
Yun Lian, gadis tercantik di seluruh Sekte Awan Bulan. Tidak hanya cantik, tetapi juga sangat berbakat dalam praktik kultivasi. Terlahir dengan salah satu jenis Mata Surgawi bernama Mata Giok Darah, sehingga sepasang matanya berwarna merah gelap.
Kelebihan dari mata khusus ini adalah mampu menciptakan dan menembus segala ilusi. Yun Lian masih belum bisa memaksimalkan kekuatan matanya, meskipun sudah berlatih sejak usia dua belas tahun.
Gadis yang dijuluki Peri Awan Darah dan kadang dipanggil Nona Yun ini memakai cadar berwarna merah darah, serasi dengan warna mata dan jubah yang dia kenakan.
Yun Lian tidak bisa dikatakan gadis cantik tak tersentuh. Memang dia jarang bicara dan tersenyum, karena kemampuan berekspresinya ini nyaris sepenuhnya menghilang karena sebuah peristiwa di masa lalu.
Perang besar dunia kultivator sekitar dua puluh tahun lalu yang dihentikan oleh Angin Timur membuat semua sekte yang terlibat mundur teratur. Namun bukan berarti benar-benar berhenti.
Di wilayah Negeri Hutan Hijau dan dihadapan Angin Timur saat itu, tidak ada yang berani melanjutkan perang. Melainkan beberapa saat setelahnya, terjadi perang skala kecil sampai menengah di wilayah perbatasan Negeri Hutan Hijau dan Negeri Tanah Merah.
Dalam perang itu, dua dari beberapa orang penting Sekte Awan Bulan tewas. Keduanya adalah orangtua Yun Lian. Dan karena kematian orangtuanya, kesedihan Yun Lian membuat sikap ceria dan ramahnya nyaris tak terlihat sama sekali.
Yun Lian mendengar dari pamannya bahwa kedua orangtuanya tewas ditangan seorang tetua penting sekte besar aliran putih. Kematian kedua orangtuanya juga menjadi motivasi tambahan bagi Yun Lian untuk semakin rajin berlatih untuk memperoleh kekuatan besar demi membalas dendam atas rasa kehilangannya.
Beberapa bulan lalu, tepat diusianya kedelapanbelas tahun, Yun Lian berhasil mencapai Ranah Dasar tingkat lima belas. Dia berpeluang membentuk Pondasi Langit yang banyak orang mendambakannya.
Demi mencari pengalaman untuk melatih mental, Yun Lian pergi dari sekte ditemani dua tetua penting, Yun Mohei dan Xie Hong.
Kedua tetua ini membawa Yun Lian ke tempat-tempat yang cukup berbahaya agar bisa menjadi ujian bagi Yun Lian. Ujian dari bahkan lebih berat daripada latihan yang pernah dia jalani di sekte. Namun Yun Lian berhasil melewati semua itu.
Pencapaian Yun Lian membuat kagum Yun Mohei dan Xie Hong, serta Mo Zha yang ikut mengawasi dari kejauhan. Sejauh ini Yun Lian mampu membuktikan diri bahwa dirinya pantas ditunjuk sebagai calon Matriark Sekte Awan Bulan masa depan.
'Puas' menjelajahi cukup banyak tempat berbahaya di wilayah Negeri Tanah Merah, rombongan Yun Lian pergi ke arah Negeri Hutan Hijau.
Ditengah perjalanan, mereka mendengar kabar bahwa anak sulung Patriark Lembah Hati Racun sedang kabur dan beberapa tim pencari sedang melacak keberadaannya.
"Apa yang ada dipikiran bocah ini?" gumam Yun Mohei.
"Tetua Mohei, menurutmu apa yang harus kita lakukan?"
"Memangnya apalagi? Tentu saja kita biarkan. Apa kau berpikir kita harus ikut mencarinya? Lalu setelah kita berhasil menemukannya, kita menghubungi Lembah Hati Racun? Merepotkan. Lagipula kita bukan seperti kultivator aliran putih yang sok suci itu."
Xie Hong sebenarnya sependapat dengan Yun Mohei. Hubungan antar sekte aliran hitam tidak sebaik hubungan antar sekte aliran putih. Namun dia terpikirkan, jika mereka berhasil menemukan Xu Yang dan menghubungi Lembah Hati Racun, mereka akan mendapat hadiah. Setidaknya berupa batu roh.
Yun Mohei mendengkus geli, "Tetua Xie, harus kuakui kau lebih kuat dariku. Namun sikapmu malah seperti Bocah Mo itu. Kuat tapi penggila harta. Lebih baik kau tidak sering-sering bergaul dengannya."
Mo Zha yang duduk bersembunyi di atas pohon agak jauh dari mereka masih bisa mendengarnya dan berdecak pelan. Namun begitu, dia tidak marah karena ucapan Yun Mohei tentang dirinya benar adanya.
"Memangnya ada yang salah dengan menjadi penggila harta?" gerutunya.
Yun Lian hanya diam tidak menanggapi percakapan kedua tetua itu dan lebih fokus makan ayam panggang yang disajikan Yun Mohei.
"Paman Hei, aku hanya mendengar sedikit tentang Negeri Hutan Hijau, apakah ada sesuatu yang menarik disana?" tanya Yun Lian. Suaranya yang merdu membuai dan memanjakan telinga.
Negeri Hutan Hijau adalah wilayah negeri paling kecil dari segi wilayah maupun kekuasaan. Di negeri ini, jumlah sekte maupun kultivator tiga aliran hampir berimbang.
Negeri ini juga menjadi tempat tinggal hampir delapan puluh persen siluman di seluruh Benua Bulan Biru. Salah satu faktornya karena keberadaan Sekte Taring Buas.
Kota kultivator di Negeri Hutan Hijau masih kalah besar dibandingkan kota kultivator di dua negeri lainnya. Tiga sampai lima kota kultivator Negeri Awan Biru atau Tanah Merah setara dengan sepuluh kota kultivator terbesar Negeri Hutan Hijau.
Jika bukan karena keberadaan Menara Harta Giok, Istana Bintang Api, dan Sekte Taring Buas sebagai tiga sekte besar bintang sepuluh yang membangun markas di negeri ini, sudah dipastikan Negeri Hutan Hijau jauh terbelakang dari dunia kultivator.
Dikatakan Kaisar Hijau dan Permaisurinya adalah murid dari salah satu Jagoan Empat Penjuru, Naga Selatan dan praktik keduanya berada di Ranah Jiwa.
Dan yang paling membuat Negeri Hutan Hijau istimewa adalah keberadaan Jagoan Empat Penjuru yang secara tidak langsung melindungi negeri ini dari serangan militer dua negeri lainnya.
"Empat Penjuru... sekarang hanya tersisa satu, yaitu Angin Timur. Sebelumnya Kakek memperingatkan kita tentangnya. Bukankah terdengar berlebihan?"
Yun Mohei dan Xie Hong tersenyum canggung.
"Nona Yun, reputasi Angin Timur sudah dikenal baik oleh umum. Jika ratusan tahun lalu Empat Penjuru lainnya tidak turun tangan, total ada tujuh sekte besar yang hancur dan tinggal nama karena menyinggung dirinya. Kedatangannya saat perang terakhir bagaikan teror bagi semua orang di medan perang. Cukup banyak korban akibat amukannya karena dianggap membuat kekacauan di Negeri Hutan Hijau."
Xie Hong menambahkan, "Banyak yang menduga, jika Empat Penjuru bekerjasama, mereka bisa menguasai separuh dunia kultivator Benua Bulan Biru. Kekuatan mereka sangat besar, terbukti hanya salah satu dari mereka saja mampu menghentikan perang besar."
"Sebenarnya Angin Timur tidak sendiri. Dia datang bersama seekor hewan roh, Bangau Pelangi yang kekuatannya tidak kalah mengerikan dari Angin Timur. Kekuatan gabungan dari mereka menjadi mimpi buruk yang sulit dilupakan."
Yun Mohei, Xie Hong, dan Mo Zha yang ikut mendengarkan menjadi merinding hebat saat membahas tentang Angin Timur.
"Angin Timur mungkin hanya satu orang, tapi jika dia mau, perang akan benar-benar berhenti total dengan cara melenyapkan semua orang di medan perang saat itu. Namun dia tidak melakukannya dan memberi peringatan sebelum pergi." Yun Mohei sedikit gelisah dan tangannya terasa dingin.
"Kurasa saat ini kita aman-aman saja pergi ke Negeri Hutan Hijau. Selama beberapa tahun terakhir ini, Angin Timur masih menutup diri dan belum terdengar kabarnya. Jadi peluang bertemu dengannya sangat kecil."
Setelah itu, rombongan Yun Lian memasuki wilayah Negeri Hutan Hijau. Dan setelah cukup jauh, perasaan aman-aman saja yang mereka rasakan sebelumnya terkikis perlahan saat mendengar kabar kemunculan kembali Angin Timur.
"Gawat, kita sebaiknya putar arah kembali ke Negeri Tanah Merah." Yun Mohei dan Xie Hong saling berpandangan dengan wajah pucat.
---
Catatan Author:
Yun: awan, Lian: teratai.
Mo: iblis, Hei: hitam
Xie: kalajengking, Hong: merah
Secara logika alur cerita, kabar kemunculan kembali Angin Timur harusnya lebih dulu didengar daripada kabar tentang Xu Yang. Saya sedikit memaksakan ini sebaliknya, tetapi ya sudahlah. Gak apa-apa kan ya. HAHAHA!