
Diantara kerumunan dan padatnya manusia di Kota Harta Giok, ada seorang gadis dengan penampilan mencolok yang menarik perhatian cukup banyak orang. Namun karena tidak ingin mencari masalah yang tidak perlu, terutama di Kota Harta Giok, para pemerhati gadis itu segera mengalihkan pada hal lain.
Dikatakan mencolok karena pakaian yang dikenakan gadis itu berwarna serba merah dengan beberapa aksen berwarna hitam. Ditambah dari tubuhnya yang ramping tercium aroma wangi bunga yang semerbak dan memikat.
Bagi yang memperhatikan gadis itu, dapat melihat sebagian kecantikan wajah yang dia miliki karena tertutup cadar merah darah senada dengan pakaiannya. Kulitnya putih bersih dan pucat bagaikan batu pualam putih.
Dialah gadis bernama Yun Lian, jenius muda dari Sekte Awan Bulan. Gadis cantik dan hampir selalu memasang wajah tanpa ekspresi ini berjalan santai menyusuri jalanan Kota Harta Giok tanpa mempedulikan ketiga tetua pengawalnya bingung sekaligus panik mencari keberadaannya.
Lama tinggal di sekte dan disibukkan dengan latihan tanpa henti membuat jiwa muda Yun Lian memberontak dan ingin mencari kebebasan meskipun hanya sesaat, sehingga diam-diam saat tiga pengawalnya lengah, dia mencari celah untuk pergi sesuka hati.
Sejauh dia melangkah, ada beberapa hal yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang tidak bisa dia temukan di Sekte Awan Bulan maupun kota-kota sekitar sekte di Negeri Tanah Merah. Dia menyimpulkan Kota Harta Giok puluhan kali lebih menyenangkan daripada kota manapun yang pernah dia singgahi.
Ada begitu banyak toko yang menjual barang-barang bagus selama Yun Lian melangkahkan kakinya di jalanan, tapi kemudian dia berhenti pada sebuah toko yang sedikit lebih sepi dari toko lain. Barang yang dijual menarik perhatiannya, jadi Yun Lian memutuskan berhenti untuk melihat-lihat.
"Nona, apakah ada barang yang menarik perhatianmu? Kami menjual banyak pernak-pernik bagus yang cocok untuk gadis cantik sepertimu. Silahkan pilih sendiri."
Seorang pria penjaga toko tersenyum lebar melihat kedatangan Yun Lian. Sejenak dia terpana dengan penampilan gadis itu dan mulai mengeluarkan teknik merayu agar dagangannya bisa terbeli.
"Barang yang kalian miliki bagus-bagus, aku menyukainya. Tapi aku tidak bisa membelinya, aku tidak membawa uang." Yun Lian menanggapi dengan suaranya yang merdu.
Pria penjaga toko sedikit terkejut dan heran. Menurutnya, dari penampilan Yun Lian seharusnya gadis itu berasal dari keluarga berada dan membawa cukup banyak uang.
"Ah, sayang sekali." Penjaga toko mendadak kecewa. Terlihat jelas diwajahnya.
"Apakah aku boleh melihat-lihat saja? Aku jarang melihat barang bagus seperti yang kalian jual ini?"
"Oh, boleh. Silahkan saja. Tapi ingat Nona, kalau kau diam-diam mengambil barang tanpa membayar, jangan salahkan aku untuk bertindak kasar." Penjaga toko memberi peringatan dan bersikap waspada pada Yun Lian.
"Aku tidak membawa uang bukan berarti berniat mencuri. Jika membawanya, aku berniat membeli banyak pernak-pernik ini." Yun Lian membela diri.
Meskipun dilahirkan dan dibesarkan disekte aliran hitam, Yun Lian tidak pernah dididik sebagai pencuri oleh orang-orang terdekatnya.
Penjaga toko menyipitkan mata memperhatikan Yun Lian sambil mengelus dagu. "Hm, sepertinya kau berkata jujur. Baiklah, aku akan bersikap murah hati padamu, Nona."
Penjaga toko memperhatikan Yun Lian selama beberapa saat lalu mengambil sebuah barang dari rak dagangannya. Jepit rambut berwarna hitam bercampur emas.
"Jepit rambut ini kurasa cocok denganmu, Nona Cantik. Ambillah, kuberikan ini sebagai hadiah."
Yun Lian menerimanya tanpa sungkan. "Terima kasih, Paman."
Penjaga toko mengangguk pelan sambil tersenyum lebar. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi terlebih dahulu sebuah suara memotongnya.
"Wah, apa yang kutemukan ini? Seorang gadis bercadar merah sedang berbelanja perhiasan... Hai, nona cantik."
Suara seorang pemuda terdengar dari arah samping Yun Lian dan penjaga toko. Pemuda itu memakai pakaian yang terbuat dari kulit hewan buas. Tubuhnya gempal dan menampakkan senyum lebar penuh arogan.
Yun Lian mengabaikan sapaan pemuda yang bernama Wang Bei itu. Dialah perwakilan Sekte Taring Buas yang akan menghadiri Pertemuan Kultivator Muda dan menjadi perwakilan yang paling akhir tiba di gedung pertemuan. Namun nyatanya, dia masih santai berkeliaran di jalanan Kota Harta Giok.
"Paman, terima kasih. Aku pergi dulu."
Yun Lian pergi tanpa menunggu tanggapan pria penjaga toko yang terlalu terkejut dengan kemunculan salah satu anggota Sekte Taring Buas ditokonya. Dalam benaknya, semoga tidak ada masalah yang menghampiri sampai tidak sempat menanggapi Yun Lian.
Melihat gadis yang menarik perhatiannya pergi begitu saja, Wang Bei segera menyusul.
"Nona, kenapa kau meninggalkanku?"
Sekali lagi Yun Lian tidak menanggapi Wang Bei, bahkan tidak menganggap pemuda itu ada. Padahal baru saja suasana hatinya senang karena mendapatkan barang bagus gratis, tetapi dihancurkan oleh kedatangan Wang Bei.
Yun Lian terus saja melangkah tanpa mempedulikan Wang Bei yang mengikutinya seperti anak ayam.
"Ah, iya namaku Wang Bei. Aku... bla bla bla bla bla..."
Tanpa bisa Yun Lian cegah, Wang Bei bercerita panjang lebar penuh semangat sambil menemaninya berjalan. Lagipula Yun Lian tidak berniat mencegah Wang Bei karena sejak awal dirinya tidak menganggap Wang Bei ada. Dibiarkannya saja Wang Bei sementara dirinya memperhatikan segala sesuatu yang menarik baginya.
"Nona, kalau kau menginginkan sesuatu, katakan saja dan aku akan membelikannya untukmu. Anggap saja sebagai hadiah perkenalan kita." Wang Bei masih terus berusaha mendapatkan perhatian Yun Lian.
Usahanya berhasil, tetapi tidak sesuai dengan yang diinginkan.
"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan orang lain memberikanku sesuatu. Kau pergi saja."
Wang Bei melebarkan matanya. "Nona, kau tidak hanya cantik, suaramu juga merdu, tapi kata-katamu begitu menusuk." Wang Bei pura-pura sakit hati. "Ayolah, tidak perlu sungkan. Oh ya, aku sudah memperkenalkan diriku. Bolehkah aku tahu namamu, Nona Cantik?"
"Tidak boleh dan aku tidak mau memberitahumu. Pergilah menjauh, kau menggangguku."
Wang Bei yang berusaha sabar mulai kehilangan kesabarannya.
"Nona, kenapa kau begitu jual mahal? Dari segi penampilan, aku tidak terlihat buruk, bukan? Bahkan terlihat tampan. Tapi kau malah mengacuhkan aku."
Yun Lian diam saja, membuat Wang Bei geram. Tangannya terulur menyentuh bahu Yun Lian, membuat gadis itu berhenti. Wang Bei tersenyum lebar tanpa tahu dia sudah memancing masalah besar.
Yun Lian berbalik, suasana hatinya semakin memburuk dan dia sama sekali tidak menyukai sentuhan Wang Bei pada bahunya. Sambil setengah berbalik, dia menatap dan berujar dingin pada Wang Bei.
"Kau benar-benar tidak mengerti batasanmu."
Sebelah tangan Yun Lian menangkap tangan Wang Bei yang berada di bahunya. Dengan satu gerakan cepat, Yun Lian memutar tubuh besar Wang Bei diudara dan membantingnya keras ke tanah.
- - -