
Gunung Pencakar Langit, gunung yang menjadi bagian deretan pegunungan terbesar di wilayah Negeri Awan Biru ini merupakan daratan tertinggi di Benua Bulan Biru. Dinamakan demikian, karena puncaknya nyaris mencapai langit dan menembus barisan awan.
Gunung Pencakar Langit merupakan salah satu daratan paling terkenal karena menjadi kediaman salah satu sekte tertua yang berdiri di Benua Bulan Biru, yaitu sekte Gunung Langit. Sekte ini bukan hanya sudah begitu tua, tetapi juga menjadi bagian dari sekte kultivator bintang sepuluh aliran putih.
Gunung Pencakar Langit dikelilingi lima gunung yang berukuran lebih kecil yang juga menjadi bagian dari Sekte Gunung Langit. Gunung Pencakar Langit menjadi kediaman Patriark, Tetua Agung, dan sebagian besar tetua lainnya. Sementara lima gunung lainnya memiliki fungsi lain, seperti tempat latihan, pembuatan pil, pengambilan misi, tempat penghukuman, dan penyimpanan harta.
Sekte Gunung Langit pernah mengalami masa-masa keemasan ratusan tahun beberapa kali dengan memiliki begitu banyak kultivator tingkat tinggi. Salah satu masa keemasan itu karena memiliki dua kultivator yang nama dan kekuatannya sangat disegani di dunia kultivator Benua Bulan Biru.
Mereka adalah Ji Guang sang Pilar Cahaya dan Hong Meirong sang Dewi Pedang Api, dua kultivator senior yang menjadi kekuatan utama Sekte Gunung Langit. Sekte lain, tidak peduli alirannya, akan berpikir dua kali jika ingin berbuat buruk pada Sekte Gunung Langit.
Menghilangnya Dewi Pedang Api karena perseteruannya dengan Gerbang Racun She Yutian menjadi salah satu pukulan hebat bagi Sekte Gunung Langit. Awalnya mereka ingin membuat perhitungan dengan Lembah Hati Racun, tetapi karena Meirong dan Yutian menghilang disaat yang bersamaan, mereka menahan diri.
Dasar perseteruan keduanya disebabkan Gerbang Racun membunuh tunangan Meirong yang berasal dari Sekte Pedang Abadi. Pihak dari mendiang tunangan Meirong tidak memiliki kesabaran yang tinggi, sehingga mengajak Sekte Gunung Langit bersatu dan berperang melawan Lembah Hati Racun.
Siapa yang menyangka, perang yang awalnya melibatkan tiga sekte bintang sepuluh akan melibatkan lebih banyak pihak, demi mengurangi kekuatan salah satu aliran. Perang ini juga menjadi salah satu perang terbesar, berlangsung selama dua tahun, dan baru berhenti setelah dihentikan oleh salah satu sosok yang paling tidak disangka oleh semua kultivator, yaitu Feng Xian sang Angin Timur.
Perang memang berhenti menyisakan beberapa penyesalan karena tidak ada keuntungan yang didapat, justru kerugian yang mereka dapat. Kerugian yang awalnya tidak besar tetapi karena Feng Xian saat itu turun tangan, tidak sedikit yang mengalami luka parah bahkan tewas.
Sekte Gunung Langit yang menjadi salah satu pihak utama yang terlibat dalam perang, memilih menutup dari dunia luar dan membenahi diri demi menghimpun kekuatan yang menghilang saat perang.
Pencarian Meirong rutin dilakukan pihak Sekte Gunung Langit, begitupun dengan Lembah Hati Racun yang mencari keberadaan Yutian. Tidak jarang pencarian hampir bersamaan itu berujung pada pertikaian dan ketegangan kecil.
Kehilangan Dewi Pedang Api memang menjadi pukulan besar, tetapi sedikit terobati karena Sekte Gunung Langit memiliki generasi baru jenius yang bisa menjadi pengganti Dewi Pedang Api. Namanya Huang Mingzhu, gadis cantik yang praktiknya sedikit lagi mencapai Ranah Dasar tingkat empat belas.
Dengan kecantikan dan bakatnya yang tinggi, tidak mengherankan gadis ini mendapat julukan sebagai Peri Cahaya. Huang Mingzhu dianggap sebagai Dewi Pedang Api nomor dua di masa depan karena bakat pedangnya.
Huang Mingzhu terlahir dengan bakat diatas rata-rata karena akar rohnya memiliki dua unsur saja, yaitu api dan logam. Berkah lain yang dimiliki Huang Mingzhu adalah mata khusus bernama Mata Hati Emas, yang bisa melihat kebenaran dan kebohongan seseorang, salah satu jenis mata yang cukup ditakuti banyak orang karena terkadang bisa membaca isi pikiran dan hati seseorang.
Status Huang Mingzhu di sekte memang istimewa terlepas dia tumbuh menjadi gadis cantik yang berbakat atau tidak, karena dirinya menjadi anak angkat sekaligus murid langsung dari Tetua Agung Sekte Gunung Langit, Ji Guang sang Pilar Cahaya. Julukan Peri Cahaya juga dikarenakan julukan ayah angkatnya ini.
Mingzhu bukan satu-satunya murid jenius Sekte Gunung Langit, ada satu murid lagi yang lebih berbakat, yaitu Ji Wentian, putra tunggal Patriark Sekte Gunung Langit. Terlahir dengan akar roh murni unsur tanah dan memiliki tubuh khusus bernama Tubuh Roh Pedang, jenis tubuh khusus yang sama dimiliki oleh Meirong.
Wentian dan Mingzhu menjadi dua murid jenius yang akan mengulang masa keemasan Sekte Gunung Langit seperti yang pernah dicapai oleh Pilar Cahaya dan Dewi Pedang Api. Bahkan Wentian dianggap kultivator muda paling berbakat di generasinya.
Gunung Seribu Pedang, salah satu gunung kecil yang mengelilingi Gunung Pencakar Langit menjadi tempat utama berlatih Dao Pedang dan Sihir Dao di Sekte Gunung Langit. Anggota sekte yang sebagian besarnya mendalami ilmu pedang akan selalu mendatangi gunung kecil ini untuk berlatih.
Aula latihan utama Dao Pedang akan selalu ramai pengunjung, baik itu karena ada yang berlatih tanding atau sekedar menyaksikan latihan orang lain. Beberapa kali aula latihan utama itu pernah sangat ramai dan padat pengunjung karena ingin menyaksikan dua orang yang selalu dinantikan saat berlatih ilmu pedang, seperti halnya saat ini.
Di salah satu lapangan latihan, berdiri dua orang berlawanan jenis dengan paras di atas rata-rata saling berhadapan, yaitu Ji Wentian dan Huang Mingzhu.
Perhatian pengunjung lebih banyak mengarah pada sosok Mingzhu. Meski masih remaja dan usianya belum genap dua puluh tahun, gadis cantik itu memiliki bentuk tubuh ideal yang diidamkan banyak perempuan.
Langsing dan ramping. Rambut cokelat gelap terurai sampai ke pinggang. Kulitnya cerah dan bersih tanpa noda. Bibirnya yang ranum tampak merah alami. Namun yang paling menarik dari gadis cantik ini adalah sepasang matanya yang berwarna cokelat keemasan. Setiap lirikan matanya begitu memikat setiap orang, baik itu laki-laki maupun perempuan.
"Aish, setiap aku berlatih pedang bersamamu, selalu saja begini. Mingzhu, kau membuatku kalah bersinar..." keluh Wentian.
Mingzhu tersenyum tipis, "Jangan berkata seperti itu, tidakkah kau melihat ada cukup banyak gadis yang datang kemari untuk melihat ketampananmu?" balasnya sedikit menggoda.
"Ya kau benar, harusnya aku mendapat banyak pujian hari ini dari para gadis, tetapi karena kehadiranmu itu tidak mungkin terjadi."
"Harus aku akui kau sangat percaya diri, tetapi aku tidak akan menyangkal itu." Wentian berdecak pelan, "Terus mengeluh tidak ada gunanya, sebaiknya kita selesaikan latih tanding kita hari ini."
"Kita bahkan belum mulai, seharusnya kau mengatakan itu daritadi." Mingzhu menggeleng pelan dan menarik pedangnya. Sesaat kemudian tubuhnya memancarkan cahaya kuning terang.
Wentian menarik napas dalam dan tubuhnya memancarkan cahaya keperakan. Wentian dan Mingzhu bergerak dalam waktu hampir bersamaan, pedang keduanya segera berbenturan.
Trang! Trang! Trang!
Bunyi dentingan pedang keduanya terdengar jelas di telinga setiap penonton. Pedang yang mereka gunakan termasuk Pusaka Bumi tingkat rendah, jenis pusaka yang tergolong tinggi untuk dimiliki kultivator Ranah Dasar.
Gerakan Mingzhu lebih menekankan pada kelenturan dan kelincahan, sementara Wentian mengandalkan pada kecepatan dan ketangkasan. Keduanya saling bergantian memberikan serangan dan berkelit menghindar sambil bertahan.
Melihat latih tanding keduanya, beberapa penonton berkomentar.
"Sungguh jenius!"
"Aku selalu kagum dengan gerakan ilmu pedang Saudari Mingzhu, dia seolah menari sambil membawa pedang."
"Mereka jelas jenius pedang generasi saat ini. Sungguh pasangan yang ditakdirkan langit."
"Hush, jaga ucapanmu. Kalau Tetua Agung mendengarnya, kau bisa kena masalah besar."
"A-ah, iya, aku lupa..."
Sementara itu di lapangan latihan yang hanya diisi Wentian dan Mingzhu, kedua remaja itu fokus dalam latih tanding mereka.
Trang!
Pedang Wentian dan Mingzhu saling berbentur keras, lalu keduanya mengambil langkah mundur sambil saling memandang satu sama lain.
Wentian berdecak pelan, "Andai Bibi Guru Hong ada disini dan mengajarimu ilmu pedang, aku pasti kesulitan menghadapi teknik pedangmu."
Mingzhu tersenyum tipis, "Ilmu pedang Naga Pembalik Langit milikmu tidak kalah hebatnya dengan Tarian Pedang Bunga Api yang kupelajari..."
Catatan penulis:
Mingzhu adalah nama lama Meirong, yang akhirnya digunakan kembali untuk gadis cantik bernama lengkap Huang Mingzhu si Peri Cahaya.
Huang: kuning, Mingzhu: mutiara berkilauan.
Ji: mencapai, Guang: cahaya.
Wentian: bertanya pada langit.