Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 64 - Berpetualang Bersama



Balasan dari sekte yang dikirimkan kembali oleh Wu San sebenarnya sudah diterima saat Shenghao sibuk memberi arahan pada Yao Han mengenai pembuatan jimat. Setelah mengetahui mereka mendapat ijin berkelana bersama Yao Han, Shenghao dan Honghao menjadi lebih santai terhadap Yao Han saat berinteraksi.


Perkemahan kecil mereka tidak memiliki api unggun sebagai penerangan, melainkan menggunakan sihir api unik bernama Lentera Api yang dilepaskan Yao han. Bola-bola api kecil melayang disekitar ketiganya seperti kunang-kunang. Bukan hanya sebagai penerangan, juga sebagai penghangat tubuh.


Shenghao dan Honghao hanya bisa takjub saat melihat bagaimana Yao Han dengan entengnya menjadikan sihir yang bisa digunakan menyerang lawan malah digunakan sebagai penerangan malam yang terkesan seperti mainan.


Shenghao dan Honghao melanjutkan latihan menaikkan praktik mereka menggunakan pil buatan Yao Han, sementara pemuda bermata abu-abu itu masih sibuk dengan kegiatan mengemil rumput madu sambil melanjutkan latihan membuat jimat.


Saat tengah malam, Shenghao dan Honghao memilih tidur, sedangan Yao Han tetap dengan kegiatannya.


Di pagi hari, Shenghao terbangun lebih dahulu dari Honghao. Dia tidak menemukan Yao Han di kubah sulur tanaman buatan pemuda itu, tetapi saat dia keluar dari kubah, Shenghao menemukan Yao Han sedang duduk bersila di bawah pohon tidak jauh darinya.


Tanpa Shenghao dan Honghao sadari, malam itu Yao Han memanfaatkan waktu untuk menaikkan praktiknya. Saat ini kelima akar roh murninya berada di Ranah Dasar tingkat enam belas.


Shenghao kemudian menghampiri Yao Han saat pemuda itu membuka mata dan melihat ke arahnya.


"Sepertinya aku harus menirumu, Saudara Yao. Kau bangun lebih awal dan langsung berlatih."


"Sebenarnya aku tidak tidur semalam."


Jawaban singkat itu membuat senyuman Shenghao sedikit luntur.


"Kau terjaga semalaman? Ah, sepertinya kami merepotkanmu menjaga kami, Saudara Yao." Shenghao memiliki pemikiran berbeda sehingga merasa bersalah. Dia minta maaf karena tidak menyadari hal ini.


"Tidak, kau salah paham. Sampai saat ini aku memiliki dua kebiasaan yang berkaitan dengan tidur. Pertama, sejak kecil aku akan terbangun satu atau dua jam lebih awal dari matahari terbit. Kedua, saat masih di Pulau Bulan Bintang, aku seringkali tidak tidur selama tiga sampai lima hari berturut-turut."


Shenghao menggaruk pipinya sambil tersenyum canggung. Dia mengetahui kondisi Pulau Bulan Bintang yang berbeda dengan tempat lain. Kepadatan Qi yang tinggi di pulau unik satu itu bahkan bisa membuat manusia biasa masih sehat bugar tanpa perlu makan atau tidur selama seminggu penuh.


Honghao bangun tidak lama kemudian, lalu Yao Han mengajak mereka sarapan dengan bekal miliknya.


"Saudara Yao, aku lupa bertanya. Apa makanan ini berasal dari Restoran Nagarasa?"


"Tepat sekali. Aku membelinya di restoran yang ada di Kota Cahaya Bulan."


Honghao berdecak pelan, "Dugaanku ternyata benar. Pantas saja rasanya sangat enak."


Selepas mengisi perut dipagi hari, mereka istirahat sejenak. Kemudian mereka berpetualang bersama menuju Kota Cahaya Bulan.


***


Rombongan Yao Han tidak menemui hambatan sama sekali saat meninggalkan wilayah Provinsi Rusa Putih, lagipula wilayah satu ini cenderung aman damai sentosa.


"Senior, ternyata Saudara Yao memiliki kemiripan dengan sekte kita."


Honghao berkomentar saat Yao Han mendatangi beberapa orang untuk menawarkan jasa pengobatan gratis. Melihat pembawaan Yao Han, orang-orang itu menerima tawaran baiknya dan setelah selesai, Yao Han selalu memberikan sebuah Bunga Teratai Biru untuk setiap orang.


"Saudara Yao tidak hanya memiliki kemampuan pengobatan hebat, tetapi juga kebaikan hati yang jarang ditemui."


Honghao sependapat dengan seniornya. Dia merasa sosok seperti Yao Han satu diantara sejuta orang. Merasa penasaran, Honghao menanyakan alasan tindakan Yao Han saat kembali melanjutkan perjalanan.


"Apakah dibutuhkan alasan saat ingin menolong orang?" Yao Han malah balik bertanya.


Honghao terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tidak juga, kupikir ada alasan khusus."


Yao Han mengelus dagunya, "Alasan khusus, ya... Mungkin jika kupikirkan lebih jauh karena aku diajarkan untuk selalu menolong sesama."


Shenghao dan Honghao menatap ragu Yao Han, "Maaf Saudara Yao, mengingat sifat gurumu itu..."


Honghao tidak melanjutkan ucapannya, tetapi Yao Han mengerti maksudnya.


"Guruku selalu mengajarkan untuk meminta imbalan jika ada orang meminta bantuan. Semakin sulit permintaannya maka semakin besar juga imbalan ynag diterima." Yao Han tertawa lepas mengingat gurunya.


Shenghao dan Honghao tertawa canggung. Mungkin hanya Yao Han lah yang berani menjelekkan nama gurunya di mata orang lain, meski pemuda itu tahu gurunya juga tidak peduli, malah justru membenarkan.


"Sebelum aku bertemu guruku, ada orang lain yang mengajariku tentang hal ini. Beliau adalah orang yang merawatku sejak bayi dan beliau sudah tidak ada lagi di dunia ini."


Merasa pembicaraan mengarah pada hal yang bersifat pribadi, Shenghao memberi tanda agar Honghao diam dan untungnya langsung dimengerti. Lalu Yao Han mengatakan sesuatu sebagai penutup penjelasannya, yang membuat Shenghao dan Honghao terdiam lama.


"Dalam pikiranku, menolong sesama adalah kewajiban, menerima imbalan adalah pilihan. Dan aku memilih menolong sesama tanpa mengharapkan imbalan. Aku merasa hal ini adalah sesuatu yang tidak salah, jadi kulakukan saja."


***


Rombongan Yao Han sering berhenti di beberapa tempat karena Yao Han yang menawarkan jasa pengobatan gratis pada hampir setiap orang yang dia temui. Shenghao dan Honghao tidak mengeluh karena tindakan Yao Han bisa dikatakan sejalan dengan ajaran sekte mereka.


Honghao hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak membujuk Yao Han agar bergabung dengan Sekte Teratai Putih karena melihat sikapnya, apalagi setelah melihat Yao Han menolong seorang pria gelandangan kelaparan.


Bukan hanya Yao Han memberikan pengobatan gratis, dia juga membuat pria gelandangan itu kenyang dalam waktu singkat. Yao Han tampaknya tidak terlalu peduli menghabiskan cukup banyak perbekalan hanya untuk satu pria gelandangan.


Dalam satu hari, pria gelandangan itu menjadi orang yang berbeda cukup banyak. Yao Han memberikan pakaian baru dan membersihkan pria tersebut. Juga tidak kalah mengejutkan, Yao Han menyemprotkan pewangi Bunga Teratai Biru pada pria itu.


Sampai kemudian pria tersebut menangis sambil terus berterimakasih pada Yao Han dan menyembahnya sebagai dewa. Shenghao dan Honghao sampai turun tangan membantu karena Yao Han kewalahan menghentikan tindakan pria tersebut.


Dalam perjalanan itu juga Yao Han menunjukkan dua belas Jimat Bola Api yang sempat dia buat pada Shenghao. Pemuda nyaris botak itu memuji Yao Han karena mengalami kemajuan pesat. Shenghao saja butuh waktu setidaknya tiga sejak keberhasilan pertamanya untuk mendapat hasil yang sama dengan Yao Han.


"Andai kau berguru pada Raja Jimat, dalam waktu kurang dari seratus tahun, mungkin kau bisa menjadi Kultivator Jimat terbaik, Saudara Yao."


---