Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 192 - Pertarungan Tetua



Diatas sebuah gedung bangunan tinggi di Kota Harta Giok, dua orang pria sedang berdiri sambil sesekali melihat keramaian dijalanan. Mereka adalah Xie Hong dan Mo Zha, dua dari tiga pengawal Yun Lian yang sedang dalam perjalanan mencari pengalaman diluar sekte.


Mereka saat ini sedang bersiap melaksanakan rencana yang diusulkan oleh Mo Zha. Sementara orang-orang tidak ada yang menyadari posisi mereka saat ini.


"Bocah Mo, sebenarnya aku kurang menyetujui rencanamu, tetapi kita tidak punya pilihan lain. Andaikan kita berhasil menyelamatkan Nona Yun dan meninggalkan kota ini, sekte tetap akan mengetahui tindakan kita lalu menjatuhkan hukuman." Xie Hong berpendapat lalu menghela napas.


Mo Zha terkekeh pelan. "Tetua Xie, memangnya kau punya rencana lebih baik? Selama Nona Yun bisa kembali dengan selamat, hukuman yang akan kita terima karena kejadian ini tergolong ringan. Coba saja kau bayangkan reaksi Patriark jika kita kembali dengan hasil sebaliknya?"


Xie Hong menggeleng pelan, tidak mau membayangkan reaksi Patriark Sekte Awan Bulan, Yun Ming yang juga dijuluki sebagai Gerbang Maut. Bulu kuduknya saja sudah merinding.


"Kuharap Tetua Mohei bisa menemukan Nona Yun sebelum orang-orang menyebalkan itu datang kemari. Aku malas membuang tenagaku berurusan dengan mereka."


Mo Zha tertawa geli. "Aku harap juga begitu. Namun menurutku, akan lebih baik jika mereka datang dan merasakan hasil kerja kerasku ini."


Xie Hong berdecak pelan. "Isi kepalamu itu sudah tidak waras. Apa kau sudah siap? Kita harus cepat."


"Tentu saja. Aku siap sedari tadi. Mari kita mulai pertunjukkannya."


Mo Zha membuka telapak tangan kanannya yang sejak awal mereka berdiri di atas gedung itu terkepal erat. Terlihat sebuah benda berbentuk burung kecil yang terbuat dari tanah liat putih. Setelah dialiri Qi, burung tanah liat putih itu terbang tinggi ke atas langit.


Setelah mencapai ketinggian yang diharapkan, Mo Zha membuat mantra tangan sederhana. Seketika burung tanah liat putih itu menjadi seratus kali lebih besar dibandingkan sebelumnya, menarik perhatian cukup banyak orang dijalanan.


"Seni adalah ledakan..." Mo Zha bergumam pelan sebelum menjentikkan jarinya.


BOOMMM!!!


Burung tanah liat putih itu meledak dan suaranya yang keras terdengar membahana ke seluruh penjuru Kota Harta Giok.


Berbanding terbalik dengan Mo Zha yang tersenyum lebar sambil bertepuk tangan, Xie Hong melirik pencipta ledakan itu sambil menggeleng pelan.


Tidak lama berselang, terdengar suara lonceng keras dari pusat kota. Reaksi seperti ini yang diharapkan keduanya. Seluruh kultivator dijalanan segera berlarian menyelamatkan diri.


"Oi, kau ingin menciptakan ledakan lagi? Aku pikir satu saja sudah cukup." Xie Hong berkomentar setelah melihat Mo Zha mengeluarkan burung tanah liat putih satu lagi.


"Tentu saja, satu tidak mungkin cukup. Aku ingin memastikan semua orang-orang sok suci itu datang kemari." Mo Zha terkekeh dingin sebelum mengulang perbuatannya untuk kedua kali. "Akan kutunjukkan arti seni sesungguhnya melalui ledakan."


Satu jentikan jari dan tercipta ledakan kedua kalinya yang lebih keras dan berdampak lebih besar.


Mo Zha tertawa lantang. "Kalian melihatnya?! Ini adalah mahakaryaku!"


Lagi-lagi Xie Hong hanya bisa menghela napas dengan perilaku Mo Zha, yang memang terkenal aneh diantara anggota pasukan khusus Sekte Awan Bulan.


"Hm?" Xie Hong melihat ada sekumpulan bayangan orang yang terbang mendekat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. "Ah, mereka datang."


Mo Zha menghentikan tawanya dan melihat ke arah yang sama dengan Xie Hong. Senyuman lebar tercetak diwajahnya dan terlihat menakutkan.


Para tetua pengawal generasi muda disana berhenti dan menjaga jarak puluhan meter dari Xie Hong dan Mo Zha. Mereka semua mengerutkan dahi dan agak pucat melihat keberadaan keduanya.


"Kalian sungguh berani membuat kekacauan disini. Apa kalian tidak berpikir kejadian ini dapat memicu perang?" tanya tetua Menara Harta Giok.


"Aku tidak peduli akan terjadi perang atau tidak. Jika benar pun, bukankah itu terdengar menyenangkan? Kami bukanlah sekumpulan orang takut seperti kalian." Mo Zha tertawa mengejek.


Xie Hong ikut menimpali. "Tidak perlu mempedulikan tindakan kami, sebaliknya kalianlah yang harusnya berkaca."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku adalah kalian semua yang berasal dari sekte bintang sepuluh aliran putih dan netral berkumpul di kota ini. Tidak biasanya dan aku curiga, kalian ingin membuat aliansi untuk menghancurkan salah satu atau bahkan seluruh sekte aliran hitam. Tentunya kami yang berasal dari aliran berseberangan terancam, bukan?"


"Kalian salah paham. Pertemuan ini bukan bertujuan untuk itu. Ini adalah tradisi Pertemuan Kultivator Muda dengan situasi yang berbeda."


Mo Zha mendengkus keras. "Berbeda apanya? Jelas-jelas kalian merencanakan sesuatu yang bisa membahayakan kami. Kau pikir kami percaya begitu saja ucapanmu!"


Xie Hong menepuk pundak Mo Zha. "Bocah Mo, tidak perlu banyak bicara lagi. Kita urus mereka secepatnya."


Mo Zha mengangguk pelan dan bersiap menyerang, tetapi gerakannya tertahan karena ucapan tetua Menara Harta Giok.


"Tunggu dulu. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Kalian pastinya sedang mencari gadis bermarga Yun, bukan?"


Xie Hong dan Mo Zha mematung. "Kau apakan Nona Yun kami?!"


"Kalian tenang saja. Dia berada ditempat aman dan baik-baik saja. Hanya saja ada sedikit masalah yang harus diselesaikan."


Tetua itu tidak menyadari ucapannya bukannya meredakan emosi keduanya, justru memicunya lebih besar.


"Masalah?!"


Xie Hong biasanya terlihat tenang, tetapi situasinya kali ini tidak mungkin dia bersikap demikian.


"Serahkan Nona Yun sekarang atau kalian menanggung akibatnya!"


"Hmph, kalian pikir permintaan itu bisa dikabulkan setelah apa yang kalian perbuat?!" Tetua dari Sekte Pedang Suci menyeringai sinis sambil menghunuskan pedang untuk membela tetua Menara Harta Giok.


Xie Hong dan Mo Zha saling berpandangan sesaat, lalu menatap para tetua dengan mata merah.


"Serang!"


Mo Zha melemparkan banyak burung tanah liat putih kecil, sedangkan Xie Hong mengeluarkan gulungan kertas besar, kuas, dan tinta.


"Sayang sekali kalian harus berhadapan dengan dua seniman berbahaya..."


Sementara itu, berjarak jauh dari mereka, dua orang berhadapan dalam situasi tegang. Yun Mohei menghela napas saat langkahnya dihentikan oleh pria berjubah kulit hewan buas, Wang Bai.


"Tidak kusangka sampai tiga orang pasukan khusus Sekte Awan Bulan mendatangi Kota Harta Giok. Namun aku memakluminya, mengingat gadis bermarga Yun itu memiliki bakat kultivasi tinggi untuk seusianya..."


Yun Mohei mengerutkan dahi dan hampir kehilangan ketenangan diri. Matanya menatap tajam ke arah Wang Bei. "Bagaimana kau bisa mengetahui tentang nona muda kami?"


- - -