
Sebenarnya Yao Han ingin pergi memeriksa sendiri sesuatu yang disebut sebagai hantu oleh Yutian. Namun karena tidak ingin membuat Shenghao dan Honghao panik karena pergi tanpa pemberitahuan, Yao Han membatalkannya.
Setelah dia menceritakan temuannya saat berada di luar, Shenghao menyarankan agar mereka ke tempat yang dicurigai sebagai persembunyian si pengendali hantu peneror kota.
Mereka pergi agak terburu-buru dan andai pergi sendiri, Yao Han bisa bergerak lebih cepat mengandalkan Langkah Angin Surgawi.
Shenghao dan Honghao sedikit kaget karena tempat yang mereka tuju cukup jauh dari rumah Paman Kai dan pemukiman penduduk lain, hampir ke pinggiran kota dan sangat minim penerangan.
Aura di tempat itu gelap dan menakutkan, hanya ada satu bangunan berupa gubuk tua sederhana cukup besar. Disekelilingnya terdapat pepohonan cukup rindang.
"Ini pasti tempat persembunyian peneror itu."
Yao Han dan lainnya bisa merasakan Qi kematian yang cukup pekat diudara. Kondisi dimalam hari membuat Qi kematian tersebut menjadi jauh lebih menakutkan.
"Hm?" Yao Han melirik ke samping. Telinganya mendengar suara langkah kaki yang samar, lalu dia berbisik pelan yang bisa didengar Shenghao dan Honghao, "Ada yang datang."
Dua pemuda itu memasang sikap siaga dan menoleh pada arah yang sama dengan Yao Han. Setelah cukup dekat, meski dengan penerangan yang minim, wajah dan bentuk tubuh orang itu terlihat.
Seorang pemuda memakai jubah ungu gelap dan wajahnya terlihat malas. Ditangan kanannya ada sebuah benda berwarna keperakan.
'Seruling? Apakah dia yang tadi memainkannya?' Pertanyaan dalam hati Yao Han sama seperti yang dipikirkan dua temannya.
"Hm? Entah kebetulan atau tidak, aku terkejut ada dua anggota Sekte Teratai Putih di kota ini."
Bukan hanya wajahnya yang terlihat malas, suaranya pun juga begitu. Pemuda berjubah ungu ini seperti sedang mengantuk atau baru saja bangun tidur.
Shenghao dan Honghao tidak terkejut dengan identitas mereka yang segera dikenali, sebaliknya mereka terkejut dengan pemuda itu yang merupakan kultivator Ranah Dasar tingkat dua belas. Memiliki tingkat praktik setinggi itu diusia muda menunjukkan identitasnya yang tidak biasa.
"Saudara, boleh kutahu siapa dirimu? Shenghao bertanya sopan, masih dengan memasang sikap waspada.
"Jawaban yang kuberikan justru akan merepotkan diriku sendiri, terutama kau berasal dari tempat berkumpulnya orang-orang keras kepala dan sok suci itu." Setelah berkata demikian, pemuda berwajah malas itu menguap.
Shenghao dan Honghao mengerutkan dahi dalam, sementara Yao Han menaikkan alis.
Sejauh pengamatan Yao Han, orang-orang akan bersikap sopan atau menaruh rasa hormat pada dua teman seperjalanannya itu, berbanding terbalik dengan sikap pemuda bertampang malas.
"Maaf Saudara, apa maks-"
Belum selesai Shenghao bertanya karena sebuah gelombang energi menerpa keempatnya. Tidak ada yang terluka, melainkan kaget karena gelombang energi yang berasal dari gubuk tua membuat seluruh tubuh merinding.
Tidak lama, muncul seorang pria dari dalam gubuk tua. Terlihat seperti berusia lima puluhan tahun dengan beberapa keriput di wajah. Memakai jubah coklat usang dan rambutnya cukup panjang sedikit acak-acakan.
"Baru kali ini ada yang berani mendatangi tempat ini. Kalian para bocah rupanya cukup bernyali. Kekeke..." Suara pria itu terdengar serak dan kalimatnya diakhiri tawa aneh.
Shenghao dan Honghao meningkatkan kewaspadaan lebih tinggi setelah menemukan pria aneh itu merupakan kultivator Ranah Pondasi, tepatnya Pondasi Bumi tahap puncak. Yang menarik perhatian adalah aura gelap di tubuhnya yang mencolok.
"Aku cukup yakin tidak mengenal kalian. Untuk apa kalian mencariku? Kekeke..."
"Hm... aku sudah berada di kota ini selama beberapa hari. Kudengar beberapa tahun ini ada sebuah teror yang menakuti kota. Melihat dirimu, aku yakin kau adalah pelakunya."
"Kekeke... omong kosong apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti? Kekeke..."
Pemuda malas menghela napas, pandangan matanya sedikit lebih serius, "Kau tidak pandai berbasa-basi dan tidak perlu bersikap bodoh. Meskipun kau mengelak, Qi kematian disekitarmu sudah menjelaskan semuanya."
"Kekeke..." Tawa pria itu semakin keras dan dingin, "Jadi aku ketahuan, ya? Sebenarnya aku cukup terkesan dengan cara kalian menemukanku, kekeke... Lalu memangnya kenapa? Ingin menangkapku? Mustahil dengan kekuatan kalian yang masih di Ranah Dasar, sementara aku sudah mencapai puncak Ranah Pondasi. Kekeke..."
Pria aneh itu tampak tidak terkejut dan masih bisa bersikap tenang. Pemuda malas menguap lebar lalu menyeringai lebar.
"Kalau jadi dirimu, aku tidak akan bersikap seperti itu. Kau mungkin belum menyadari situasinya. Dua orang berkepala nyaris botak disana berasal dari Sekte Teratai Putih."
Mendengar nama sekte itu, pria aneh terkejut. Dia segera menoleh ke rombongan Yao Han dan matanya melebar. Dia tidak memperhatikan dengan teliti dan setelah melihat jubah serta penampilan Shenghao dan Honghao lebih jelas, pria aneh sedikit kehilangan ketenangan.
"Kenapa ada mereka di kota ini..." gumamnya lalu menatap satu per satu keempat pemuda didepannya, "Hmph! Sangat disayangkan aku harus membungkam kalian. Sudah datang kemari, jadi jangan harap kembali."
Pria aneh menjentikkan jarinya, lalu muncul beberapa sosok melayang. Jumlahnya ada dua belas dan semuanya berwujud perempuan. Ini adalah pertama kalinya Yao Han melihat sosok hantu, apalagi hantu yang dijadikan sebagai sumber kekuatan oleh kultivator pengendali hantu.
Lima diantaranya berambut putih dengan kekuatan Pondasi Fana tahap puncak. Yao Han meneliti lebih jauh, tujuh hantu lainnya di Ranah Dasar, berkisar di tingkat lima sampai tujuh. Pandangannya berhenti pada hantu perempun dengan perut buncit.
Napas Yao Han tertahan. Dia kemudian teringat dengan cerita Paman Kai tentang korban menghilang misterius yang semuanya adalah perempuan. Si hantu perempuan berperut buncit adalah istri Paman Kai.
'Tidak salah lagi, hantu-hantu perempuan ini dulunya adalah para korban menghilang.' Sorot mata Yao Han menjadi tajam dan dingin. Disaat itu suara pemuda malas terdengar.
"Hei, orang aneh. Apa motifmu melakukan semua ini?" Pertanyaan pemuda malas terdengar aneh disaat seperti ini, tetapi pria aneh meladeninya.
"Ah, karena kalian sebentar lagi akan mati ditanganku dan kujadikan sebagai koleksi hantuku, tidak ada salahnya bercerita pada kalian. Kekeke..."
Pria aneh tanpa tahu malu bercerita teror yang dia lakukan hanya untuk kesenangan semata. Para korban yang diculik satu per satu dia jadikan budak nafsu binatangnya. Lalu setelah bosan, pria aneh membunuh korban dan menjadikan jiwa mereka sebagai sumber kekuatannya.
"Aku berencana bersenang-senang lebih lama. Dengan kondisi di kota ini, bukan hal sulit bagiku untuk menjadikan mereka sebagai sumber kekuatan memasuki Ranah Inti. Kekeke..."
Pria aneh tertawa makin keras dan siapapun yang melihatnya seperti orang gila.
Tubuh Shenghao dan Honghao bergetar dengan wajah memerah. Kewaspadaan mereka menjadi kemarahan yang tidak bisa ditahan. Perlahan Qi menyelimuti tubuh mereka.
Sebelum menggunakan teknik khusus Pasukan Teratai, mereka dikejutkan dengan pancaran Qi yang kuat didekat mereka.
"Saudara Yao..." Shenghao melebarkan matanya.
---