasa tidak nyaman di dekat murid Sekte Teratai Putih itu.
Tidak terhitung berapa kali Yao Han mencoba menahan diri untuk tidak menghela napas melihat sekiranya saat menjauh dari rumah.
Dengan mata khususnya, Yao Han bisa melihat jalanan kota yang sepi dan banyak rumah yang tidak ditempati sehingga tidak terawat dan rusak. Beberapa rumah bahkan dalam kondisi lebih buruk dari rumahnya sebelum 'diperbaiki'.
Saat ingin menutup kemampuan mata khususnya, tidak sengaja pandangannya mengarah pada satu area yang membuatnya tubuhnya mematung. Bolang penasaran dengan sikap tuannya ini dan saat ingin bertanya, Yao Han sudah berjalan meninggalkannya dengan langkah tergesa.
Bolang mengikuti langkah Yao Han dengan kebingungan dan baru memahami alasan di balik sikap aneh Yao Han saat mereka tiba di depan tanah kosong.
Dikatakan kosong karena tidak ada tanaman atau rumah, melainkan terdapat jejeran batu nisan begitu banyak. Bolang berpikir tempat itu adalah tempat pemakaman umum, tetapi tidak begitu dengan Yao Han.
Pemuda itu ingat tempat ini memang tempat pemakaman Kota Bukit Bunga, tetapi seingatnya tempat ini tidak seberapa luas, tidak seperti dihadapannya sekarang yang luasnya mencapai sepuluh kali lipat.
Dalam pikiran liarnya, Yao Han menebak yang membuat tempat pemakaman ini menjadi lebih luas karena menampung ratusan mayat korban tewas penyerangan siluman pada Kota Bukit Bunga lima tahun lalu.
Yao Han menghela napas panjang, melihat ini timbul juga keinginannya menghabisi semua siluman yang ada di Benua Bulan Biru atau setidaknya di wilayah Negeri Hutan Hijau. Yao Han mungkin akan menjadi Chen Long kedua sebagai pembasmi siluman.
Hua Ren mengucapkan terima kasih pada Yao Han atas pil yang pemuda itu berikan.
Di masa lalu, Hua Ren membentuk Pondasi Fana saat praktiknya di Ranah Dasar tingkat sepuluh. Usaha keras yang dia keluarkan tidak mampu membuatnya menembus sampai ke tingkat dua belas agar setidaknya bisa membentuk Pondasi Bumi.
Mungkin andai saat itu Yao Han sudah memiliki keajaiban seperti sekarang, Hua Ren bisa meminta tolong dibuatkan pil agar bisa mencapai Pondasi Bumi dan memiliki peluang memasuki Ranah Inti bahkan Ranah Jiwa, meskipun harus membutuhkan waktu ratusan tahun dengan bakatnya.
"Aku sudah meminta bantuan beberapa orang mengumpulkan orang-orang di depan Balai Kota. Mungkin paling lama satu jam lagi, semua orang akan terkumpul semua."
Satu jam berlalu, Hua Ren mengajak Yao Han ke Balai Kota. Shenghao dan yang lain mengikuti.
Di Balai Kota, penduduk Kota Bukit Bunga yang 'tersisa' berkumpul dengan rasa penasaran karena walikota mengumpulkan mereka tanpa mengetahui maksud dan tujuannya. Jumlah mereka sekarang sekitar tiga ratusan orang.
Saat Hua Ren membawa empat orang bersamanya, pandangan penduduk menjadi terarah pada empat orang yang tampak asing itu dan beberapa orang ada yang sudah melihat mereka.
Penduduk kota cukup terkejut saat Hua Ren mengenalkan latar belakang Shenghao dan Honghao, tidak ada yang istimewa dari identitas Bolang, tetapi mereka lebih terkejut saat Hua Ren mengenalkan Yao Han.
"Yao Han? Nama ini tidak asing..."
"Eh, bukankah itu anak yang hilang tujuh tahun lalu..."
"Kau benar, dia kembali lagi. Kemana dia selama ini?"
"Dia sekarang adalah kultivator? Bagaimana bisa?"
Yao Han hanya tersenyum melihat beragam keterkejutan penduduk kota. Secara samar dirinya mengenali beberapa orang disana.
Tanpa Yao Han ketahui, ada cukup banyak orang yang menduga dirinya yang menghilang beberapa tahun lalu sudah tiada dan salah satu penyebabnya karena dimakan siluman. Tidak sedikit pula yang prihatin terhadap nasib Yao Han kecil saat itu terutama merek yang pernah mendapat uluran tangan Yao Han.
Namun kenyataannya, tidak hanya Yao Han masih hidup, bahkan dirinya menjadi pemuda yang begitu sehat dan menjadi kultivator. Beberapa orang yang mengenal Yao Han cukup dekat tidak langsung percaya, hal utamanya disebabkan penampilan fisik Yao Han yang berbeda begitu jauh.
Hua Ren menjelaskan maksud pengumpulan para penduduk ini yang berkaitan dengan Yao Han. Pemuda itu melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan di Kota Mawar Hitam.
Bersama dengan Shenghao dan Honghao, selain memberikan pengobatan gratis juga jimat pelindung dari roh jahat.
Kemampuan Yao Han membuat semua yang melihatnya terpana. Tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga dia memberikan Pil Panjang Umur dan Pil Vitalitas untuk meningkatkan energi. Bagi mereka yang merupakan kultivator atau manusia yang memiliki akar roh diberikan Pil Pengumpul Qi dan Pil Rumput Perak sebagai sumber daya.
Hua Ren yang diam menyaksikan dari samping menggaruk kepala tidak bisa berkata-kata. Alasan Yao Han melakukan ini karena waktunya di Kota Bukit Bunga tidak akan lama. Mungkin pengecualian jika kondisi kota tidak pernah tertimpa musibah beberapa tahun lalu.
"Yao Han, ya... si anak ajaib yang sekarang makin ajaib..." Salah satu penduduk terkekeh pelan.
---
Curhatan penulis:
Sayang sekali novel ini tidak bisa diikutkan ke dalam lomba You Are Writer Season 5 karena sudah terikat kontrak.