
Permintaan Qian Shan dipenuhi Bao Fan dengan baik. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, telah berkumpul seluruh Tetua Menara, kepala klan, dan tetua penting lainnya dalam sebuah ruangan besar.
Para petinggi Menara Harta Giok itu melakukan rapat penting yang biasanya diadakan setiap tiga atau enam bulan sekali. Rapat kali ini berbeda karena diadakan secara darurat. Suasana dalam ruangan tersebut sangat tegang.
Semua orang disana sudah mendengar semua laporan kejadian yang menyebabkan diadakannya rapat darurat dan penting ini, sebagian besar dari mereka menghela napas karena perdamaian dunia kultivator tidak bisa berlangsung lebih lama.
"Beberapa jenius aliran putih terluka parah dibawah pengawasan kita sebagai penyelenggara pertemuan. Cepat atau lambat, sekte yang generasi mudanya terluka akan menuntut ganti rugi." Bao Fan membuka suara setelah suasana beberapa saat hening.
Menara Harta Giok tidak pernah bertoleransi pada kerugian karena mereka adalah pihak nomor satu di seluruh Benua Bulan Biru yang mengedepankan keuntungan diatas segalanya. Rugi adalah kata yang tabu untuk mereka dengar, apalagi mengalaminya.
"Bukan kita yang harus menanggung semuanya, karena kita pun juga mengalami kerugian. Jika ingin menuntut, mereka bisa memintanya pada Sekte Awan Bulan."
"Aish, penjelasan apapun yang kita berikan pada mereka tidak akan bisa diterima dengan mudah. Bisa saja mereka menganggap kita lepas tangan dan tidak mau bertanggungjawab."
"Bagian mana kita harus bertanggungjawab, huh? Kota Harta Giok adalah kota netral yang bisa didatangi kalangan manapun. Kita tidak mungkin mencegah kultivator aliran hitam memasuki kota karena akan menimbulkan kecurigaan. Bukankah mereka yang menyetujui pertemuan diadakan di kota ini?"
"Lagipula bukan hanya Sekte Awan Bulan yang harus dimintai ganti rugi, tapi juga Sekte Taring Buas. Kalau bukan berawal dari mereka, kekacauan tidak akan terjadi atau setidaknya sebesar ini."
"Para Tetua, tolong hentikan perdebatan kalian. Ada hal yang lebih penting karena kedepannya Menara Harta Giok akan terseret dalam perang yang akan datang."
Meskipun kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan sembilan Tetua Menara, Bao Fan dengan posisinya sebagai Patriark berusaha menenangkan mereka yang berdebat satu sama lain.
"Patriark, meskipun secara tidak langsung terlibat, tetapi kita selalu berada di pihak netral. Kita tidak mungkin berada disisi aliran putih saat perang terjadi."
Semua orang disana sudah menduga akan terbentuk aliansi jika perang berikutnya terjadi. Sekte-sekte aliran putih tidak akan tinggal diam mengetahui generasi muda terluka oleh aliran hitam.
Untuk membalas perbuatan Sekte Awan Bulan, kemungkinan besar akan terbentuk aliansi putih untuk menghancurkan bahkan melenyapkan mereka. Namun disaat yang sama, pihak lain pun mungkin melakukan hal yang sama, membentuk aliansi hitam.
Posisi Sekte Awan Bulan sebagai sekte aliran hitam terbesar dan terkuat saat ini membuat mereka dengan mudah mendapatkan bantuan dari banyak pihak aliran hitam sebagai aliansi.
"Lalu, bagaimana selanjutnya?"
Pertemuan itu kemudian berakhir dengan satu keputusan sementara. Menara Harta Giok akan menutup dan menarik semua sumber daya yang berada di cabang toko dagang mereka yang tersebar di Negeri Tanah Merah dan juga disekitar perbatasan antara Negeri Tanah Merah dan Negeri Hutan Hijau.
Mereka melakukannya dengan cepat karena harus berkejar dengan waktu, yang kemudian bisa diselesaikan dalam waktu sepuluh hari.
**
Feng Xian menepuk pundak Yao Han dan mengalirkan Qi untuk memeriksa muridnya itu. Yao Han cukup kaget tetapi membiarkan. Selang tiga tarikan napas, Feng Xian menaikkan sebelah alis lalu tersenyum penuh arti.
"Bagus, bagus. Meskipun melakukan hal tidak terlalu berguna sejak meninggalkan Pulau Bulan Bintang, kau tidak lupa berlatih untuk menaikkan tingkat kultivasimu."
Disisi lain, Yao Han berdecak pelan saat Feng Xian mengatakan kegiatannya menolong orang lain sebagai hal yang tidak terlalu berguna.
Jika Feng Xian yang identik dengan gila harta, justru sebaliknya Yao Han lebih identik dengan sikap ringan tangannya. Sungguh bagaikan langit dan bumi. Begitulah cara pandang Bing Lizi pada pasangan guru dan murid di hadapannya ini.
"Guru tidak berpikir aku bermalas-malasan, bukan? Memangnya kapan aku suka bermalas-malasan?" Yao Han sedikit mencibir.
"Siapa yang tahu. Mungkin saja karena terlalu dimanjakan Xiao Rong, kau malah menjadi malas. Kalau itu benar, aku akan menendang bokongmu sampai kau jera." Feng Xian mengejek sambil menunjuk Meirong.
Bing Lizi, Tian Jian, dan Bo Lang terbatuk-batuk mendengar panggilan Feng Xian pada Meirong dan kata-kata yang diucapkannya.
"Kebiasaanmu yang suka memanggil nama orang sembarangan tidak pernah berubah, Saudara Feng. Tidak aneh jika kau memanggil muridmu seperti itu tetapi tidak dengan Dewi Pedang Api. Kau pikir dia itu bocah?" Bing Lizi menegur halus.
Feng Xian tertawa tanpa beban. "Tidak masalah, Xiao Rong dan Xiao Tian tidak merasa keberatan. Bukankah kau merasa mereka beberapa kali bersikap seperti bocah?"
Bing Lizi berdecak pelan. "Dan berhentilah berpikir yang tidak-tidak pada muridmu. Dia anak yang rajin. Seharusnya kau memujinya, bukan meragukannya."
Feng Xian mengabaikan teguran Bing Lizi. Sementara Yao Han, Meirong, dan Yutian yang mengetahui Feng Xian sedang menggoda mereka hanya menghela napas panjang dan menggelengkan kepala beberapa kali.
Bing Lizi kemudian membahas hal yang berbeda, tepatnya dia membahas tentang Petir Barat Xi Lei.
"Kapan kau berencana ke Lembah Petir Abadi?"
"Entahlah, kurasa tidak perlu terburu-buru kesana. Kau tahu sendiri lembah itu adalah tempat yang berbahaya, jauh lebih berbahaya dari Pulau Bulan Bintang yang dipenuhi siluman atau Hutan Kabut Racun yang menjadi tempat tinggal Lembah Hati Racun."
Bing Lizi berdecak pelan sekaligus jengkel dengan sikap santai Feng Xian sekaligus menganggap ucapan Feng Xian sebagai omong kosong bahkan bualan belaka.
"Dengan kekuatanmu saat ini, kau bisa menghadapi bahaya yang ada."
"Apa kau yakin dia sungguh berada disana? Jika benar, dia sama saja dengan bunuh diri."
Bing Lizi memiliki dugaan yang kuat Xi Lei berada di Lembah Petir Abadi, karena tempat itu sangat cocok untuk meningkatkan kekuatannya, tetapi setelah seratus lima puluh tahun berlalu, dia tidak kunjung menampakkan diri.
Feng Xian belum berencana pergi, karena selain tempat itu berbahaya, Feng Xian juga menemukan Giok Jiwa milik Xi Lei yang menyala semakin terang selama beberapa minggu terakhir ini.
"Aku tidak menyuruhmu melakukan misi bunuh diri, tetapi setidaknya kau kesana untuk menyelamatkan teman lama kita."
Lama banget euy, review-nya.