Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 140 - Rumah Kayu



Selama beberapa saat, Xu Yin dan tujuh anggota Sekte Bintang Ungu itu mematung sambil memperhatikan rumah kayu sederhana yang dibuat dadakan oleh Yao Han dalam waktu sangat singkat.


Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka melihat seseorang bisa membuat rumah dari salah satu sihir unsur kayu yang memang terkenal langka.


Pria dewasa disana memikirkan ulang penilaiannya terhadap Yao Han. Dia sekarang yakin Yao Han lebih kuat dari yang terlihat dan berasal dari latar belakang yang sangat besar, tetapi tidak bisa menebak secara pasti.


'Mampu menggunakan sihir unsur es khas dari Benteng Es Utara dan sihir unsur kayu yang amat langka, siapa sebenarnya anak muda ini? Apa mungkin dia senior yang sedang menyamar?'


Pria itu mulai berpikiran liar, sedangkan disisi lain, Bing Lizi yang melihat tindakan Yao Han membuat rumah kayu itu tertawa lantang. Sudah lama Bing Lizi tidak melihat ada kultivator yang bisa membuat rumah kayu seperti itu, meskipun yang dia ketahui selama ini hanya Chen Long yang bisa melakukannya.


"Xiao Han masih di Ranah Dasar, tetapi dia bisa melakukan sesuatu yang seharusnya hanya bisa dilakukan setidaknya oleh kultivator Pondasi Bumi tahap akhir. Jika Saudara Chen melihat ini, dia pasti akan merebut Xiao Han menjadi murid langsungnya dari Saudara Feng dan kalian berdua."


Bing Lizi tertawa lagi diakhir kalimatnya, membuat Meirong dan Yutian tersenyum tipis. Mereka berdua sadar pria berjulukan Es Utara itu sedang bercanda.


"Senior Bing, bagaimana pendapatmu tentang Yao Han yang pernah membuat beberapa wilayah di Pulau Bulan Bintang menjadi hutan belantara?"


Bing Lizi terbatuk pelan, "Dia pernah melakukannya? Itu harusnya hanya bisa dilakukan kultivator Ranah Inti ke atas. Hm, bakatnya dalam sihir unsur kayu sangat tinggi. Mungkin dia bisa mengimbangi bahkan mengalahkan bakat si Naga Selatan."


Meirong sedikit protes tidak terima, "Bakat Han'er dalam sihir unsur api juga tidak kalah tinggi. Apalagi dia sekarang menguasai Api Feniks."


Bing Lizi hanya tertawa geli, Meirong menanggapi demikian karena dialah yang mengajari Yao Han secara langsung tentang sihir unsur api.


Yao Han tidak mendengar, atau lebih tepatnya tidak mendengarkan percakapan dari dalam Dimensi Pagoda, dia lebih fokus pada kondisi Xu Yang dan lainnya.


"Senior dan saudara sekalian, mari beristirahat di dalam sana. Mohon tunggu sebentar, karena aku ingin mengobati kakak temanku ini."


"Ng? Oh, baiklah, anak muda. Terima kasih." Pria dewasa itu masih sedikit linglung dengan situasi yang terjadi didepannya.


Rumah kayu buatan Yao Han memiliki empat kamar berukuran sedang. Anggota Sekte Bintang Ungu itu masuk ke dalam rumah itu lebih dahulu tanpa menaruh curiga.


"Yinyin, tunggulah sebentar lagi. Aku ingin membereskan sesuatu disana." Yao Han menunjuk ke satu arah.


Barulah Xu Yin mengetahui ada cukup banyak manusia setengah siluman yang mati tertusuk jarum es berukuran cukup besar.


Yao Han mendekati mayat para manusia siluman itu dan mengeluarkan tas ruang untuk menyimpan tubuh para korbannya sekaligus memastikan sisa-sisa 'pertunjukannya' bersih sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.


"A-Apa yang terjadi barusan?" tanya Xu Yin kebingungan saat Yao Han mendekatinya.


"Kau tidak melihatnya?" Xu Yin menggeleng, "Nanti aku ceritakan. Kondisi kakakmu lebih penting."


Xu Yang juga memakai topeng besi seperti Xu Yin, tetapi topeng itu sudah terkontaminasi racun yang ada pada wajahnya. Yao Han meringis ngilu saat melihat wajah Xu Yang yang dipenuhi bisul berbagai ukuran. Beberapa bisul pecah dan menjadi nanah yang mengeluarkan aroma busuk menusuk hidung.


"Kenapa kau hanya melihatnya saja? Kondisi kakakku tidak akan membaik dengan hanya dilihat!" Xu Yin membentak.


"Tenanglah, Yinyin. Tidak perlu marah-marah. Aku juga tahu seberapa parah kondisi kakakmu."


"Kalau begitu cepat kau obati kakakku!" Xu Yin merasa gemas.


Yao Han menghela napas pendek, "Kondisinya memang sangat parah, tapi nyawanya masih bisa diselamatkan. Kecuali dengan kondisinya sekarang dibiarkan sehari disini, dia pasti mati."


Di dalam Dimensi Pagoda, Bing Lizi langsung menyeletuk, "Aku tahu Xiao Han anak baik, tetapi ucapan dan sikap santainya tentang nyawa seseorang mengingatkanku dengan Saudara Feng."


Meirong dan Yutian tidak menanggapi selain dengan anggukan pelan. Mereka berdua menyadari sedikit banyak sifat acuh tak acuh Feng Xian menular pada Yao Han. Entah itu menjadi hal yang baik atau buruk.


Yao Han mengeluarkan sebuah kain besar dan menyelimuti tubuh Xu Yang. Aroma busuk yanf tercium tak begitu mengganggunya. Setelah seluruh tubuh Xu Yang terselimuti, Yao Han menggendongnya ala-ala pengantin.


Anggota Sekte Bintang Ungu memperhatikan Yao Han memasuki salah satu kamar sambil menutupi hidung, membuat Xu Yin mendengkus jengkel dan menahan diri tidak melemparkan racun pada mereka. Yang bisa dilakukan selanjutnya anggota sekte itu adalah menunggu.


"Tetua, apa kita harus menunggu disini? Bagaimana kalau dia ingin mencelakakan kita?" salah satu murid disana bertanya khawatir.


"Tidak mungkin, kalau dia berniat demikian, maka tidak perlu repot-repot menolong kita. Selain itu, dia juga sepertinya memiliki urusan dengan sekte kita."


"Bagaimana kalau hanya kedok belaka? Penampilannya bisa saja menipu."


"Hush, diam. Dia bisa saja mendengar percakapan kita." Pria yang disebut tetua itu mengakhiri percakapan mereka dan meminta yang lain diam sambil menunggu Yao Han mendatangi mereka.


Pria itu sebenarnya penasaran dengan identitas Yao Han, begitupun Xu Yin dan Xu Yang.


Didalam salah satu kamar, Yao Han meletakkan Xu Yang diatas ranjang tidur yang terbuat dari kumpulan sulur-sulur tanaman yang berdaun rimbun, cukup empuk sehingga Xu Yang bisa berbaring dengan nyaman.


"Yinyin, keluarlah. Biarkan aku menyembuhkan kakakmu."


"Tidak mau! Aku ingin tetap disini melihat kakakku!"


Menyadari gadis cantik yang sudah melepaskan topeng besinya itu dalam kondisi keras kepala yang tidak bisa diganggu gugat, Yao Han akhirnya membiarkannya.


Kemudian secara tiba-tiba, Yutian dalam wujud ular giok keluar dari Dimensi Pagoda, mengejutkan Yao Han dan Xu Yin.


"Guru She, apa yang..."


"Biarkan aku membantumu, Han'er. Tidak masalah gadis manis itu melihatku."


"Darimana munculnya ular itu?" Xu Yin menunjuk Yutian yang melingkari leher Yao Han seperti kalung, "Eh? Sepertinya wujud ular ini tidak asing. Dimana aku pernah melihatnya?" gumam Xu Yin.


"Ceritanya panjang. Menjauhlah sedikit, aku akan mengobati kakakmu. Ular yang kau lihat ini muncul untuk membantuku."


Munculnya ular giok begitu saja seperti kemunculan Bolang si Serigala Malam sebelumnya membuat Xu Yin makin penasaran.


Umumnya, hewan roh atau siluman berwujud ular berhubungan dengan Lembah Hati Racun, jadi Xu Yun merasa Yao Han semakin misterius bisa memiliki ular giok itu.


 


Catatan:


Salah satu pembaca setia novel ini yang juga temen saya menyarankan untuk membuat catatan ini.


Sarannya, kalimat yang sebaiknya saya tulis cukup sederhana, yaitu "Apa sih kontribusimu buat novel ini? Minta ini, minta itu, padahal authornya cuma butuh like dan spam komen aja, gitu kok susah amat. Mana minta crazy up lagi. Gak ngotak kali, ya?"


Dia bisa bilang begini karena jadi lima besar pembaca dengan kontribusi paling besar untuk novel ini. Hahaha!


Author gak sehebat itu buat crazy up. Kerangka cerita ada, tetapi pengembangan kata-katanya cukup susah juga. Itulah salah satu alasan chapter 110 sampe sekarang belum saya revisi. Hahaha. Bisa up sehari satu chapter itu terlalu bagus buat saya, hahaha!


Lagian saya ini penulis seperempat waktu (bukan paruh waktu lagi).