
Di aula utama Sekte Teratai Putih, berkumpul empat orang dewasa dengan kekuatan luar biasa. Mereka adalah Wu Bai sang Pilar Bumi sekaligus Mahaguru Sekte Teratai Putih bersama dengan ketiga murid langsungnya.
"Jadi... apakah waktunya sudah dekat?" Wu Bai bersuara pelan tetapi terdengar begitu jelas di telinga ketiga muridnya.
"Benar, Mahaguru. Pihak Menara Harta Giok juga sudah mengirimkan surat undangan pada semua sekte aliran putih bintang sepuluh dan menyiapkan segala keperluan untuk pertemuan ini." Wu Yi sang Naga Baja menjawab mewakili dua adik seperguruannya.
Wu Bai menarik napas dalam dan mengganguk pelan, "Jadi begitu..." Wu Bai melirik ke arah Wu San, "Bagaimana menurutmu pertemuan kali ini?"
"Sementara murid tidak memiliki firasat apapun, Mahaguru. Namun, murid sedikit khawatir karena pertemuan kali ini berbeda dari sebelumnya."
Ucapan Wu san membuat kedua saudara seperguruannya menoleh ke arahnya, lalu Wu Yi buka suara kembali, "Mahaguru, jika adik ketiga berkata demikian, apa kita sebaiknya tidak mengirimkan perwakilan pada pertemuan kali ini?"
Wu Bai tersenyum tipis, "Hal itu akan membuat sekte lain curiga dan yang terutama akan membuat nama sekte kita menjadi tidak bagus di mata sekte aliran putih yang lain."
"Mohon petunjuk dari Mahaguru." Wu Er yang dari tadi diam akhirnya buka suara.
Wu Bai terdiam sejenak sambil memejamkan mata. Ketiga muridnya menunggu keputusan yang dia ambil.
"Pertemuan kali ini memang berbeda dari pertemuan yang sudah-sudah. Begini saja, untuk mencegah kekhawatiran San'er terjadi, kita akan mengirimkan lebih banyak pengawalan pada perwakilan kita pada pertemuan kali ini."
"Baik, Mahaguru." Ketiganya menjawab kompak.
"Jika begitu, sudah saatnya menjemput mereka kembali untuk bersiap. San'er, aku serahkan padamu."
"Murid siap melaksanakan tugas." Wu San menunduk hormat.
"Mereka pastilah masih bersama dengan murid Senior Feng. Kirimkan beberapa hadiah untuknya yang menurutmu pantas."
"Baik, Mahaguru."
***
Tiga hari berlalu setelah Yao Han dan teman-temannya melakukan kegiatan amal di Kota Bukit Bunga, kondisi penduduk kota berubah baik dengan drastis. Hua Ren bisa melihat penduduk kota yang selama beberapa tahun sejak serangan siluman murung dan sedih menjadi ceria dan bersemangat kembali.
Hua Ren sedikit kecewa karena mengetahui Yao Han tidak akan lama tinggal di Kota Bukit Bunga. Dia masih berharap Yao Han akan tinggal lebih lama bahkan menetap di Kota Bukit Bunga dalam jangka waktu beberapa tahun untuk mengembalikan kondisi kota seperti semula.
Dengan keberadaan Yao Han, Hua Ren merasa bukan tidak mungkin Kota Bukit Bunga menjadi lebih maju dalam waktu singkat. Dia juga sempat berpikir untuk menjadikan Yao Han sebagai walikota pengganti dirinya di masa depan.
Namun Hua Ren harus mengurungkan niatnya karena mengerti Yao Han tidaklah sama seperti dulu sejak menjadi kultivator. Pemuda itu akan berkeliling dunia mencari pengalaman lebih banyak sambil meningkatkan kekuatannya.
Hua Ren memiliki firasat, Yao Han akan menjadi kultivator berpengaruh setidaknya di wilayah Negeri Hutan Hijau. Yao Han akan menjadi kebanggaan Kota Bukit Bunga yang hanya merupakan kota kecil yang hampir musnah.
"Diantara banyak tempat di kota ini, disini adalah kesukaanku."
Yao Han mengajak Shenghao dan yang lain ke sungai kecil dibalik hutan kecil di pinggiran Kota Bukit Bunga, tempat dimana dia biasa menyendiri untuk bermeditasi.
"Untuk ukuran manusia biasa berumur sepuluh tahun, kau termasuk anak yang berani datang kemari sendirian, Saudara Yao." Honghao berkomentar tentang masa kecil Yao Han yang ditanggapi tawa pelan.
Ada beberapa hal yang disadari Yao Han di sekitar tempat itu, diantaranya hutan kecil didekat sungai tambah lebat dan semakin banyak hewan liar. Sungai kecil disana juga masih jernih dan alirannya masih cukup deras.
Yao Han berjalan mendekat ke arah dimana dulu ada batu besar yang selalu dijadikannya tempat duduk bermeditasi yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Selama beberapa saat, Yao Han larut dalam ingatan masa kecilnya, sampai kemudian tersadar karena merasakan kehadiran seseorang mendekat ke arah mereka.
"Ada yang mendekat..." gumam Yao Han yang didengar ketiga orang didekatnya. Shenghao dan yang lain mengikuti arah pandang Yao Han ke satu arah di langit.
"Apa kau bisa melihatnya, Saudara Yao?" Shengho teringat dengan kekuatan Mata Surgawi milik Yao Han. Jika dilihat dari reaksi Yao Han, Shenghao yakin orang ini bukan orang jahat.
Yao Han mengangguk pelan dan menyebutkan ciri-ciri fisiknya. Shenghao dan Honghao terkejut lalu berseru bersamaan, "Paman Guru Ketiga!"
Sosok yang disebut sebagai Paman Ketiga oleh Shenghao dan Honghao mulai masuk ke dalam jarak pandang keduanya. Setelah jarak mereka hanya beberapa meter, sosok ini menurunkan kecepatan terbangnya dan melayang turun dengan perlahan.
Dialah Wu San, sang Kera Jenaka, murid ketiga Wu Bai sang Pilar Bumi, yang juga kultivator terkuat keempat di seluruh Sekte Teratai Putih. Kepalanya digundul sampai botak licin, pipinya gemuk, dan badannya subur. Jika bukan karena jubah yang dia kenakan, orang-orang akan mengira dia biksu yang suka makan banyak.
"Paman Guru..."
Shenghao dan Honghao mendekati Wu San lalu memberi salam.
"Senang melihat kalian baik-baik saja."
Wu San melihat dua murid terbaik Sekte Teratai Putih itu dengan bangga. Sulit menutupi rasa senangnya melihat perkembangan kedua murid itu yang sudah hampir mencapai Ranah Dasar tingkat lima belas tidak lama setelah pergi berkelana keluar sekte.
Pandangan Wu San teralihkan karena Yao Han berjalan mendekat. Raut wajahnya berubah dari senang menjadi kaget melihat sosok Yao Han. Belum sempat dia mengeluarkan kata-kata, Yao Han sudah menyapanya terlebih dahulu.
"Junior Yao Han memberi salam pada Senior Wu San. Sebuah kehormatan bertemu dengan murid langsung ketiga Mahaguru Wu Bai, sang Kera Jenaka sekaligus Kultivator Jimat terbaik Sekte Teratai Putih." Yao Han menangkupkan tangan sambil sedikit membungkuk sebagai salam penghormatan.
Wu San cukup terpana dengan salam Yao Han sampai dibuat terdiam sejenak lalu tertawa pelan.
"Jangan sungkan, Saudara Muda. Jujur aku terkejut mendengar kabar Senior Angin Timur akhirnya memiliki murid. Senang bertemu denganmu." Wu San membalas salam Yao Han.
"Senior bisa memanggilku Xiao Han seperti guruku memanggilku. Dipanggil sebagai Saudara Muda rasanya terlalu tinggi untukku yang masih anak kemarin sore."
"Ah, mana bisa begitu, setidaknya biarkan aku memanggilmu Saudara Kecil, bagaimana?"
"Tidak masalah, itu lebih bagus kurasa."
Wu San tertawa pelan. Harus dia akui bertemu langsung dengan Yao Han rasanya berbeda dibandingkan mendengar penjelasan Shenghao melalui slip giok beberapa waktu lalu.
Wu San pernah bertemu dengan Feng Xian satu kali dan disaat melihat Yao Han pertama kali, aura yang dimiliki pemuda itu mengingatkan Wu San pada sosok Angin Timur. Yang tidak dia sangka lagi, sifat dan sikap Yao Han berbeda jauh dibandingkan gurunya.
Wu San hanya belum mengenal Yao Han lebih jauh saja, karena sebenarnya ada beberapa momen membuat Yao Han begitu mirip dengan Feng Xian.
Yao Han juga mengenalkan Bolang sebagai teman seperjalanannya. Tidak ada yang istimewa yang dilihat Wu San dari pria itu selain praktiknya di Ranah Inti. Yao Han memang sengaja tidak menyebutkan identitas asli Bolang karena Serigala Malam itu sedikit waspada dengan kehadiran Wu San.
Kedatangan Wu San tanpa pemberitahuan adalah menjemput kembali Shenghao dan Honghao ke sekte. Tanpa keberatan dia juga menceritakan pada Yao Han alasan kenapa kedua murid itu harus kembali, yaitu untuk mewakili Sekte Teratai Putih dalam pertemuan murid terbaik sekte bintang sepuluh aliran putih.
"Aku pernah mendengarnya... Pertemuan Kultivator Muda, tradisi sekte bintang sepuluh aliran putih sejak ribuan tahun lalu..."
---