Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 178 - Kota Harta Giok



Masing-masing tiga wilayah pemerintahan di Benua Bulan Biru memiliki satu kota kultivator terbesar. Negeri Awan Biru memiliki Kota Harta Langit, Negeri Hutan Hijau memiliki Kota Harta Giok, dan Negeri Tanah Merah memiliki Kota Harta Bumi.


Ketiga kota kultivator ini berada dibawah pengawasan dan pengelolaan kelompok kultivator paling kaya di seluruh Benua Bulan Biru, yaitu Menara Harta Giok karena mereka adalah pendiri ketiga kota ini.


Secara keseluruhan, Kota Harta Langit adalah kota kultivator yang ukurannya paling besar di Benua Bulan Biru, tetapi Kota Harta Giok adalah kota yang paling padat penduduknya.


Jika hanya melihat kawasan di wilayah Negeri Hutan Hijau, Kota Harta Giok adalah kota terbesar, diikuti Kota Musim Semi diurutan kedua dan Kota Musang Api diurutan ketiga.


Kota Harta Giok lebih tepat disebut sebagai kota dagang dan kurang cocok dijadikan kota tempat tinggal jangka panjang, kecuali sebagai tempat persinggahan sementara. Terdapat banyak toko didalam kota ini dan semuanya dikelola oleh Menara Harta Giok.


Kota Harta Giok maupun dua kota kultivator terbesar lainnya memiliki ciri khas, yaitu semua penduduknya adalah kultivator dan terdapat formasi penghalang yang mampu menekan kekuatan Indera Surgawi.


Bisa dikatakan, hanya tiga kota kultivator netral ini yang dipasangi formasi penghalang sejenis ini, demi membuat semua pelanggan aman dan nyaman karena privasi mereka sudah pasti terjaga.


Formasi penghalang Kota Harta Giok adalah yang paling kuat. Saking kuatnya, sampai-sampai kultivator yang memiliki Indera Surgawi tidak bisa menggunakan kemampuan mereka satu ini. Sedikit yang mengetahui, Feng Xian mampu menggunakan Indera Surgawi sebagai pelacak yang mencakup radius lima meter di kota ini dan itu merupakan sesuatu yang hebat.


Namun kehebatan Feng Xian masih kalah dibandingkan murid satu-satunya, Yao Han, jika berada dikota ini. Formasi penghalang terkuat apapun sama sekali tidak berguna dihadapan Mata Tembus Pandang milik Yao Han.


Secara teori, formasi penghalang ini dibuat dengan alasan yang terbilang sederhana, yaitu meskipun Kota Harta Giok masih kalah netral jika dibandingkan Kota Cahaya Bulan, kota dagang terbesar ini setiap harinya selalu memiliki pengunjung dari berbagai aliran.


Bukan hal mudah dan murah membuat formasi penghalang yang sangat kuat, tetapi pihak Menara Harta Giok merasa hal itu sepadan dengan hasil yang mereka dapatkan, yaitu keuntungan besar, serta kepercayaan dan kenyamanan pelanggan.


Kota Harta Giok dan formasi penghalangnya sudah menjadi rahasia umum, kecuali bagi kultivator pemula atau kebanyakan manusia biasa. Oleh karena itu, Yun Mohei mengingatkan Yun Lian sebelum memasuki ini agar tidak jauh-jauh dari tiga pengawal gadis itu.


Yun Lian hanya menanggapi dengan anggukan pelan, walaupun dalam hati dia tidak berjanji akan mengikuti saran dari tangan kanan kakeknya itu.


Yun Lian memiliki sikap pemberontak dan keras kepala yang hampir tidak diketahui orang terdekatnya. Lama menjalani latihan tertutup dan jarang keluar sekte, membuat semangat mudanya berkobar.


Hal ini juga membuatnya senang saat berkelana keluar sekte demi mencari pengalaman hidup yang lebih banyak sebelum menjalani latihan tertutup lagi untuk memasuki Ranah Pondasi.


Selama perjalanan di wilayah Negeri Hutan Hijau, Yun Lian diam-diam merasakan adanya perbedaan suasana dan kondisi yang besar jika dibandingkan saat masih berada di Negeri Tanah Merah.


Misalkan seperti perangai penduduknya, persebaran kultivator, kepadatan Qi, dan jumlah siluman. Setelah pertemuannya secara tidak sengaja dengan murid Angin Timur, Yun Lian dan rombongannya beberapa kali dihadang oleh cukup banyak siluman.


Setelah melewati perjalanan cukup panjang, rombongan kecil Yun Lian tiba di Kota Harta Giok. Dari kejauhan, sudah terlihat keramaian pengunjung kota tersebut. Yun Lian belum pernah melihat keramaian seperti itu baik di Sekte Awan Bulan maupun kota yang pernah dia lewati sebelumnya.


Rombongan kecil itu masuk dengan formasi Yun Lian diapit oleh tiga pengawal. Yun Mohei berada didepan gadis itu, sementara dua tetua lainnya berada disini kanan dan kiri.


"Seperti biasanya, Kota Harta Giok ramai dan padat pengunjung." Xie Hong mengemukakan pendapatnya.


"Aku sudah banyak mendengar tentang kota ini, tetapi ini pertama kalinya aku datang kemari. Apa Kota Harta Giok selalu seramai ini?" tanya Yun Mohei mengamati keramaian disekitarnya.


"Benar, Tetua Mohei. Aku beberapa kali datang kemari dan kota ini selalu ramai seperti ini. Apa ada sesuatu yang menganggumu?"


"Hm, aku tidak terlalu yakin. Namun aku merasa... seharusnya kita tidak memasuki kota ini hari ini. Karena sudah terlanjur, sebaiknya kita tidak berlama-lama disini."


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Tetua Mohei. Kalaupun kau merasa terganggu dengan keramaian kota ini, kemungkinan besar itu disebabkan akan ada lelang tahunan."


Lelang tahunan merupakan kegiatan yang rutin dilakukan Menara Harta Giok dan menjadi salah satu alasan mereka menjadi cepat kaya dalam waktu singkat. Biasanya, lelang diadakan setiap sepuluh tahun sekali dan paling sering diadakan di Kota Harta Giok.


"Lelang..." Mata Mo Zha menyala mendengar kata lelang, wajahnya terlihat antusias, seperti anak kecil yang diberi permen. "Sudah lama aku tidak ikut lelang. Mungkin terakhir kali adalah tiga puluh tahun lalu. Jika memang benar ada lelang, kita harus mengikutinya!" seru Mo Zha.


"Aku mengerti antusiasmu, Bocah Mo. Namun kita kemari bukan untuk itu. Kita hanya sebentar disini hanya sekedar untuk melihat-lihat sebelum kembali ke sekte atau setidaknya pergi ke tempat lain."


"Ayolah, Tetua Mohei. Aku rasa bukan masalah besar meluangkan waktu untuk sedikit bersenang-senang dan bersantai sejenak. Dengan mengikuti lelang, paling tidak kita bisa mendapatkan satu atau dua barang yang menarik." Mo Zha berusaha membujuk.


"Kita? Itu sudah jelas kau saja. Kau pasti ingin mendapatkan barang untuk percobaan anehmu itu." Xie Hong mencibir.


"Berani sekali kau menyebut percobaanku aneh!" Emosi Mo Zha tersulut. "Yang kau sebut aneh itu adalah karya seni bernilai tinggi. Nanti kau akan bisa melihat betapa bagusnya mahakaryaku!"


"Aku tidak tertarik. Nona Yun, sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengan orang ini, dia akan menularkan keanehannya padamu... Eh? Nona Yun? Nona Yun?!"


Xie Hong yang menoleh ke samping kanan menjadi panik dan menjerit tertahan karena gadis yang dipanggilnya 'Nona Yun' tidak ada dalam jarak pandangnya. Ternyata baru saja dia berbicara dengan angin kosong.


Mo Zha yang berada disamping kanan dengan cepat menoleh dan bereaksi serupa. "Nona Yun?! Tetua Xie, kemana perginya Nona Yun?!"


Raut wajah Xie Hong menjadi buruk. "Kalau kau bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa?!"


Yun Mohei menoleh ke belakang dan wajahnya memucat. "Kalian berdua... bagaimana bisa kalian melepaskan pengawasan pada Nona Yun?!"


- - -


Sulit untuk menemukan visual karakter yang cocok seratus persen untuk Dewi Pedang Api Hong Meirong, guru cantik dari tokoh utama novel ini. Namun setidaknya, visual berikut bisa mewakili 75 persen dari kecantikan asli dan sosok Hong Meirong, hehehe. Gimana?